NovelToon NovelToon
Gadis Kelinci Milik Bryan Sang Alpha

Gadis Kelinci Milik Bryan Sang Alpha

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Action / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yogitha Ratnajyoti

Langit malam menggantung pekat ketika langkah Viona tersandung di gang sempit napasnya memburu, jantungnya nyaris pecah saat suara tawa kasar para pria di belakangnya semakin dekat.

“Jangan lari, manis...kami cuma ingin bersenang-senang bersamamu...”

Air mata Viona jatuh tanpa suara hingga tiba-tiba, langkah lain memecah malam.

Satu sosok berdiri di hadapannya.

Bryan.

Tatapannya dingin, tajam, tak tersentuh. Dalam hitungan detik, teriakan berubah menjadi pekikan. Baku hantam tak terhindarkan, cepat, dan tanpa ampun.

Sunyi kembali turun saat para pria itu terkapar.
Dengan tubuh gemetar, Viona mendekat.

“Te-terima kasih...”

Namun Bryan bahkan tak menoleh lama padanya.

“Gak usah berlebihan,” ucapnya datar.

“Lekas pulang. Area ini bukan untuk gadis kecil sepertimu.”

Dingin. Jauh dari kata ramah. Tetapi sejak malam itu takdir mereka telah saling terikat satu sama lain. Mereka kerap tak sengaja bertemu di tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dinner

  Sore ini, langit mulai berubah warna menjadi jingga ketika aktivitas di Briliant Wijaya Group perlahan mereda. Sejak pagi, Bryan terus berusaha fokus pada pekerjaannya namun entah kenapa pikirannya selalu kembali pada satu orang.

 Tatapan gadis itu ketika mereka berpapasan tadi masih terbayang jelas di kepalanya. Pertama kalinya, Bryan merasa ingin melakukan sesuatu bukan karena kewajiban, bukan karena strategi, bukan karena urusan organisasi, tapi karena dirinya sendiri.

 Di meja kerja, Bryan terdiam menatap layar ponselnya. Sebuah kontak terbuka, jarinya berhenti beberapa detik sebelum akhirnya mengetik pesan.

"[Viona, kamu sudah selesai kerja?]"

  Tidak lama kemudian balasan masuk.

"[Sudah, Pak. Ada apa?]"

  Bryan menatap panggilan "Pak" itu dan tanpa sadar tersenyum kecil. Ia lalu mengetik lagi.

"[Kalau kamu tidak keberatan...mau makan malam bersama denganku?]"

 Beberapa detik menjadi menit Bryan yang biasanya tidak pernah gugup menghadapi apa pun, justru merasa aneh hanya menunggu balasan pesan dari seorang wanita. Hingga akhirnya sebuah balasan tiba.

"[Boleh, Pak...]"

   Bryan menarik nafas pelan, entah kenapa satu kalimat sederhana itu membuat suasana hatinya berubah.

   Sore ini, mobil Porsche merah berhenti di depan gedung Briliant Wijaya Group. Viona keluar membawa tasnya ia terlihat sedikit gugup.

"Pak Bryan..."

 Bryan yang berdiri di samping mobil menoleh.

"Kita pergi?"

  Viona mengangguk kecil.

"Iya..."

 Sepanjang perjalanan, suasana tidak terasa canggung seperti yang Viona bayangkan. Bryan memang tidak banyak bicara. Namun setiap kali Viona bertanya sesuatu, ia selalu menjawab dengan tenang.

"Bapak sering makan sendirian?" tanya Viona tiba-tiba.

 Bryan meliriknya.

"Kenapa bertanya begitu?"

"Soalnya...Bapak kelihatan seperti orang yang selalu sibuk..."

 Bryan tersenyum tipis.

"Mungkin memang begitu..."

"Apa tidak capek?"

 Pertanyaan sederhana itu membuat Bryan terdiam karena selama ini hampir tidak banyak orang yang bertanya hal seperti itu padanya.

