Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Genderang Perang dan Jari Penghancur Pedang
Tiga kali pukulan gong perunggu raksasa bergema menggetarkan awan di atas Puncak Luar Sekte Pedang Langit. Suaranya yang berat bagaikan auman naga yang membangunkan puluhan ribu murid dari tidur mereka.
Hari ini adalah Turnamen Promosi Sekte Dalam.
Alun-alun utama sekte luar yang biasanya digunakan untuk upacara tahunan kini telah diubah menjadi medan pertempuran raksasa. Sembilan panggung batu giok putih setinggi tiga meter berjejer rapi di tengah alun-alun. Di sisi utara, terdapat sebuah paviliun melayang yang ditopang oleh formasi spiritual, tempat para Penatua Sekte Dalam dan perwakilan faksi duduk mengawasi jalannya turnamen untuk mencari bibit-bibit jenius baru.
Ribuan murid luar memadati tribun penonton, menciptakan lautan manusia yang bergemuruh oleh sorak-sorai dan diskusi panas.
"Kudengar tahun ini ada tiga murid luar tingkat tujuh yang bersaing memperebutkan posisi pertama!"
"Tapi jangan lupakan para Penjaga Gerbang! Murid sekte dalam seperti Kakak Senior Zhao Lie turun langsung untuk menguji peserta. Melewati mereka sama saja dengan melompati gerbang naga!"
Di tengah keriuhan itu, Lin Tian melangkah memasuki area kontestan dengan tenang. Jubah putihnya berkibar ringan ditiup angin pagi. Matanya yang jernih menyapu seluruh arena, tidak memancarkan ketegangan sedikit pun. Di tribun sudut yang aman, ia melihat Lin Chen sedang duduk bersandar—wajahnya masih sedikit pucat, namun sorot matanya penuh dengan harapan dan kebanggaan menatap sang kakak.
"Peserta nomor 404, Lin Tian. Panggung Nomor Empat!" suara seorang wasit menggema melalui pengeras suara spiritual.
Lin Tian berjalan menuju Panggung Nomor Empat. Saat ia menaiki tangga batu giok, suasana di sekitar panggung itu mendadak menjadi lebih sunyi. Reputasi brutalnya di Arena Hidup Mati masih segar di ingatan banyak orang.
Di atas panggung, lawannya telah menunggu. Ia adalah seorang pemuda jangkung berpakaian sutra biru, memegang sebilah pedang panjang yang memancarkan aura angin yang tajam. Begitu melihat lawannya adalah Lin Tian, pemuda itu menyeringai sinis.
"Namaku Sun Hao," ucap pemuda itu dengan nada merendahkan. Fluktuasi energi tingkat enam puncak meledak dari tubuhnya. Ia adalah salah satu pengikut setia Zhao Lie yang kemarin menertawakan Lin Tian di balai pendaftaran. "Kakak Senior Zhao Lie mengirimkan salamnya untukmu. Dia memintaku untuk mematahkan kedua kakimu di sini agar kau merangkak naik ke panggung utama nanti."
Di paviliun melayang, Zhao Lie duduk di kursi para Penjaga Gerbang sambil memutar cawan tehnya. Matanya menatap lurus ke arah Panggung Nomor Empat dengan senyum haus darah.
Lin Tian berdiri di posisinya, tangannya santai terjuntai ke bawah. Matanya menatap Sun Hao seolah sedang melihat seonggok batu di pinggir jalan.
"Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang umurnya tinggal beberapa menit," ucap Lin Tian datar.
Kalimat itu langsung menyulut amarah Sun Hao. "Bocah sombong! Kemarin kau bisa berlagak karena tidak ada Penatua yang mengawasi. Mari kita lihat apakah pusaka murahanmu bisa menyelamatkanmu hari ini!"
"Mulai!" teriak wasit.
Trang!
Sun Hao langsung mencabut pedangnya. Qi elemen angin menyelimuti bilah pedang tersebut, menciptakan suara dengungan yang menusuk telinga. Ia tidak menahan diri sama sekali. Tubuhnya melesat maju layaknya kilatan cahaya biru.
"Seni Pedang Badai Pembelah Daun!" raung Sun Hao.
Ini adalah teknik bela diri tingkat fana menengah yang telah ia latih hingga tahap kesempurnaan. Ribuan bayangan pedang tercipta di udara, mengunci seluruh jalan keluar Lin Tian, mengarah langsung ke dada, bahu, dan kedua lututnya. Angin tajam dari serangan itu bahkan membuat lantai giok di bawah kaki mereka tergores.
Di tribun penonton, banyak murid luar yang menahan napas. "Kecepatan yang mengerikan! Sun Hao tidak memberi celah sedikit pun!"
Namun, di tengah badai pedang itu, Lin Tian bahkan tidak mengubah ekspresi wajahnya. Ia tidak mundur, tidak juga mencabut senjata. Ia hanya mengangkat tangan kanannya perlahan.
