Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.
Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Dua Ratus Orang
"Gue... mau kerja sama."
Herman Tanuwijaya mengucapkan kalimat itu di tengah reruntuhan markas Tanah Keras, dengan tubuh Tanah Keras tergantung di atas rangka proyek dan puluhan tawanan berlutut di bawah. Kalau ada tempat paling buruk untuk berpura-pura kuat, tempat itu ada di sini.
Hendry menatap dua ratus orang di belakang Herman.
Mereka tidak seragam. Ada keluarga, ada pria bersenjata, ada perempuan muda membawa tas obat, ada beberapa orang dengan aura Awakener. Tetapi yang paling penting, mereka tidak bergerak tanpa isyarat Herman.
Berarti pria itu bukan cuma membawa massa.
Ia membawa struktur.
"Kerja sama seperti apa?" tanya Hendry.
Herman tersenyum tipis. "Sebelum kiamat, kerja gue tidak terlalu disukai orang. Rentenir. Tapi gara-gara itu, gue kenal banyak kepala, banyak utang, banyak rahasia. Setelah kiamat, orang yang masih mau hidup butuh orang yang bisa menghitung risiko."
Bagus berbisik, "Minimal dia jujur kalau dulu nyebelin."
Herman melirik Bagus, senyumnya tidak hilang. "Bang, kalau gue bohong soal masa lalu di depan mayat segede itu, gue juga pantas digantung."
Hendry tidak tertawa. "Syaratmu."
"Orang gue masuk ke Cluster Pondok Indah. Gue bantu atur informasi, jaringan luar, dan orang-orang yang dulu punya hubungan sama gue. Sebagai gantinya, gue jadi Penasihat. Bukan bawahan biasa. Gue butuh ruang untuk mengatur orang gue sendiri supaya tidak kacau."
Fajar langsung menegang.
Hendry berjalan mendekat satu langkah. "Tidak ada wilayah pribadi di dalam base-ku."
Senyum Herman akhirnya mengecil.
"Semua orang melewati screening. Semua senjata dicatat dan masuk gudang komando. Semua Awakener diuji. Semua makanan mengikuti porsi kontribusi. Kau bisa menjadi Penasihat kalau berguna. Tapi orangmu bukan milikmu lagi setelah masuk gerbangku."
Angin melewati proyek.
Herman menatap tubuh Tanah Keras yang tergantung, lalu menatap Si Hitam yang sudah tidak bergerak di bawah kain.
"Kalau gue menolak?"
"Kau boleh pergi."
"Dan kalau nanti kita ketemu lagi sebagai lawan?"
Hendry menatapnya datar. "Kau sudah melihat jawabannya."
Herman diam dua detik, lalu tertawa pelan. Bukan tawa mengejek. Lebih seperti orang baru saja menghitung harga dan sadar ia masih untung.
"Oke. Orang gue masuk aturan lu. Gue jadi Penasihat kalau lolos masa observasi."
"Tiga hari."
"Tiga hari."
Kesepakatan itu tidak ditandatangani di atas kertas. Di kiamat, mayat Tanah Keras yang tergantung di belakang mereka lebih kuat daripada stempel.
Pergerakan dua ratus orang kembali ke Cluster Pondok Indah memakan waktu sampai sore. Fajar mengatur jalur. Cahaya menyiapkan papan intake kedua yang jauh lebih besar. Dewi memaki pelan saat melihat jumlah mulut baru, tetapi ia tetap menyuruh orang memasak bubur dan nasi dalam panci terbesar.
Gerbang tidak dibuka lebar.
Satu per satu.
Tas dibuka.
Senjata ditaruh di meja.
Nama dicatat.
Luka diperiksa.
Kemampuan diuji.
Orang-orang Herman yang terbiasa bergerak di bawah satu komando beberapa kali terlihat tidak sabar, tetapi setiap kali mereka melihat Raja duduk di dekat meja senjata dengan listrik kecil di gigi, kesabaran mereka kembali.
Malam pertama menghasilkan angka yang membuat base berubah bentuk.
Total manusia menembus dua ratus lima puluh.
Enam belas orang dipilih sementara untuk masuk pelatihan tempur: beberapa Level 1, dua Level 2, sisanya non-Awakener yang punya disiplin jalanan. Mereka tidak langsung menjadi inti. Mereka masuk daftar Fajar.
Herman diterima sebagai calon Penasihat.
Lalu Nasi menggeram.
Kucing kecil itu sejak siang tidur di bahu Hendry. Saat seorang pria berwajah pucat dengan rambut panjang melewati meja pemeriksaan, Nasi tiba-tiba membuka mata dan mendesis.
