NovelToon NovelToon
Heart Blossom

Heart Blossom

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Seiring Waktu / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Romansa / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:29k
Nilai: 5
Nama Author: Eriza Yuu

Lima tahun telah berlalu sejak Edeline putus dengan kekasihnya. Namun wanita itu masih belum mampu melupakan mantan kekasihnya itu. Setelah sekian lama kehilangan kontak dengan mantan kekasih, waktu akhirnya mempertemukan mereka kembali. Takdir keduanya pun telah berubah. Edeline kehilangan harapannya. Namun tanpa dirinya sadari ada seseorang yang selama ini diam-diam mencintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#18 Padang di Desa

...Bab. 18...

...PADANG DI DESA...

Hari masih pagi, Keith sudah tiba di stasiun kereta. Niatnya berangkat dengan kereta pagi. Hari ini ia sampai di desa lebih awal dari biasanya. Henoch agak kaget melihatnya datang begitu pagi. Keith langsung memeluk ayahnya itu dengan erat yang membuat Henoch tambah bingung. Kemudian Keith menceritakan pertemuannya dengan neneknya semalam. Juga tentang ibunya. Henoch agak sedih mendengar Vanesa sudah tiada. Ia memberi semangat pada Keith kalau anaknya itu kini sudah tak perlu merasa sendiri. Ia telah menemukan keluarganya. Menghabiskan waktu berjam-jam bercerita dengan ayahnya, Keith sampai lupa hari ini ia juga ada janji dengan Edeline. Ia melirik jam tangannya, sudah pukul 11 lewat.

"Edeline pasti menunggu," pikirnya.

Keith beranjak mengambil telepon di sisi meja lain. Ia memencet beberapa angka dan menunggu sampai telepon di angkat.

...🌹🌹🌹...

Telepon di ruang tengah berbunyi. Aku segera berlari mengangkatnya.

"Halo ...." jawabku.

(Halo, Edeline. Maaf, rencana hari ini terpaksa batal. Aku tidak bisa ke rumahmu. Mungkin lain kali saja ya. Bye ....)

"Eh ...." Aku baru ingin bicara tapi telepon sudah ditutup. Aku jadinya bertanya-tanya.

"Keith?! Kenapa, ya?"

Aku meletakkan gagang telepon kembali kemudian masuk ke kamarku. Sebenarnya memang sudah rapi dan siap pergi. Tapi kalau batal ya sudah. Aku berbaring di atas kasur. Berpikir mencari tujuan lain, karena terlanjur sudah berpakaian rapi sayang kalau diganti. Ku edarkan pandangan ke seluruh sudut kamar lalu pandanganku berhenti di rak samping tempat tidur. Beberapa foto tersusun rapi di sana. Foto lama diriku dan juga foto bersama mama, tapi ada satu foto yang tergelatak dengan posisi tertutup di sana. Aku bangkit untuk mengambilnya. Saat ku perhatikan itu foto yang sudah lama sekali. Foto piknik keluarga dengan latar padang di sebuah desa.

Aku ingat dulu papa sering membawaku ke sana saat kakek dan nenek masih tinggal di sana. Saat musim bunga, padang itu akan dipenuhi dengan bunga liar yang bermekaran indah. Sudah lama sekali aku tidak pernah ke padang itu. Sejak kakek dan nenek meninggal sudah jarang ke desa. Jika ada pun hanya untuk berziarah ke makam dan itu juga dua tahun yang lalu. Aku penasaran apakah padang itu masih ada?

Siang itu juga aku berangkat. Karena letaknya tidak terlalu jauh dan juga transportasinya mudah maka aku berani ke sana sendiri. Sekalian berziarah ke makam kakek dan nenek. Hanya 35 menit perjalanan dengan kereta. Aku coba mengingat kembali jalan-jalan yang ada di desa ini. Tidak banyak yang berubah jadi tidak sulit. Aku menemukan makam kakek dan nenek karena hanya ada satu pemakaman umum di sini. Usai berziarah aku meneruskan perjalanan kembali, tujuanku padang yang ada dalam foto lamaku. Sebenarnya aku agak lupa letaknya. Atau mungkin sudah berubah jadi bangunan beton aku juga tidak tahu. Aku hanya terus berjalan mengikuti perasaan saja. Pikirku, di desa kecil ini tidak mungkin akan tersesat, sebodoh-bodohnya juga pasti bisa kembali ke stasiun kereta.

