Pernikahan itu tidak lahir dari cinta. Melainkan dari sebuah kesepakatan. Ketika keluarga Alyssa berada di ambang kehancuran, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran keluarga Maheswara. Menikah dengan Alvaro Regantara Maheswara. Pria yang terkenal dingin. Pria yang dijuluki pewaris paling berbahaya. Pria yang bahkan tidak percaya pada cinta. Bagi Alyssa, pernikahan itu seperti masuk ke dalam sangkar emas. Mewah. Indah. Tapi menyesakkan. Namun semakin lama mereka bersama, Alyssa mulai melihat sisi Alvaro yang tidak pernah diketahui siapa pun. Sisi yang terluka. Sisi yang kesepian. Dan perlahan kebencian berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya. Cinta. Tapi ketika rahasia masa lalu Alvaro terungkap dan mantan tunangannya kembali untuk merebut segalanya. Akankah pernikahan yang dimulai karena ambisi itu berakhir menjadi cinta? Atau justru menjadi kehancuran bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Rencana Alvaro untuk segera meninggalkan hotel tertahan ketika Mahendra Maheswara memanggilnya ke ruang privat lantai atas untuk membahas beberapa dokumen penting pasca-gala. Mau tidak mau, Alvaro harus meninggalkan Alyssa selama beberapa menit di ruang tengah VIP, tempat para istri konglomerat dan sosialita papan atas berkumpul untuk menikmati hidangan penutup.
Alyssa, dengan mental bajanya yang selalu siap, memilih berdiri di dekat meja dekorasi bunga lili putih, menyesap segelas air mineral dengan keanggunan yang tenang. Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama.
Vanessa, yang tampaknya belum puas dengan konfrontasi di toilet, melihat kepergian Alvaro sebagai kesempatan emas. Dengan langkah anggun yang sengaja dibuat mencolok, ia menghampiri Alyssa bersama tiga wanita sosialita dari keluarga terpandang yang menjadi pengikut setianya.
"Oh, lihat siapa yang ditinggal sendirian di sini," suara Vanessa terdengar renyah namun sarat akan racun, memecah obrolan kecil di sekitar mereka. Beberapa pasang mata tamu penting, termasuk istri dari komisaris bank BUMN, langsung tertuju pada mereka. "Alyssa, sayang sekali Alvaro harus pergi begitu cepat. Pria seperti dia memang selalu mendahulukan bisnis di atas... hal-hal sekunder."
Alyssa meletakkan gelasnya dengan ketukan halus yang tenang. "Bisnis keluarga Maheswara adalah tanggung jawab besar, Nona Vanessa. Sebagai istrinya, saya sangat memahami hal itu."
Vanessa terkekeh, melirik teman-temannya dengan tatapan meremehkan. "Memahami atau terpaksa memaklumi? Kita semua di sini tahu, Alyssa, bahwa latar belakang keluarga sangat menentukan ke mana arah hati seorang pria Maheswara akan berlabuh. Tanpa fondasi yang setara, seorang wanita hanya akan menjadi hiasan sementara yang mudah digantikan ketika masanya habis. Bukankah begitu, Jeng?"
Sindiran Vanessa yang sengaja diucapkan dengan lantang itu mulai memicu bisik-bisik di antara para tamu penting. Mereka mulai menatap Alyssa dengan pandangan menilai, seolah membenarkan bahwa putri dari Pradipta Group yang hampir kolaps itu memang tidak pantas bersanding di lingkaran tertinggi ini. Vanessa tersenyum puas, merasa di atas angin karena berhasil memojokkan Alyssa di depan publik.
"Siapa yang kau sebut sebagai hiasan sementara, Vanessa?"
Sebuah suara bariton yang teramat dingin dan berat tiba-tiba memotong udara malam. Suasana di ruangan itu seketika membeku.
Alvaro muncul dari balik pilar marmer, melangkah lebar dengan aura intimidasi yang begitu pekat hingga membuat orang-orang di sekitarnya secara refleks mundur memberikan jalan. Langkah kakinya terdengar tegas, dan ketika ia berdiri di samping Alyssa, sepasang mata elangnya menatap Vanessa dengan tatapan yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya.
Itu adalah kemarahan nyata yang membakar, dingin, dan mematikan.
"Al-Alvaro..." Vanessa terbata, senyum puas di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa saat melihat kilat kemurkaan di mata mantan tunangannya itu.
