menceritakan tentang seorang pemuda bernama royy yang tereinkarnasi menjadi entitas bayangan dan membangun peradaban serta menjadi raja iblis...
(Kage no Karada toshite Tensei Shita node, Saikyō no Danjon Ōkoku o Tsukurimashita!)
(reinkarnasi menjadi entitas bayangan, dan membangun kerajaan terkuat di dalam dungeon)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon royco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(perjalanan 2, bagian 2 : raja yang menghilang) agresi Elizabeth ke barat 2
"Baiklah... Sektor perimeter luar resmi kita amankan... Sekarang langkah kita tinggal menunggu pasokan konfirmasi resmi dari pergerakan pasukanku yang lainnya di lapangan..." Ucap Elizabeth berbisik teramat lirih berdarah dingin, tubuh mungil zirahnya melayang statis di udara menggunakan daya dorong mesin Jetpack Mana miliknya.
Elizabeth memicingkan sepasang matanya yang tajam menatap ke bawah, memikirkan ulang formasi peletonnya yang baru saja hancur dirundung duka.
"Hmm? Ahh... Iya juga ya, ada satu koordinat yang meleset... Hoi, Liana...!" Panggil Elizabeth ketat menolehkan kepalanya.
"Iya, siap Komandan Elizabeth! Ada instruksi darurat apa yang bisa saya laksanakan...?" Tanya Liana sigap terbang merapat, sesosok perwira wanita yang bertindak sebagai asisten pribadi kepercayaan Elizabeth di dalam korps.
Elizabeth mengarahkan telunjuk tangan kecilnya, menunjuk jauh ke arah titik koordinat pusat kepulan asap hitam pekat di dekat area reruntuhan bekas ledakan Bom Pengakhiran milik Tachibana tadi.
"Bawa raga Gregory kemari secepatnya... sinyal radio HT miliknya bener-bener sama sekali tidak meluncurkan respon respon atau jawaban apa pun sedari tadi... Aku mengkhawatirkan kondisi keselamatannya..." Perintah Elizabeth datar tanpa ekspresi.
"Siap, perintah dipahami dan segera dieksekusi, Komandan...!" Seru Liana tegas memajukan satu langkah taktisnya.
WUSHHHZZZZZ...!
Tanpa membuang-buang waktu birokrasi, Liana langsung memicu sistem laju mesin Jetpack-nya secara penuh, melesat terbang membelah awan dengan kecepatan tinggi menuju ke arah area sektoral sekitar bekas ledakan maut tersebut murni untuk mencari keberadaan Gregory.
"Kemana sebenarnya bocah koplok itu terlempar..." Gumam Liana jengkel sembari menyapu pandangan matanya ke sekeliling tanah Petra.
Tingg...!
Indra sensorik penglihatan Liana mendadak langsung terfokuskan konstan ke arah suatu objek asing yang tampak sedang melayang-layang statis tak bergerak sama sekali di udara hampa perbatasan.
NYIIITTT... WUSHHH...!
Liana langsung menarik tuas rem mekanis, menghentikan laju supersonik Jetpack-nya dan langsung terbang menghampiri objek asing tersebut. Begitu jarak pandangnya mengunci target, ia mendapati bahwa objek melayang itu tidak lain adalah tubuh Gregory yang sedang dalam kondisi pingsan tak sadarkan diri! Gregory fiks mengalami kelumpuhan kesadaran saraf akibat tekanan stres yang teramat sangat berlebihan, trauma psikologis yang mendalam, bersanding dengan ketakutan maut akan ngerinya medan tempur pasca-harus menyaksikan Kakak kandungnya sendiri meledak hancur menjadi abu di depan matanya.
"Ahh... Benar-benar sebuah penampakan yang sangat mengenaskan sekali kau hari ini, Gregory..." Gumam Liana pelan dengan nada suara yang melembut sendu, sembari kedua tangannya bergerak taktis meraih merangkul tubuh Gregory agar tidak jatuh terhempas ke tanah.
Liana perlahan memutar arah Jetpack-nya, membopong tubuh Gregory untuk terbang melesat pelan kembali menuju ke koordinat posisi Elizabeth berada.
"Seenggaknya, kau bener-bener harus bersyukur karena Komandan Elizabeth masih sudi mau mengurus merawat jiwamu yang hancur ini... Walaupun secara regulasi umur beliau sebenarnya berusia jauh berkali-kali lipat lebih muda daripada dirimu, bocah..." Ucap Liana berbisik lirih menatap wajah pingsan Gregory.
Liana menghela napas pendek berat, membiarkan embusen angin menerpa zirah miliknya.
