Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Satu. Dua. Tiga. Langkah-langkah kaki misterius berdatangan dalam jumlah masif dari segala penjuru.
Shen Yue mendadak mendorong dada Yunche ke belakang dengan cukup keras. "Pergi!"
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu di sini!" seru Yunche tegas.
"Yunche, dengarkan aku—"
"Aku bilang tidak ya tidak!"
Shen Yue menatap keponakannya itu sejenak. Sebuah senyum haru nan tulus terukir di bibir pucatnya. "Kau benar-benar anak dari kakakku."
"Apa?" Yunche mengernyit bingung.
"Pergi dari sini sekarang!" bentak Shen Yue seraya mengangkat kedua tangannya.
Seketika, sebuah pola formasi ruang menyala terang di bawah pijakan kaki Yunche. Pendar cahaya putih yang teramat menyilaukan membungkus seluruh tubuh pemuda itu.
"Shen Yue!" jerit Yunche panik.
"Pergi, Yunche!"
"Jangan lakukan ini!"
Pendar cahaya itu kian menghebat. Namun, tepat sebelum bayangan tubuh Yunche benar-benar terlempar melintasi ruang, gema suara Shen Yue yang sarat pesan terakhir terdengar samar di telinganya.
Jaga Gu Qingli... jangan pernah biarkan gadis itu berjalan sendirian dalam kegelapan.
Yunche membeku mendengarnya. Lalu—SWOOSH!—cahaya menyilaukan itu meledak dan menyapu sosok Yunche melenyap dari tempatnya.
BOOM!
Sebuah ledakan energi dahsyat membelah keheningan Hutan Bambu Utara.
Di sisi lain hutan, Gu Qingli yang sedang bergegas mencari keberadaan Yunche mendadak menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah sumber ledakan. Di kejauhan, terlihat gulungan pendar cahaya membumbung tinggi di atas pucuk-pucuk bambu.
"Yunche?" bisiknya. Entah mengapa, gejolak gelisah langsung membakar dadanya hingga jantungnya berpacu kencang. Tanpa ragu lagi, Gu Qingli berlari secepat mungkin menuju pusat pendaran cahaya itu.
Makin dekat dia melangkah, suara denturan pertempuran terdengar kian membahana.
"Yunche!" teriak Gu Qingli memanggil. Tak ada sahutan. Dia makin mempercepat ayunan kakinya, hingga tiba-tiba sosok seseorang melangkah keluar memotong jalannya.
Gu Qingli terperanjat dan menahan langkahnya seketika. "Kakak Xiao?"
Xiao Hanzhou berdiri tegak di hadapannya. "Qingli."
"Apa yang kau lakukan di hutan ini?" tanya Gu Qingli heran.
"Aku mencarimu," sahut Xiao Hanzhou datar.
"Aku sedang mencari Yunche. Kau ada melihatnya?"
Xiao Hanzhou membisu sejenak, tatapannya menyelimuti raut cemas gadis di depannya. "Dia tidak ada di sekitar sini, Qingli."
Gu Qingli mengerutkan keningnya penuh curiga. "Bagaimana kau bisa seyakin itu?"
Xiao Hanzhou memilih untuk tidak menjawab. Keheningan itu makin memperkuat firasat buruk Gu Qingli.
"Kakak Xiao... kau tahu sesuatu tentang keberadaan Yunche, kan? Jawab aku!" tegas Gu Qingli menuntut.
Xiao Hanzhou menghela napas panjang. "Aku hanya tahu dia melangkah masuk ke dalam hutan ini."
"Siapa yang memberitahumu hal itu?"
Xiao Hanzhou tetap bungkam.
Gu Qingli menatap pria di depannya dengan ketegasan yang tak bisa ditawar. "Kakak Xiao."
"Aku hanya ingin melindungimu dari bahaya, Qingli," sahut Xiao Hanzhou pelan.
"Kalau begitu katakan sejujurnya padaku!"
"Belum waktunya bagimu untuk mengetahui segalanya."
Gu Qingli menyunggingkan senyum pahit. "Selalu saja alasan yang sama..." Dia memutuskan untuk mengabaikan Xiao Hanzhou dan melangkah melewatinya.
"Qingli, berhenti!" panggil Xiao Hanzhou.
Langkah Gu Qingli tertahan, namun dia tidak membalikkan badan. "Kenapa?"
"Karena area di depan sana teramat berbahaya bagimu."
Gu Qingli menoleh sedikit, menyunggingkan senyum tipis yang sarat ketetapan hati. "Yunche ada di sana, Kakak Xiao."
"Justru karena dialah tempat itu menjadi sangat berbahaya!" potong Xiao Hanzhou menekan. "Jika kau memaksakan diri melangkah ke sana... kau mungkin tak akan pernah bisa kembali lagi."
Gu Qingli terpaku sejenak mendengarnya. Namun bukannya gentar, sebuah senyuman tenang justru terukir di paras cantiknya. "Kalau begitu... aku akan pergi bersamanya."
Gadis itu kembali mengayunkan langkahnya, namun cengkeraman erat Xiao Hanzhou pada lengannya menahan gerakannya secara paksa. Gu Qingli mendadak berhenti dan menatap lengannya yang tertahan, lalu beralih menatap tajam sepasang mata Xiao Hanzhou. "Lepaskan, Kakak Xiao."
