NovelToon NovelToon
Benang Merah Arka

Benang Merah Arka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Xora'

Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Kondisi

...----------------...

Bus malam itu terasa begitu panjang dan menyesakkan. Suara mesin diesel yang menderu rendah seolah menjadi latar belakang bagi kehancuran hatiku sendiri meskipun saat itu, aku masih terlalu bodoh untuk menyadarinya. Astrid masih bersandar di kaca jendela. Bahunya bergetar sangat halus, dan sesekali dia menyeka pipinya dengan punggung tangan, berharap aku tidak menyadari tangisannya.

Aku mencoba untuk bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Aku menoleh ke arahnya, mencoba menyentuh bahunya dengan lembut. "Strid, lu oke?" tanyaku dengan suara yang kubuat selembut mungkin.

Astrid tidak langsung menjawab. Dia menarik napas panjang, berusaha menstabilkan suaranya sebelum menoleh ke arahku. Wajahnya sembab, matanya yang indah kini terlihat bengkak. "Gue gak apa-apa, Ka. Cuma... mungkin agak capek aja," jawabnya pelan.

"Gue tau lu capek, Strid. Tapi percaya deh, perjalanan ini bakal sebanding sama apa yang bakal kita dapetin di Bandung nanti. Kita bakal punya modal, kita bakal punya rumah yang lebih bagus, dan lu gak perlu kerja banting tulang lagi," kataku, berusaha memberikan harapan yang kubangun sendiri.

Astrid hanya menatapku kosong. "Lu yakin banget ya, Ka?"

"Yakin banget. Iksan itu temen baik gue, dia udah kasih liat buktinya," jawabku mantap, menutup rapat keraguan yang sempat muncul di sudut pikiranku.

Aku melihat dia menunduk, menatap perutnya yang sudah membesar. Dia mengelusnya pelan. Aku merasa perlu mengalihkan pembicaraan, memastikan dia tetap sehat. "Eh, lu udah makan belum? Dari tadi siang kayaknya lu belum makan berat. Mau gue pesenin sesuatu pas nanti kita berhenti di rest area?"

Astrid menggeleng pelan. "Enggak, Ka. Gue gak laper."

"Jangan gitu, Strid. Lu harus mikirin bayi kita juga. Kalau lu gak makan, nanti lu sakit, gimana?" rayuku, mencoba menjadi suami yang perhatian. Aku sebenarnya cemas, bukan hanya karena kandungannya, tapi karena aku takut dia semakin marah jika dia sakit di tengah perjalanan ini.

"Gue bilang gue gak laper, Arka. Gue cuma mau istirahat," jawabnya dingin. Nadanya bukan lagi kemarahan yang meledak-ledak, melainkan ketidaktertarikan yang jauh lebih menyakitkan.

Aku terdiam, merasa tertolak. "Ya udah, kalau nanti laper, bilang aja ya. Masih ada roti yang tadi gue beli sebelum naik bus."

Astrid tidak menanggapi lagi. Dia kembali memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela yang gelap. Pemandangan di luar sana hanyalah bayangan pohon-pohon dan lampu-lampu jalan yang lewat dengan cepat. Aku memperhatikan profil samping wajahnya; dia tampak sangat jauh, seolah jiwanya sudah pergi meninggalkan tempat duduk ini.

Aku merasa ada sesuatu yang salah. Sangat salah. Namun, alih-alih bertanya apa yang sebenarnya dia rasakan apa ketakutan terbesarnya aku justru memilih untuk kembali menyandarkan kepalaku ke kursi bus. Aku merasa telah melakukan tugasku sebagai suami dengan "bertanya makan" dan "memperhatikan kondisi". Dalam otakku yang naif, itu sudah cukup. Aku pikir, dengan uang yang sudah kuberikan pada Iksan, aku sudah menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab.

Aku memejamkan mata, membiarkan pikiran-pikiran indah tentang masa depan yang kaya raya menyelimutiku kembali. Aku tidak sadar bahwa di sampingku, Astrid sedang menatap kegelapan dengan tatapan putus asa. Setiap napas yang ia embuskan terasa seperti keluhan atas nasib yang telah ia pilih atau lebih tepatnya, nasib yang telah aku paksa untuk ia jalani.

