Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
Baru saja Bimo, Siska, dan Mirin kembali ke meja kerja mereka masing-masing dengan membawa setumpuk bahan draf iklan, pintu kaca depan kantor mendadak terbuka.
Suara ketukan sepatu hak tinggi dan berkelas seketika memecah konsentrasi seisi ruangan. Semua mata langsung tertuju ke arah pintu masuk.
Sesosok gadis modis melangkah masuk dengan sangat percaya diri. Ia mengenakan pakaian semi-formal yang tampak pas di tubuhnya. Lengkap dengan tas branded mewah yang tersampir santai di bahu. Kehadirannya membawa aroma parfum mahal yang seketika memenuhi ruangan.
Siska langsung menyenggol lengan Bimo dengan sikunya. "Bim, lihat deh. Itu anak magang baru? Auranya... beda banget sama kita-kita yang kaum pekerja keras ini," bisiknya penuh selidik.
"Iya, kinclong bener. Bau-baunya anak pemilik saham atau minimal kolega bos besar," sahut Bimo berbisik. Tak lepas menatap gadis yang kini berjalan mendekati meja mereka.
"Hai, Kenzo!" sapa gadis itu dengan suara yang renyah dan senyum manis yang mengembang sempurna.
Kenzo yang sedang menatap layar komputernya langsung mendongak. Alisnya sedikit terangkat, tampak terkejut melihat sosok yang sangat ia kenal itu tiba-tiba berdiri di depannya. "Safia? Kok... kamu bisa di sini?"
"Ya bisa dong. Aku sengaja minta magang di agensi ini pas tahu kamu juga di sini," jawab Safia tanpa ragu. Memamerkan kedekatan mereka di depan semua orang. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah meja Kenzo. Membiarkan rambutnya yang tertata rapi tergerai halus. "Mulai hari ini, kita satu divisi. Seru, kan?"
Kenzo hanya menghela napas pelan, lalu memberikan anggukan sopan yang terasa agak kaku. "Oh. Selamat bergabung."
Langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah koridor luar, disusul munculnya Pak Gunawan dengan wajah yang sedikit memerah dan napas yang agak terengah-engah.
Beliau langsung masuk ke ruangan tim kreatif tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Safia!" panggil Pak Gunawan. Suaranya terdengar panik dan kesal.
Safia yang tadinya sedang asyik bersandar di meja Kenzo langsung menoleh. Alisnya bertaut heran melihat kedatangan pria paruh baya itu. "Eh, Om Gunawan? Ada apa?"
Mendengar panggilan 'Om', Siska langsung menyenggol lengan Bimo dengan kode mata yang sangat jelas. 'Tuh, kan, apa gue bilang. Koneksi orang dalam!' batin Siska.
Pak Gunawan menghela napas panjang, mencoba meredam kekesalannya di depan staf yang lain. Ia melirik ke semua orang sejenak, lalu kembali menatap Safia dengan tatapan menegur.
"Safia, kamu ini bagaimana? Prosedurnya kan kamu harus lewat HRD dulu untuk tanda tangan berkas dan pengenalan umum, baru nanti HRD yang mengantar kamu masuk resmi ke divisi kreatif ini," tegur Pak Gunawan dengan suara tertahan. "Sama seperti Kenzo dulu waktu pertama kali masuk. Semuanya ada aturan mainnya, jangan langsung nyelonong masuk ke sini."
Safia hanya mengerucutkan bibirnya manja, sama sekali tidak terlihat takut dengan teguran Pak Gunawan. "Aduh, Om, kan cuma beda ruangan sedikit. Lagian aku langsung tahu ruangan ini karena lihat Kenzo dari depan."
Pak Gunawan menghela napas panjang, mengurungkan niatnya untuk membawa Safia ke ruang HRD terlebih dahulu. Melihat situasi yang sudah terlanjur basah, beliau memutuskan untuk langsung menyelesaikan perkenalan di tempat.
"Ya sudah. Karena dia sudah ada di sini, langsung saya kenalkan pada kalian," ujar Pak Gunawan sambil merapikan jasnya. Beliau mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. "Mana Fela?"
