Zora Naladhipa seorang siswa kelas menengah atas yang sering mewakili sekolahnya untuk berbagai perlombaan sejarah.
Suatu hari ia diminta oleh gurunya lagi untuk mengikuti sebuah lomba tentang sejarah. Ayahnya memberikannya sebuah buku kuno yang beliau dapatkan dari pasar loak. Zora selalu membawanya kemanapun karena isi di dalamnya membuatnya tertarik untuk terus membacanya.
Suatu hari saat jam sekolah telah usai, Zora memilih pergi ke toilet tak lupa dengan buku yang berada di genggamannya. Ia mendengar suara dua orang sedang berbicara orang tadi tak lain adalah pacarnya dan seorang wanita. Matanya memanas, ia kemudian pergi dari toilet tadi dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Saat sampai di rumah ia lalu merebahkan dirinya di kasur sambil menggenggam buku kuno itu. Tak terasa air matanya menetes mengenai buku tadi lalu ada sebuah cahaya yang menariknya menuju tempat lain. Ia kemudian bangun dengan kepala yang berdenyut.
"Ahh, dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Cerita ini terinspirasi dari serial drama love destiny. Stay tune dan lanjutkan membaca ya:))
ig: @chiccacaaa
tidak update setiap minggu ;))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiccacaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta- 29
"Iya, aku masuk" ucap Zora kemudian ia masuk dan menutup pintu kamar miliknya meninggalkan pangeran Auriga yang masih tersenyum di depan kamarnya.
•••
Tak terasa dua hari telah berlalu. Hari ini adalah pesta ulang tahun pangeran Rafandra dan pangeran Rafindra yang sekarang sudah berusia sembilan belas tahun. Pesta ini tentu saja diadakan dengan mewah. Banyak orang-orang penting yang diundang untuk menghadiri pesta ini bahkan dari kerajaan yang sangat jauh sekalipun.
Tamu-tamu yang memiliki jarak tempat tinggal yang jauh sudah berdatangan sejak kemarin. Mereka sudah berada di kamar yang memang khusus dipersiapkan untuk para tamu kerajaan.
Sedangkan Zora tengah bersiap di kamarnya. Ia menata rambutnya seperti biasanya yaitu ia menggerai rambutnya dan menambah sedikit hiasan di kepalanya yang membuat ia terlihat sangat cantik. Ia kemudian keluar diikuti oleh Ambar di belakangnya.
"Ambar, bagaimana penampilanku?" tanya Zora.
"Bagus, Ndoro. Ndoro itu orang paling cantik di kerajaan Wirastama" ucap Ambar memuji junjungannya itu.
"Yahh, nanti kan ada banyak bangsawan dari kerajaan lain jadi aku nggak cantik lagi dong" ucap Zora dengan cemberut.
"Eh, bukan begitu Ndoro. Ndoro memang yang paling cantik sedunia" jawab Ambar gelagapan tetapi hal itu membuat senyum Zora merekah.
"Ya sudah, ayo" ucap Zora mengajak Ambar agar lebih mempercepat langkah kaki mereka menuju ruangan yang akan digunakan untuk pesta perayaan kali ini.
Ruangan yang digunakan untuk acara pesta sudah didesain dengan sedemikian rupa. Zora lalu duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya. Sebagai tuan rumah, tentunya Zora ikut dalam menyambut para tamu yang berdatangan.
"Ah, ini putri Zora ya?" tanya seorang wanita dengan gayanya yang elegan.
"Benar" ucap Zora sambil tersenyum.
Ratu Anindita yang berada di samping Zora lalu menimpali.
"Ini adalah Ratu Sekar dari kerajaan Acalapati" ucapnya.
Zora kembali tersenyum, ia mencoba mengingat tentang kerajaan Acalapati yang sebenarnya keadaannya tidak jauh berbeda dengan kerajaan Wirastama. Dua kerajaan ini memang terkenal sangat akur karena kedua kerajaan ini masih berada dalam satu dinasti.
Setelah semua tamu telah datang, acara segera dimulai. Prabu Adyatama berdiri di singgasana miliknya ditemani oleh sang Ratu di sampingnya.
"Terimakasih karena kalian semua telah menyempatkan waktu untuk datang ke acara ulang tahun pangeran Rafandra dan pangeran Ravindra. Ingsun merasa sangat terhormat karena banyak sekali bangsawan dari jauh maupun dari dekat yang sudah datang kemari" ucapnya membuka pesta kali ini.
