Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.
Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.
Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Bang Jali menatap Budi dari atas sampai bawah dengan kening berkerut dalam.
Dia sepertinya tidak menyangka akan mendapat jawaban setenang itu dari pemuda yang biasanya selalu ketakutan ini.
"Masuk ke dalam dan bicarakan."
Bang Jali mendengus kasar sambil meludah ke samping pot tanaman mati di depan kamar.
"Tumben sekali nyalimu tiba tiba jadi besar malam ini Budi."
Budi tidak membalas ucapan itu dan hanya fokus membuka gembok pintunya.
Klak.
Pintu kayu yang rapuh itu terbuka berderit.
Budi melangkah masuk dan mempersilakan pria berbadan besar itu untuk mengikutinya.
Kamar kos Budi yang sempit terasa semakin sesak dengan kehadiran Bang Jali.
Pria berjaket kulit itu langsung duduk di atas kasur tipis Budi tanpa diminta.
"Nah, sekarang apa yang mau kamu bicarakan."
Bang Jali menengadahkan tangannya meminta jatah uang bulanan.
"Keluarkan uang empat juta delapan ratus ribu milik bos besar sekarang juga."
Budi berdiri di depan pintu yang tertutup sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Sisa utang pokok bapakku bulan ini tepat dua puluh juta rupiah kan Bang."
"Benar, dan bunganya terus berjalan setiap bulan karena kamu selalu bayar minimum."
Bang Jali menjawab dengan nada meremehkan.
"Bulan ini aku tidak akan bayar empat juta delapan ratus ribu seperti biasanya Bang."
Mata Bang Jali langsung melotot tajam dan urat di lehernya mulai menonjol keluar.
"Kamu mau cari mati Budi."
"Bos besar sudah bilang kalau kamu menunggak lagi bulan ini, kakimu akan dipatahkan."
Bang Jali bangkit berdiri hingga kepalanya hampir menyentuh langit langit kamar kos.
Budi sama sekali tidak bergeming dari posisinya dan menatap lurus ke mata pria itu.
"Aku bukan mau menunggak Bang Jali, tolong dengarkan dulu tawaranku."
"Aku akan membayar tunai tiga juta lima ratus ribu rupiah malam ini juga."
Bang Jali menghentikan langkahnya dan kembali menatap Budi dengan tatapan menilai.
"Tiga juta lima ratus ribu."
"Itu bahkan tidak cukup untuk menutupi target bunga beserta cicilan pokok bulan ini."
Budi menganggukkan kepalanya dengan sangat tenang.
"Itu memang rencananya Bang."
"Tiga juta murni untuk memotong utang pokok, dan lima ratus ribu sisanya untuk uang rokok Abang dan jatah admin bos."
Brak.
Bang Jali menggebrak meja belajar kecil Budi hingga meja itu bergetar hebat.
"Kamu pikir bos besar itu lembaga amal yang bisa kamu atur atur bunganya."
"Aku jamin besok pagi kamarmu ini sudah rata dengan tanah Budi."
Budi menghela napas panjang dan mulai mengeluarkan kartu as negosiasinya.
"Dengar Bang Jali, aku tahu bos besar itu pengusaha yang mengutamakan keuntungan uang di atas segalanya."
"Kalau kamarku dihancurkan dan kakiku dipatahkan, apakah bos besar akan dapat uangnya kembali."
Budi menunjuk ke arah dirinya sendiri dengan telunjuknya.
"Aku ini karyawan kantoran Bang, kalau aku cacat aku pasti dipecat."
"Kalau aku dipecat, jangankan tiga juta, sepuluh ribu rupiah pun bos tidak akan dapat dari orang mati."
Bang Jali terdiam sejenak mencerna ucapan logis dari pemuda di depannya ini.
Pria besar itu perlahan duduk kembali di atas kasur Budi.
"Lalu apa maumu sekarang."
"Aku minta bunga utangku dibekukan secara permanen mulai bulan ini Bang."
Budi menyatakan tuntutannya dengan suara yang sangat mantap dan jelas.
"Sebagai gantinya, aku jamin sisa utang pokok tujuh belas juta itu akan lunas total dalam waktu tiga bulan."
Bang Jali tertawa sinis mendengar janji yang terdengar sangat mustahil itu.
"Hahaha, melunasi tujuh belas juta dalam tiga bulan."
"Gajimu saja cuma pas pasan buat makan nasi bungkus, mau dapat uang dari mana kamu."
Budi tersenyum misterius dan mengambil dompetnya dari dalam tas.
"Itu bukan urusan Abang dari mana aku dapat uangnya."
"Yang jelas aku sekarang sudah punya pekerjaan sampingan mengurus pembukuan restoran besar yang bayarannya mahal."
Tentu saja Budi sengaja berbohong dan menggunakan Kedai Pak Mamat sebagai alibi yang masuk akal.
Budi mengeluarkan tumpukan uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu dari dalam dompet serta amplop gajiannya.
Dia menghitung uang itu dengan cepat di depan mata Bang Jali.
Srekk srekk srekk.
Suara gesekan lembaran uang baru itu langsung membuat mata Bang Jali sedikit berbinar.
"Ini tiga juta lima ratus ribu rupiah tunai tanpa kurang sepeser pun."
Budi meletakkan tumpukan uang merah dan biru itu di atas meja.
"Sampaikan pesanku pada bos besar Bang."
"Bekukan bunganya, dan dia akan dapat semua uangnya kembali utuh dalam tiga bulan tanpa harus repot menyewa preman."
Bang Jali menatap tumpukan uang itu lalu menatap Budi bergantian.
Dia bisa melihat tekad yang sangat kuat dan aura percaya diri yang belum pernah ada di diri Budi sebelumnya.
Pemuda penakut ini sudah benar benar berubah.
Bang Jali mengulurkan tangannya dan mengambil tumpukan uang tersebut.
"Bagus Budi, aku suka caramu bicara malam ini, sangat mirip dengan gaya orang bisnis."
Bang Jali memasukkan uang itu ke dalam tas pinggang kulitnya.
"Baiklah aku akan membantumu... Aku akan sampaikan tawaran gilamu ini pada bos besar."
"Tapi ingat, kalau bos besar tidak setuju, kau bersiaplah menghadapi masalah yang jauh lebih besar dariku."
"Aku mengerti risikonya Bang, terima kasih sudah mau mendengarkan."
Bang Jali bangkit dari kasur dan berjalan menuju pintu keluar.
Sebelum benar benar keluar, dia menoleh ke arah Budi dan tersenyum tipis.
"Semoga pekerjaan sampinganmu itu benar benar lancar Budi."
"Sayang sekali kalau pemuda pintar sepertimu harus berakhir di dasar sungai."