NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Tak lama kemudian terdengar ketukan pelan.

"Masuk aja," gumam Nayla.

Pintu terbuka.

Jevan masuk sambil membawa segelas susu dingin.

"Bi Nani nyuruh gue bawain ini."

Nayla duduk perlahan.

"Taruh aja sana."

Jevan meletakkan gelas di meja lalu menatap Nayla beberapa saat.

"Bokap ngomong apaan?"

"Biasa. Drama keluarga kaya raya."

Jevan bersandar di dekat meja belajar.

"Acara minggu depan?"

Nayla mendecakkan lidah.

"Lo tau juga ternyata."

"Semua orang di rumah ini tau kecuali lo doang."

Nayla menatap sinis.

"Makasih ya infonya."

Jevan terkekeh kecil.

Lalu untuk beberapa detik suasana berubah hening.

Cowok itu akhirnya bicara lagi.

Jevan tampak ragu sebelum akhirnya bicara pelan.

"Sebenernya... gue gak ngerti kenapa papah bisa sebenci itu sama lo."

Nayla langsung menegang.

"Maksud lo?"

Jevan mengusap wajahnya kasar.

"Dari kecil gue selalu denger kalau semua masalah keluarga ini muncul gara-gara lo. Papah terus ngomong begitu sampai gue capek sendiri dengernya."

Nayla terdiam.

Dadanya terasa sesak mendengar kenyataan yang selama ini tidak pernah diucapkan langsung padanya.

"Dan lo percaya?" tanya Nayla lirih.

Jevan tidak langsung menjawab.

Keheningan itu justru menjadi jawaban paling menyakitkan.

"Gue pernah percaya," aku Jevan pelan. "Makanya gue milih jauh dari lo. Gue pikir kalau gue gak terlalu deket sama lo, hidup gue bakal lebih tenang."

Nayla menunduk pelan.

Entah kenapa pengakuan itu terasa lebih menyakitkan dibanding bentakan Bagus.

Karena Jevan adalah satu-satunya orang di rumah ini yang diam-diam masih ia harapkan peduli.

"Tapi sekarang gue sadar... lo juga korban di rumah ini," lanjut Jevan lirih.

Nayla tersenyum kecil, tetapi matanya tampak redup.

"Sedikit telat buat sadar ya."

Jevan terdiam penuh rasa bersalah.

"Lo gak harus nurut kalau emang gak mau."

Nayla tertawa kecil.

"Terus hidup dimana? Di kandang Moci?"

"Lumayan. Dia kaya raya dalam bentuk makanan kucing."

Nayla akhirnya benar-benar tertawa.

Dan Jevan diam-diam merasa lega mendengarnya.

Malam itu setelah Jevan keluar dari kamar, Nayla membuka ponselnya.

Puluhan pesan masuk memenuhi layar.

Sebagian dari Luna.

Sebagian lagi dari grup sekolah.

Namun ada satu nama yang membuat Nayla langsung kehilangan mood.

Kai.

Nayla mengerutkan kening. Cowok itu jarang sekali menghubunginya secara langsung. Dengan malas Nayla membuka pesan tersebut.

"Besok ikut gue."

Hanya itu.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada basa-basi.

Hazel langsung membalas.

"Ogah."

Pesan centang dua.

Beberapa detik kemudian muncul balasan.

"Ini penting."

Nayla mendengus.

"Semua orang selalu bilang penting."

Kai tidak membalas lagi.

Nayla melempar ponselnya ke samping lalu memeluk lutut.

Kai adalah anak rekan bisnis ayahnya. Mereka sering dipaksa bertemu sejak kecil. Cowok itu menyebalkan, dingin, dan terlalu tenang.

Namun anehnya, Kai juga satu-satunya orang yang berani membantah Bagus Raharja secara langsung. Nayla tidak pernah benar-benar memahami cowok itu.

Keesokan paginya Nayla bangun lebih siang dari biasanya.

Ia turun ke dapur dengan rambut acak-acakan sambil menguap.

Bi Nani langsung panik melihatnya.

"Aduh non, rambutnya disisir dulu."

"Nanti juga rapi sendiri, Bi."

"Mana bisa begitu."

Nayla tertawa kecil lalu duduk di kursi dapur.

Moci langsung melompat ke pangkuannya.

"Pagi juga, bos besar."

Saat Nayla sedang memberi makan Moci, suara klakson mobil terdengar dari depan rumah.

Nayla menoleh malas. Tak lama kemudian salah satu ajudan masuk.

"Non, Tuan Kai datang."

Nayla hampir tersedak.

"Hah?"

"Beliau menunggu di luar."