Bukan tentang pekerjaannya, bukan tentang kekuasaannya, tetapi tentang dirinya.

"Capek..."

 Jawaban jujur itu membuat Viona sedikit terkejut.

"Tapi saya sudah terbiasa..."

 Viona tersenyum kecil.

"Tapi coba sesekali jangan terbiasa sendirian, Pak..."

 Bryan menatapnya sebentar, kalimat itu sederhana tapi entah kenapa terasa seperti menyentuh bagian dirinya yang selama ini ia tutup rapat.

 Malam mulai turun ketika Bryan mengantar Viona pulang. Mobilnya berhenti di depan rumah keluarga Prasetya Bryan sedikit terdiam, Viona pun akhirnya turun dari mobil.

"Pak Bryan..."

"Hm?"

"Masuk dulu sebentar..."

 Bryan langsung ingin menolak. Namun melihat senyum kecil Viona, akhirnya ia mengangguk.

"Baik..."

 Pintu rumah terbuka.

"Viona sudah pulang?" Suara Harsh terdengar dari ruang tengah.

 Namun langkahnya langsung berhenti ketika melihat siapa yang masuk bersama adiknya matanya sedikit menyipit.

 Untuk sesaat suasana berubah Harsh tahu, dia tahu siapa pria di depannya. Pria yang namanya tidak asing di dunia mafia, pria yang memiliki dua wajah.

 Pengusaha muda sukses di siang hari dan pemimpin muda dunia bawah tanah di malam hari. Bryan pun menyadari tatapan Harsh namun sebelum Harsh mengatakan sesuatu, Bryan memberikan kode kecil dengan tatapannya.

 Jangan bongkar semuanya di depan Viona. Harsh langsung memahami kode itu, lima tahun mencari cara melindungi keluarganya membuatnya paham bahasa tanpa kata. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya kasar ke udara dan ekspresinya berubah.

"Oh..." Harsh tersenyum sopan.

"Temannya Viona?"

 Viona langsung tersenyum.

"Bukan, Mas. Kenalin, ini Pak Bryan. Dia atasanku di kantor aku bekerja..."

 Bryan mengulurkan tangan.

"Salam kenal saya, Bryan Anggara Wijaya..."

 Harsh membalas uluran tangan itu.

"Harsh Aditya Prasetya..."

 Keduanya saling berjabat tangan padahal mereka berdua tahu. Mereka bukan orang asing, mereka pernah berada di sisi yang sama dalam beberapa situasi.

 Mereka pernah saling mengetahui keberadaan masing-masing satu sama lain. Tapi malam ini mereka memilih berpura-pura.

"Senang bertemu dengan Anda..."

"Begitu juga sebaliknya..."

 Alvania yang duduk di sofa memperhatikan keduanya. Ada sesuatu yang terasa aneh baginya, tatapan mereka terlalu tenang seolah mereka bukan benar-benar baru bertemu. Namun ia memilih diam dalam hal ini.

...****************...

 Tidak lama kemudian, Roy datang. Begitu melihat Bryan duduk di ruang keluarga, langkahnya berhenti.

 Bryan adalah rivalnya, orang yang selama ini berada di sisi berlawanan dengannya. Keduanya saling menatap ada ketegangan kecil diantara mereka.

 Namun Roy melihat Harsh yang memberi isyarat. Jangan sekarang dan Roy pun mengerti, ia pun mengubah ekspresinya.

"Oh, ada tamu?"

 Viona tersenyum.

"Mas Roy, kenalin. Ini Pak Bryan..."

 Roy mendekat.

"Roy Arya Pratama..."

"Bryan Anggara Wijaya..."

 Mereka berjabat tangan, dua orang yang sebenarnya sudah tahu banyak tentang satu sama lain. Dua orang yang pernah saling berhadapan dalam berbagai situasi persaingan, kini berpura-pura seperti baru awal bertemu.

"Semoga kita bisa bekerja sama..." ucapan Bryan terdengar biasa.

