Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Segala Kepahitan, Dia Manisnya
Ardian tidak bertanya dua kali.
"Di sana. Jangan pergi ke mana-mana."
Sekar mengangguk di layar. Wajahnya tampak terlalu tenang, tetapi matanya merah. Itu lebih membuat Ardian takut daripada kalau ia menangis keras.
Ia menutup panggilan, lalu langsung menghubungi Handi.
"Mobil. Club Bintang. Sekarang."
Darren yang sedang turun mencari air berhenti di tangga. "Koko?"
"Sekar di Club Bintang."
"Aku ikut."
"Tidak."
"Koko, kalau ini soal Denny, aku ikut."
Ardian menatapnya. "Kamu tinggal. Siapkan ruang tamu. Air hangat. Makanan ringan. Jangan tanya banyak saat dia pulang."
Darren menelan semua protes. "Siap."
Di Club Bintang, Lina menemukan Sekar di balkon. Ia tidak memaksa bicara. Ia hanya duduk di sampingnya dan meletakkan segelas air.
"Ardian sedang ke sini," kata Lina.
Sekar mengangguk.
"Kamu kuat sekali tadi."
Sekar tertawa kecil, tetapi suaranya pecah. "Saya tidak merasa kuat."
"Orang kuat juga boleh lelah."
Lina meminta pelayan membawa sesuatu. Bukan minuman keras untuk membuatnya lupa, melainkan segelas kecil anggur merah yang sangat mahal, cukup untuk menenangkan saraf yang bergetar. Sekar awalnya menolak, lalu Lina berkata, "Ini club-ku. Aku tidak akan membiarkanmu mabuk sendirian tanpa dijaga."
Sekar minum sedikit.
Lalu sedikit lagi.
Ketika Ardian tiba, ia melihat Sekar duduk di sofa balkon, pipinya merah, matanya basah, dan tangannya memegang gelas kosong seperti bukti kejahatan.
Lina berdiri. "Aku hanya memberinya sedikit."
Ardian menatap gelas itu.
"Sedikit versi Mama?"
"Versi pemilik club."
Ardian menarik napas.
Sekar melihatnya, lalu langsung berdiri terlalu cepat. "Pak Tan!"
Ia hampir tersandung karpet.
Ardian menggerakkan kursi roda mendekat. "Pelan."
Sekar menunduk, menatapnya lama, lalu tiba-tiba duduk menyamping di pangkuannya seperti hal itu paling wajar di dunia.
Lina mengangkat alis.
Ardian membeku.
Sekar melingkarkan tangan di lehernya, wajahnya menempel di bahu Ardian. "Saya tidak mau berdiri."
Ardian menelan napas. "Sekar."
"Sebentar."
Suara itu kecil.
Semua kata keras yang ia tahan di ruang privat, semua keberanian yang ia pakai untuk menatap Denny, runtuh begitu ia mencium aroma sabun Ardian yang familiar.
"Dia jahat," bisiknya.
Ardian meletakkan tangan di udara beberapa detik, tidak tahu harus menyentuh atau tidak. Akhirnya ia menepuk punggung Sekar pelan.
"Aku tahu."
"Dulu dia tidak punya buku. Saya belikan. Saya bilang dari kelas, supaya dia tidak malu."
Ardian menatap Lina.
Lina mengangguk sangat kecil. Ia sudah mendengar sebagian.
Sekar terisak. "Saya pikir kalau orang pernah susah, dia akan ingat rasanya tidak punya pilihan. Ternyata dia malah mengambil pilihan saya."
Ardian merasakan bajunya basah oleh air mata.
Ia tidak menyuruhnya berhenti.
"Dia tidak pantas untuk kamu tangisi."
"Saya bukan menangisi dia." Sekar menggeleng di bahunya. "Saya menangisi diri saya yang bodoh."
"Kamu tidak bodoh."
"Saya terlalu mudah percaya."
"Itu bukan kebodohan."
"Apa?"
Ardian menatap rambutnya yang jatuh di bahu. "Itu bagian baik darimu."
Sekar diam.
Lina memalingkan wajah, memberi ruang pada dua orang itu.
Di ruang privat, Denny masih mencoba menjelaskan pada teman-teman. Jessica sudah pergi lebih dulu. Raka keluar sebentar, melihat Sekar di pangkuan Ardian, lalu cepat-cepat mundur dengan ekspresi seperti seseorang baru memahami bahwa gosip malam ini harus disimpan baik-baik agar tidak mati muda.