Siluet naga hitam di dadanya berdenyut pelan. Qi ungu keemasan—yang kini telah disempurnakan hingga tingkat lima dengan kepadatan mengerikan—mengalir ke dua jarinya: jari telunjuk dan jari tengah.
Tepat saat ujung pedang Sun Hao yang paling mematikan berjarak satu inci dari dadanya, kedua jari Lin Tian menjepit ke depan layaknya paruh elang yang mematuk mangsa.
TANG!
Suara benturan keras bergema. Badai bayangan pedang di udara lenyap seketika, seolah baru saja disiram seember air es.
Mata Sun Hao terbelalak lebar hingga nyaris keluar dari kelopaknya. Langkahnya terhenti mendadak. Ia mencoba menarik pedangnya, namun senjata itu seolah tertanam di dalam bongkahan baja absolut.
Pedang baja dingin miliknya yang dilapisi Qi tingkat enam puncak... kini tertangkap dengan kokoh di antara dua jari Lin Tian!
"B-Bagaimana mungkin..." Sun Hao bergetar, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, wajahnya memerah, namun pedang itu tidak bergeser satu milimeter pun.
Di paviliun melayang, cawan teh di tangan Zhao Lie retak. Para Penatua yang awalnya acuh tak acuh kini mencondongkan tubuh mereka ke depan dengan mata memicing tajam.
"Kekuatan fisik murni? Dan aura Qi yang sangat padat... bocah itu bukan tingkat empat!" gumam salah satu Penatua berjanggut abu-abu dengan nada terkejut.
Di atas panggung, Lin Tian menatap mata Sun Hao yang kini dipenuhi teror absolut.
"Teknik yang lemah. Energimu tercerai-berai," evaluasi Lin Tian dingin.
Ia kemudian memutar pergelangan tangannya sedikit.
KRAK!
Bilah pedang baja dingin itu patah menjadi dua bagian layaknya ranting kering.
Sebelum Sun Hao sempat mencerna kengerian yang baru saja terjadi, tangan kiri Lin Tian melesat ke depan dan mencengkeram tenggorokan pemuda itu. Ia mengangkat Sun Hao ke udara dengan satu tangan, memutuskan pasokan udaranya seketika.
"Uh... Ughhh!" Sun Hao meronta-ronta panik, kakinya menendang udara kosong.
Lin Tian tidak membunuhnya. Ini adalah panggung resmi yang diawasi oleh puluhan Penatua; membunuh tanpa provokasi mematikan bisa menjadi masalah. Namun, melumpuhkan adalah hal yang sangat berbeda.
Qi naga yang buas meledak dari telapak tangan Lin Tian, menembus tenggorokan Sun Hao dan langsung menghantam lautan meridian pemuda itu layaknya godam tak kasatmata.
Boam! Suara ledakan tumpul terdengar dari dalam perut Sun Hao.
Meridiannya hancur. Kultivasinya selama belasan tahun musnah dalam satu detik.
Lin Tian melepaskan cengkeramannya, lalu memberikan satu tendangan memutar yang keras ke dada Sun Hao. Tubuh pemuda itu melesat seperti peluru meriam, terlempar sejauh tiga puluh meter keluar dari arena giok putih, lalu menabrak dinding batu penonton hingga pingsan tak sadarkan diri sambil memuntahkan darah.
Keheningan absolut menyelimuti Panggung Nomor Empat. Pertarungan di panggung lain bahkan sempat terhenti selama beberapa detik karena semua orang teralihkan oleh suara tabrakan tersebut.
Hanya satu serangan. Lawan tingkat enam puncak dieliminasi bahkan tanpa membuat Lin Tian melangkah dari titik awalnya berpijak.
Lin Tian menepis debu fiktif dari lengan bajunya, tidak melirik tubuh lawannya yang hancur sedikit pun. Ia mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke arah paviliun melayang. Matanya yang tajam menembus jarak ratusan meter, bertabrakan langsung dengan tatapan murka Zhao Lie.
Lin Tian mengangkat tangannya, lalu menyilangkan jarinya di depan leher dalam gerakan memotong yang sangat perlahan dan jelas.
Kau berikutnya.
Seluruh arena gempar. Para murid luar berteriak histeris, sementara para murid sekte dalam di paviliun melotot tak percaya. Seorang kontestan dari pelataran luar baru saja menantang secara terbuka seorang Penjaga Gerbang di hadapan para tetua!
Zhao Lie berdiri dari kursinya. Urat-urat di wajahnya menonjol, niat membunuhnya meluap tak terkendali hingga meja di depannya hancur menjadi serbuk.
"Baiklah... BAIKLAH!" raung Zhao Lie dalam hati, giginya bergemeretak. "Lewati babak penyisihan ini, Sampah. Aku sendiri yang akan memisahkan kepalamu dari tubuhmu di panggung utama!"