"Dia di ruangannya, Pak," jawab Bimo cepat sambil menunjuk ke arah pintu ruang kubus kaca.
"Panggil dia," perintah Pak Gunawan.
Mirin yang berdiri paling dekat dengan koridor langsung bergerak menuju pintu ruang Fela. Setelah mengetuk pintu dua kali dengan sopan, ia mendorong pintu kaca tersebut dan melangkah masuk.
Fela yang sedang menatap layar komputernya langsung mendongak. "Ada apa, Mirin?"
"Pak Gunawan ada di sini, Kak," lapor Mirin.
"Ada perlu apa?" Fela mengernyitkan dahi, heran. Sama sekali tidak ada pemberitahuan atau jadwal pertemuan dengan Pak Gunawan hari ini.
"Ada anak magang baru lagi," jelas Mirin singkat.
"Oh, ya?" Fela sedikit terkejut.
"Iya, ditunggu sekarang di luar, Kak."
"Oke," sahut Fela sambil bangkit dari duduknya. Ia merapikan blazer hitamnya sejenak, lalu melangkah keluar mengekor di belakang Mirin.
Begitu Fela keluar dari ruang kubusnya, Pak Gunawan langsung menyambutnya dengan senyum formal.
"Fela, Bapak punya anak magang baru lagi untuk tim kamu," kata Pak Gunawan sambil menggerakkan tangannya, menunjukkan gadis yang berdiri di sampingnya.
Mata Fela langsung bergeser ke arah yang ditunjuk Pak Gunawan. Detik itu juga, pandangannya tertuju pada seorang gadis sangat cantik dengan gaya berpakaian yang manis, modern, sekaligus sangat mencolok untuk ukuran lingkungan kantor agensi mereka.
Safia tersenyum lebar ke arah Fela, namun sorot matanya yang percaya diri seolah langsung menilai penampilan Fela dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Dia manajer tim kreatif. Karena di sini juga ada Kenzo, kamu akan saya taruh di sini," ujar Pak Gunawan, lalu beralih menatap Fela. "Dia anak magang, sama dengan Kenzo, Fel."
Anak SMA lagi? batin Fela menghela napas dalam hati, sedikit jengah karena divisinya mendadak seperti tempat penampungan bocah labil.
Fela mengulurkan tangannya dengan sikap profesional yang dingin. Gadis di depannya menyambut uluran tangan itu dengan senyum manis yang tampak sangat percaya diri.
"Aku Safia. Temannya Kenzo, Manajer," ucap Safia. Gadis ini seperti sengaja menekankan kata 'temannya Kenzo' sambil memberikan tatapan penuh arti.
Mendengar nama Kenzo disebut begitu akrab, bola mata Fela langsung melirik ke arah bocah itu sekilas. Kebetulan sekali, pada detik yang sama, Kenzo juga sedang menatap lurus ke arah Fela dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Fela dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali ke Safia dan memasang senyum formal andalannya.
"Ya. Aku Fela. Panggil saja Senior," jawab Fela tegas, menetapkan batasan profesional sejak detik pertama.
"Oh, Kak Fela. Boleh?" tanya Safia dengan nada bicara yang dibuat sok imut, matanya berkedip manja.
"Ya." Fela merasa Dejavu. Mirip dengan Kenzo yang ingin memanggil seenaknya.
Di sudut ruangan, Siska yang merasa posisinya sebagai "paling modis" di kantor tersaingi, langsung mencibir tanpa suara sambil memutar bola matanya malas.
Sementara itu, Mirin melirik bergantian ke arah Kenzo dan Fela dengan cemas. Pikirannya mendadak melayang ke mana-mana. Kalau mereka berdua ternyata berteman dekat, apa gadis ini tahu soal kejadian malam itu? Soal Fela dan Kenzo di kamar hotel? Aku harap tidak, batin Mirin khawatir jika ada gosip baru yang akan memperumit suasana kantor.
Setelah bersalaman dengan Fela, Safia mengulurkan tangan ke satu persatu orang disana.
semangat Fel....