Denny akhirnya muncul di ujung koridor.
Wajahnya pucat, rambutnya sedikit berantakan, dan semua kesombongan yang tadi ia pakai di ruang privat sudah retak.
"Sekar," panggilnya.
Ardian menoleh.
Satu tatapan saja membuat Denny berhenti dua langkah lebih jauh dari seharusnya.
"Aku baru tahu," kata Denny, suaranya serak. "Soal buku waktu SMA. Soal sembako. Guru kelas tadi cerita ke Raka. Itu kamu?"
Sekar tidak mengangkat wajah dari bahu Ardian.
Denny tertawa kecil, hancur. "Kenapa kamu tidak pernah bilang?"
Sekar akhirnya menoleh. Matanya merah, tetapi suaranya tenang. "Karena aku tidak ingin kamu malu."
Kalimat itu membuat Denny seperti ditampar.
"Aku cuma... waktu lihat namamu masuk kandidat Business Development, aku takut kamu lebih cepat naik daripada aku. Aku takut orang yang dulu lihat aku susah ternyata bisa berdiri lebih tinggi."
"Jadi kamu menjatuhkan aku duluan," kata Sekar.
Denny tidak bisa menjawab.
Ardian berkata dingin, "Cukup."
Lina berdiri di antara mereka dengan sangat tenang. "Audit internal akan berjalan. Kalau masih punya sisa harga diri, jangan mengejar perempuan yang sudah kamu khianati."
Denny mundur.
Kali ini, tidak ada teman yang berdiri di sisinya.
Lina meminta manajer mengurus sisa acara. Sebelum Ardian membawa Sekar pergi, ia menyerahkan satu botol anggur merah tertutup kepada Handi yang baru tiba.
"Untuk Ardian," katanya. "Bukan untuk diminum malam ini. Simpan."
Ardian menatap labelnya. Nilainya mungkin cukup untuk membeli mobil kecil.
"Mama."
"Dia melewati malam buruk. Kamu juga. Simpan saja."
Perjalanan pulang berlangsung pelan.
Sekar tetap duduk dekat Ardian, kali ini di kursi mobil sebelahnya, tetapi tubuhnya miring ke arahnya. Ia memegang ujung lengan baju Ardian seperti anak kecil takut ditinggal.
"Pak Tan," gumamnya.
"Hm."
"Dulu saya punya anjing. Namanya Si Kuning."
Ardian menoleh.
"Dia tidak pintar. Sering mengejar ekornya sendiri. Tapi kalau saya pulang sekolah sedih, dia selalu tahu. Dia duduk dekat kaki saya, tidak bertanya apa-apa."
Sekar tertawa kecil, lalu menangis lagi.
"Waktu dia mati, saya pikir tidak ada lagi yang tahu kalau saya sedih tanpa saya bilang."
Ardian merasa dadanya seperti ditekan.
Ia mengambil tisu, menyeka air mata di pipi Sekar dengan gerakan sangat hati-hati.
"Sekarang ada," katanya.
Sekar menatapnya dengan mata basah dan mabuk. "Siapa?"
Ardian tidak menjawab.
Ia hanya menyeka air mata kedua, lalu ketiga.
Segala kepahitan di dunia ini, pikirnya, dia manisnya.
Sesampainya di Rumah Tan, Darren menunggu di ruang tengah dengan air hangat, bubur, dan wajah yang berusaha tidak bertanya. Sekar tidak makan banyak. Ia hanya minum air, lalu kembali bersandar pada kursi roda Ardian seolah itulah satu-satunya tempat yang tidak berbahaya.
Darren biasanya punya seratus pertanyaan. Malam itu ia hanya meletakkan mangkuk lebih dekat, menarik selimut tipis dari sofa, lalu mundur dua langkah.
"Kalau butuh apa-apa, panggil aku," katanya pelan.
Ardian mengangguk.
Untuk sekali ini, adiknya benar-benar tidak berisik.
Ardian mengingatnya dalam hati sebagai bantuan kecil yang jarang tetapi berharga.
"Saya mengantuk," katanya.
"Tidur."
"Pak Tan jangan marah."
"Aku tidak marah."
"Jangan pecat saya."
"Tidak."
"Jangan kasih Denny ubah hidup saya lagi."
Tangan Ardian berhenti di atas tisu.
"Tidak akan."
Sekar menutup mata.
Beberapa detik kemudian, ia menggumam sangat pelan.
Pelan sekali.
Tetapi Ardian mendengarnya.
Tangannya bergetar.