Pria itu berhenti.
Herman yang sedang bicara dengan Cahaya langsung menoleh. Wajahnya berubah sedikit.
Hendry melihat perubahan itu.
"Nama," kata Fajar.
Pria itu tersenyum malas. "Iblis Kurniawan."
Nama yang terlalu cocok dengan wajahnya.
"Kemampuan?"
"Dark Power Level 3. Bisa bantu jaga malam. Bisa bikin orang takut. Berguna, kan?"
Bayangan di bawah kakinya bergerak, seperti cairan hitam yang ingin merayap ke kaki petugas.
Raja berdiri.
Herman menghela napas. "Komandan, orang ini memang masalah. Dia kuat, tapi dia punya kelompok kecil sendiri. Beberapa kali gue harus turun tangan karena anak buahnya memeras orang di dalam rombongan."
Iblis tertawa. "Pak Herman, jangan fitnah. Orang ikut gue karena merasa aman."
Di belakangnya, empat orang menunduk terlalu cepat.
Hendry melihat tangan salah satu dari mereka gemetar bukan karena takut pada Hendry, tetapi karena takut pada Iblis.
"Berapa orang yang kau paksa?" tanya Hendry.
Iblis mengangkat bahu. "Di kiamat, semua orang paksa semua orang. Bedanya cuma siapa yang punya kemampuan."
"Benar."
Hendry menghilang.
Void Walk.
Ia muncul tepat di depan Iblis.
Senyum Iblis belum sempat hilang ketika lutut kirinya patah ke samping oleh tendangan pendek. Sebelum tubuhnya jatuh, Hendry memutar dan menghantam lutut kanan. Suara tulang pecah terdengar jelas di halaman.
Iblis jatuh, menjerit.
Bayangan di bawah kakinya buyar.
Empat orang yang tadi menunduk langsung mundur seperti rantai di leher mereka putus.
Herman membeku.
Hendry berjongkok di depan Iblis.
"Kemampuan gelapmu berguna."
Iblis menggigil, wajahnya basah keringat. "Lu... lu gila..."
"Kepribadianmu tidak."
Hendry menatapnya seperti menatap alat rusak yang masih punya satu fungsi.
"Mulai hari ini, kemampuanmu bekerja untuk base. Kau akan diawasi Fajar, Sari, dan Raja. Kau tidak memegang senjata. Kau tidak memimpin orang. Kau tidak memilih target. Dan kau tidak akan pernah berdiri tanpa izin."
Iblis membuka mulut, tetapi Raja menggeram di samping kepalanya.
Ia menutup mulut.
Hendry berdiri dan menatap Herman. "Masih mau jadi Penasihat?"
Herman menarik napas panjang. Kali ini senyumnya benar-benar hilang.
"Makin mau."
"Kenapa?"
"Karena gue baru sadar kalau gue masuk ke tempat yang aturannya lebih kuat dari orang terkuat kedua."
Jawaban itu membuat beberapa orang di sekitar menunduk.
Hendry memberi isyarat kepada Fajar. "Bawa Iblis ke ruang tahanan medis. Kakinya dibidai, bukan disembuhkan penuh. Dia hidup karena kemampuannya. Jangan beri dia kesempatan lupa alasan itu."
"Siap."
Malam itu, Cluster Pondok Indah tidak lagi terdengar seperti rumah besar.
Ia terdengar seperti kota kecil yang baru lahir.
Ada langkah penjaga di tiga lapis gerbang. Ada anak-anak menangis karena tempat baru. Ada Dewi memarahi orang yang mencoba mengambil nasi dua kali. Ada Cahaya dan Herman duduk di meja yang sama, menghitung porsi, tenda, dan tugas dengan dua gaya yang sama-sama tajam.
Hendry kembali ke kamar pribadinya setelah tengah malam.
Di atas meja, kotak logam berisi Kristal Level 6 menunggu.
Ia mengunci pintu, duduk bersila, lalu membuka kotak itu.
Tekanan dingin langsung memenuhi kamar.
Hendry mengambil Kristal dengan kedua tangan. Kali ini ia tidak menunda.
Energi masuk seperti banjir yang menabrak pintu baja.
Ruang Dimensi di dalam dirinya bergetar hebat. Stok yang tersusun rapi seolah bergeser dalam jarak yang tidak bisa dilihat mata. Void Walk yang selama ini terasa seperti jangkauan seratus meter mulai melebar, garisnya menarik lebih jauh, lebih tajam.
Level 4 di tubuhnya retak.
Belum pecah.
Tapi retakannya sudah jelas.
Hendry membuka mata di tengah napas berat.
Level 5 sudah di depan pintu.