NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29

dr. Banyu masih hidup.

Peluru hanya menembus bahu, tetapi pendarahannya banyak. Alya menekan luka dengan kain steril yang dilempar perawat klinik sambil memberi instruksi singkat. Suaranya begitu tenang sampai Dinda yang gemetar di sudut menatapnya seperti melihat orang asing.

"Tekan di sini. Jangan lepas sampai ambulans datang."

Perawat muda itu mengangguk panik.

Dinda berbisik, "Kak, kamu bisa..."

"Diam dulu."

Dinda langsung diam.

Alya memeriksa nadi Banyu. Stabil, meski lemah. Dokter itu setengah sadar, terus menggumamkan nama yang sama.

Perawat Sari.

Ruang bersalin.

Malam itu.

Rafi kembali dengan wajah gelap. "Penembak kabur. Motor tanpa plat. Tapi dia tertembak kamera dashcam mobil depan klinik."

"Kirim ke Ardi."

"Sudah."

Mereka tidak bisa tinggal lama. Polisi resmi akan datang, media mungkin menyusul, dan nama Alya tidak boleh terseret terlalu cepat. Rafi mengatur agar rekaman CCTV klinik disalin sebelum siapa pun menghapusnya.

Dinda masih pucat saat mereka masuk mobil.

"Aku hampir ditembak," katanya pelan.

"Ya."

"Kakak tidak takut?"

"Takut."

Dinda menatapnya. "Wajahmu tidak."

"Wajahku bukan laporan lengkap."

Dinda memeluk dirinya sendiri. "Selama ini aku pikir hidupku sulit. Ternyata aku cuma tinggal di kamar yang pintunya dikunci dari dalam."

Alya tidak menjawab.

Dinda menatap darah yang mengering di tangan Alya. "Kak, kalau Mama benar-benar membantu mereka dulu..."

"Itu tidak mengubah fakta dia mamamu."

"Tapi mengubah caraku melihatnya."

"Itu urusanmu dengan dia."

Dinda mengangguk kecil. Untuk pertama kalinya, ia tidak meminta Alya mengurangi kebenaran demi perasaannya.

Di sisi lain Jakarta, rapat direksi Wiratama berubah panas.

Raka mengirim pesan singkat: Mereka mencoba mencabut kuasa suaramu. Pak Hendra mengirim orangnya sebagai calon mitra penyelamat. Papa mulai goyah.

Alya membalas: Tahan sampai aku datang.

Raka: Kamu di mana?

Alya: Dekat.

Raka: Jawaban itu tidak menenangkan.

Alya menutup ponsel. "Ke kantor."

Rafi melihat kaca spion. "Dengan tangan berdarah?"

"Kita berhenti lima menit. Aku ganti baju."

"Kamu baru dari penembakan."

"Dan mereka sedang mencoba mengambil saham ibuku."

Dinda berkata pelan, "Aku ikut."

Alya menatapnya.

Dinda menggenggam sabuk pengaman. "Aku tidak bisa bantu banyak. Tapi kalau mereka menyerang Kakak soal keluarga, aku bisa bicara."

"Melawan Papa?"

Dinda menelan ludah. "Kalau perlu."

Alya memperhatikannya beberapa detik. "Baik."

Mereka tiba di kantor pusat Wiratama Holding saat rapat sudah berlangsung satu jam. Alya mengganti bajunya dengan kemeja putih dan blazer gelap yang selalu disimpan Rafi di mobil untuk keadaan darurat. Luka kecil di tangannya ditutup plester.

Ruang rapat di lantai dua puluh penuh.

Baskara duduk di kepala meja. Raka di sisi kiri, wajahnya tegang. Beberapa direksi senior hadir. Di ujung meja, seorang pria utusan Santoso duduk dengan senyum tipis.

Ketika Alya masuk bersama Dinda dan Rafi, semua orang menoleh.

Baskara berdiri. "Kenapa kamu datang?"

"Karena rapat membahas sahamku."

Utusan Santoso tersenyum. "Nona Alya, ini rapat internal perusahaan. Mungkin lebih baik..."

"Saya pemegang tujuh belas persen saham. Anda siapa?"

Senyum pria itu mengeras.

Raka menunduk, menahan senyum.

Seorang direksi berkata, "Nona Alya, kami hanya membahas stabilitas perusahaan. Setelah beberapa kejadian, muncul kekhawatiran bahwa kuasa suara yang Anda berikan kepada Raka dibuat dalam situasi emosional."

"Saya tidak emosional."

"Dengan segala hormat, Anda baru saja kembali ke keluarga."

"Dengan segala hormat, Bapak baru saja mencoba mengambil hak saya."

Ruangan hening.

Baskara berkata, "Alya, ini bukan tempat untuk sikapmu yang..."

"Yang apa, Pa? Tidak patuh?"

