❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 - I Think I
Pagi itu cerah. Setelah beberapa hari lalu aku dan Javier sepakat untuk melihat rumah, hari yang dimaksud akhirnya tiba juga.
Aku sedang mengenakan jilbab ketika suara mobil terdengar dari luar rumah. Tak lama kemudian ibu masuk ke kamarku.
“Nay, itu Javier udah dateng,” ucap ibu.
“Iya, ini aku lagi pakai jilbab,” jawabku.
Tok tok tok.
“Assalamu’alaikum...”
Suara Javier terdengar dari depan.
“Wa’alaikumsalam...” sahut ibu sebelum berjalan menuju pintu.
Aku merapikan jilbabku sekali lagi. Setelah selesai, aku mengambil ponsel dan tas lalu keluar kamar.
Begitu tiba di ruang tamu, Javier sudah duduk di sana.
“Ayo,” ucapku.
“Bu, kami pamit dulu,” ujar Javier sopan.
Ibu mengangguk pelan.
“Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikumsalam...”
Aku keluar lebih dulu menuju mobil Javier, sementara Javier berjalan tepat di belakangku.
Tak lama kemudian Javier menekan tombol kunci mobilnya.
Bunyi beep terdengar pelan, disusul lampu mobil yang berkedip singkat.
“Ayo masuk,” ucap Javier.
Aku pun masuk ke mobilnya.
Begitu duduk, aku langsung menarik sabuk pengaman. Namun entah kenapa sabuk itu susah ditarik.
“Ada apa?” tanya Javier.
“Ini susah ditarik,” jawabku sambil terus mencoba menariknya.
“Sini, biar aku bantu.”
Aku langsung terkejut.
“안 돼! (Jangan!)” seruku spontan sambil mengangkat tangan.
Aku tidak ingin seperti di drama-drama. Javier mendekat ke arahku, menarik sabuk pengaman, lalu jantungku mendadak tidak bisa kukendalikan.
“Apa?” Javier terlihat bingung.
“Nggak perlu. Aku bisa sendiri kok.”
“Oke.”
Javier pun memasang sabuk pengamannya sendiri, sementara aku kembali berusaha menarik sabuk pengamanku sekuat tenaga. Untungnya tidak butuh waktu lama sampai akhirnya sabuk itu berhasil terpasang.
Begitu sabuk pengamanku terkunci, Javier menyalakan mobil dan perlahan meninggalkan rumahku.
Beberapa saat suasana hening. Kami sama-sama tidak bicara sampai ponselku tiba-tiba berdering.
Lila menelepon.
“Halo, La.”
—Halo, Nay. Lee Jun-ha, Nay...
“Mas Juna kenapa?” tanyaku cepat.
Refleks Javier langsung menoleh ke arahku.
—Lee Jun-ha mau main drama sama Park Mina.
“뭐?! (Apa?!)” seruku kaget. “준하 오빠가... 민아 언니랑... 함께 드라마에 출연한다고? (Lee Jun-ha... dan Park Mina... bakal main drama bareng?)”
—Iya. Coba kamu cek channel YouTube YBS. Mereka udah reading.
“Iya, nanti aku cek. 진짜 믿을 수 없어. 준하 오빠랑 민아 언니가 같이 드라마에 나온다니... (Aku benar-benar nggak nyangka Lee Jun-ha dan Park Mina bakal main drama bareng...)”
—Akhirnya impianmu terkabul ya. Eh ngomong-ngomong kamu lagi di mana sih? Kok aku dengar kayak suara klakson mobil dan agak berisik gitu.
“Oh, ini aku lagi pergi sa...”
Ucapanku menggantung. Entah kenapa aku tidak ingin Lila tahu kalau aku sedang pergi bersama Javier. Kalau dia sampai tahu, pasti pertanyaannya akan panjang dan telepon ini tidak akan segera selesai.
—Pergi ke mana?
“Eh udah ya, La. Aku mau cek channel YouTube YBS dulu.”
Aku langsung menutup telepon sebelum Lila sempat bertanya lagi.
Aku menghela napas lega.
“Teman kamu?” tanya Javier tiba-tiba.
“Eh iya, temanku. Teman kuliah,” jawabku.
“Oh...” Javier mengangguk pelan. “Ngomong-ngomong, siapa Mas Juna itu?”
