Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iman yang Terbakar
Hujan badai mengguyur ibu kota Aethelgard dengan intensitas yang sangat mengerikan sejak siang tadi. Langit sore yang seharusnya berwarna jingga kini tertutup awan hitam pekat yang bergulung-gulung membawa kilat.
Di pelataran luas Istana Draken, ribuan ksatria keluarga berbaris menembus tirai hujan yang membekukan tulang. Zirah besi mereka bergemerincing pelan karena tubuh mereka bergetar menahan hawa dingin dan ketakutan absolut.
Mereka bukanlah prajurit pengecut yang takut mati di ujung pedang musuh manusia biasa. Namun, musuh yang akan mereka hadapi hari ini adalah Pasukan Inkuisisi dari Gereja Cahaya Suci.
Sejak kecil, para ksatria ini diajarkan untuk memuja lambang matahari dan takut pada kemurkaan dewa. Kini, mereka dipaksa mengangkat senjata melawan perpanjangan tangan dewa yang sangat mereka sembah tersebut.
Kematian Jenderal Vargos yang sangat tragis menyisakan sebelas jenderal yang kini berdiri pucat pasi memimpin barisan. Wajah kasap para komandan veteran itu terlihat sangat tersiksa oleh dilema moral yang merobek jiwa mereka.
Air hujan yang mengalir di wajah mereka bercampur dengan air mata keputusasaan yang tak bisa dibendung. Mereka tahu bahwa mengangkat pedang melawan gereja berarti mengorbankan jiwa mereka ke dalam api neraka abadi.
Baron Kaelos berdiri agak jauh di barisan sayap kanan bersama seratus prajurit perbatasannya yang kotor. Hanya pasukan dari benteng perbatasan inilah yang matanya memancarkan kesiapan membunuh tanpa keraguan sedikit pun.
Pikiran para prajurit perbatasan itu telah dihancurkan dan dibentuk ulang sepenuhnya oleh Valerius. Bagi mereka, tidak ada dewa di langit yang lebih menakutkan daripada pemuda pemakai mahkota berkarat tersebut.
Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu bot terdengar menggema dari arah balkon utama lantai dua istana. Valerius melangkah keluar menembus hujan badai, berdiri angkuh dengan jubah sutra hitam yang berkibar liar.
Mahkota Tiran Berdarah bertengger sangat kokoh di atas rambut peraknya yang basah kuyup. Artefak terkutuk itu memancarkan aura kegelapan yang seolah mampu menolak air hujan agar tidak menyentuh wajahnya.
Ribuan ksatria keluarga Draken seketika menahan napas saat menatap sosok tiran muda di atas balkon itu. Hawa membunuh yang dipancarkan Valerius terasa seperti cengkeraman tangan es yang meremas langsung jantung mereka.
"Kalian terlihat sangat menyedihkan berdiri di bawah hujan seperti sekumpulan anjing yang kehilangan arah," ucap Valerius pelan. Suara dinginnya diperkuat oleh sihir Mahkota Tiran, menggema sangat jelas mengalahkan gemuruh guntur di langit.
Tidak ada satu pun ksatria yang berani membuka mulut untuk membalas hinaan telak tersebut. Mereka hanya menundukkan kepala dalam-dalam, berharap bumi menelan mereka sebelum Pasukan Inkuisisi tiba di gerbang.
"Aku bisa mencium bau ketakutan kalian yang sangat busuk dari atas balkon ini," lanjut Valerius dengan senyum asimetris. Ia mencengkeram pagar balkon pualam dengan tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam.
"Kalian takut karena mengira pedang yang akan menebas kalian hari ini membawa keadilan dari dewa," ejeknya dingin. "Namun tanyakan pada diri kalian sendiri, di manakah dewa keadilan itu saat kalian menderita kelaparan?"
Valerius melepaskan gelombang kekuatan dari skill 'Lidah Berbisa' untuk meracuni pikiran ribuan prajurit di bawahnya. Manipulasi psikologis massal ini membutuhkan konsentrasi tinggi, namun Mahkota Tiran memberikannya pasokan energi yang tak terbatas.
"Para pendeta gemuk di Katedral Agung memakan hidangan mewah yang dibeli dari hasil pajak darah dan keringat kalian." Suara Valerius mengalun menghipnotis, membongkar benih kebencian kelas yang selama ini ditekan oleh dogma agama.
"Mereka menjanjikan surga setelah kalian mati, hanya agar kalian patuh menjadi budak mereka selama kalian hidup," bisiknya tajam. Kalimat manipulatif itu perlahan menembus pertahanan mental para ksatria yang memang sedang berada di ambang keputusasaan.
Beberapa ksatria muda mulai mengangkat wajah mereka, menatap Valerius dengan sorot mata yang dipenuhi kebingungan. Ajaran suci yang mereka pegang teguh sejak lahir kini berbenturan hebat dengan realitas kelam yang disodorkan sang tiran.
"Gereja Cahaya Suci tidak datang kemari hari ini untuk menyelamatkan jiwa kalian dari api neraka." Valerius menunjuk ke arah gerbang utama istana dengan gerakan teatrikal yang sangat memukau.
"Mereka datang untuk membantai kalian, memperkosa istri kalian, dan menjadikan anak-anak kalian sebagai budak katedral!" Raungan Valerius meledak bersamaan dengan kilatan petir yang menyambar di langit ibu kota.
Kebohongan absolut itu adalah kunci yang membuka gerbang kepanikan di dalam hati ribuan ksatria keluarga Draken. Insting hewani untuk melindungi keluarga dan darah daging mereka seketika mengambil alih sisa-sisa rasionalitas beragama.
"Jika kalian menundukkan kepala hari ini, garis keturunan kalian akan dihapuskan dari muka bumi sebagai pengkhianat gereja." Valerius menurunkan nada suaranya menjadi bisikan maut yang sangat mengintimidasi.
"Satu-satunya cara agar keluarga kalian tetap bernapas adalah dengan mematahkan leher setiap ksatria suci yang masuk ke gerbang itu!" perintahnya mutlak. Sihir kelam merayap masuk, mengubah ketakutan mereka menjadi amarah yang sangat buta.
Para jenderal veteran yang awalnya enggan bertarung kini mencabut pedang mereka dengan tangan yang gemetar keras. Teriakan perang yang sangat parau dan dipenuhi putus asa meledak dari tenggorokan ribuan ksatria di pelataran tersebut.
Layar merah sistem holografik langsung menyala terang benderang di sudut pandangan Valerius.
[Manipulasi Mental Skala Besar Berhasil. +1500 Poin Dosa berhasil dipanen dari keruntuhan iman target.]
[Moral Pasukan Draken bergeser dari 'Ketakutan' menjadi 'Agresi Bunuh Diri'.]