Aku menghirup nafas dalam-dalam. Meski langit sangat cerah tapi cuacanya tidak sepanas di kota. Udaranya pun terasa bersih. Rumah penduduk terlihat kecil di kejauhan. Semakin jauh langkah kakiku semakin jarang rumah penduduk. Jalan beraspal pun terputus menjadi jalan setapak bebatuan menuju ke jalan yang menanjak di depan. Aku jadi teringat dulu papa sering menggendongku melewati jalan yang menanjak itu. Tapi dulu tidak ada jalan beraspal. Aku melangkah dengan pelan, sangat lelah harus berjalan naik. Namun perjalanan itu tidak sia-sia. Aku melihat padang di dalam foto membentang di depan sana.

Aku sudah berada di tengah padang menikmati pemandangan. Angin berhembus sepoi-sepoi. Aku senang tempat ini tidak berubah, hanya sayang bukan musim bunga. Namun tetap ada sebuah kerinduan di sini. Aku kembali menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata meresapi suasana yang tenang dan damai mengalir ke dalam jiwa. Tanpa aku sadar ternyata aku tidak sendirian di sana. Saat aku membuka mata Keith berdiri di sampingku. Ia melakukan hal yang sama denganku.

"Keith?!" seruku heran.

Keith menoleh. "Hai, Edeline. Bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanya Keith tidak terkejut.

"Aku yang harusnya bertanya kenapa kamu ada di sini?" balasku.

"Ini desa kelahiranku, Edeline. Tempat tinggalku dulu, tempat aku dibesarkan," terang Keith.

"Oh, ya?! Aku tidak pernah tahu. Desa ini juga tempat tinggal kakek dan nenekku. Dan tempat papa dibesarkan," sahutku.

"Aku tahu. Makanya papamu baik padaku karena kami berasal dari desa yang sama," timpal Keith.

"Aku tidak pernah tahu tentang asal-usulmu. Tapi untuk apa kamu kemari? Sampai-sampai membatalkan janji. Aku pikir terjadi sesuatu. Bicaramu begitu singkat dan serius," kataku cepat.

"Kenapa? Apa kamu mengkhawatirkan ku? Atau kamu kecewa karena aku membatalkan janji?" goda Keith yang terlihat senang.

"Tidak. Kenapa aku harus khawatir? Aku hanya penasaran saja!" jawabku sambil membuang muka.

"Benarkah? Buktinya kamu sampai menyusulku kemari." Keith menggoda lagi.

Aku berbalik menatapnya dengan sinis. "Jangan terlalu percaya diri dulu ya, Tuan sok tahu! Aku sendiri juga tidak tahu kamu ada di sini. Kalau aku tahu aku juga tidak akan datang kemari," jawabku ketus sambil melemparkan segenggam ilalang ke wajahnya. Kemudian aku berlari sambil tertawa.

Keith mengibaskan rambutnya. Tapi dia tidak mengejarku. Dia hanya duduk saja.

"Hei, Tuan sok tahu .... Ayo, kejar aku! Kamu sangat tidak seru!" teriakku sambil mengejek.

"Kamu seperti anak umur lima tahun kalau tingkahmu seperti itu," seru Keith.

"Biarin! Weekkkk!" balasku sambil menjulurkan lidah. Dan berbalik hendak berlari tapi sial, aku tersandung dan jatuh.

"Aduh!"

Keith secepat kilat berlari menghampiriku. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan serius. Ia nampak cemas sambil memeriksa pergelangan kakiku.

"Apa kamu mengkhawatirkan ku?" tanyaku dengan maksud mengejek.

Keith menatapku tanpa ekspresi apa-apa. Lalu berdiri. "Tidak. Kenapa aku harus mengkhawatirkan mu?" jawabnya kemudian pergi meninggalkanku.

Aku merasa heran tiba-tiba sikapnya jadi dingin. Aku langsung berdiri hendak mengejarnya tapi baru hendak melangkah aku kembali terjatuh. Rasanya sakit luar biasa.

"Aauuww!" seruku sambil memegang kakiku.