"Huhh... Kakak kandungmu, Tachibana... Dia bener-bener sudah menuntaskan tugas militernya dengan sangat benar dan terhormat demi kejayaan Aethelgard... Ketahuilah Gregory, selama perjalanan hidup fananya di tanah air, dia bener-bener terlalu banyak menanggung dan memikul beban penderitaan yang sangat berat... Aku bener-bener tahu dan paham banget soal rahasia isi hatinya... Bahkan kepahamanku tentang dia jauh lebih mendalam melebihi pengetahuanmu sebagai adiknya sendiri... Seenggaknya, dengan kematian syahidnya tadi, biarkan jiwa ksatria itu beristirahat dengan tenang penuh kedamaian di atas sana, Gregory..." Ucap Liana lirih dengan sepasang mata yang berkilat kaca menahan haru.
Liana mempererat dekapannya pada tubuh Gregory, meluncurkan sebuah pengakuan masa lalu yang teramat pekat nan mengejutkan batin.
"Bagaimanapun realitas sejarahnya... Dia di masa lalu terpaksa mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan jalinan asmara kasih denganku murni karena kau terlahir ke dunia ini menjadi adiknya... Dia memilih fokus merawatmu... Yang di mana seharusnya, detik ini aku adalah sosok wanita yang menjadi Tunangan resmi dari Kakakmu... Karena itulah mulai dari hari ini, kau secara legal bisa menganggap diriku sebagai sosok Kakak perempuanmu pasca-gugurnya Tachibana..." Ucap Liana lirih menumpahkan rahasia batinnya di tengah deru angin.
“Apa... Apa sebenarnya ucapan yang baru saja wanita ini bicarakan...?! Apa yang barusan dia katakan tentang masa lalu Kakakku...?! Siapa sebenarnya sosok wanita yang sedang mendekapku ini... Aku... Aku bener-bener ingin membuka kelopak mataku murni demi bisa melihat bagaimana rupa wajahnya saat ini...!” Ucap Gregory menjerit panik di dalam lubuk batin terdalamnya.
Perlu dipahami secara medis, di dalam kondisi kritis ini kesadaran otak Gregory sebenarnya bener-bener sadar 100% terhadap apa saja fenomena yang sedang terjadi di sekeliling lingkungannya. Namun, sirkulasi motorik tubuh manusianya bener-bener terkunci kaku tidak bisa digerakkan sama sekali menyerupai karakteristik orang yang sedang pingsan total. Meskipun raganya lumpuh, indra pendengaran Gregory terbukti tetap berfungsi konstan menangkap gelombang suara, maka dari itulah dia bisa mendengar dengan sangat jelas setiap bait kalimat pengakuan masa lalu yang meluncur dari mulut Liana barusan.
"Komandan Elizabeth...! Saya izin melaporkan, aku telah berhasil menemukan koordinat keberadaannya dan membawanya kembali...!" Ucap Liana lantang begitu terbang di samping posisi Elizabeth.
Elizabeth perlahan menolehkan pandangan wajah datarnya yang tanpa emosi, menatap dingin ke arah raga Gregory.
"Ha... Kerja bagus... Segera amankan dan jaga keselamatan raganya sampai kesadarannya pulih 100% penuh... Faksi kita masih teramat sangat membutuhkan pasokan kapasitas kekuatannya murni untuk meluncurkan agenda penyerbuan radikal berikutnya... Mau bagaimanapun skenarionya, aku saat ini juga mendapati sebuah firasat buruk berskala makro tentang jalannya peperangan ini semua..." Ucap Elizabeth datar nan dingin.
"Siap, perintah dipahami, Komandan!" Jawab Liana patuh, lalu segera membawa Gregory menuju ke tenda medis darurat.
Setelah Liana pergi, Elizabeth kembali memutar tubuhnya menghadap ke arah daratan bawah, memantau perimeter desa Ocra dari ketinggian langit udara.
"Ckkk... Lama banget pergerakan mereka ini... Ngapain aja sih divisi bawah dari tadi, lambat parah..." Dengus Elizabeth kesal menahan jengkel akibat moralnya yang mulai terkikis stres.
BZZTT... CHRRKK...
"Lumine masuk ke dalam sirkulasi obrolan frekuensi komunikasi..." Ucap gelombang suara Lumine memecah speaker HT Elizabeth. "Izin melaporkan Komandan, unit kami bener-bener telah berhasil merampungkan agenda evakuasi darurat terhadap jajaran warga sipil lokal yang memilih menyerah kalah dan menyatakan bersumpah ingin mengikuti hukum Kerajaan Shadow Aethelgard bersanding menjadi rakyat taklukan kita... Detik ini, mereka semua telah kami pindahkan secara taktis ke dalam area kompleks Camp Evakuasi Darurat dengan jumlah total pasokan mencapai 179 nyawa yang mau tunduk mengikuti kita... Sedangkan untuk sisa populasi warga lainnya, mereka fiks bertindak sebagai barisan pemberontak radikal yang bersikeras tetap ingin mengikuti kedaulatan Kerajaan Petra sampai mati... Informasi draf lapangan selesai disampaikan... Aku, Lumine mohon izin keluar memutus frekuensi obrolan...!" Lapor Lumine tegas.
