Eko Davka terjebak tuduhan memalukan, di tuduh mandul oleh Selvia, istri sahnya sendiri, yang membuat harga dirinya tercoreng. Untuk membuktikan semua omongan itu salah, dia punya satu jalan, memiliki keturunan.
Pilihannya jatuh pada Nayyara, gadis muda yang dia beli seharga 300 juta rupiah dari pemilik klub malam, tempat gadis itu bekerja. Davka mengajukan perjanjian, menikah secara kontrak, Nayyara akan memberinya keturunan, lalu semuanya selesai.
Namun Nayyara menolak diperlakukan sebagai mesin pembuat anak. dia ingin bebas—asal bisa mengembalikan uang yang telah dikeluarkan Davka. Tapi bagaimana? Uang sebanyak itu mustahil dia miliki. Terjepit ketakutan dan keterbatasan, Nayyara akhirnya menyerah dan menerima takdirnya, menjadi istri kedua pria dingin berkuasa itu.
Akankah pernikahan yang dimulai dari paksaan dan perjanjian hanya berakhir saat kontrak selesai? Atau benih-benih cinta justru tumbuh di antara ikatan Davka dan Nayyara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Niat mau menceraikan Nayyara
Kampus ESMOD, Jakarta.
Hari ini Davka baru bisa menemui Nayyara lagi. Pagi tadi dia sudah menelepon gadis itu sekadar menanyakan kabar istri kontraknya.
Kali ini dia sudah bertekad tak akan mengubah keputusannya untuk menceraikan Nayyara, semoga setelah itu Nayyara bisa melanjutkan hidup dengan lebih baik.
"Tuan Muda, kapan sampai? Maaf jika membuat menunggu lama, tadi saya sedang mengumpulkan tugas ke dosen dulu," Sapa Nayyara saat menghampiri Davka di area parkiran gedung kampus. Selama dua bulan lebih ini Nayyara bisa kuliah di sini, berkat kebaikan hati Davka.
"Nggak apa‑apa, aku juga baru sampai," Jawab Davka sambil tersenyum manis, masih bersandar di pintu mobilnya. Sore itu dia langsung berangkat ke sini begitu pulang kantor. Dia cukup terkejut melihat perubahan penampilan Nayyara, baru dua bulan dia tak bertemu, gadis itu terlihat makin cantik dan berpenampilan modis, tentu saja karena sekarang dia sekarang punya fasilitas yang menunjang penampilannya.
"Ayo kita bicara di tempat lain, ada hal penting yang ingin aku bahas ke kamu" Ujar Davka. Nayyara mengangguk dan mengikuti lelaki itu masuk ke dalam mobil Porsche sport miliknya.
"Bagaimana kabarmu? Lalu juga kuliahmu, suka nggak kuliah di sana?" Tanya Davka basa‑basi untuk mencairkan suasana yang agak kaku. Ia sesekali melirik ke arah Nayyara yang duduk di sebelahnya.
"Iya tuan muda, saya juga senang sekali bisa kuliah di sana. Sekarang saya sudah punya teman dan berkenalan dengan banyak orang baru. Sekali lagi terima kasih, Tuan Muda, sudah mengizinkan saya kuliah seperti cita-cita saya."
"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Belajarlah dengan rajin agar cita‑citamu tercapai," Jawab Davka sambil tersenyum. Entah kenapa dia tak bisa menahan diri untuk mengusap rambut Nayyara, yang kemudian dia balas senyum
"Sekarang kita makan malam dulu ya, aku udah laper"
"Eh, Tuan Muda, bolehkah kita mampir sebentar ke masjid sebelum makan? Sebentar lagi soalnya waktunya Maghrib." Davka melirik arloji Rolex di pergelangan tangannya lalu mengangguk setuju. Dia tak hanya kagum pada Nayyara, tapi juga tak habis pikir, di tengah segala kesibukan dan masalah yang ada, gadis itu tak pernah meninggalkan kewajiban ibadahnya kepada Tuhan.
