NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Jerat yang Berbalik

Rekaman itu memang hanya sampai ruang tamu.

Tetapi bagi Surya, itu sudah cukup mematikan.

Pagi berikutnya, Surya mengirim pesan singkat kepada AKP Lim Mei Lu.

Saya ingin bicara soal PT Mega Awan. Bukan di kantor Polda. Saya akan menyerahkan rencana tindakan saya sebelum melakukannya.

Balasan datang sepuluh menit kemudian.

Kafe seberang Polda. Tiga puluh menit.

Meilu datang tepat waktu. Meski tidak memakai seragam, kemeja putih dan blazer gelapnya tetap membuat orang di sekitar otomatis menjaga jarak. Ia duduk di depan Surya, meletakkan ponsel dengan layar menghadap bawah.

"Saudara Surya, saya harap ini bukan upaya memengaruhi penyidikan."

"Bukan." Surya membuka map. "Saya tidak mau bersembunyi dari status saya di Mega Awan. Kalau akta menyebut saya Direktur Utama dan pemegang saham enam puluh persen, maka secara hukum saya punya hak sekaligus tanggung jawab."

Meilu menatapnya. "Dan?"

"Saya akan masuk ke kantor Mega Awan hari ini. Saya akan meminta seluruh dokumen, mengamankan rekening, dan menghentikan akses orang yang menjalankan perusahaan tanpa sepengetahuan saya."

"Itu bisa dibaca sebagai penghilangan barang bukti."

"Karena itu saya memberi tahu Anda dulu." Surya menggeser satu lembar rencana tertulis. "Saya tidak akan menghapus data. Saya akan salin dan simpan. Saya akan buat berita acara internal. Saya akan minta notaris mencatat keputusan pemegang saham. Kalau ada dokumen pidana, saya serahkan ke Dittipideksus."

Meilu membaca halaman itu.

Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah sedikit. Bukan kagum. Lebih seperti seseorang melihat tersangka yang ternyata berpikir lebih rapi daripada sebagian pelapor.

"Saudara baru lulus UPA?" tanyanya.

Surya tidak bertanya dari mana ia tahu. "Kemarin."

"Peringkat delapan."

"Informasi Polda cepat juga."

"Informasi publik." Meilu menutup map. "Saya tidak melarang Saudara masuk, karena secara dokumen Saudara memang Dirut. Tapi saya peringatkan: satu tindakan bodoh, Saudara bisa berubah dari korban menjadi pelaku."

"Saya paham."

"Kirimkan salinan semua dokumen yang Saudara temukan ke nomor dinas saya."

"Baik, Bu AKP."

Meilu berdiri. "Dan jangan percaya siapa pun di kantor itu."

PT Mega Awan berkantor di ruko tiga lantai di kawasan bisnis kecil pinggir Jakarta Selatan. Dari luar, papan namanya tampak baru, terlalu mengilap untuk perusahaan yang katanya sudah menerima dana besar. Di lantai dasar ada resepsionis muda yang langsung panik ketika Surya menunjukkan KTP dan salinan akta.

"Pak... Pak Surya?"

"Direktur Utama kalian," kata Surya.

Kata itu terasa asing di lidahnya.

Namun efeknya nyata.

Resepsionis berdiri kaku. Dua staf administrasi keluar dari ruang belakang. Seseorang berbisik menelepon. Lima menit kemudian, seorang pria berkemeja mahal turun dari lantai dua dengan wajah pucat.

Benny Halim.

Surya mengenal namanya dari akta yang diperlihatkan Meilu. Pria itu tersenyum terlalu cepat.

"Pak Surya, akhirnya Bapak datang juga. Saya kira..."

"Kira saya tidak pernah akan datang?"

Senyum Benny membeku.

Surya berjalan melewatinya menuju ruang rapat. "Kumpulkan semua dokumen perusahaan. Akta, SK Kemenkumham, NIB, NPWP, kontrak, rekening koran, token bank, dan daftar user internet banking. Sekarang."

"Pak, biasanya hal seperti itu perlu koordinasi dengan Bu Nadia..."

Surya berhenti.

Seluruh ruangan ikut berhenti.

"Nama Nadia Kusuma ada di akta?"

Benny membuka mulut, lalu menutupnya.

"Nama Kevin Tanuwijaya?"

Wajah Benny makin pucat.

"Kalau tidak ada, jangan sebut mereka di depan saya sebagai dasar keputusan perusahaan."

Nada Surya tidak tinggi.

Justru karena itu semua staf menjadi lebih takut.