"Bilang gue mati aja sekalian."

Namun sebelum ajudan itu sempat menjawab, seseorang sudah berjalan masuk ke area dapur.

Kai.

Cowok itu mengenakan kemeja hitam sederhana dengan ekspresi datar khasnya.

Tatapannya langsung tertuju pada Nayla.

"Lo lama banget."

Nayla melongo.

"Ini rumah gue, kenapa lo yang ngomel?"

Kai menarik kursi lalu duduk santai.

"Siap-siap. Gue tunggu lima menit."

"Kalau gak mau?"

"Gue tunggu enam menit."

Nayla memijat pelipis.

"Ya Tuhan, kenapa orang-orang kaya hobi nyebelin sih?"

"Karena kita punya waktu luang."

Bi Nani menahan tawa.

Nayla menatap Kai tidak percaya.

"Lo bisa bercanda juga ternyata."

"Jarang."

"Mending jangan sekalian. Ngeri."

Meski terus mengeluh, akhirnya Nayla tetap bersiap.

Dua puluh menit kemudian mereka sudah berada di dalam mobil.

"Sekarang jelasin kita mau kemana," kata Nayla sambil melipat tangan.

Kai fokus menyetir.

"Ke tempat yang bikin lo bisa napas bentar."

Nayla mengernyit.

"Apa?"

Kai tidak menjawab.

Mobil terus melaju meninggalkan pusat kota.

Bangunan tinggi perlahan berganti pepohonan hijau.

Udara juga terasa lebih sejuk.

Nayla mulai penasaran.

Sekitar satu jam kemudian mobil berhenti di sebuah kawasan perbukitan.

Nayla turun perlahan.

Matanya langsung melebar.

Di hadapannya terbentang danau luas dengan air berwarna kebiruan.

Angin lembut bertiup membawa aroma rumput basah.

Tempat itu sepi.

Tenang.

Dan sangat berbeda dari kehidupan Nayla sehari-hari.

"Bagus banget..." gumam Nayla tanpa sadar.

Kai berdiri di sampingnya.

"Gue biasa kesini kalau lagi pengen diem."

Nayla menoleh.

"Lo? Pengen diem? Bukannya lo emang pendiem dari lahir?"

Kai mengabaikan sindiran itu.

Mereka berjalan pelan menyusuri tepi danau.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nayla merasa dadanya sedikit ringan.

Tidak ada ajudan.

Tidak ada aturan.

Tidak ada tatapan menghakimi.

Hanya suara angin dan air.

"Kenapa bawa gue kesini?" tanya Nayla akhirnya.

Kai memasukkan tangan ke saku.

"Karena lo keliatan capek."

Nayla terdiam.

Kalimat sederhana itu justru terasa lebih menenangkan dibanding semua nasihat yang pernah ia dengar.

"Semua orang capek," jawab Nayla pelan.

"Tapi gak semua orang kelihatan pengen hilang."

Langkah Nayla terhenti.

Ia menatap Kai cukup lama.

Cowok itu tetap memandang lurus ke depan.

Seolah kalimat tadi hanyalah fakta biasa.

Namun entah kenapa, Nayla merasa dirinya benar-benar dilihat dan itu menakutkan. Karena selama ini ia terlalu sibuk berpura-pura baik-baik saja.

Mereka duduk di bangku kayu dekat danau.

Nayla memeluk lututnya.

"Kai... menurut lo gue egois gak sih?"

"Tentang?"

"Kalau gue pengen hidup sesuai mau gue sendiri."

Kai berpikir sebentar.

"Bukan egois. Itu normal."

Nayla tertawa kecil.

"Normal ternyata susah banget ya."

"Karena keluarga kita gak hidup normal."

Nayla diam.

Ia tahu Kai benar.

Mereka lahir di lingkungan yang selalu memandang manusia sebagai aset.

Semua harus berguna.

Semua harus sempurna.

Perasaan sering kali jadi hal terakhir yang dipikirkan.

Angin sore kembali berhembus.

Nayla menatap permukaan danau yang berkilau terkena cahaya matahari.

"Kadang gue pengen kabur jauh banget," katanya lirih.

"Terus?"

"Terus takut gak punya tempat pulang."

Kai menoleh kepadanya.

"Rumah bukan selalu tempat."

"Terus apa?"

"Orang."

Nayla terdiam cukup lama setelah mendengar jawaban itu.

Dan anehnya, untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, ia merasa mungkin dirinya tidak sepenuhnya sendirian.

Hari mulai gelap ketika mereka kembali ke kota.

Sepanjang perjalanan pulang, Nayla lebih banyak diam sambil memandangi lampu jalan.