  Namun Roy tahu ada makna lain di baliknya. Roy tersenyum tipis.

"Tentu..."

  Malam ini, rumah keluarga Prasetya menjadi tempat aneh. Tiga orang dengan dunia yang saling terhubung.

Harsh....

Roy....

Bryan....

 Mereka semua menyimpan rahasia sementara Viona dan Alvania tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Bagi Viona malam ini hanya tentang mengenalkan seseorang yang perlahan membuat dirinya penasaran.

 Namun bagi Bryan, ini adalah pertama kalinya ia berdiri begitu dekat dengan keluarga yang ingin ia lindungi.

 Ia pun mulai berpikir, mungkin menjaga jarak tidak selalu berarti melindungi. Mungkin terkadang seseorang justru perlu diberi kesempatan untuk mengenal sisi dirinya yang sebenarnya.

 Malam mulai menunjukkan pukul 18.39 wib, ketika suasana ruang keluarga Prasetya mulai terasa lebih santai. Bryan yang sejak tadi berbincang dengan Harsh akhirnya berdiri. Ia melirik Viona sebentar, lalu kembali menatap Harsh.

"Mas Harsh..."

 Harsh menoleh.

"Ada yang ingin saya minta izin dari Anda..."

 Viona sedikit terkejut mendengar itu. Bryan melanjutkan dengan tenang.

"Kalau tidak keberatan, saya ingin mengajak Viona makan malam ke rumah saya..."

 Ruangan langsung sedikit hening Viona menatap Bryan, tidak menyangka pria itu akan meminta izin langsung kepada kakaknya. Harsh memperhatikan wajah Bryan beberapa detik.

 Ia tahu pria ini bukan orang biasa. Tetapi ia juga melihat sesuatu yang berbeda dari cara Bryan memandang Viona.

Bukan seperti seseorang yang ingin memanfaatkan melainkan seseorang yang sedang berusaha menjaga. Akhirnya Harsh tersenyum kecil.

"Kalau Viona mau, saya izinkan..."

Viona langsung tersenyum.

"Makasih, Mas..."

Harsh mengangguk.

"Tapi jangan terlalu malam pulangnya..."

Bryan membalas dengan sopan.

"Tentu..."

Di sisi lain ruangan Roy yang sejak tadi diam memperhatikan semuanya. Tangannya mengepal perlahan bukan karena amarah akan tetapi karena ada perasaan yang tidak bisa ia abaikan.

Sejak awal ia memang merasa nyaman bersama Viona. Gadis itu berbeda, tidak seperti orang-orang yang biasanya ia temui. Viona adalah gadis yang begitu tulus.

Dan tanpa sadar, Roy mulai menyukai keberadaan gadis itu. Namun melihat bagaimana Viona tersenyum ketika bersama Bryan. Ada rasa tidak nyaman yang muncul, Alvania yang duduk di samping Roy menyadari perubahan ekspresinya.

"Roy..."

Roy tersadar.

"Hm?"

"Lo kenapa?"

Roy langsung menggeleng.

"Gak apa-apa..."

Alvania menatapnya sebentar. Ia tahu Roy sedang menyembunyikan sesuatu, tetapi ia memilih diam. Sebelum pergi, Bryan sempat berbicara dengan Alvania.

"Alvania..."

Alvania menoleh.

"Iya?"

Bryan tersenyum kecil.

"Saya senang melihat kamu sekarang baik-baik saja..."

Kalimat itu membuat Alvania terdiam karena ia tahu pria di depannya adalah orang yang pernah membantunya saat dirinya berada di titik sulit. Ia pun akhirnya tersenyum tulus.

"Thanks, Mas Bryan..."

Bryan menggeleng.

"Tidak perlu..."

"Tetap saja..."

Alvania menarik napas.

"Aku gak akan lupa kalau malam itu kamu membantu aku..."

Bryan hanya tersenyum ramah.

"Bisa melihat kamu aman sekarang sudah cukup..."

