Dinzy Aurora, gadis berusia 21tahun yang hidup sebatang kara di Ibukota, mengadukan nasibnya berharap memiliki kehidupan yang layak. Saat ini Dinzy baru saja lulus dari kampus terbaik di kota tersebut, mendapatkan gelar cumlaude bukan berarti Dinzy bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Setalah 2 bulan menerima Ijazahnya, Dinzy belum juga mendapat panggilan wawancara kerja. Dan selama 2 bulan tersebut sambil tetap mencari pekerjaan baru, Dinzy masih bekerja di sebuah coffee shop. Selama Dinzy tinggal di Ibukota, Dinzy memang melakukan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidupnya, meskipun Dinzy mendapatan beasiswa dan juga biaya hidup, namun itu tidak menghalangi Dinzy untuk tetap bekerja. Dinzy tumbuh di sebuah panti asuhan di pesisir Ibukota. Ia tidak mengenal siapa Ayah dan Ibunya. Meskipun ia sangat penasaran, tapi pihak panti juga tidak bisa membantu Dinzy karena saat itu, Ibunya Dinzy hanya menyerahkan Dinzy begitu saja dan meninggalkan Dinzy di panti asuhan tersebut. Hanya nama yang Dinzy terima dari Ibunya, nama pemberian dari sang Ibu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Setelah 3 hari berlalu dari kejadian na'as yang menimpa Siska, hari ini Siska kembali bekerja. Dia berangkat bersama Dinzy karena memang Siska saat ini berada di rumah Dinzy.
Memar di bagian wajah Siska bisa ia tutupi dengan riasan, sehingga tidak menimbulkan rasa curiga teman kantornya.
"Udah sehat Sis?" tanya Hendra
"Iya Hen, udah enakan" jawab Siska
Hendra menjelaskan kepada Siska tentang 3 hari ini selama Siska tidak bekerja, dan siapa yang menggantikan pekerjaannya. Termasuk posisi Siska yang digantikan oleh Dinzy.
Bukan marah, kecewa atau merasa sedih. Siska justru merasa bangga karena Dinzy bisa handle pekerjaannya dengan sangat baik.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Hendra
"Gak lah. Aku seneng Hen, Dinzy bisa adaptasi dengan cepat" ucap Siska antusias
Hedra merasa lega, ia merasa jika Siska memang benar-benar sangat tulus dengan Dinzy.
Ada hal lain yang membuat Siska senang ketika Dinzy bisa menggantikan posisinya, karena ia tidak akan pernah ketemu kekasihnya lagi.
Kekasih Siska adalah salah satu kolega pimpinan perusahaan tersebut. Cerita Dinzy dan Luca hampir mirip dengan cerita Siska dan kekasihnya.
Dan karena kejadian beberapa hari lalu, Siska merasa trauma. Bahkan selama tiga hari ini kekasihnya juga tidak mencarinya.
Padahal jika kekasihnya memang ingin mengetahui kabar Siska, ia bisa dengan mudah mencarinya. Namun, hal itu tidak di lakukannya.
"Mbak, mau makan siang di pantry aja?" tanya Dinzy
"Diluar gak apa-apa kok Din" jawab Siska
"Jangan Mbak, aku hawatir sama Mbak Siska"
"Dinzy, kamu kenapa baik banget sih"
"Aku pesanin ya Mbak, Mbak disini aja"
"Hahaha... Iya, terimakasih ya"
Dinzy meninggalkan ruangan kerjanya kemudian menuju tempat makan dan memesan beberapa makanan untuk dirinya dan untuk Siska, lalu ia segera kembali ke kantor untuk makan siang bersama dengan Siska.
Mereka makan berdua, keduanya terlihat begitu menikmati makanan tersebut dan saling bercerita satu sama lain tentang pekerjaan.
"Din, istrinya masih cari-cari aku" ucap Siska
"Mbak Siska tahu dari mana?"
"Security apartemen bilang"
"Astaga. Tapi dia gak tahu mobil Mbak Siska kan?"
"Aku gak yakin Din, tapi kalau dia tahu apartemen aku harusnya dia tahu soal mobil"
"Rencana Mbak Siska apa?"
"Jual mobil dan ganti yang lain"
"Mbak Siska yakin?"
"Iya Din, yakin. Temenin aku ya"
"Pasti Mbak"
Siska yang panik mulai menghubungi beberapa temannya untuk menjual mobilnya, kemudian ia mendapatkan nomor penjual dan pembeli mobil bekas. Dia segera menghubungi nomor tersebut untuk menjual mobilnya, dan membeli yang baru.
Setelas diskusi, Siska dan penjual mobil itu sepakat dengan harganya. Siska menunjukan pesan tersebut kepada Dinzy, dan mereka berencana untuk menemui penjual mobil tersebut sore hari ini.
.
.
"Ini Mbak tempatnya?" tanya Dinzy
"Iya Din, dari alamatnya sih benar" jawab Siska
"Mbak Siska?" sapa seorang pria
"Iya?"
"Saya David yang akan membeli mobil Mbak Siska"
"Oh oke Mas, silahkan di cek"
David mulai cek mobil Siska, mencoba mengendarai mobil tersebut. Dan sesuai dengan spesifikasi yang Siska jelaskan.
Kemudian David mengajak Siska menuju kearah mobil yang akan menjadi mobil barunya lalu membiarkan Siska mencoba mobil tersebut.
Benar-benar tidak membutuhkan waktu lama, jual-beli mobil tersebut hanya berlangsung satu jam.
"Ini uang sisa dari pembelian mobil sudah saya transfer Mbak, silahkan di cek" ucap David
"Oke Mas, sudah masuk" jawab Siska
"Semoga nyaman dengan mobil barunya Mbak"
"Thanks"
Siska dan Dinzy meninggalkan tempat tersebut, kemudian mereka menuju ke kontrakan Dinzy.
Dinzy merasa lega karena setidaknya saat ini Siska sedikit lebih aman dengan mobil barunya tersebut.