Namun kali ini diamnya berbeda.

Tidak sesesak biasanya.

Saat mobil berhenti di depan mansion Raharja, Kai memanggilnya sebelum Nayla turun.

"Hazel."

"Hm?"

"Kalau suatu hari lo beneran mau kabur... jangan sendirian."

Nayla menatap Kai bingung. Namun cowok itu sudah kembali fokus ke depan.

Nayla turun perlahan.

Jantungnya berdetak aneh. Dan untuk pertama kali dalam waktu lama, ia pulang ke rumah tanpa merasa benar-benar kosong.

Namun ketenangan itu ternyata tidak bertahan lama.

Karena begitu Nayla masuk ke dalam rumah, ia langsung mendapati Bagus duduk di ruang tamu dengan wajah dingin.

Beberapa lembar foto tergeletak di meja.

Hazel langsung merasa firasat buruk.

"Dari mana saja?" tanya Bagus.

Nayla mencoba tetap tenang.

"Jalan."

"Dengan Kai?"

"Iya."

Bagus menatap tajam.

"Kamu pikir saya tidak tahu?"

Nayla mengepalkan tangan.

"Tau apa?"

Bagus melempar salah satu foto ke meja.

Foto Nayla dan Kai di danau.

Diambil dari jauh.

Nayla langsung membeku.

"Ayah ngikutin aku?"

"Saya menjaga nama keluarga ini."

"Dengan mata-matai anak sendiri?"

Suara Nayla mulai bergetar.

Bagus berdiri.

"Kamu terlalu sering bertindak sesuka hati akhir-akhir ini."

"Karena aku capek hidup diatur terus!"

"Nayla!"

"Apa salah aku ingin bahagia dikit aja?!"

Ruangan langsung hening.

Napas Nayla memburu.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Namun ia menolak menangis di depan papahnya.

Bagus memandang putrinya lama.

Lalu dengan nada lebih rendah ia berkata,

"Dunia tidak harus selalu berjalan sesuai keinginan kamu."

Nayla tertawa pahit.

"Terus kenapa papah selalu maksa aku hidup sesuai keinginan papah?"

Tanpa menunggu jawaban, Nayla berlari naik ke kamar.

Pintu ditutup keras.

Tubuhnya gemetar.

Ia benar-benar lelah.

Sangat lelah.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Luna.

"Lo gapapa?"

Nayla menatap layar cukup lama sebelum akhirnya membalas.

"Pengen ilang aja rasanya."

Balasan Luna datang cepat.

"Jangan ngomong gitu. Gue dateng sekarang kalau perlu."

Nayla tersenyum tipis.

Beruntungnya, di tengah hidup yang berantakan ini, ia masih punya orang-orang yang peduli.

Dan mungkin itu alasan kenapa ia masih bertahan sampai sekarang.

Malam semakin larut.

Di luar kamar, mansion Raharja kembali sunyi.

Namun kali ini, Nayla tidak merasa sendirian sepenuhnya.

Moci tidur di sampingnya.

Ponselnya dipenuhi pesan cerewet dari Luna.

Dan entah kenapa, kata-kata Kai terus terngiang di kepalanya.

"Rumah bukan selalu tempat."

Nayla memejamkan mata perlahan.

Mungkin benar.

Mungkin selama ini ia hanya salah mencari arti pulang.

Karena ternyata, rumah bisa hadir dalam bentuk orang-orang yang membuatmu tetap ingin bertahan.

Meski dunia terasa terlalu berat.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nayla tidur tanpa menangis.

---

Pagi berikutnya datang lebih tenang.

Sinar matahari masuk melalui celah tirai kamar Nayla, membentuk garis-garis tipis di lantai putih mengilap. Moci masih tertidur meringkuk di dekat bantal, sesekali menggerakkan telinganya ketika Nayla bangun perlahan.

Nayla mengucek mata.

Beberapa detik ia hanya diam menatap langit-langit.

Lalu semuanya kembali teringat.

Pertengkarannya dengan Bagus.

Foto-foto itu.

Dan rasa sesak yang selalu datang setiap kali ia berada di rumah ini.

Nayla menghela napas panjang.

Hari baru.

Masalah lama.

Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon kamar. Dari sana terlihat taman belakang mansion yang luas dan rapi. Tukang kebun sudah bekerja sejak pagi.

Segalanya terlihat sempurna.

Namun Nayla tahu, rumah ini hanyalah ilusi indah yang menyembunyikan terlalu banyak luka.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini dari Kai.

"Jangan bikin keputusan aneh waktu emosi."

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!