Dalam satu jam, meja rapat penuh dokumen. Surya membaca cepat. Sebagian kontrak tampak kosong secara substansi, hanya arus dana masuk dan keluar. Ada pembayaran konsultasi fiktif. Ada invoice dari perusahaan yang tidak jelas alamatnya. Ada dana mengendap dalam rekening operasional yang belum sempat dipindahkan.

Jumlahnya membuat satu staf menelan ludah.

Rp 8,7 miliar.

Uang itu bukan laba bersih. Bukan juga uang halal yang bisa ia ambil begitu saja. Tetapi saat ini uang itu berada di rekening perusahaan yang secara hukum ia pimpin, dengan tanda tangan otorisasi utama atas namanya.

Jebakan mereka terlalu rapi.

Sampai lupa bahwa orang yang mereka jadikan boneka juga bisa menggerakkan tali.

Surya meminta video call dengan notaris yang tercantum di akta. Ia merekam rapat internal, menyatakan dirinya hadir sebagai Dirut dan pemegang saham mayoritas, lalu membuat keputusan pemegang saham untuk mengganti akses bank, membekukan transaksi keluar lama, dan memindahkan dana mengendap ke rekening penampungan baru atas nama PT Mega Awan yang hanya memakai otorisasi dirinya sampai audit selesai.

Benny berkeringat.

"Pak Surya, itu akan mengganggu operasional."

"Operasional apa?" Surya mengangkat salah satu invoice. "Jasa konsultasi pasar Rp 900 juta kepada perusahaan tanpa alamat jelas? Atau transfer rutin ke rekening yang kamu sebut vendor tapi tidak punya NIB?"

Benny tidak menjawab.

Surya menatap staf keuangan. "Bank."

Mereka pergi ke cabang bank terdekat dengan membawa akta, KTP, NPWP perusahaan, dan surat keputusan internal. Manajer bank awalnya ragu. Namun, begitu melihat dokumen dan status Dirut, ia memproses perubahan akses dengan prosedur verifikasi berlapis.

Saat token lama dinonaktifkan, handphone Benny berbunyi.

Lalu handphone Surya.

Nadia.

Surya mengangkat.

"Apa yang kamu lakukan?" suara Nadia nyaris menjerit. "Kenapa rekening Mega Awan berubah? Kenapa ada notifikasi bank?"

Surya menatap layar komputer bank yang memperlihatkan saldo sudah masuk rekening penampungan baru.

"Perusahaan ini atas namaku," katanya tenang. "Uangnya juga di bawah tanggung jawabku."

"Itu bukan uangmu!"

"Benar." Surya tersenyum tipis. "Maka aku sedang memastikan uang itu tidak hilang ke tangan orang yang tidak tercatat di akta."

"Surya, kalau kamu sentuh uang itu, Kevin akan..."

"Kevin siapa?" potong Surya. "Di akta ini tidak ada nama Kevin."

Nadia terdiam.

Surya menutup telepon.

Sebelum meninggalkan bank, ia membuat satu keputusan terakhir. Atas nama operasional PT Mega Awan, ia membeli satu kendaraan perusahaan yang bisa dipakai untuk mobilitas audit, rapat, dan pengamanan dokumen: Toyota Alphard hitam, lunas, tercatat sebagai aset perusahaan.

Sales di dealer menunduk berkali-kali ketika transaksi selesai.

"Selamat, Pak Surya. Unit bisa langsung dibawa."

Surya menatap mobil itu.

Alphard hitam mengilap di bawah lampu showroom. Beberapa hari lalu, ia masih memakai ojek online dan tidur di tepi sungai. Hari ini, jebakan yang ditulis atas namanya memberinya kursi kulit, kaca gelap, dan ruang untuk bernapas.

Ia tidak lupa: mobil itu bukan hadiah.

Itu rampasan dari perang yang musuhnya sendiri mulai.

Di dalam mobil, Surya mengirim seluruh salinan dokumen, keputusan internal, dan daftar transaksi mencurigakan kepada Meilu.

Balasan Meilu singkat.

Saya terima. Jangan hilangkan Benny Halim.

Surya melihat kaca spion.

Di belakangnya, Benny berdiri di depan ruko Mega Awan dengan wajah seperti orang yang baru sadar lantai di bawah kakinya hilang.

Malam itu, di rumah keluarga Kusuma, Nadia menghancurkan semua yang bisa ia raih. Gelas. Vas. Bingkai foto.

Lalu, dengan tangan gemetar, ia menelepon satu nomor.

"Mas Kevin," katanya, suaranya pecah. "Surya mengambil Mega Awan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!