Setelah salat Maghrib, Davka duduk di teras masjid besar di pusat kota Jakarta sambil menunggu Nayyara selesai beribadah, sekaligus mengamati suasana sekitar. Ia merasa makin bersalah di hadapan Tuhan karena selama ini sering melupakan Sang Pencipta, kehadiran Nayyara seolah mengingatkannya kembali akan hal itu.
"Keputusanku sudah benar. Aku tak ingin lagi mengikatnya dalam pernikahan yang seperti ini. Ya Allah, ampunilah aku, semoga Engkau mau mengampuni segala dosaku. Aku berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi," Batin Davka, hampir meneteskan air mata. Dia sampai lupa sedang ada di tempat ramai, hingga dia tak sadar Nayyara sudah berdiri tepat di sebelahnya.
"Tuan Muda..."
"Eh, kamu sudah selesai, ayo kembali ke mobil, aku sudah lapar banget nih."
"Tuan Muda, ada apa? Apa tadi tuan muda nangis?" Davka menggeleng tegas. Dia paling benci terlihat lemah di depan orang lain.
"Bukan apa‑apa kok, ayo berangkat." Nayyara hanya mengangguk dan berjalan mengikuti langkahnya menuju parkiran mobil di halaman masjid yang luas itu.
*****
Restoran Steak Ayam Suki, Jakarta
"Nay...." Saat mereka sedang makan malam di restoran pilihan Davka itu, Dia tak tahan lagi untuk segera bicara serius.
"Sebelumnya maafkan aku. Sudah lama sekali aku tak ke apartemen kamu, apalagi malam itu aku pergi begitu saja tanpa pamit padamu." Nayyara tersenyum. Dia sangat senang hari ini Davka menghubunginya dan mengajaknya makan berdua. Dia mengakui, sejak Davka bercerita jujur tentang masalah rumah tangganya dengan Selvia.
Saat itu Nayyara mulai bersimpati bahkan perlahan jatuh cinta pada suaminya itu.
"Nggak apa‑apa. Lagipula saya sadar diri, tak boleh banyak menuntut. Apakah Tuan Muda lagi ada masalah?" Davka menggeleng pelan. Dia tak menyangka Nayyara akan menjawab begitu dewasa. Mereka pun menghabiskan makanan dalam keheningan yang canggung.
"Sejak tadi kenapa Tuan Muda? Kelihatan sedih sekali," Tanya Nayyara penasaran melihat Davka yang berkali‑kali menghela napas berat.
"Bukan apa‑apa kok, tapi tolong panggil aku Davka saja, jangan terus‑terusan Tuan Muda, rasanya aku nggak nyaman" Nayyara tertawa melihat wajah tak tenang Davka, lalu mengangguk setuju.
"Boleh, aku panggil bang saja ya? Sama seperti panggilan Bang Dino dan Bang Denny."
"Tak masalah, panggilan itu jauh lebih baik daripada Tuan Muda, bisa sakit telinga ku kalo terus mendengarnya," Canda Davka sambil tertawa, meski ada sedikit rasa kecewa dalam hati, dia berharap Nayyara akan memanggilnya dengan sebutan yang lebih akrab seperti 'Mas Davka'. Cieee :)
"Bang Davka tadi bilang mau bicara hal penting, soal apa?" Tanya Nayyara sambil menghabiskan jus jeruknya, karena dia sudah selesai makan lebih dulu.
"Nay.. apa kamu dulu sebenarnya tak rela menikah denganku?" Nayyara terkejut mendengar pertanyaan itu, dia terdiam menatap wajah Davka yang tampak sangat bersalah dan sedih.
"Aku ingin minta maaf sama kamu. Aku sudah menyuruh Bang Denny dan Dino membawamu ke vila, lalu memaksakan pernikahan yang menurutmu tak masuk akal itu." Davka kembali menghela napas panjang.