"Tidurlah, Ka," bisik Astrid tiba-tiba, suaranya sangat lirih. "Besok kita bakal sampe di Bandung. Gue cuma mau tau, besok pagi pas kita bangun di sana... apakah kita masih punya rumah buat tempat kita pulang?"

Aku membuka mata, menoleh padanya dengan kening berkerut. "Maksud lu apa? Ya jelas kita punya rumah di Bandung. Rumah itu kan milik gue sekarang."

Astrid tidak menjawab. Dia hanya memejamkan mata dan menarik selimut tipis yang ia bawa hingga sebatas dada. Aku kembali memejamkan mata, menganggap pertanyaan Astrid sebagai bentuk rasa khawatir yang berlebihan. Aku masih sangat yakin dengan rencanaku.

...****************...

Pukul dua dini hari, bus antar kota yang kami tumpangi akhirnya berhenti di terminal kecil pinggiran Bandung. Udara dingin pegunungan langsung menusuk kulit begitu kami turun. Dengan sisa tenaga yang ada, aku menarik koper besar kami sementara Astrid berjalan gontai di sampingku, kepalanya tertunduk menahan kantuk yang luar biasa. Kami menaiki taksi menuju alamat yang tertera di sertifikat rumah yang diberikan Ayah padaku.

Saat taksi berbelok masuk ke sebuah gerbang besi, aku tertegun. Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan detail rumah ini saat Ayah mengatakannya dulu. Di bawah sinar lampu jalan yang temaram, rumah itu tampak megah dalam kesederhanaannya. Halamannya sangat luas, tertutup rumput yang meski sedikit tidak terawat, tetap terlihat indah. Di sisi samping rumah, terdapat garasi terpisah yang cukup lega untuk menampung dua mobil. Bangunan utamanya sendiri memiliki dua lantai dengan desain minimalis namun berukuran besar.

"Gila..." gumamku tak percaya. "Kita beneran punya ini, Strid?"

Astrid bahkan tidak mendongak. Dia hanya mengusap matanya yang sembab, lalu berjalan gontai menuju pintu utama yang kuncinya sudah kuberikan pada nya. "Gue cuma mau tidur, Ka. Gue capek banget," ucapnya pelan. Dia langsung masuk ke kamar lantai satu dan tak butuh waktu lama untuk mendengar deru napasnya yang teratur.

Aku, di sisi lain, merasa adrenalin mengalir deras. Rasa kantukku hilang seketika. Aku menghabiskan waktu hingga jam enam pagi dengan berkeliling rumah, membersihkan debu-debu yang menempel di furnitur lama, menyapu lantai, hingga menata kembali letak meja. Aku merasa bangga. Setidaknya, di sini aku punya tempat untuk membangun kembali harga diriku. Aku yakin, investasi dengan Iksan itu akan berbuah manis, dan rumah ini akan menjadi saksi kebangkitanku.

Saat matahari mulai memanjat naik, aku sudah kelelahan. Aku tertidur pulas di sofa ruang tamu. Sinar matahari pagi yang menembus jendela menyadarkanku, namun aku mendapati diriku sudah berada di sana cukup lama.

Astrid terbangun lebih awal. Aku bisa melihatnya sedang berkeliling di teras depan, menghirup udara pagi Bandung yang bersih. Rambutnya diikat asal, mengenakan daster rumahan. Ada ketenangan yang aneh pada dirinya pagi itu, tapi juga ada jarak yang terasa nyata.

Tak lama, aroma telur goreng dan nasi hangat mulai memenuhi ruangan. Dia membangunkan aku dengan cara yang sederhana. "Sarapan udah siap," ucapnya singkat sebelum kembali ke dapur.

Kami duduk berhadapan di meja makan besar yang terbuat dari kayu jati. Aku mencoba mencairkan suasana. "Rumahnya bagus banget, ya? Halamannya luas, nanti kita bisa bikin taman buat dedek bayi. Atau mungkin kita bisa tanam pohon buah-buahan di belakang?"

Astrid hanya mengaduk nasinya pelan. "Iya, bagus."

"Lu seneng gak kita pindah ke sini? Gue ngerasa rumah ini punya aura positif, Strid. Beda banget sama rumah di Jakarta yang."

Astrid mengangkat wajahnya, menatapku dengan mata yang redup. "Ka, rumah itu cuma benda. Yang bikin kita tenang itu bukan luas halamannya, tapi rasa aman di dalemnya. Dan jujur, gue belum ngerasa aman sekarang."

