NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29• Perasaan Yang Telah Hilang

Arkan naik ke kamar. Kunci mobil masih di genggamannya.

Di dalam, suara Ibu Desy masih menggema dari bawah. “Cari istrimu! Jemput dia!” Tapi kakinya berhenti di depan lemari. Ia buka laci paling bawah. Ambil dompet. Ambil ponsel.

Nama Dewi ada di layar depan. Belum ia hapus sejak semalam.

Satu panggilan. Itu saja. Dan semua keributan di rumah ini bisa ia tinggal sebentar. Dewi tidak akan tanya kenapa Naya pergi. Dewi tidak akan maki dia di depan tetangga. Dewi akan buka pintu, tarik dia masuk, dan bilang, “Mas capek ya.”

Tangannya gemetar.

Di bawah, pintu depan terbuka. Suara Bara pulang. Bara yang semalaman dipaksa Ibu Desy urus tunangannya, bukan urus Naya. Rasa bersalah itu ikut naik ke kamar, mencekik Arkan.

“Naya di mana, Mas?” Suara Bara dari bawah, pelan tapi memaksa.

Arkan pejamkan mata. Ia tak menjawab lalu kembali masuk kedalam kamarnya, menutup pintu dengan pelan.

Ia harusnya turun. Harusnya cari Naya ke kos itu sebelum barang-barangnya dibuang penjaga.

Ia tekan nama Dewi.

“Halo, Mas?” Suara Dewi langsung ada di seberang. Lembut. Seperti obat.

“Dew… Aku boleh ke tempatmu bentar?” Suaranya pecah di kata terakhir.

Di seberang, Dewi diam setengah detik. Lalu, “Boleh, Mas. Aku tunggu.”

Arkan putus sambungan. Ia ambil jaket. Lewat belakang, biar Ibu Desy gak lihat.

Saat mobilnya keluar dari garasi, ia melihat Bara berdiri di jendela lantai utama. Menatap kepergiannya. Dengan wajah yang sudah tau jawabannya.

Arkan tidak ke kos. Ia ke apartemen Dewi.

Dan malam itu, Naya mengemas barang sendirian. Diusir. Tanpa satu pun orang dari rumah itu yang datang.

Naya melipat baju terakhirnya dan memasukkan ke dalam tas kanvas. Tangannya kaku. Matanya perih, tapi sudah kering sejak tadi pagi.

Jam di dinding kos menunjukkan pukul 11. Penjaga kos sudah tiga kali mengetuk pintu. “Mbak, barangnya sudah semua? Nanti siang kamarnya mau dibersihkan.”

“Sudah, Pak,” jawab Naya tanpa menoleh.

Ia menarik resleting tas. Bunyinya nyaring di kamar sempit itu. Seharusnya jam segini Arkan sudah ada di sini. Seharusnya ada ketukan pintu, ada suara Arkan bilang, “Nay, pulang.”

Tapi tidak ada.

Ponselnya di atas kasur. Layarnya gelap sejak semalam. Tidak ada panggilan. Tidak ada pesan. Bahkan dari Bara. Padahal semalam Bara yang nganter dia ke sini, yang ngasih jaket, yang bilang akan jagain.

Dan yang bilang janji bakal bikin bahagia. Tapi Naya sadar, kalau kata itu bisa diucapkan oleh siapapun tanpa harus membuktikan benar atau tidaknya.

Naya ambil ponsel. Chat terakhir dengan Arkan: tiga hari lalu. Soal tanya kenapa pulang larut malam, namun tidak dibalasnya. Setelah itu tidak ada chat lain.

Dadanya sesak. Bukan karena diusir. Bukan karena gosip tetangga. Tapi karena kenyataan yang telanjang, ia ditinggal.

Di saat paling berantakan, suaminya lebih memilih diam. Atau lebih buruk, memilih orang lain.

Ketukan lagi di pintu. “Mbak Naya, saya masuk ya?”

Naya cepat menyeka mata. “Masuk, Pak.”

Penjaga kos membuka pintu. Matanya melirik ke tas Naya, lalu ke wajah Naya yang sembab.

“Mbak, kalau belum ada tempat, bisa titip barang dulu di sini. Gratis satu hari.”

Naya menggeleng. “Tidak usah, Pak. Terima kasih.”

Ia angkat tas itu. Berat. Bukan karena isinya. Tapi karena di dalamnya tidak ada satu pun barang dari Arkan. Tidak ada jaket Arkan yang biasa ia pakai kalau kedinginan. Tidak ada foto mereka berdua. Hanya baju yang Bara semalam.