Dari kejauhan, Silvia memperhatikan. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi Bryan yang berbeda. Bukan pria dingin yang selalu terlihat sulit didekati tapi seseorang yang ternyata memiliki kepedulian besar. Silvia tersenyum kecil.

"Ternyata..."

"Dia enggak sedingin yang terlihat..."

...****************...

Tidak lama kemudian, Bryan membawa Viona pergi. Di dalam mobil, Viona terlihat sedikit gugup.

"Pak Bryan..."

"Hm?"

"Tadi Anda kelihatan sangat serius waktu bertemu Mas Harsh..."

Bryan melirik sebentar.

"Karena dia kakakmu..."

Viona tersenyum.

"Anda takut pada Mas Harsh?"

Bryan hampir tertawa kecil.

"Dia orang yang penting buat kamu..."

"Jadi saya harus menghargainya..."

Jawaban itu membuat Viona diam sejenak. Ada sesuatu dari Bryan yang membuatnya nyaman.

...****************...

Beberapa waktu kemudian, mobil berhenti di depan sebuah mansion besar. Viona sedikit terkejut melihat tempat itu. Rumah yang sangat luas dan terlihat elegan yang baginya hanya ada di dunia dongeng dan novel sajA.

"Ini...?"

"Rumahku..."

Bryan turun lalu membukakan pintu untuk Viona.

"Tenang saja..."

"Aku sudah menjelaskan sedikit tentang kamu ke keluargaku..."

Viona menoleh.

"Kepada siapa?"

Bryan hanya tersenyum tipis.

"Nanti kamu tahu..."

Begitu pintu mansion terbuka, seorang wanita paruh baya elegan langsung muncul. Mama Airin muncul dengan aura wajah yang langsung berubah cerah seketika melihat Bryan datang. Namun yang membuatnya lebih terkejut dan bahagia adalah sosok wanita di samping putranya.

"Bryan..."

Lalu netranya berpindah pada Viona senyumnya semakin lebar.

"Jadi ini?"

Bryan menghela nafas kecil dan dihembuskan kasar ke udara.

"Mama..."

Mama Airin langsung menghampiri Viona.

"Kamu Viona, ya?"

Viona langsung tersenyum sopan.

"Iya, Tante..."

Airin memperhatikan Viona dari atas sampai bawah. Bukan dengan tatapan menghakimi melainkan tatapan penuh rasa kagum.

"Kamu cantik sekali..."

Viona sedikit malu.

"Terima kasih, Tante..."

"Tapi yang paling mama suka..."

Airin tersenyum.

"Kamu terlihat sederhana, tapi elegan..."

Bryan hanya diam melihat ibunya yang terlihat sangat bahagia karena sudah lama sekali ia tidak melihat ibunya sesenang itu. Untung saja sebelum sampai mansion tadi, Bryan sudah memberi beberapa arahan kecil pada Viona.

"Nanti bicaranya santai saja..."

"Jangan terlalu tegang..."

"Kalau Mama saya bertanya banyak, jawab saja apa adanya..."

Dan Viona mengikuti semuanya, ia bersikap sopan, tidak berlebihan, tidak mencoba membuat kesan palsu. Justru itu yang membuat Mama Airin semakin menyukainya.

"Bryan..."

"Iya, Ma?"

Airin tersenyum sambil melihat Viona.

"Akhirnya kamu membawa seseorang pulang..."

Bryan terdiam sementara Viona hanya tersenyum kecil. Namun tanpa mereka sadari malam ini bukan hanya tentang sebuah makan malam.

Karena bagi Mama Airin, ini adalah pertama kalinya ia melihat putranya membuka pintu yang selama ini selalu tertutup rapat.

Dan bagi Bryan ini adalah pertama kalinya ia membawa seseorang masuk ke dunia pribadinya. Dunia yang selama ini ia lindungi dari siapa pun.

BERSAMBUNG.

1
Zainuri Zaira
tu ank yg dri cina knp tak smapai 2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!