NovelToon NovelToon
Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.

Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.

Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DuaTiga—Aku Istri Sah!

Pagi di kediaman Shen terasa sedikit dingin. Di dalam aula paviliun tengah, Gu Mingyue tampak duduk di atas kursi utama dengan satu kaki yang diselonjorkan di atas kursi panjang berlandaskan bantalan sutra lembut. Beberapa pelayan senior saling melirik sekilas, memastikan jawaban dari benak rekan di sebelah mereka atas posisi duduk sang Nyonya Besar yang dirasa kurang sopan.

Namun, Mingyue sengaja melakukannya untuk mempertegas bahwa rasa sakit pada kakinya yang terbalut perban bersih sama sekali tidak mengurangi otoritasnya sebagai Istri Utama.

Gaun sutra hijau yang dikenakannya berkibar lembut, memantulkan berkas cahaya matahari pagi yang menerobos masuk menembus celah jendela kayu, membingkai sosoknya dengan keanggunan yang dingin. Di hadapannya, Bibi Liu bersama beberapa pelayan senior terpaksa berdiri tegak mematung, dipaksa menyaksikan sang Nyonya Besar membolak-balik lembar demi lembar buku akuntansi keluarga di pangkuannya. Hampir setengah dupa waktu berlalu dalam keheningan yang menekan, hanya diisi oleh suara gesekan kertas yang lambat, hingga akhirnya mengikis sisa kesabaran wanita tua itu.

"Nyonya..." Bibi Liu lebih dulu memecah keheningan, suaranya terdengar merendah namun sarat akan intonasi yang menguji.

Alih-alih menjawab, Mingyue justru tetap diam. Ia terus membalikkan halaman demi halaman dengan gerakan yang intens, mengabaikan kehadiran wanita tua itu sepenuhnya.

"Aku hanya sedang menghitung," suaranya yang lembut tiba-tiba memecah keheningan ruang tengah. Para pelayan yang mendengarnya kembali saling melempar lirikan penuh tanya.

"Menghitung apa, Nyonya?" tanya Bibi Liu, mencoba menahan riak gelisah di dadanya.

"Setahan apa seseorang menyembunyikan rasa bersalah," ucap Mingyue teramat tenang.

"Apa maksud Nyonya Besar?"

Brak!

Gu Mingyue melempar buku besar di pangkuannya ke atas meja kayu dengan hentakan keras, membuat beberapa lembar kertas di dalamnya bergetar dan sedikit berceceran. Wajah cantiknya terpasang datar tanpa emosi, namun matanya menatap tajam menghunus.

"Aku penasaran, seberapa banyak orang di rumah ini hingga pengeluaran untuk daging, gandum, dan beras bisa melambung setinggi ini?"

Bibi Liu seketika mengeratkan kepalan tangannya di balik lengan jubah, menyadari bahwa borok keuangannya mulai disentuh.

"Nyonya mungkin tidak tahu bahwa Kediaman Shen sering memberikan sumbangan bantuan ke luar," kilah Bibi Liu cepat, mencoba mencari pembenaran atas selisih angka tersebut.

Gu Mingyue mengangkat satu sudut bibirnya, membentuk senyuman sinis. "Baiklah, katakanlah begitu. Tapi bagaimana kau menjelaskan pembelian kain-kain sutra mahal yang sebenarnya menurutku..." Ia sengaja menggantung kalimatnya, menjatuhkan tatapan lurus yang mengintimidasi ke arah Bibi Liu dalam waktu yang lama. "...sangat janggal. Kediaman Shen hanya memiliki satu Tuan, yaitu suamiku. Apakah Jenderal Agung memang gemar mengoleksi dan membeli sutra sebanyak itu untuk dirinya sendiri?"

"Mungkin... pelayan di bagian logistik salah mencatat," jawab Bibi Liu, mulai terpojok.

Gu Mingyue terkekeh hambar, suara tawanya terdengar meremehkan. "Salah mencatat dalam buku besar kediaman sebesar ini? Itu bukan sekadar kelalaian, Bibi Liu, melainkan sebuah pelanggaran hukum domestik."

Kali ini Bibi Liu benar-benar bungkam. Ia terpaksa menundukkan kepalanya dalam-dalam demi menyembunyikan rahangnya yang mengeras menahan dongkol. Tangannya terkepal begitu erat di balik lengan jubah. Sial, dugaannya meleset total; Gu Mingyue ternyata sama sekali bukan gadis manja dari keluarga bangsawan yang bisa dikelabui dengan mudah.