BZZTT...
"Elizabeth masuk membalas laporan... informasi visual telah diterima dengan baik... Kerja yang sangat bagus, Lumine... Lanjutkan..." Jawab Elizabeth singkat sembari menekan tombol radio.
Elizabeth mematikan HT-nya sejenak, mengedarkan tatapan tajamnya. "Barisan warga sipil pengkhianat telah diisolasi... Tetapi sampai detik ini, kenapa pasokan dinamitnya belum kunjung dilaporkan selesai terpasang di jalur bawah tanah..." Ucap Elizabeth lirih dingin.
Tepat beberapa jam setelah kalimat keluhannya meluncur, radio HT miliknya kembali meledakkan desingan frekuensi masuk.
BZZTT... CHRRKK...
"Lukas masuk jalur komunikasi... Tim khusus penanam dinamit melaporkan posisi di sini..." Ucap suara Lukas—salah satu personel prajurit unit khusus andalan Elizabeth yang ditugaskan memimpin operasi sabotase bawah tanah. "Maklumat resmi, seluruh perangkat peledak dinamit saat ini telah resmi selesai terpasang ketat mengikuti silsilah jalur koordinat pondasi yang telah diatur oleh strategimu, Komandan... Seluruh sirkulasi sumbu peledak sudah siaga penuh untuk diledakkan kapan pun dan di detik mana pun Anda berkehendak...!"
BZZTT...
"Bagus... Tarik seluruh personelmu keluar melesat dari dalam terowongan bawah tanah dalam kurun waktu kurasi lima menit dari sekarang... Aku secara pribadi akan segera memicu detolasi meledakkan tempat jahanam tersebut..." Ucap Elizabeth tegas memotong komando.
BZZTT...
"SIAP, PERINTAH DIMENGERTI, KOMANDAN!" Jawab Lukas, lalu segera memutus frekuensi radio.
Setelah memastikan seluruh unit penanam dinamit telah mundur aman ke perimeter luar, Elizabeth perlahan menurunkan ketinggian terbang Jetpack-nya, bergerak turun sedikit mendekat ke arah batas daratan atas desa Ocra, Tangan kirinya bergerak menarik sebuah alat magis pengeras suara, lalu meluncurkan peringatan terakhirnya.
"PANGGILAN TERAKHIR UNTUK SIAPA PUN MAKHLUK FANA YANG BERADA DI BAWAH SANA... BAGI SIAPA SAJA DI ANTARA KALIAN YANG MASIH MEMILIKI KEINGINAN UNTUK MENYELAMATKAN NYAWA, MAKA SEGERA MENYERAH KALAHLAH DETIK INI JUGA...!!! KORPS KAMI BERSUMPAH TIDAK AKAN PERNAH SUDI MELUKAI ATAU MEROBEK FISIK SIAPA PUN DI ANTARA KALIAN YANG BERSEDIA TUNDUK MENYERAH... SEKALI LAGI AKU TEGASKAN DENGAN NYATA... BAGI YANG INGIN SELAMAT, SEGERA MENYERAHLAH DAN IKUTILAH APA YANG MENJADI PERINTAH MILITER KORPS KAMI...!!!" Seru Elizabeth memberi peringatan makro mengguncang pemukiman.
"Gamungkin...!!! Sampai mati pun kami tidak akan pernah sudi sudi berjalan mengikuti perintah dari kaum Iblis menjijikkan seperti kalian, dasar orang-orang sesat penganut kegelapan...!!!" Jawab teriakan parau dari perwakilan barisan warga Petra yang masih bersikeras bersembunyi di balik barikade bangunan batu.
Mendengar penolakan keras kepala bersanding makian ketat tersebut, Elizabeth perlahan menurunkan alat pengeras suaranya, mematikan sistem dayanya, lalu kembali memicu Jetpack-nya melesat terbang naik kembali ke atas langit udara.
"Cthh... Dasar barisan orang-orang bego tidak tahu diri... Malah berani-beraninya mengatain faksi kami sebagai kaum Iblis...?" Dengus Elizabeth kesal, stres di otaknya membuat sepasang matanya berkilat melepaskan hawa membunuh yang luar biasa kejam.
