Denisa tak menduga perjalanan cinta jarak jauhnya dengan Rayend berakhir dengan kenyataan kalau Denisa lah menjadi orang ketiga di pernikahan Rayend. Lalu pertemuan tidak sengaja dalam sebuah kecelakaan membawa Denisa bertemu sosok lelaki yang selanjutnya selalu muncul tiap Denisa mengalami kesusahan. Lelaki itupun mulai menunjukkan ketertarikan kepada Denisa. Namun Disisi lain lelaki itu juga mempunyai trauma masa lalu yang kelak akan mempengaruhi hubungan cintanya dengan Denisa. Sanggupkah mereka terus bersama menghadapi setiap masalah yang silih berganti menggoyahkan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liu woile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan tak terduga
Denisa seakan malas membantah kata-kata Catra. Dia pun melangkah ke arah kamar untuk mandi. Selesai mandi Denisa menuju dapur untuk membuat minuman dan sarapan. Karena Bu Ratni tak ada maka Denisa lah yang menyiapkan sarapan. Sementara Catra mandi Denisa Membuat segelas susu untuk Catra dan secangkir kopi hitam untuk dirinya. Juga roti panggang isi sayuran seadanya di lemari es dan telur mata sapi.
Catra keluar kamar sudah rapi dengan kemeja garis vertikal gradasi warna birunya. Sejenak mata Denisa terpana entah kenapa kemeja itu terlihat sangat cocok ditubuh Catra. Dan warnanya terlihat sangat pas di kulitnya yang putih bersih. Denisa melihat kearah kulit tangannya. Pastinya kulit Catra dan kulit Denisa seperti gula dan kopi. Tapi bukan Denisa yang lebih putih. Catra lah yang mempunyai kulit lebih terang.
" Ini susu buat aku?" ucapan Catra membuyarkan lamunan Denisa. Catra bukan tidak sadar akan tatapan aneh Denisa terhadapnya, tapi dia tak mau membahas nya dan membuat Denisa menjadi malu karenanya.
" Iya, aku lihat kamu biasanya kan minum susu " ujar Denisa sambil mendorong segelas susu itu agar lebih dekat di jangkauan catra.
" Kamu minum apa?" tanya Catra melongok kearah cangkir kecil Denisa.
" Kopi"
" Kamu suka kopi hitam?. Orang tua sekali"
Denisa tersenyum malu "Memangnya kopi hitam identik dengan orang tua?"
" Papaku suka sekali kopi hitam " ujar Catra
" Satu selera sama aku, nanti kapan-kapan aku mau bikinkan kopi buat beliau, kalau kata orang-orang kopi racikan ku enak, tapi selera sih ya."
"Oh ya, boleh kapan-kapan"
"Ini roti panggang isi telur buat kamu " Denisa menyodorkan piring roti.
Catra memperhatikan roti itu dan dia menggunakan garpu untuk membuka isinya, " Aku tidak makan kuning telur"
" Oh gitu, ya sudah kita tukeran aja, di bagian ada kuning telur buat aku yang bagian putih buat kamu" ujar Denisa lalu menarik piring roti Catra dan mulai memilah isinya. Rotinya memang sudah dipotong kotak kecil untuk mempermudah menyuap.
" Kamu tidak suka putih telur?" tanya Catra
" Aku suka kok"
" Terus kenapa ditukar ke aku?"
" Nanti kalau tidak ditukar begini aku yang lebih banyak makan rotinya"
" Jangan di makan jatah aku, kalau kebanyakan "
" Terus mau dibuang? jangan lah, tidak boleh buang makanan " ujar Denisa, Catra hanya mengangkat bahunya.
" Aku naik motor ya hari ini, kan kita tidak ada acara mau cari kost" ujar Denisa meminta izin.
Catra terlihat tidak senang dan mengangkat sebelah alisnya " Baru juga sedikit sembuh sakitnya. Kamu belum sepenuhnya kuat."
" Siapa bilang aku ga kuat?. Aku sudah sehat banget ini." Denisa masih berusaha menentang Catra.
" Tidak bisa, hari ini harus aku yang antar dan jemput kamu. Lagi pula nanti malam aku ada acara dirumah dan kita harus pulang tepat waktu "
" Memang ada acara apa?"
" Rahasia, pokoknya kita harus sampai rumah tidak boleh terlambat. Harus pulang tepat waktu?"