Keith kembali. Ia berjongkok di depanku. Memeriksa lagi kakiku kemudian tanpa bertanya tangannya langsung mengangkat tubuhku. Aku tak tahu mau protes atau berkata apa. Wajah Keith saat ini tidak terlihat sedang bercanda. Ia menggendongku dan dengan canggung aku menyandarkan kepala ke dadanya. Detak jantungnya terasa cepat.

Dia membawaku ke sebuah rumah. Aku sudah duduk di sofa ruang tamu. Keith mulai memutar pergelangan kakiku dengan pelan.

"Tahan sebentar ya, ini akan sedikit sakit. Sepertinya terkilir, setelah ini tidak akan apa-apa," katanya. Kemudian entah bagaimana ia melakukannya, spontan aku berteriak kesakitan. Namun perlahan sakit itu hilang. Seorang pria paruh baya datang memberikan minyak gosok pada Keith. Keith membalurkannya ke pergelangan kakiku yang terkilir. Keith mengenalkan pria bernama Henoch yang merupakan ayahnya itu padaku. Juga mengenalkan diriku pada ayahnya. Kami bertiga ngobrol sebentar. Setelah itu paman Henoch masuk ke dalam rumah meninggalkan kami berdua.

"Bagaimana kakimu apa masih sakit?" tanya Keith.

Aku coba menggerak-gerakkan kakiku. Ya rasanya tidak sakit hanya sedikit saja. Aku menggeleng.

"Baguslah. Makanya lain kali jangan bandel!" Keith menasehati dengan gurauan.

Aku memasang wajah cemberut. Lalu tersenyum.

"Keith. Terima kasih!" ucapku lembut.

"Sama-sama," balas Keith. Raut wajahnya lebih menyenangkan daripada tadi.

"Aku sangat cemas tahu! Kamu membuatku takut!" kata Keith pelan.

"Jadi, kamu khawatir padaku?" tanyaku di depan wajah Keith, masih senang menggodanya.

"Iya," jawab Keith jujur. Wajahnya sangat dekat denganku. Namun kami hanya saling menatap dalam diam. Satu menit. Perlahan wajah Keith mendekati bibirku namun senyumnya mengembang.

"Apa kamu berharap aku akan menciummu?" godanya lalu wajahnya menjauh.

Aku kembali menatapnya dengan sinis sambil mengepalkan tinju ke wajahnya. Ia berhasil menangkap tinjuku sebelum mendarat di wajahnya yang tampan.

"Tidak lucu!" kataku ketus sambil menarik tanganku dari cengkraman Keith.

"Sepertinya ada yang marah," ejek Keith lagi.

Aku tidak menghiraukannya. Hanya diam-diam tersenyum sendiri. Entah mengapa ada perasaan hangat menggelitik di hati. Mungkinkah benih itu juga tumbuh di hatiku?!

Hari telah sore, harusnya aku pulang. Aku dan Keith memang berencana pulang bersama. Untuk sampai di stasiun kereta kami tetap akan melewati padang rumput tadi. Kembali ke padang rumput Keith masih ingin duduk sebentar di sana. Tangannya memutar ilalang yang dipetiknya.

"Sudah lama tidak melihat matahari terbenam dari sini," kata Keith.

"Memangnya kelihatan?" tanyaku.

"Tentu saja terlihat. Tunggu saja sampai waktunya, kamu akan melihatnya," jawab Keith.

"Tapi kita tidak akan mendapatkan kereta kalau pulang setelah lewat senja," tukasku cemas.

"Hm ... Benar juga. Oh ya, aku masih ingin tahu kenapa kamu bisa datang kemari?" tanya Keith.

"Aku tidak sengaja menemukan foto lama saat piknik keluarga di padang ini. Ada sebuah kerinduan saat melihat foto itu, terutama rasa rindu ketika papa masih ada dulu. Papa sering membawaku ke sini. Saat musim bunga. Bunga-bunga liar akan bermekaran berwarna-warni memenuhi padang ini. Aku selalu memetiknya dan dengan kerepotan membawanya pulang. Padahal aku bisa mengambil bunga apa yang ku suka di toko bunga papa." Aku tertawa kecil mengenang saat itu. Kemudian lanjut bercerita.