"Karena saat ini tergolong masih pagi lebih baik kita awali pesta ini dengan memakan makanan yang sudah disediakan di meja masing-masing" ucap Prabu Adyatama.
Semua tamu lalu duduk dengan tenang dan memakan makanan yang berada di atas meja. Mereka juga sesekali berbincang dengan para bangsawan lainnya, sekedar berbasa-basi untuk menghilangkan kecanggungan yang melanda.
Zora yang memilih duduk di bagian pojok ruangan juga terlihat sedang berbincang-bincang dengan seorang lelaki yang bernama pangeran Bagaskara dari kerajaan Acalapati.
"Bukankah anda putri Zora tunangan dari pangeran Auriga?" tanyanya kepada Zora.
"Lebih tepatnya saya adalah mantan tunangan dari pangeran Auriga. Kami sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi" jawab Zora mengoreksi perkataan pangeran Bagaswara.
"Lalu anda siapa?" tanya Zora karena semua orang memang telah mengetahui jika Zora mengalami lupa ingatan.
"Saya pangeran Bagaskara dari kerajaan Acalapati" jawab pangeran Bagaskara.
"Ohh, maafkan saya karena tidak mengetahui pangeran sebelumnya" ucap Zora.
"Tidak masalah" ucap pangeran Bagaskara sambil tersenyum.
"Maaf jika saya lancang, bolehkah saya tau mengapa anda dan pangeran Auriga berpisah?" tanya pangeran Bagaskara dengan hati-hati.
"Pangeran pasti sudah tahu berita tentang saya yang mengalami lupa ingatan ini. Saya tidak mengingat apapun tentang diri saya sendiri apalagi dengan orang lain dan saya memang benar-benar lupa dengan pangeran Auriga jadi saya sudah tidak memiliki rasa cinta terhadapnya dan saya rasa pangeran Auriga juga tidak mencintai saya jika saya mendengar cerita dari orang-orang"
"Jadi, lebih baik saya mengakhiri hubungan kami karena kami tidak saling mencintai. Saya pernah diminta untuk mengingat pangeran Auriga tetapi kepala saya terasa sangat sakit akhirnya Prabu Adyatama dan Ratu Anindita menyetujui pembatalan pertunangan saya dengan pangeran Auriga tak lain adalah untuk kesembuhan saya sendiri" ucap Zora.
Pangeran Bagaskara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia jadi teringat tingkah putri Zora sebelum lupa ingatan. Putri Zora akan selalu berada di samping pangeran Auriga sehingga jarang sekali ada wanita-wanita dari kalangan bangsawan yang berani mendekati pangeran Auriga.
"Kenapa saya merasa jika dari tadi hanya ada orang-orang dari kerajaan Acalapati yang berada di dekat saya ya?" ucap Zora membuka topik pembicaraan lain.
"Benarkah? Padahal masih ada banyak kerajaan lain yang berada disini seperti kerajaan Bagawanta, kerajaan Gandawasa bahkan kerajaan Domini yang terletak jauh dari wilayah kerajaan manapun" ucap pangeran Bagaskara.
"Kerajaan Domini?" tanya Zora sambil mengernyitkan alisnya.
"Iya, lihatlah mereka yang memiliki kulit putih dan hidung mancung itu" ucap pangeran Bagaskara sambil menunjuk kerumunan orang yang ia maksud.
"Ohh, yang itu" ucap Zora sambil mengingat-ingat tentang kerajaan Domini. Namun sayangnya ia tidak menemukan apapun di memorinya tentang kerajaan Domini yang sedang mereka bicarakan.
..."Mungkin kerajaan Domini itu memang berteman dengan kerajaan Wirastama tapi di dalam sejarah tidak terlalu diperlihatkan jadinya aku tidak tau dan jika dilihat dari penampilannya mereka seperti orang Turki" batin Zora sambil memasukkan suapan terakhir makanan yang ada di piringnya ke mulutnya. ...
•••
jangan lupa vote komen rate dan like
Mampir yuk di novel pertama ku yang berjudul "KEKUATAN HATI WANITA"
Berkisah wanita yg bangkit dari penghianatan.
Mohon dukungannya, terimakasih🙏🏻🤗🌹
tp ngomong-ngomong,,, ceritanya bagus lho,,, cerita jaman dahulu kala
I love Indonesia😍😍😍😍
I love you thooor 😘😘😘😘