"Emangnya kenapa dan apa salahnya jikalau detik ini faksi kami bener-bener bertindak kejam menyerupai sesosok Iblis, hah?! Sialan, faksi mereka sendiri yang tempo hari lalu bertindak biadab membantai meratakan pedesaan teritorial di wilayah perbatasan dungeon kita sampai runtuh, dasar makhluk bodoh munafik...!" Dengus Elizabeth menahan geram.
Elizabeth mengedarkan sudut pandang jelinya, memastikan bahwa seluruh barisan personel unit khususnya yang bertugas memasang dinamit kini bener-bener telah berkumpul aman membentuk formasi perimeter udara di belakang posisinya.
"Ahh... Semuanya sudah berada di posisi aman, ya...? Baiklah... Sasis waktu takdir telah resmi terpenuhi... Saatnya agenda Pensucian Daratan Barat resmi meluncur...!!!" Ucap Elizabeth berbisik teramat lirih, dibarengi oleh kilatan sebilah senyuman seringai iblis jahat yang teramat sangat pekat nan mengerikan terpahat di wajah manusianya.
Elizabeth mengangkat kedua belah tangannya, mengarahkan laras panjang senapan sniper raksasa Rickly Magia 001 miliknya lurus tepat membidik ke arah titik koordinat bangunan pusat komando desa Ocra tersebut.
"Humm... Dengan diluncurkannya sebutir amunisi ini, maka resmi sudah berakhir sudah sejarah kejayaan dari desa jahanam ini... Dan dari atas puing arangnya, akan segera terbit bermanifestasi nyata sebuah desa baru yang kedaulatan hukumnya murni tunduk sebagai bawahan mutlak Shadow Aethelgard... Modifikasi energi kosmik...! Pelepas Batas energi zero 3%... Pensucian...!!!" Pekik Elizabeth lantang meledakkan hawa membunuh absolut.
TIUUUNNNNIIITTT... TIUNNNIIITTT... CLIKK...!
Sebuah lingkaran partikel pendaran energi sihir kosmik berwarna ungu gelap bercampur baur kilatan cahaya suci Dewa Galaxy seketika bermanifestasi nyata, berputar zigzag mengunci pekat tepat di ujung moncong laras senapan runduk Elizabeth!
"Zero yang Agung, Pencipta galaksi semesta... Berikanlah ke atas raga kami yang lemah tidak berdaya ini sebongkah kekuatan tak terbatas... Berikanlah ke atas jiwa kami yang dianggap hina ini sebilah kesucian mutlak... Jadikanlah seluruh peradaban yang tak percaya ini menjadi percaya tunduk mutlak kepada keagungan-Mu... LIHATLAH KEARAHKU...!!! INILAH DIRIKU, SANG WUJUD NYATA DARI ZERO SANG PENGUASA GALAXY...!!! MUSNAHLAH... HANCURLAH... MELEBURLAH... DAN BERANTASLAH SELURUH BENTUK KEJAHATAN YANG SELAMA INI BERSEMBUNYI DI BALIK TOPENG KESUCIAN ALTAR PALSU ITU...!!! KARENA AKULAH... AKULAH ESENSI KESUCIAN SEJATI ITU SENDIRI...!!! NAMAKU ADALAH... ELIZABETH... ZERO MIKO...!!!" Pekik Elizabeth lantang merapalkan kalimat mantra nubuatan Sharveshari dan zero yang menggetarkan jiwa.
CIUTTTTT... BLAMMM... BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMMMMMM...!!!!!!!
Satu butir peluru kosmik yang dimuntahkan dari laras senapan Elizabeth melesat instan menghantam tanah, secara simultan langsung memicu detolasi ledakan berantai dari ribuan unit perangkat peledak dinamit bawah tanah milik Lukas secara bersamaan! Sebuah gelombang ledakan kiamat berskala mega-raksasa yang teramat sangat mengerikan seketika meledak hebat tanpa ada sebilah pun rasa ampun belaka, melumat habis, menghancurkan, meratakan, dan melenyapkan seisi teritorial luas desa Ocra dari atas peta dunia hanya dalam kurun waktu satu milidetik saja!
"Ahh... pemandangan ledakan yang sangat indah nan megah... Dengan kehancuran total ini, maka faksi musuh bener-bener sudah tidak memiliki lagi celah jalan untuk kabur..." Ucap jajaran para pasukannya Elizabeth berbisik takjub meratapi lautan api di bawah mereka.
"Resmi berakhir sudah seluruh celah jalan mundur bagi raga kita... pertempuran suci yang sesungguhnya detik ini juga resmi akan segera kita mulai gempur..." Ucap Elizabeth berbisik teramat lirih berdarah dingin penuh arti, sembari memimpin sisa unitnya melesat terbang ke camp darurat.