"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang terkubur
Pintu ruang CEO akhirnya tertutup setelah kepergian Devan.
Ruangan kembali sunyi.
Senja masih berdiri di depan meja Arsen sambil memegang beberapa map.
Entah kenapa...
Kalimat terakhir Devan terus terngiang di kepalanya.
"Jaga kesehatan."
"Kalau terlalu capek, jangan memaksakan diri."
Perhatian itu terdengar biasa.
Namun setelah semua yang terjadi...
Justru membuat Senja semakin bingung.
"Pak..."
Arsen yang sedang menandatangani dokumen mengangkat kepala.
"Iya?"
"Bapak sama Pak Devan sebenarnya kenapa, sih?"
Pulpen di tangan Arsen berhenti bergerak.
"Tidak ada apa-apa."
"Bohong."
Senja spontan menjawab.
"Kalau nggak ada apa-apa, mana mungkin suasananya jadi kayak tadi."
Arsen mengembuskan napas pelan.
"Itu urusan kami."
"Dan kamu nggak perlu ikut memikirkannya."
Senja menghela napas kecil.
"Iya..."
Ia kembali membawa map-map yang sudah ditandatangani keluar ruangan.
Pintu tertutup.
Arsen baru menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Tatapannya mengarah ke langit-langit.
Pikirannya kembali dipenuhi potongan-potongan kejadian beberapa hari terakhir.
Bagaskara.
Valery Walker.
Ratih.
Dan Devan.
Semuanya seolah mengetahui sesuatu...
Kecuali dirinya.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk."
Genta masuk sambil membawa sebuah map hitam.
"Tuan."
"Saya rasa hasil penyelidikan yang Tuan minta sudah keluar."
Arsen langsung duduk tegak.
"Ratih?"
"Iya."
Genta meletakkan map itu di atas meja.
"Dan..."
"...hasilnya membuat kami semua terkejut."
Arsen membuka map tersebut.
Lembar pertama berisi foto lama yang telah dipulihkan kualitasnya.
Begitu melihat foto itu...
Tatapan Arsen langsung berubah.
Di dalam foto tampak Raka Bagaskara dan Valery Walker berdiri berdampingan.
Namun perhatian Arsen justru tertuju pada perempuan muda yang berdiri satu langkah di belakang mereka.
Perempuan itu...
Tidak lain adalah Ratih.
Masih sangat muda.
Mengenakan seragam resmi.
"Apa ini?"
Suara Arsen terdengar pelan.
Genta menarik napas.
"Tuan..."
"Ratih ternyata pernah bekerja untuk keluarga Bagaskara."
"Sebagai..."
"...pengasuh pribadi Nona Senja."
Arsen menutup map itu perlahan.
Tatapannya masih tertuju pada nama yang tercetak di halaman terakhir.
Ratih.
Beberapa detik, ruangan hanya dipenuhi keheningan.
"Genta."
"Ya, Tuan."
"Kamu yakin semua data ini valid?"
"Kami sudah mencocokkannya dengan arsip ketenagakerjaan lama milik keluarga Bagaskara."
"Tidak hanya satu sumber."
"Ada tiga dokumen berbeda."
"Dan semuanya mengarah pada orang yang sama."
Arsen menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Berarti...
Tidak ada kemungkinan ini sebuah kesalahan.
"Lanjut."
Genta membuka berkas berikutnya.
"Menurut catatan, Nyonya Valery Walker sendiri yang meminta Ratih menjadi pengasuh pribadi Nona Senja."
Arsen mengangkat sebelah alis.
"Permintaan langsung?"
"Iya."
"Bahkan ada memo internal yang menyebutkan bahwa sejak Nona Senja lahir..."
"...Ratih hampir tidak pernah meninggalkan sisi beliau."
"Selama dua puluh empat jam."
Arsen mulai berpikir.
Hubungan itu terlalu dekat.
Jauh melebihi hubungan majikan dan pegawai.
"Lalu..."
"Kenapa Ratih keluar dari sana?"
Genta menarik napas.
"Itulah bagian yang paling aneh."
Ia menggeser selembar dokumen ke hadapan Arsen.
"Ratih mengundurkan diri."
"Tiga hari sebelum kecelakaan yang menewaskan Valery Walker."
Arsen mengernyit.
"Alasannya?"
"Tidak ada."
"Hanya surat pengunduran diri satu halaman."
Arsen mengambil dokumen itu.
Tatapannya langsung berhenti pada kalimat terakhir.
Terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada saya. Maaf karena saya tidak dapat menyelesaikan amanah ini hingga akhir.
Arsen membaca kalimat itu dua kali.
Lalu tiga kali.
"Amanah..."
gumamnya pelan.
"Bukan pekerjaan..."
Genta mengangguk.
"Itu juga yang kami pikirkan."
"Kalimat itu terdengar seperti..."
"...Ratih sedang menjaga sesuatu."
"Bukan sekadar bekerja."
Arsen perlahan menutup surat itu.
Di dalam kepalanya, potongan-potongan kejadian mulai tersusun.
Valery mempercayai Ratih.
Ratih mengundurkan diri tiga hari sebelum kecelakaan.
Lalu...
Setelah kecelakaan...
Senja dibesarkan oleh Ratih.
"Itu bukan kebetulan."
Suara Arsen terdengar sangat pelan.
"Itu rencana."
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk."
Pintu ruang CEO terbuka pelan.
Senja masuk sambil membawa tablet dan beberapa map agenda rapat.
"Pak, ini materi presentasi siang nanti."
Arsen yang masih duduk di balik meja segera menutup map hitam di hadapannya.
"Taruh saja."
"Iya, Pak."
Senja melangkah mendekat.