"Acara apa sih? Denisa masih merasa penasaran "
" Nanti kamu juga tau, ayo mulai sarapannya, nanti kita kesiangan kalau ngobrol terus " ujar catra
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Siang itu setelah terburu-buru menyelesaikan tugasnya Catra langsung pergi menuju ke mall terdekat dari kantornya. Dia masuk ke sebuah butik dan berniat mencari sebuah dress santai untuk Denisa.
Setelah mendapat model yang diinginkan dan membayangkan kalau Denisa cocok dengan model dress itu, Catra meminta pramuniaga untuk mencari ukuran yang cocok dengan ukuran tubuh Denisa. Untuk itu Catra mengeluarkan sebuah blouse milik Denisa yang tadi pagi diambil secara diam-diam.
Saat pramuniaga selesai mencari ukurannya, mereka memberitahu Catra kalau motif dress itu juga di keluarkan dalam bentuk kemeja santai. Setelah melihat kemeja itu Catra menjadi tertarik dan membeli untuk dirinya.
Setelah itu Catra pergi ke restoran dan memesan beberapa jenis makanan dan camilan untuk dibawa pulang.
Sore hari Catra menjemput Denisa tepat waktu. Tak banyak perbincangan selama di mobil. Ketika sampai dirumah Denisa baru menyadari kalau Catra membawa banyak makanan di jok belakang mobilnya.
Dan Catra meminta Denisa untuk memasak nasi dan membantu nya merapikan makanan yang dia beli ke meja makan. Setelah makanan tertata rapi di meja Catra pun menyuruh Denisa mandi dan memberikan nya sebuah paper bag.
Denisa melongok ke dalam isi paper bag itu. "Ini apa?" tanya nya sambil matanya terus menatapi isi paper bag itu.
" Baju, kamu pakai baju itu ya, dan berdandan lah sedikit biar terlihat cantik" ujarnya sambil tersenyum nakal.
" Mau dandan juga muka ku tetep standar aja. Memang siapa sih yang mau datang?" tanya Denisa penasaran.
" Sedikit lagi kami tau. Cepatlah jangan buang waktu " ujar Catra sambil mendorong Denisa lembut. Denisa pun mau tak mau segera beranjak ke kamar dan mandi. Selesai mandi Denisa hendak memakai baju itu. Terlihat di tangan nya dress sederhana berwarna hitam bermotif bunga-bunga.
Denisa mencobanya dan pas. Denisa heran bisa-bisanya Catra memberinya dress yang sangat pas dan terlihat melekat sempurna di tubuh tinggi dan langsingnya. Lalu Denisa memulas bedak di wajahnya dan sedikit lipstik di bibirnya. Membuka ikatan rambutnya dan merapikan dengan tangan nya.
Terdengar suara pintu diketuk, Denisa bergegas membuka pintu dan Catra berdiri didepan pintu dengan celana Chino coklat dan kemeja santai yang motifnya mirip dengan dress yang dia pakai. Denisa sedikit terkejut begitupun Catra.
" Jadi, baju kita couple?" tanya Denisa merasa ilfil. Entah kenapa Denisa selalu merasa kalau pakai baju samaan itu adalah hal yang tidak disukainya.
" Kamu.. cocok sekali pakai dress itu, sangat cocok" Catra Seolah tidak memperdulikan kata-kata Denisa.
"Kamu jangan ngeledek aku" ujar Denisa galak sambil menautkan alisnya.
" Aku tidak ngeledek, baju itu benar-benar cocok di pakai kamu, i love it " ujar Catra sambil matanya terus menatap Denisa. "Dan rambutmu, kenapa selalu di ikat kalau ternyata sangat bagus ketika dibiarkan tergerai"
Sungguh kata-kata Catra Membuat Denisa merasa sangat risih. "Sudahlah, jangan membuat ku malu."
" Kamu malu kok malah jadi tambah cantik." ujar Catra masih menggoda Denisa. Membuat Denisa memasang wajah kesal.
" Jangan marah dong, oke.. tamunya sudah ada diruang tamu, yuk kita kesana" ujar Catra sambil meraih tangan Denisa untuk berjalan bersama.
Denisa menarik tangan nya dari genggaman Catra " Tidak usah berlebihan begini, sumpah aku curiga, memang siapa sih yang datang?"
Catra hanya tersenyum kecil melihat sikap Denisa. Mereka melangkah ke ruang tamu, Denisa terpaksa menyimpan penasaran nya sampai ruang tamu. Dan Denisa benar benar terkejut melihat siapa yang datang.
smg sll sehat thor ,sll sukses dengan karya mu yg semangkin greget ,ku tunggu karya mu yg lain ...
Author its the best 💪💪💪👍👍👍❤❤❤❤