“Pacarku,” jawabku santai.
“Apa?” Javier langsung menoleh kaget ke arahku. “Pacar kamu?”
“Iya, pacarku yang di Korea.”
“Oh...” Javier terkekeh kecil. “Aktor favorit kamu. Kirain kamu beneran punya pacar.”
“Ya nggak lah. Gimana mau punya pacar? Ada yang suka sama aku aja nggak ada,” ucapku santai.
“Mungkin ada, tapi kamu nggak tahu aja,” ujar Javier sambil tetap fokus menyetir. “Dan karena kamu terlalu halu sama aktor Korea, mungkin dia mundur duluan karena mikir ekspektasi kamu ketinggian.”
“Ah, nggak ada yang kayak gitu.”
“Emang kamu bisa baca isi hati orang?”
Aku langsung terdiam.
“Nggak sih...” gumamku pelan. “Udah ah, aku mau nonton Mas Juna dulu.”
Aku pun membuka YouTube, mencari channel YBS lalu memutar video pembacaan naskah drama terbaru Lee Jun-ha.
“우와... 준하 오빠 잘생겼어... (Wah... Jun-ha Oppa ganteng banget...)” gumamku tanpa sadar.
Javier hanya diam dan tetap fokus menyetir sementara aku sibuk menonton video itu.
Beberapa menit kemudian kami sampai di kantor developer rumah tersebut.
“Kamu tunggu di sini,” ucap Javier sambil melepas sabuk pengamannya.
Aku mengangguk.
Javier keluar dari mobil lalu masuk ke kantor developer. Tak lama kemudian ia kembali bersama seorang staf developer.
Staf itu masuk dan duduk di kursi belakang.
“Ini calon istri saya,” ucap Javier.
Aku spontan menoleh ke belakang lalu tersenyum kecil sambil mengangguk. Staf itu membalas senyumku dengan sopan.
Tak lama Javier kembali menjalankan mobil menuju kompleks perumahan yang ternyata tidak begitu jauh dari kantor developer, mungkin hanya sekitar satu kilometer.
Begitu sampai di depan gerbang, aku melihat plang besar bertuliskan “Puri Blanco”.
Setelah staf developer menjelaskan tujuan kami kepada satpam yang berjaga, palang gerbang perlahan terbuka dan kami pun masuk ke dalam kompleks perumahan itu.
Perumahannya cukup besar dan terlihat bersih. Beberapa rumah tampak sudah berpenghuni. Ada motor dan mobil yang terparkir di depannya.
Tak lama kemudian mobil Javier berhenti di salah satu rumah yang berada di bagian tengah kompleks.
Kami bertiga turun dari mobil.
Kulihat rumah itu sama persis seperti yang ada di brosur.
“Mari masuk, Mas, Mbak,” ucap staf developer itu ramah.
Ia berjalan lebih dulu menuju pintu rumah, lalu menekan beberapa angka pada keypad digital yang terpasang di samping pintu.
Aku langsung paham kenapa harga rumah itu hampir enam ratus juta.
“Silakan masuk.”
Aku dan Javier pun masuk ke dalam rumah itu.
Kulihat bagian dalamnya masih kosong tanpa perabot apa pun.
Kami berkeliling mengikuti staf developer yang menjelaskan setiap ruangan beserta fasilitas rumah tersebut.
Ruang tamu, ruang makan, dan dapur berada dalam satu area terbuka tanpa sekat di sisi kiri rumah. Sementara di sisi kanan terdapat dua kamar tidur dengan ukuran berbeda—satu kamar utama yang lebih luas dan satu kamar yang lebih kecil. Di antara kedua kamar itu terdapat satu kamar mandi. Di bagian belakang rumah ada taman kecil, bahkan lebarnya lebih sempit daripada teras depan.
Rumah itu sebenarnya bagus. Untuk dua orang, rumah itu bahkan terasa lebih dari cukup.
Tapi entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.
“Mas, sebentar ya,” ucapku begitu staf developer itu selesai menjelaskan.
Staf itu mengangguk pelan.
“Ayo, kita bicara sebentar,” ucapku sambil menarik tangan Javier keluar rumah.
