Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raynor vs Satria
Vivian hampir tersedak butiran obat yang tertelan tanpa air. Tangannya menepuk dada yang terasa sesak. Tiba-tiba segelas air terulur tepat di hadapannya.
"Vivian, ini minum cepat," suara Satria terdengar cemas, wajahnya penuh penyesalan. "Maaf... maaf aku mengejutkanmu tadi."
Vivian menerima gelas itu, meminumnya pelan hingga obat itu akhirnya turun. Napasnya teratur kembali. Satria berdiri di sana dengan kepala tertunduk lemah, tangannya meremas ujung bajunya.
"Maaf ya sayang..." gumamnya pelan, suaranya bergetar lemah. "Selama ini aku tak bisa melindungimu. Setiap kali kamu menghadapi kesulitan di kantor, aku... aku selalu tak ada di sampingmu. Aku merasa tak berdaya."
Ia mengira Vivian cuma meminum obat pereda nyeri biasa, tak ada yang perlu disembunyikan dari hal seperti itu. Vivian menunduk, meletakkan gelas kosong di meja samping. Ia tak ingin membahas soal itu lebih jauh, tak ingin membuka hal yang masih ia simpan rapat.
"Aku tidak apa-apa," jawabnya pelan, memutus pembicaraan begitu saja. "Ayo turun, nanti terlambat."
Mereka berjalan ke bawah bersama. Satria mengambil alih koper berat di tangan Vivian tanpa diminta, melangkah di sampingnya dalam diam. Di depan rumah, mobil besar sudah menunggu, Raynor duduk di depan bersama seorang supir yang memegang setir.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, Vivian hanya diam tak bersuara. Matanya memandang ke luar jendela, pikirannya melayang tanpa arah. Satria di sebelahnya juga diam, sesekali melirik ke arahnya seakan ingin bicara tapi tertahan.
Sesampainya di bandara, mereka berjalan bersama menuju ruang tunggu, duduk pada kursi panjang, menunggu jadwal keberangkatan.
Ketika panggilan terdengar dan mereka melangkah masuk ke dalam pesawat, Vivian tampak terkagum-kagum, matanya tak bisa diam melirik ke kiri dan kanan, melihat barisan kursi yang terasa begitu asing baginya. Ia hampir berhenti di depan kursi yang salah, hendak duduk begitu saja di tempat yang terlihat kosong.
"Duduk sini, Vivian."
Raynor menarik pelan tangan Vivian, lantas menuntunnya menuju barisan depan. Tangannya mengarahkan untuk duduk tepat di samping jendela, lalu Raynor duduk tenang di sampingnya.
Dan di sisi paling luar, terpisah oleh lorong kecil, Satria duduk dengan wajah cemberut dan masam.
"Seharusnya aku yang duduk di sampingnya," pikirnya getir, menatap tubuh kecil Vivian yang terhalang bahu Raynor. Sialan... Ia selalu kalah cepat. Ia memutuskan pandangan ke luar jendela, dari pada sakit sendiri melihat interaksi adik kakak itu.
Di sana, Vivian terlihat kesusahan memasang sabuk pengaman. Ia memperhatikan gerakan pramugari di depan, menirukan gerakannya. Tarik, masukkan, tekan, tapi berkali-kali dicoba, tangannya selalu terasa canggung, sabuknya entah kenapa tak kunjung terkunci. Napasnya mulai tak tenang, matanya menatap benda itu bingung.
Melihat itu, Raynor langsung membungkuk ke arahnya, tubuhnya condong mendekat hingga bahu mereka nyaris bersentuhan. Aroma yang samar dan hangat menyelimuti ruang kecil di sekitar mereka.
Dengan tenang, tangannya yang besar dan tegas meraih sabuk, menariknya perlahan, menyesuaikan panjangnya, lalu klik. Hanya satu kali tekan, terkunci rapat.
Raynor kembali duduk tegak di tempatnya seolah tak terjadi apapun. Vivian bernapas lega, tapi jantungnya masih berdebar kencang tanpa sebab, dadanya terasa penuh.
Kehadiran pria di sampingnya terasa begitu dekat, begitu nyata, membuatnya tak tenang sama sekali. Ia menatap ke depan, berusaha terlihat biasa, padahal setiap gerak-gerik Raynor ia rasakan sepenuhnya.
Di sisi lain, Satria melihat semuanya dari jauh. Tangannya mengepal erat di atas paha. Mulutnya terkatup rapat, cemburu kembali membakar dadanya. Padahal ia berusaha untuk berpaling pandangan, tapi interaksi mereka membuatnya penasaran.