"Jaga bicaramu di depan istriku," desis Alvaro, suaranya rendah namun bergaung penuh ancaman mutlak di dalam ruangan yang mendadak sunyi senyap. Ia melangkah satu tapak maju, mengunci pergerakan Vanessa dengan tatapan predatornya. "Alyssa adalah Nyonya Maheswara yang sah. Siapa pun yang merendahkan dirinya di dalam ruangan ini, sama saja dengan menantangku secara langsung."
Alvaro menatap Vanessa dengan tatapan yang begitu asing tatapan penuh kebencian dan peringatan keras yang belum pernah ia tunjukkan pada wanita itu, bahkan saat pertunangan mereka hancur dulu.
"Ini adalah peringatan pertama dan terakhir dariku, Vanessa," lanjut Alvaro, setiap katanya ditekankan dengan ketegasan yang tak terbantahkan. "Jangan pernah berani mengusik istriku lagi. Jika aku mendengar kau atau keluargamu mencoba melakukan tindakan amatir seperti ini lagi, aku sendiri yang akan memastikan bisnis keluarga kalian kehilangan seluruh sekutu di negeri ini."
Ancaman finansial dan sosial yang luar biasa itu membuat wajah Vanessa seketika pucat pasi. Ia gemetaran, tidak mempercayai bahwa Alvaro akan melangkah sejauh ini demi membela seorang Alyssa di depan para tamu penting. Teman-teman sosialita Vanessa langsung menunduk, tidak berani mengangkat wajah mereka sedikit pun.
Momen tersebut meninggalkan keterkejutan yang mendalam bagi semua orang yang menyaksikannya. Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Alvaro membalikkan tubuhnya, lalu dengan gerakan yang protektif, ia melingkarkan tangannya di pinggang Alyssa, menuntun istrinya berjalan keluar meninggalkan aula gala yang masih diliputi keheningan mencekam.
Malam itu, di dalam keheningan mobil Rolls-Royce yang membawa mereka kembali ke mansion, Alyssa hanya diam menatap keluar jendela. Namun, di dalam dadanya, badai emosi sedang berkecamuk hebat.
Pembelaan Alvaro yang begitu agresif dan tatapan mata pria itu yang sarat akan amarah protektif malam ini telah meruntuhkan seluruh analisis taktisnya. Alyssa mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, menembus dinding pertahanan logisnya yang paling dalam: apakah dirinya benar-benar tidak berarti apa-apa bagi Alvaro? Ataukah di balik topeng kontrak berlapis es itu, ia telah menjadi sesuatu yang teramat berharga bagi sang predator?
...****************...
Alvaro yang duduk di sebelahnya masih mempertahankan rahang yang mengeras, dengan pandangan yang lurus menembus kegelapan jalanan ibu kota yang diguyur sisa-sisa gerimis. Tangan kanannya yang bebas berulang kali mengetuk setir dengan ritme yang tidak beraturan sebuah tanda tak biasa yang menunjukkan bahwa isi kepala sang predator Maheswara pun sedang tidak tenang.
"Anda melangkah terlalu jauh malam ini, Tuan Alvaro," ucap Alyssa akhirnya, memecah keheningan kabin mobil yang terasa menyesakkan. Sifat taktisnya memaksa dirinya untuk tetap rasional, mengabaikan debaran aneh yang masih menggelitik dadanya. "Mengancam bisnis keluarga Vanessa di depan para petinggi BUMN dan kolega Kakek Mahendra bisa memicu riak yang tidak perlu bagi Maheswara Group."
Alvaro tidak langsung menjawab. Ia membiarkan mobilnya membelah jalanan tol yang sepi sebelum akhirnya melirik Alyssa dari sudut matanya. Tatapan dingin yang tadi ia gunakan untuk membungkam Vanessa kini melunak, digantikan oleh tatapan dalam yang sulit diartikan.
"Aku tidak suka barang milikku disentuh, apalagi direndahkan oleh orang asing," sahut Alvaro, suaranya baritonnya terdengar rendah dan mutlak. "Kontrak atau bukan, kau membawa nama Maheswara di punggungmu malam ini, Alyssa. Menghajarnya di depan publik adalah pesan eksplisit kepada Arsen dan sekutunya bahwa aku tidak akan mentoleransi provokasi sekecil apa pun."
"Hanya karena nama Maheswara?" Alyssa membalikkan tubuhnya sedikit, menantang sepasang mata elang itu di bawah temaram lampu kabin mobil. Sifat beraninya menolak untuk menerima jawaban diplomatis itu begitu saja. "Atau karena Anda memang tidak tahan melihat dia menyerang saya?"