"Aku sangat menyesal, aku minta maaf karena mungkin sudah memaksakan keinginan ku padamu, juga mengikatmu dalam pernikahan semacam ini. Kamu tak perlu mengembalikan apa pun yang sudah aku keluarkan. Aku akan membebaskan kamu tanpa syarat apa pun." Nayyara belum sempat menjawab karena masih terkejut mendengar ucapan Davka itu. Davka tampak merasa bersalah.
"Jika kamu memang tak ingin menjadi istriku, tak apa. Aku akan segera menceraikan mu secepatnya."
"Cerai?" Seru Nayyara kaget. Dia belum hamil, tapi lelaki itu malah bicara soal perceraian. Bukankah kesepakatan awalnya harus hamil dan melahirkan dulu sebelum berpisah.
"Iya... aku tak ingin lagi mengikatmu dalam hubungan yang seperti ini. Aku yakin Tuhan pasti tak merestui hal semacam ini. Karena itu aku akan menjatuhkan talak sat~.."
"Cukup!!" Davka terkejut. Dia ikut berdiri karena Nayyara sudah lebih dulu bangkit sambil mendorong kursinya ke belakang.
"Nay?" Davka bingung melihat air mata mulai menetes di pipi gadis itu.
"Aku belum hamil, kenapa kamu malah ingin kita bercerai? Bukankah perjanjian kita sampai aku melahirkan anakmu dulu bang?" Davka menggeleng pelan. Dia sudah tak ingin lagi melanjutkan ide gilanya yang dulu dianggapnya penting itu, menikah kontrak adalah kesalahan besar, dia tak ingin makin berdosa dengan pada gadis sebaik Nayyara.
"Itu tak masalah lagi. Aku berjanji tetap akan memberikan hak kamu, uang satu miliar rupiah yang disepakati akan tetap aku berikan padamu, tanpa syarat apa pun."
"Abang... kenapa kamu melakukan ini?" isak Nayyara, air matanya makin deras jatuh. Dia tak mengerti kenapa lelaki itu berubah pikiran tepat saat dia sudah mulai ikhlas menerima posisinya sebagai istri kontrak.
"Tiba‑tiba bilang ingin bercerai... apa salahku? Apakah karena aku belum juga hamil? Apakah kamu sudah tak ingin punya anak dariku lagi?" Davka ternganga mendengar pertanyaan yang disertai tangis itu. Dia benar‑benar tertegun.
"Bang, kamu gak ngerti apa yang aku rasakan sekarang. Aku kecewa... seharusnya kamu percaya padaku. Aku bersedia menjadi istri kontrak karena aku ikhlas, tapi kenapa kamu malah ingin kita cerai?"
"Apa maksudmu Nay?" Davka makin bingung, Nayyara segera meraih tas di atas meja, mengusap kasar air matanya, lalu berbalik pergi.
"Baik kalau gitu, apa mau kamu terserah saja! Memang aku tak berhak menolak. Kalau kamu memang sudah tak menginginkanku lagi, ya sudah kita cerai saja! Terima kasih sudah membebaskan aku, selamat tinggal!"
"Nay, bukan maksudku begitu!" Davka panik melihat Nayyara salah paham. Dia berusaha mengejar, tapi gadis itu sudah lebih dulu menghentikan taksi yang lewat dan segera masuk ke dalamnya, meninggalkan Davka yang masih berdiri bingung dan penuh kepanikan.
"Nayyara, tolong dengarkan aku dulu! Aku hanya tak ingin menyiksamu dengan status pernikahan semu ini, itu saja alasannya!" Seru Davka. "Justru sekarang kamu sedang menyiksaku bang!" Balas Nayyara dari dalam kendaraan yang perlahan menjauh.
"Hah? Kok bisa?" Davka makin bingung, berdiri terpaku dengan mata terbelalak menatap taksi yang membawa Nayyara pergi menjauh.