"Aku tidak bisa membiarkanmu mempertaruhkan nyawamu demi dia."
"Kenapa?" tantang Gu Qingli.
Xiao Hanzhou terdiam, tak sanggup menyuarakan gejolak di dalam dadanya. Gu Qingli secara perlahan namun tegas menghempaskan cengkeraman tangan Xiao Hanzhou dari lengannya.
"Jika pada akhirnya aku memang tidak akan pernah kembali..." ucap Gu Qingli dingin, "...maka itu adalah jalan hidup yang kupilih sendiri."
Tanpa menunggu balasan lagi, Gu Qingli melesat pergi menghilang di balik kerimbunan bambu, meninggalkan Xiao Hanzhou yang berdiri mematung sendirian dengan tangan mengepal erat ditahan murka.
BUK!
Di tempat terpisah, Yunche terlempar keluar dari celah formasi dan jatuh menghantam tanah keras.
"Ah!" Yunche meringis kesakitan, namun dia langsung bangkit berdiri seraya memburu sekelilingnya. "Shen Yue! Di mana kau?!"
Tak ada siapapun di sana. Hutan bambu di area ini tampak begitu terisolasi dan sunyi mencekam.
"Shen Yue!" panggil Yunche lagi.
Sadar tak ada jawaban, Yunche berbalik hendak memburu kembali ke arah tempat pertarungan tadi. Namun, pendar formasi pelindung di tanah telah memudar sepenuhnya dan melenyap tanpa jejak.
"Brengsek!" umpat Yunche seraya menendang tanah meluapkan emosinya.
Namun saat menundukkan kepala, sebuah bercak menarik perhatiannya. Darah.
Yunche membeku. Setetes, dua tetes... jejak darah segar membentuk alur yang mengarah masuk makin dalam ke kegelapan hutan. Dengan pedang kayu tergenggam erat di tangan, Yunche melangkah pelan mengikuti jejak tersebut.
Makin jauh melangkah, ceceran darah itu kian pekat. "Shen Yue..." bisiknya khawatir.
Hingga akhirnya, langkah Yunche terhenti saat matanya menangkap selembar kain putih yang terkoyak dan bersimbah darah tergeletak di atas semak. Yunche berlutut dan mengambilnya. Betapa terkejutnya dia saat menemukan lambang bordiran resmi milik Keluarga Gu terukir di sudut kain tersebut.
"Ini... lambang Keluarga Gu?" gumamnya tak percaya.
"Shen Yunche."
Sebuah suara dingin bergema dari balik punggungnya. Yunche tersentak dan berbalik cepat dengan posisi siaga, pedang teracung lurus. Sosok bertudung dan berjubah hitam pekat berdiri tenang di bawah bayangan pohon.
"Siapa kau?!" bentak Yunche.
Pria bertudung itu tertawa terkekeh, suara yang sangat berat dan misterius. "Kau rupanya sudah bertemu dengan Shen Yue."
Mata Yunche membelalak tajam. "Kau... kau yang menyerangnya?!"
"Tenanglah, wanita itu masih bernapas," sahut pria bertudung itu santai.
Yunche menahan napasnya, sedikit lega. "Di mana dia sekarang?!"
"Jika kau sungguh-sungguh ingin mengetahuinya..." Pria berjubah hitam itu perlahan mengangkat tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit, menunjuk ke arah utara. "...datanglah ke Gunung Tianyuan."
Tubuh Yunche membeku mendengar nama wilayah terlarang itu. "Atas dasar apa aku harus memercayai omong kosongmu?!"
"Karena..." Pria bertudung itu memiringkan kepalanya, menatap lurus ke arah liontin hitam di dada Yunche. "...ayahmu juga pernah menginjajkan kakinya di sana."
Yunche terbungkam.
Pria itu melanjutkan dengan nada yang amat memikat, "Dan di sana... dia menyembunyikan sesuatu khusus untukmu."
Yunche mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Sesuatu apa?"
"Sebuah jawaban."
"Jawaban atas apa?!"
"Jawaban pasti mengenai alasan mengapa dia harus mati," bisik pria bertudung itu.
Keheningan yang mencekam melingkupi mereka berdua. Yunche menatap sosok misterius itu dengan gejolak emosi yang berkecamuk.
Pria berjubah hitam itu berbalik memunggungi Yunche untuk pergi. Namun tepat sebelum bayangannya melebur bersama kegelapan malam hutan, dia menyempatkan diri menyisakan kalimat terakhir: "Dan jika kau berniat membongkar siapa sosok sebenarnya yang telah menghabisi nyawa ayahmu... datanglah ke sana."
SWOOSH!
Sosok pria misterius itu melenyap begitu saja di balik rimbunnya pepohonan, menyisakan Yunche yang berdiri terpaku seorang diri.
Gunung Tianyuan—wilayah berbahaya yang sempat diwanti-wanti oleh ayahnya untuk dijauhi, tempat yang baru saja disebutkan oleh bibinya, Shen Yue, sekaligus tempat yang kini menyimpan seluruh jawaban atas takdir kelamnya.
Yunche menurunkan pandangannya, meremas liontin hitam di dadanya dengan tatapan mata yang berkilat tajam dan penuh keteguhan.
"Tunggu aku..." bisiknya dingin pada angin malam. "Aku pasti akan datang."
apa gk syok tuh thor