Kata-katanya memukulku telak. Aku ingin membalas, tapi aku memilih diam. Aku tidak ingin merusak suasana sarapan yang akhirnya tenang setelah berhari-hari penuh makian. Aku tahu Astrid masih sakit hati, mungkin bukan hanya karena rumahnya dijual, tapi karena dia merasa aku tidak lagi bisa diajak berdiskusi.

Malam harinya, Bandung turun hujan gerimis. Udara menjadi sangat dingin. Aku duduk sendirian di teras belakang, ditemani kepulan asap rokok dan secangkir kopi hitam yang mulai mendingin. Suasana rumah begitu sunyi. Aku menatap kegelapan halaman yang luas, memikirkan banyak hal.

Kenapa Astrid jadi sedingin ini? Apakah benar-benar hanya karena rumah di Jakarta itu? Atau, mungkinkah ada sesuatu yang lebih dalam dari itu?

Aku merenung panjang. Astrid bukan tipe wanita materialistis. Dia tidak pernah memintaku membeli barang-barang mahal. Aku tidak tau aap dia mencintaiku tetapi di saat aku tidak punya apa-apa lagi dia masih mau menemani ku. Maka, jika dia semarah ini, pasti ada rasa tidak percaya yang mendasar. Dia mungkin merasa bahwa aku tidak lagi memperlakukannya sebagai pasangan.

Aku menarik napas panjang, asap rokok menari-nari di udara sebelum hilang ditelan dinginnya malam. Aku merasa sangat kesepian di rumah yang sebesar ini. Padahal, istriku ada di dalam sana, hanya beberapa meter dariku, tapi rasanya kami dipisahkan oleh jurang yang sangat lebar.

"Apa gue beneran se-egois itu?" tanyaku dalam hati.

Aku menatap layar ponselku, berharap ada pesan dari Iksan tentang laporan keuntungan investasi. Kosong. Hanya ada notifikasi berita-berita biasa. Aku mulai merasa gelisah. Iksan bilang satu minggu, dan ini sudah masuk hari kedua sejak transfer.

Aku mematikan puntung rokok di asbak. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk bersabar. Besok, aku akan mencoba bicara lagi dengan Astrid. Aku akan mencoba menjelaskan bahwa semua ini kulakukan demi masa depan kami. Aku yakin, begitu uang itu cair dan rekeningku penuh dengan nominal yang fantastis, Astrid akan mengerti. Dia akan melihat bahwa pilihannya untuk percaya padaku meskipun dengan berat hati adalah pilihan yang tepat.

Setidaknya, itulah yang kuberitahukan pada diriku sendiri untuk memadamkan keraguan yang mulai menggerogoti jiwaku. Di dalam rumah, lampu kamar Astrid masih menyala redup. Dia pasti sedang belajar atau main handphone lagi. Aku ingin masuk, memeluknya, dan bilang "maaf". Tapi egoku yang bodoh kembali menahanku. Aku takut jika aku masuk sekarang, dia akan kembali memojokkanku dengan logika-logika yang tidak ingin kudengar.

Aku berdiri, masuk ke dalam rumah, dan mengunci pintu. Malam ini, aku tidur dengan janji manis yang kubuat untuk diriku sendiri, sambil mengabaikan fakta bahwa kenyataan bisa sangat kejam bagi mereka yang terlalu banyak berharap pada sebuah ilusi. Di kamar sebelah, Astrid mungkin sedang berdoa, berharap suaminya bisa memahami kondisi. Kami berdua tidur di bawah atap yang sama, dengan mimpi yang saling berlawanan.

...----------------...

1
Atishaa
iiiii gregetannn bangettttt nanggung bangett minn, cepet' update dehh penasaran soalnyaaaa
Atishaa
cara buat malunya bener' di buat sejatuh'nya keren sih langsung di kuras hartanya
Atishaa
keren sih si arka ga langsung marah' malah nyari bukti dulu trus juga percaya sama kakanya coba kalo ga percaya pasti kena marah ayahnya gra' si arka mudah di bodohin cewek
darrel fadilasyah
bagus ceritanya 🔥🔥
Xora'
di baca guysss
Atishaa
kerenn rasaa keselnya juga adaaa
Cliff
/CoolGuy/
darrel fadilasyah
keren banget novelnya bikin penasaran 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!