"Ada banyak kenangan bersama papa di padang ini. Aku memutuskan datang karena memang sudah lama tidak pernah kemari, sekalian juga berziarah ke makam kakek dan nenek. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu juga di sini."

"Sayang kamu datang bukan di saat musim bunga. Atau kamu mau membawa pulang ilalang?" gurau Keith sembari memberikan ilalang yang tadi ia petik.

Aku tertawa. Dan menampik tangannya.

"Untuk apa ilalang itu? Kamu ini aneh sekali. Sudahlah, ayo, pulang! Aku tidak mau ketinggalan kereta terakhir," ajakku lalu bangkit dan mulai berjalan.

"Tentu saja untuk dibawa pulang," sahut Keith sambil mengikuti.

Di dalam kereta yang sedang melaju. Langit sudah mulai gelap. Aku juga sudah merasa lelah. Beberapa kali kepala terantuk bahu Keith karena mengantuk.

"Tidurlah! Nanti aku akan membangunkan mu kalau sudah sampai," ujar Keith. Aku tak menjawab mataku sudah berat. Sampai akhirnya tertidur di sandaran bahu Keith.

^^^bersambung...^^^

1
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🍫⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ●⑅⃝ᷟ◌ͩαяℓєт
hilangkan kenangan masa lalu dengan berlahan .. percayalah semua pasti akan indah pada waktunya
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🍫⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ●⑅⃝ᷟ◌ͩαяℓєт
kenangan memang tak bisa menghilang begitu saja .. tapi tetap kita harus membuka lembaran baru dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran sama seperti kita merawat bunga memotong kisah yang tak terpakai agar tumbuh kisah yang baru dan lebih indah
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🍫⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ●⑅⃝ᷟ◌ͩαяℓєт
kenapa harus terperangkap dengan masa lalu .. sesakit apapun seindah apapun dulu jadikan semua itu pelajaran berharga karena hidup terus berjalan ke depan bukan ke belakang.
New Spirit
jalanin aja sapelan nya aja jgn asalan
karna buka kisah baru itu perlu tenaga jga hirup udara yg pas😌 utk qm edeline semangat ya buat kisah baru nya lgi😌
New Spirit
duh namanya jga wanita
ga segampang itu menjalani kisah baru dan melupakan yg lama
cari kerjaan baru mngkn akan berubah kehidupan baru dan pastinya akan bertemu dgn org yg baru
semangat
New Spirit
sepi seperti hatiku hari ini tanpa sapaan dr kekasih pujaan hati
masih nyangkut masa lalu jgn mulai buka halaman baru
bisa aja qm yg selanjutnya menyakiti perasaan nya 🙄 pahamkan itu jgn asal hdup aja🙄
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©ᶦⁿᵗᵃ꙳❂͜͡✯🏡s⃝ᴿ●⑅⃝ᷟ◌
gak pernah tahu bunga Edelweis kayak apa 🙃🙃🙃
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©ᶦⁿᵗᵃ꙳❂͜͡✯🏡s⃝ᴿ●⑅⃝ᷟ◌
perhatian dan pengertian banget ya wkwk 🤭🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©ᶦⁿᵗᵃ꙳❂͜͡✯🏡s⃝ᴿ●⑅⃝ᷟ◌
bunga Edelweis Sama Edeline hampir sama namanya hehe pasti orangnya cantik ☺
❁🅢🅐🅛❁$aly
Keith grogi juga juga ya ditatap ama Edeline, mungkin sebenarnya Keith ada rasa ama Edeline 🤔
❁🅢🅐🅛❁$aly
pola pemikiran yg bijak mama Edeline. Sekalian ttp meneruskan usaha yg telah dirintis suaminya
❁🅢🅐🅛❁$aly
sudah sperti itulah klo lagi menjual pas sepi pembeli pasti lah sangat membosankan beda klo lg rame2 nya😊
percaya lah kadang ak di pikirin juga ttp muncul di mimpi🤣
entah esok bangun apa engga🤣🙊
ah elahh orang lagi buru2 juga👩‍🦯👩‍🦯🤣
kea ada hal yang gak bisa di jelaskan deh sama mama, intinya mama gak mau toko bunga itu tutup😌
mimpiin siapa cuhhh😌😌😌
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
basa basi
maybe
wehh karna apa ya mama mempertahankan 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!