Baskara menahan napas.

Utusan Santoso berkata, "Kita semua ingin menyelamatkan perusahaan. Keluarga Santoso masih membuka kemungkinan kerja sama jika keluarga Wiratama menunjukkan keseriusan memperbaiki hubungan."

Alya menatapnya. "Memperbaiki hubungan berarti menjual saya kembali?"

"Tidak ada yang menjual siapa pun. Ini soal komunikasi."

Dinda tiba-tiba bicara. "Bohong."

Semua orang menoleh padanya.

Dinda berdiri sedikit di belakang Alya, tetapi suaranya terdengar jelas. "Keluarga Santoso datang sejak awal karena ingin menutup masalah Kevin. Mereka tahu Kak Alya anak kandung yang bisa dipakai sebagai simbol. Aku tahu, karena Mama juga tahu."

Baskara terkejut. "Dinda."

Dinda gemetar, tetapi melanjutkan, "Aku selama ini diam karena takut. Tapi aku tidak mau diam lagi."

Utusan Santoso wajahnya berubah. "Nona Dinda, hati-hati bicara."

Dinda menatapnya dengan mata merah. "Aku sudah terlalu lama hati-hati."

Alya tidak memandang Dinda, tetapi ia mendengar setiap kata.

Raka mengambil alih. "Dengan pernyataan ini, jelas keluarga Santoso punya konflik kepentingan. Saya menolak semua usulan yang melibatkan mereka dalam rapat ini."

Beberapa direksi berbisik. Mereka mungkin tidak peduli moral, tetapi mereka peduli risiko. Santoso kini terlihat beracun.

Alya membuka map yang ia bawa. "Saya juga mengajukan audit independen terhadap semua proyek yang memakai nama yayasan keluarga dan dana CSR, termasuk yang terhubung dengan Santoso."

Salah satu direksi senior langsung menolak. "Itu terlalu luas."

"Kalau bersih, tidak perlu takut."

Raka menambahkan, "Saya mendukung sebagai kuasa suara Alya."

Baskara menatap dua anaknya. Di wajahnya tampak konflik yang menyiksa. Di satu sisi, ia ingin mempertahankan kendali. Di sisi lain, ia tahu semua orang mulai melihatnya salah.

Akhirnya ia berkata, "Audit independen dilakukan."

Utusan Santoso berdiri. "Pak Baskara, keputusan ini akan berdampak pada hubungan kita."

Baskara menatapnya. "Mungkin hubungan itu memang perlu ditinjau ulang."

Untuk pertama kali, Baskara memilih tidak menunduk pada Santoso.

Terlambat, tetapi tetap terjadi.

Utusan itu pergi dengan wajah buruk.

Rapat ditutup tanpa keputusan mencabut kuasa suara. Raka tetap memegang suara Alya. Audit disetujui. Beberapa direksi tidak senang, tetapi mereka tidak bisa melawan tanpa terlihat menyembunyikan sesuatu.

Di luar ruang rapat, Raka menatap Dinda.

"Terima kasih."

Dinda tertawa kecil, suaranya rapuh. "Aku mungkin baru saja membuat Mama membenciku."

Alya berkata, "Maya sedang diculik. Dia punya masalah lebih besar."

Dinda menatapnya. "Kakak selalu buruk dalam menghibur."

"Aku tidak sedang menghibur."

Anehnya, Dinda tersenyum.

Ponsel Alya bergetar. Pesan dari Komisaris Ardi.

Banyu sadar sebentar. Dia menyebut satu nama sebelum dibius untuk operasi: Sari bukan perawat biasa. Dia sekarang bekerja di rumah keluarga Santoso.

Alya menatap pesan itu.

Rumah keluarga Santoso.

Jawaban soal malam kelahiran Nadira ada di sarang musuh.

Dinda membaca pesan itu dari balik bahu Alya dan langsung mundur. "Sari tinggal di rumah Kevin?"

"Kamu kenal dia?"

Dinda menggeleng terlalu cepat, lalu berhenti karena sadar gerakannya sendiri mencurigakan. "Aku pernah lihat perempuan tua yang dipanggil Sari oleh Mama. Dia tidak sering muncul. Kalau dia datang, Mama menyuruhku masuk kamar."

"Kapan terakhir?"

"Malam sebelum Mama kabur."

Rafi menatap Dinda. "Apa yang dia bawa?"

Dinda memejamkan mata, mencoba mengingat. "Tas obat warna cokelat. Dan... bunga kecil merah di gantungan tasnya."

Alya dan Rafi saling pandang.

Camellia lagi.

Dinda berbisik, "Kalau Sari tahu soal aku, apa dia tahu siapa orang tua kandungku?"

Alya tidak langsung menjawab.

Pertanyaan itu mengubah Dinda dari lawan menjadi bagian lain dari teka-teki.

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!