Pesawat mulai bergerak, landasan terasa semakin cepat, lalu perlahan terangkat membelah udara. Saat momen lepas landas itu, Vivian tanpa sadar meraih dan menggenggam tangan besar Raynor dengan erat, jemarinya saling bertaut kencang penuh ketakutan.
Raynor tak berkata apapun. Ia membiarkan tangannya digenggam dengan lembut dan tenang. Jemarinya bergerak mengelus punggung tangan Vivian berulang kali, menenangkan tanpa suara.
Saat pesawat akhirnya terbang stabil di atas awan, Vivian melirik sekilas ibu kota yang mulai menjauh di bawah sana. lampu kota menyala indah dari atas langit malam.
Baru sekitar sepuluh menit, matanya mulai pedih, terasa berat tak tertahankan. Kelelahan dan segala beban yang ia pikul perlahan merenggut kesadarannya secara paksa.
Kepalanya terkulai lemah, napasnya teratur, ia tertidur pulas, tak mempedulikan lagi keindahan malam di bawah sana. Jemarinya masih menggenggam erat tangan Raynor, meski kini genggamannya perlahan melunak, seiring tidurnya mulai lelap.
Vivian tersadar tiba-tiba saat merasakan sentuhan. Tubuhnya terasa terangkat melayang. Matanya terbuka perlahan, dan betapa terkejutnya ia, saat menyadari dirinya sedang digendong erat dalam pelukan kakaknya.
Ia memaksa turun dengan langsung melompat begitu saja. Wajahnya memerah seketika, menunduk malu. Lalu mendongak, matanya berbinar memandang sekeliling lingkungan yang tampak asing, segar, penuh kehangatan yang berbeda dari biasanya.
"Kak, ini..."
"Selamat datang di Bali," ucap Raynor tenang, di iringi senyum segar. Sepertinya bongkahan es pada dirinya mulai mencair.
Vivian membelalakkan mata tak percaya. "Hah? Tapi tadi kita masih di pesawat..."
"Dan kamu tidur begitu lelap, sampai harus di gendong sejauh ini baru sadar," jawabnya pelan, menatap manik mata Vivian lekat-lekat. Tatapan itu begitu dalam, begitu intens, membuat jantung gadis itu kembali berpacu tanpa kendali.
Namun momen hangat itu seketika terputus. Satria muncul, baru saja kembali setelah menaruh kopernya di villa.
"Vivian, sini kopernya, biar aku yang bawa," ucapnya dengan nada yang berusaha terdengar tegas, sambil melirik Raynor dengan tatapan sinis.
"Urusan Vivian, biar aku yang tangani, aku kakaknya. Kamu istirahat saja, Satria," bantah Raynor tenang namun tegas.
Vivian berdiri di antara keduanya, merasakan ketegangan yang menegang di udara. Lalu ia tersenyum ke arah Raynor, menggandeng lengan kokoh pria itu dengan manja.
"Ah, Kak Raynor pasti lelah sudah menggendongku sejak tadi. Biarkan saja Satria yang bantu bawa kopernya," ucapnya lembut, sengaja mempererat genggamannya di lengan pria itu. Tanpa melirik ke arah Satria sedikit pun.
Satria berdiri terpaku di belakang, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, menahan amarah yang membara. "Bukan ini yang ku mau. Harusnya kamu memujiku dan berjalan di sampingku, Vivian... ah, sialan..."
"Kami masuk dulu," ucap Raynor dengan nada kemenangan, lalu menepuk pundak sepupunya itu pelan, seakan menenangkan sekaligus menegaskan batasnya.
Raynor melangkah membawa Vivian masuk, tangannya kini merangkul bahu gadis itu erat, posesif, tak ingin melepaskan.
Setelah mereka melangkah jauh dan bayangan Satria tak lagi terlihat, Vivian berusaha melepaskan diri. Namun Raynor menahannya.
Terus berjalan berdampingan, dengan jemari yang saling tertaut tanpa putus, sampai mereka benar-benar masuk ke dalam villa, dan tiba di depan pintu kamar Vivian.
Vivian menatap heran pada Raynor yang terus mengikutinya sampai dalam. "Kak, ngapain ikut masuk?"
"Memastikan adikku baik-baik saja,"
Brak...
Pintu terdorong paksa, dan sosok Satria yang tengah menyeret koper, muncul dengan wajah memerah.
Raynor sudah menduga hal itu. Ia merangkul bahu sepupunya, mengajaknya keluar. Meski pria itu meronta ingin ikut masuk ke kamar Vivian.