Saat Naya melangkah keluar, dua tetangga kos yang kemarin bisik-bisik masih mengintip dari balik pintu. Kali ini mereka tidak pura-pura. Mereka menatap langsung. Dengan sorot yang sama, menghakimi.

Naya tegak. Ia tidak menunduk. Ia lewati mereka, turun tangga, keluar dari kos itu tanpa menoleh lagi.

Di luar, matahari terik. Ojek online sudah menunggu di depan.

Sebelum naik, Naya berhenti. Ia buka ponsel. Ketik satu pesan ke nomor Bara. Singkat.

“Aku sudah keluar dari kos.”

Ia kirim. Lalu matikan ponsel. Masukkan ke tas.

Ojek jalan. Naya tidak tahu mau ke mana. Tapi satu hal ia tahu, ia tidak akan balik ke rumah itu. Tidak hari ini. Mungkin tidak akan pernah lagi. Naya kembali ke kontrakan reotnya dulu, yang harga sewanya sangat murah.

Kontrakan lamanya ada di gang sempit belakang pasar. Cat temboknya kusam, catatannya masih nempel di pintu. “Kamar 3, kosong”. Harga paling murah dan dulu Naya pernah tinggal di sini waktu masih kuliah.

Sekarang ia balik lagi. Bawa satu tas kanvas. Tanpa suami. Tanpa nama baik.

“Bu, kamar 3 masih kosong?” tanyanya ke penjaga.

“ masih. Tapi listriknya kadang mati kalau hujan.”

“Gak apa-apa, Bu.”

Naya bayar uang muka satu bulan. Kunci di tangannya dingin.

Ia baru buka pintu kamar, suara Jeslyn langsung menyambar dari ujung lorong. Entah tau dari mana atau memang dia mengikuti Naya dari kontrakan sebelumnya. Sorot mata Jeslyn sudah menyimpan kemarahan besar.

“Mbak Naya?”

Naya menoleh. Jeslyn berdiri di depan kamar nomor 5, Matanya langsung menyipit begitu lihat tas Naya, lihat wajah Naya yang sembab, lihat tidak ada Arkan di sampingnya.

“Kok Mbak di sini?” Jeslyn mendekat. Suaranya sengaja keras. “Di rumah kenapa? Diusir?”

Naya menarik napas. “Aku ngontrak di sini, Jes.”

“Ngontrak?” Jeslyn tertawa pendek. “Mas Arkan tau Mbak tinggal di tempat kayak gini? Apa jangan-jangan Mbak kabur bawa laki-laki lain?”

Nada itu menusuk. Naya menatap Jeslyn lurus. “Aku gak kabur sama siapa-siapa. Aku keluar karena rumah itu udah gak bisa aku tinggali lagi.”

“Oh, jadi salah Mas Arkan? Salah Ibu? Bukan salah Mbak yang semalam ketahuan sama RT kos bareng Bara?” Jeslyn melangkah lebih dekat. “Mbak tau gak, sekarang satu keluarga besar udah tau foto Mbak sama Bara. Malu, Mbak. Mas Arkan dipermalukan gara-gara Mbak.”

Naya mengepalkan tangan di sisi tubuh. “Jes, aku capek.”

“Capek? Mas Arkan juga capek, Mbak. Capek dituduh macem-macem, capek istrinya bikin ribut tengah malam.” Jeslyn mendesis. “Mbak itu istri, bukan korban. Jangan kebalik.”

Naya tidak jawab. Ia masuk ke kamar, tutup pintu pelan. Di balik pintu, suara Jeslyn masih terdengar. Sengaja biar Naya dengar. “Dasar perempuan gak tau diri.”

Naya sandarkan punggung ke pintu. Matanya panas. Tapi ia tidak nangis. Ia sudah kehabisan air mata di kos kemarin.

Siang itu ia keluar buat beli air dan makanan.

Dan di ujung gang, ia lihat mereka. Arkan yang baru keluar dari sebuah toko, bersama seorang perempuan.

Jalan berdampingan dengan Dewi. Dewi pakai dress merah yang sama seperti malam di kafe. Arkan bawa dua botol kopi. Keduanya tertawa. Dekat. Terlalu dekat untuk dibilang kebetulan.

Langkah Naya berhenti.

Arkan belum lihat dia. Dewi juga belum. Mereka asyik ngobrol, kepala Dewi sedikit miring ke arah Arkan lalu masuk kedalam mobil Arkan.

Detik itu juga, sesuatu di dalam dada Naya putus. Bukan berantakan. Putus. Bersih.

Ia tidak teriak. Tidak lari. Ia cuma mikir satu hal, jernih dan dingin:

Besok pagi, pikiran Naya matang ingin segera urus perceraian.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!