Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Gerbang Kota
Langit sore berubah menjadi ungu tua, menandakan bahwa malam akan segera turun. Di kejauhan, siluet megah Ibu Kota Langit Biru menjulang seperti raksasa batu yang menjaga gerbang surga. Menara-menara tinggi bersinar dengan kristal penerang Qi, dan dinding kotanya begitu tebal hingga bisa menahan serangan beast tingkat tinggi.
Namun, bagi Lin Fan dan konvoinya, jarak dua kilometer itu terasa seperti ribuan mil.
Di belakang mereka, Han Xiao masih mengejar. Ahli pedang bayaran itu tidak lagi terburu-buru atau sembrono. Ia bergerak dengan efisiensi mematikan, setiap langkahnya menutup jarak sepuluh meter. Wajahnya dingin, matanya terkunci pada punggung Lin Fan yang berlari pincang karena luka di bahu.
"Kau tidak akan bisa lari selamanya, anak kecil," gumam Han Xiao, suaranya terbawa angin.
"Energi Qi-mu sudah habis. Darahmu terus mengalir. Kau hanya memperpanjang penderitaan."
Lin Fan mengabaikan rasa sakit yang menyengat di bahunya. Teknik Tubuh Naga Chaos bekerja keras menutup pembuluh darah yang putus, tapi ia kehilangan terlalu banyak cairan tubuh. Penglihatannya mulai kabur di tepian. Napasnya tersengal-sengal, paru-parunya terasa seperti terbakar.
"Kita hampir sampai!" teriak Bao Da, yang berlari di samping Lin Fan sambil menopang sebagian berat badan temannya.
"Lihat! Itu Penjaga gerbang!"
Di gerbang utama ibu kota, dua sosok berbaju zirah perak berdiri tegak. Mereka adalah penjaga elit Akademi Langit Biru, masing-masing memancarkan aura Tahap Fondasi Qi Akhir—jauh lebih kuat daripada Han Xiao.
Han Xiao melihat mereka. Matanya menyipit. Ia tahu aturannya: Membunuh calon siswa akademi di dalam wilayah kota atau di depan gerbang adalah pelanggaran berat yang akan memicu perang antara klan penyewa dan Akademi. Bahkan ayah Lin Hao pun tidak berani melanggar aturan itu secara terbuka.
Tapi Han Xiao adalah pembunuh bayaran. Dan ia punya celah.
"Ia belum masuk gerbang," bisik Han Xiao. "Jika aku menghabisinya tepat di garis batas... itu area abu-abu."
Ia mempercepat langkah. Jarak antara mereka kini hanya lima puluh meter.
Lin Fan merasakan hawa pembunuhan yang menusuk punggungnya. Ia tahu Han Xiao akan menyerang sekarang, tepat sebelum mereka mencapai zona aman penjaga. Serangan terakhir yang putus asa.
Lin Fan berhenti mendadak.
"Lin Fan? Apa yang kau lakukan? Lari!" teriak Mei Ling panik.
"Tidak ada gunanya lari jika dia bisa menebas leherku dari belakang," kata Lin Fan tenang, meski darahnya menetes ke tanah. Ia berbalik menghadap Han Xiao.
Han Xiao tertawa sinis. "MENYERAH? atau kau ingin mati dengan wajah menghadap pembunuhmu?"
"Aku ingin memberimu pelajaran terakhir," kata Lin Fan.
Han Xiao mengayunkan pedangnya. Tebasan horizontal yang cepat, ditujukan untuk memenggal kepala Lin Fan. Angin tajam membelah udara, menciptakan gelombang tekanan yang membuat Bao Da dan Zhang Wei terpental ke samping.
Lin Fan tidak menghindar. Ia menunggu hingga bilah pedang itu berada hanya beberapa sentimeter dari lehernya.
Detik itu, waktu seolah melambat bagi Lin Fan. Dengan sisa kesadaran terakhirnya, ia mengaktifkan Persepsi Hampa secara penuh. Ia melihat aliran Qi di pedang Han Xiao, titik keseimbangan tubuhnya, dan celah mikro di pertahanan dadanya.
Lin Fan tidak menggunakan tinju. Ia tidak menggunakan jari.
Ia menggunakan suara.
Dengan seluruh tenaga yang tersisa di Dantiannya, Lin Fan melepaskan teriakan pendek namun tajam, dimodulasi dengan frekuensi resonansi khusus yang ia pelajari dari Sutra Ketenangan Jiwa. Ini bukan teriakan biasa. Ini adalah Raungan Naga Mikro yang difokuskan ke satu arah.
"HAAH!"
Gelombang suara tak terlihat menghantam dada Han Xiao tepat saat ia ayunkan pedang.
Efeknya instan. Diafragma Han Xiao kejang. Napasnya terhenti paksa. Aliran Qi-nya yang sedang dikonsentrasikan ke pedang menjadi kacau sejenak karena gangguan internal.
Pedang itu bergeser beberapa derajat ke atas, meleset dari leher Lin Fan dan hanya menggores pipinya, meninggalkan luka dangkal.
Kesempatan itu cukup.
Lin Fan menjatuhkan dirinya ke tanah, menggelinding ke bawah kaki Han Xiao, dan menendang lutut kanan ahli pedang itu dengan tumit kakinya yang diperkeras oleh Qi sisa.