Gu Mingyue menghela napas panjang, mengalihkan pandangannya dari buku akuntansi utama dan beralih mengambil lembar catatan hadiah untuk tradisi Gui Ning—kunjungan balik pengantin perempuan ke rumah orang tuanya.

Ia membaca daftar tersebut dengan saksama sebelum kembali melemparkan tatapan dingin. "Bibi Liu, sebagai orang yang memegang kendali atas urusan belanja dan rumah tangga, kurasa daftar hadiah yang kau susun kali ini terlalu remeh untuk nama besar klan Shen."

"Apa maksud Nyonya Besar?" tanya Bibi Liu, menyipitkan matanya waspada.

"Bibi Liu, apakah kau mengira aku sudah tidak perawan lagi saat menikah?" todong Mingyue tanpa basa-basi. "Hingga dalam daftar ini, kau bahkan tidak mencantumkan seekor pun babi panggang utuh sebagai hadiah untuk keluargaku?"

Pertanyaan yang terlampau lugas itu seketika membuat beberapa pelayan senior di belakang Bibi Liu terengah kaget dan saling melempar lirikan panik.

Mingyue mencondongkan tubuhnya sedikit maju, menatap Bibi Liu yang mulai pucat dengan senyuman yang teramat mematikan. "Bukankah pelayan pribadiku sudah mengirimkan kain putih bernoda darah sebagai bukti kesucianku ke aula leluhur pagi-pagi sekali? Atas dasar apa kau berani memotong adat babi panggang utuh dan berniat mempermalukanku di depan keluargaku lusa nanti?"

"Maafkan atas kelalaian saya, Nyonya," ucap Bibi Liu, suaranya kini terdengar agak bergetar kaku.

Gu Mingyue meletakkan kembali buku daftar hadiah tradisi Gui Ning tersebut ke atas meja. Di tengah gerakan halusnya yang tenang, ia mulai melemparkan umpan maut yang telah direncanakannya semalam. "Aku masih bisa memaafkan masalah babi panggang itu. Meski, aku sangat menyayangkan mengapa semalam harus ada tragedi menjijikkan, di mana seorang pelayan mabuk hampir menyusup masuk ke dalam kamar pengantin."

Gu Mingyue sengaja menjeda kalimatnya, melempar tatapan menusuk tepat ke arah manik mata Bibi Liu. "Untung saja pengawal He Si bertindak sigap. Ia segera meringkus penyusup itu sebelum belatinya hampir melukai Tuan Besar. Kudengar, saat ini pria bajingan itu tengah sekarat di dalam penjara bawah tanah paviliun pribadi Jenderal, menunggu interogasi nanti."

Detak jantung Bibi Liu seakan berhenti sedetik mendengar kabar tersebut. Kebimbangan dan ketakutan hebat seketika bergolak di balik wajah tuanya yang mulai memucat.

Sebelum Bibi Liu sempat menguasai diri, suara dingin Gu Mingyue kembali mengalun, memberikan pukulan telak yang kedua. "Mulai hari ini, seluruh buku besar akuntansi dan kunci gudang utama kediaman Shen akan kuambil alih. Serahkan semuanya padaku."

Bibi Liu yang semenjak tadi meremas tangannya dengan kepala tertunduk, kini langsung mendongak kaget. Ia menatap tajam Gu Mingyue, kehilangan topeng pelayan setianya sejenak. "Nyonya Besar, selama bertahun-tahun ini saya yang dipercaya untuk mengurus dan mengelola buku besar rumah tangga ini!"

"Aku tahu," sahut Mingyue teramat santai.

"Lalu, apakah Anda mendadak tidak memercayai saya lagi?" todong Bibi Liu, mencoba menggunakan status senioritasnya untuk menekan balik.

Gu Mingyue mengangkat satu sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang sarat akan dominasi mutlak. "Bukan masalah percaya atau tidak percaya, Bibi Liu. Hanya saja, mulai detik ini, aku adalah Nyonya Besar yang sah di kediaman ini."

Gadis itu menghela napas anggun, lalu menyandarkan kembali punggungnya pada bantalan sutra. "Tentu sudah menjadi kewajiban sekaligus hak mutlakku untuk mengelola buku besar dan memegang kunci gudang. Apakah kau berniat menentang hukum domestik klan Shen, Bibi Liu?"

...----------------...

1
Ana Dww
Hai semua, ini adalah karya pertamaku dengan tema pembalasan wanita bergenre Fantasi Kelahiran Kembali.

Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭

Semoga kalian menyukainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!