Pertanyaan jernih Alyssa membuat Alvaro terdiam. Pria berumur 28 tahun itu mencengkeram kemudi sedikit lebih erat. Logikanya yang dingin berteriak bahwa ia harus membenarkan alasan korporat itu untuk menjaga jarak aman di antara mereka. Namun, memori saat melihat wajah Alyssa yang tenang dikerumuni oleh tatapan merendahkan para sosialita tadi justru memicu letupan emosi yang tidak bisa ia rasionalkan. Ia marah bukan karena reputasi perusahaan, melainkan karena ego predatornya menolak melihat wanita ini terluka.
"Jangan mencari makna di balik tindakanku, Alyssa," bisik Alvaro, suaranya mendadak berubah berat, sarat akan pergolakan batin yang ia sembunyikan rapat-rapat. "Fokus saja pada bagianmu."
Mobil Rolls-Royce itu akhirnya melambat dan memasuki pelataran yang sunyi. Begitu mesin mati, Alvaro tidak segera turun. Ia tetap diam di posisinya, menatap lurus ke depan, sementara Alyssa menatap profil samping wajah suaminya dengan sejuta pertanyaan yang kian menumpuk. Malam itu, di bawah atap yang megah namun dingin, mereka berdua tahu bahwa batas-batas yang tertulis di atas kertas kontrak mereka kini telah sepenuhnya mengabur, digantikan oleh ketegangan baru yang jauh lebih mengikat.
...****************...
Alyssa menarik napas pendek, lalu memutuskan untuk menyudahi perdebatan bisu tersebut. Ia membuka pintu mobil sendiri sebelum sopir sempat mendekat, melangkah keluar ke atas aspal pelataran yang masih basah. Angin malam yang dingin langsung menyapa kulit bahunya yang terbuka, membuat tubuhnya sedikit jengkel karena kontras dengan kehangatan di dalam kabin tadi.
Ia melangkah masuk ke dalam lobi yang megah namun sepi, disusul oleh Alvaro beberapa saat kemudian. Langkah kaki pria itu yang berat terdengar bergema di atas lantai marmer, mengikuti ritme langkah Alyssa dari belakang.
Tepat di kaki tangga utama, Alyssa menghentikan langkahnya. Ia berbalik, membiarkan ujung gaun-nya menyapu lantai dengan anggun. Di bawah pendar lampu kristal yang benderang, ia menatap Alvaro yang kini berdiri beberapa anak tangga di bawahnya.
"Terima kasih untuk malam ini, Alvaro," ucap Alyssa, menggunakan nama depan pria itu tanpa embel-embel formalitas korporat untuk pertama kalinya. Suaranya terdengar jernih, membawa ketulusan yang langka di antara hubungan taktis mereka. "Terlepas dari apa pun alasan di balik tindakan Anda, Anda telah menjaga harga diri saya sebagai seorang wanita."
Alvaro membeku di tempatnya berdiri. Tatapannya terkunci pada sepasang mata jernih Alyssa yang memancarkan ketegasan sekaligus kerapuhan yang disembunyikan dengan rapi. Mendengar namanya disebut tanpa jarak oleh Alyssa mengirimkan getaran asing yang langsung menghantam pusat pertahanannya.
Pria itu tidak bersuara. Ia hanya menatap Alyssa selama beberapa detik yang panjang, sebelum akhirnya memberikan anggukan kecil yang nyaris tak terlihat. Wajahnya kembali datar, namun sepasang mata elangnya tidak bisa berbohong ada riak emosi yang sangat dalam di sana, sebuah pengakuan tak kasat mata bahwa benteng esnya telah benar-benar runtuh malam ini.
Alyssa membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju kamarnya di sayap kanan. Sementara itu, Alvaro tetap berdiri di kaki tangga, menatap punggung istrinya hingga sosok wanita itu menghilang di balik tikungan koridor.
Malam itu, saat seisi telah tenggelam dalam keheningan total, tatapan berbeda yang ditunjukkan Alvaro di dalam tadi terus membekas di benak mereka masing-masing. Sebuah awal perubahan yang tidak bisa lagi diputar balik, karena sang predator kini telah memilih untuk berhenti berpura-pura bahwa istri kontraknya tidak memiliki arti apa-apa di dalam hidupnya.