Saat hendak meletakkan dokumen, tanpa sengaja pandangannya menangkap sudut foto lama yang belum sepenuhnya masuk ke dalam map.
"Hm?"
Ia sedikit memiringkan kepala.
"Foto siapa, Pak?"
Refleks, Arsen langsung menutup map itu.
"Berkas lama."
"Oh..."
Senja tidak bertanya lagi.
Ia memang penasaran.
Namun sejak bekerja dengan Arsen, ia tahu satu hal.
Kalau Arsen tidak ingin membahas sesuatu...
Maka tidak ada gunanya memaksa.
"Kalau begitu saya keluar dulu."
"Senja."
Langkah perempuan itu berhenti.
"Iya, Pak?"
Arsen memandangnya beberapa detik.
Tatapannya jauh lebih lembut dibanding biasanya.
"Kalau beberapa hari ke depan saya terlihat sedikit sibuk..."
"...jangan dipikirkan."
"Saya hanya menyelesaikan beberapa urusan lama."
Senja tersenyum kecil.
"Baik."
"Lalu..."
Arsen melanjutkan.
"Kalau Ibu Ratih menelepon..."
"Bilang saja saya ingin berkunjung akhir pekan nanti."
Senja tampak sedikit terkejut.
"Ibu?"
"Iya."
"Mungkin beliau senang."
"Terakhir ketemu di Bogor, Ibu juga sempat bilang Bapak boleh datang lagi kapan saja."
Arsen mengangguk pelan.
"Kalau begitu..."
"...akhir pekan ini kita ke Bogor."
"Oke, Pak."
Senja tersenyum sebelum keluar dari ruangan.
Pintu kembali tertutup.
Baru setelah benar-benar yakin Senja sudah pergi...
Arsen membuka kembali map hitam itu.
Tatapannya jatuh pada foto lama keluarga Bagaskara.
Jemarinya perlahan berhenti tepat di wajah Ratih.
"Kenapa kamu membawa Senja pergi..."
gumamnya pelan.
"Dan..."
"...siapa sebenarnya yang kamu lindungi selama ini?"
Di saat yang sama...
Jauh di luar gedung Malik Media.
Sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan.
Seseorang di dalamnya memperhatikan gedung tinggi itu dalam diam.
Kemudian mengangkat ponselnya.
"Dia mulai mendekati Ratih."
Suara di seberang sana terdengar tenang.
"Biarkan."
"Semakin dekat Arsen dengan kebenaran..."
"...semakin dekat pula dia dengan kematiannya."
Sambungan telepon terputus.
Mobil hitam itu perlahan melaju meninggalkan kawasan bisnis Jakarta.
Sore mulai turun di kawasan Puncak, Bogor.
Kabut tipis perlahan menyelimuti halaman vila keluarga Malik.
Ratih duduk sendirian di teras belakang.
Secangkir teh hangat di atas meja kayu sudah hampir dingin.
Tatapannya kosong mengarah ke hamparan pepohonan yang bergoyang pelan tertiup angin.
Beberapa hari berada di vila itu...
Seharusnya membuatnya merasa lebih tenang.
Namun entah kenapa...
Perasaannya justru semakin gelisah.
"Bu Ratih."
Seorang petugas keamanan menghampiri.
"Iya?"
"Tadi ada kurir datang."
"Kurir?"
Ratih mengernyit.
"Saya tidak merasa memesan apa pun."
"Katanya hanya titipan."
Petugas itu menyerahkan sebuah amplop cokelat tanpa nama pengirim.
Ratih menerimanya dengan ragu.
"Terima kasih."
Setelah petugas itu kembali ke pos penjagaan, Ratih perlahan membuka amplop tersebut.
Tidak ada surat.
Tidak ada tulisan.
Hanya...
Satu lembar foto.
Begitu melihat isi foto itu...
Wajah Ratih seketika memucat.
Tangannya bergetar hebat.
Foto itu memperlihatkan seorang bayi perempuan yang sedang tertidur di dalam gendongan.
Di belakang bayi itu...
Tampak seorang perempuan muda.
Ratih.
Dan di sudut kanan bawah foto, tertulis dengan tinta hitam:
"Rahasia tidak bisa disembunyikan selamanya."
Napas Ratih memburu.
"Itu..."
"Itu foto..."
"...dua puluh tiga tahun yang lalu."
Foto yang seharusnya sudah lama musnah.
Yang hanya dimiliki segelintir orang.
Lalu...
Sebuah ponsel sederhana yang berada di atas meja berdering.
Nomor tidak dikenal.
Dengan tangan gemetar, Ratih mengangkatnya.
"Halo..."
Suara berat seorang pria langsung terdengar.
"Nyaman tinggal di vila keluarga Malik?"
Ratih membeku.
Pria itu...
Tahu lokasi persembunyiannya.
"Siapa kamu?"
"Tidak penting."
Yang membuat Ratih semakin takut bukanlah suara pria itu.
Melainkan kalimat berikutnya.
"Sampaikan pada Arsen Malik..."
"...berhenti menggali masa lalu keluarga Bagaskara."
Ratih mengepalkan ponselnya.
"Kalau tidak..."
Suara pria itu berubah dingin.
"...kali ini bukan kamu yang kami cari."
"...melainkan Senja."
Tut.
Sambungan telepon terputus.
Ratih masih mematung.
Air matanya perlahan jatuh.
Bukan karena takut pada dirinya sendiri.
Melainkan karena satu hal.
Berarti...
Tempat persembunyian yang disiapkan Arsen...
Sudah diketahui oleh musuh.
Ratih menatap ke arah langit Bogor yang mulai gelap.
Lalu berbisik pelan,
"Maafkan Ibu, Senja..."
"Sepertinya..."
"...Ibu tidak bisa menyembunyikan semua ini lebih lama lagi."