KRACK!
Sendi lutut Han Xiao berderak sakit. Ia kehilangan keseimbangan, terjatuh berlutut di tanah berdebu.
Sebelum Han Xiao bisa bangkit, bayangan besar menutupi mereka.
"BERHENTI!"
Suara itu bergema seperti guntur. Dua penjaga gerbang Akademi Langit Biru telah tiba. Satu di antaranya, seorang pria berotot dengan kapak besar, menendang Han Xiao hingga terbang sepuluh meter ke belakang.
Han Xiao mendarat dengan kasar, batuk darah. Ia menatap penjaga itu dengan dendam, tapi ia tahu pertarungan sudah selesai. Melawan dua penjaga elit sendirian adalah bunuh diri.
Ia berdiri, membersihkan debu dari jubah hitamnya, lalu melirik Lin Fan yang terbaring lemah di tanah, dikelilingi oleh teman-temannya yang cemas.
"Permainan ini belum berakhir, Lin Fan," desis Han Xiao.
"Aku akan mengingat wajahmu. Dan suatu hari, ketika kau keluar dari perlindungan akademi... aku akan menyelesaikannya."
Tanpa menunggu respons, Han Xiao berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan hutan di sisi jalan, meninggalkan jejak darah dari lututnya yang cedera.
Penjaga kapak itu menoleh pada Lin Fan. "Apa Kau Lin Fan?"
Lin Fan mengangguk lemah, lalu pingsan. Kesadaran akhirnya menyerah pada kelelahan ekstrem.
Lin Fan terbangun di ruangan yang bersih dan beraroma herbal. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela kaca berwarna. Ia merasa tubuhnya ringan, meski masih ada rasa nyeri tumpul di bahu dan pipinya.
Ia mencoba duduk, tapi tangan lembut menahannya.
"Jangan bergerak dulu," kata suara familiar.
Itu Elder Mo. Pria tua itu duduk di kursi sebelah tempat tidur, memegang secangkir teh hangat. Di sudut ruangan, Pengawas Chen, Bao Da, Zhang Wei, dan Mei Ling juga ada di sana, tampak lega melihat Lin Fan sadar.
"Kau selamat," kata Elder Mo sederhana. "Lukamu sudah diobati dengan Pil Pemulihan Tingkat Menengah dari akademi. Dalam tiga hari, kau akan pulih sepenuhnya."
Lin Fan menelan ludah. "Terima kasih, Guru."
Elder Mo menatapnya dengan tatapan rumit. "Kau tahu apa yang telah kau lakukan? Kau nekat melawan ahli Fondasi Qi dan menang—secara teknis. Kau membuatnya cedera dan kabur. Berita ini sudah menyebar di kalangan tetua akademi."
"Apakah saya dalam masalah?" tanya Lin Fan waspada.
Elder Mo tertawa pendek. "Masalah? Tidak. Kau justru menjadi sensasi. Tetua-tetua konservatif marah karena kau 'membuat keributan' di depan gerbang. Tapi Tetua Progresif, termasuk Direktur Akademi sendiri, sangat tertarik padamu. Mereka melihat potensi seorang strategis militer, bukan sekadar petarung jalanan."
Zhang Wei maju selangkah. "Klan Zhao mengirim pesan. Ayahku ingin bertemu denganmu. Dia terkesan dengan keberanianmu melawan Han Xiao."
Lin Fan tersenyum lemah. Ia telah mencapai ibu kota. Ia selamat. Dan yang lebih penting, ia telah mendapatkan perhatian dari faksi-faksi kuat.
Namun, Elder Mo kemudian menurunkan suaranya, wajahnya menjadi serius.
"Tapi hati-hati, Lin Fan. Han Xiao bukan bekerja sendiri. Seseorang di balik layar membayar mahal untuk kematianmu. Dan sekarang, karena kau masih hidup, harga kepalamu akan naik dua kali lipat. Kamu tidak lagi aman, bahkan di dalam akademi."
Lin Fan mengangguk. Ia sudah menduganya. Lin Zheng tidak akan berhenti.
"Aku siap," kata Lin Fan tegas.
"Biarkan Mereka Mencoba, Akan ku Balas berkali lipat."
Elder Mo mengangguk puas. "Bagus. Sikap itulah yang dibutuhkan di sini. Besok adalah upacara penerimaan siswa baru. Siapkan dirimu. Di sana, kau akan bertemu dengan jenius-jenius dari seluruh kerajaan. Dan kau akan menemukan bahwa dunia ini jauh lebih luas, dan jauh lebih kejam, daripada Kota Qingyun."
Lin Fan menatap keluar jendela, melihat menara-menara tinggi ibu kota yang menjulang ke langit. Di sana, di puncak tertinggi istana kerajaan, ia merasakan getaran energi yang sangat kuat—sesuatu yang mengingatkan pada masa lalunya sebagai Kaisar.
Perjalanan pulang telah selesai.
Perjalanan menuju takhta baru saja dimulai.
* Hook: Upacara penerimaan siswa baru besok. Lin Fan akan memasuki lingkungan sosial akademi yang kompetitif. Siapa saja jenius lain yang akan ia temui? Dan bagaimana reaksi Lin Hao yang mungkin juga ada di ibu kota?
Cari tau di Bab Selanjut nya