Javier terlihat sedikit terkejut, tapi aku tidak mempedulikannya. Begitu kami berada di luar, aku langsung melepaskan tangannya.
“Mas, kamu yakin mau beli rumah ini?” tanyaku pelan.
Javier mengangguk tanpa ragu.
“Tapi rumahnya kosong begitu...”
“Ya namanya juga rumah baru,” jawab Javier santai.
“Kalau kita harus beli semua isinya, memangnya berapa banyak uang yang harus dikeluarkan? Mending kita tinggal di rumah yang sekarang aja.”
“Tapi kasurnya cuma satu.” Javier menatapku sekilas. “Kecuali... kamu mau tidur di lantai.”
“싫어! (Aku nggak mau!)” jawabku cepat.
“Apa?” Javier terlihat bingung mendengar bahasa Koreaku yang tiba-tiba keluar.
“Aku nggak mau,” ulangku pelan.
“Nah kan.” Javier menghela napas kecil. “Udah, kita beli rumah ini aja.”
“Tapi...” Aku menggigit bibir bawahku ragu. “Kalau nanti kita cerai, perabotan yang udah dibeli gimana?”
“Hah?” Javier langsung menatapku tidak percaya. “Kamu mikirin perabotan sekarang? Astaga, Naya...”
“Kan sayang, Mas. Udah beli mahal-mahal terus nanti kita...”
“Ya udah nggak usah cerai.”
“Apa?” tanyaku pelan, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
“Udah, jangan mikirin masa depan yang bahkan belum tentu kejadian,” ucap Javier mulai terdengar kesal. “Mending pikirin yang sekarang aja.”
Aku tidak menjawab.
Javier menatapku sebentar sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam rumah.
Sementara aku masih berdiri di luar, memikirkan ucapannya tadi.
Tidak perlu cerai?
Hanya demi perabot rumah?
Tidak.
Kalau aku harus terus bersamanya, harus ada alasan yang jauh lebih besar daripada sekadar sofa, meja makan, atau lemari.
Tapi itu mustahil.
Tidak mungkin kami...
Tidak mungkin dia...
Tidak mungkin.
Aku langsung menggeleng pelan, berusaha membuang pikiran aneh yang tiba-tiba muncul di kepalaku.
“Kamu kenapa?”
Aku tersentak. Javier sudah berdiri di depanku bersama staf developer itu.
“Nggak apa-apa,” jawabku cepat.
“Oh... ya udah ayo masuk mobil. Kita harus balik ke kantor buat urus surat pemesanan dan DP.”
Hah?
Secepat ini?
Dadaku mendadak terasa sesak.
Javier ternyata benar-benar serius soal rumah ini.
Javier dan staf developer itu berjalan lebih dulu menuju mobil, sementara aku mengikuti dari belakang dengan langkah pelan.
Sepanjang perjalanan kembali ke kantor developer, suasana di dalam mobil terasa hening. Tidak ada yang bicara.
Tak lama kemudian kami sampai dan langsung masuk ke dalam kantor.
Aku hanya duduk diam di kursi tunggu sambil memperhatikan Javier yang sedang mengurus surat pemesanan dan pembayaran uang muka bersama staf developer tadi.
Tumpukan dokumen.
Tanda tangan.
Bukti transfer.
Nomor unit rumah.
Semua terlihat terlalu nyata di mataku.
“Selamat ya, Mas. Unitnya sudah secure,” ucap staf developer itu setelah seluruh proses selesai.
“Terima kasih,” jawab Javier sopan.
Tak lama kemudian Javier berdiri lalu berjalan ke arahku sambil membawa map dokumen di tangannya.
“Udah, yuk pulang,” ucapnya santai.
Aku hanya mengangguk pelan lalu mengikuti Javier keluar dari kantor itu.
Langit masih cerah. Mobil-mobil masih berlalu lalang seperti biasa. Tidak ada yang berubah di dunia ini.
Tapi entah kenapa... rasanya hidupku baru saja bergerak ke arah yang sama sekali berbeda.
Aku benar-benar akan menikah.
Aku akan tinggal berdua dengan pria yang bahkan belum lama kukenal.
Dan yang paling menakutkan... semua itu perlahan mulai terasa nyata.
Tuhan... sebenarnya rencana apa yang sedang Kau siapkan untukku?