NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Gengsi yang Tertahan

BAB 29: Gengsi yang Tertahan

​Suasana di dalam kamar VIP Rumah Sakit Medika Sentosa seketika membeku. Di bawah temaram lampu ruangan, napas Devano dan Luna memburu di jarak yang teramat dekat. Devano menatap lurus ke dalam manik mata bulat Luna yang digenangi air mata. Detik itu juga, sang CEO bisa melihat sesuatu yang nyata—bukan ketakutan dari seorang penipu yang kedoknya tertangkap basah, melainkan ketakutan murni dari seseorang yang sedang mempertaruhkan seluruh jiwanya untuk melindungi sebuah rahasia suci.

​Cengkeraman jemari dingin Luna pada pergelangan tangan kokoh Devano bergetar hebat. Rasa pening akibat demam yang belum sepenuhnya reda membuat tubuh ringkih gadis itu mulai limbung, namun dia tetap menolak untuk melepaskan tangannya dari atas kotak kayu misterius tersebut.

​Ego seorang Devano yang setinggi langit bergejolak hebat di dalam dadanya. Dia merasa terintimidasi oleh kalimat lirih Luna yang baru saja menampar gengsinya. Perlahan namun pasti, Devano menurunkan tangannya, menjauhkan ujung kunci berkarat itu dari lubang kotak kayu.

​"Kamu pikir... gertakan murahanmu ini bisa menakutiku, Luna?" desis Devano dengan suara bariton yang rendah, menyembunyikan fakta bahwa hatinya sebenarnya terusik oleh peringatan gadis itu.

​Dengan satu sentakan pelan, Devano melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Luna. Pria itu menyambar kotak kayu beserta kunci tuanya, lalu memasukkannya ke dalam laci meja nakas yang langsung dia kunci rapat, menjauhkannya sama sekali dari jangkauan Luna.

​Melihat Luna yang hampir tumbang karena kehabisan tenaga, Devano refleks menahan pinggang ramping gadis itu sebelum sempat menyentuh lantai. Dia mengangkat tubuh ringan Luna kembali ke atas ranjang medis dengan gerakan yang terkesan kasar namun sebenarnya penuh kehati-hatian.

​Ting!

​Devano menekan tombol interkom di dinding dengan ketukan keras. "Suster, masuk sekarang. Periksa infus pasien di kamar 701," perintahnya dingin.

​Sembari berdiri di dekat pintu kamar menanti kedatangan tim medis, Devano membalikkan tubuhnya, menatap Luna yang kembali terbaring lemas dengan dada naik-turun menahan tangis.

​"Kotak dan kunci itu akan tetap berada di bawah kendaliku," ujar Devano dengan nada datar yang tidak bisa dibantah. "Aku yang akan menentukan kapan benda itu pantas untuk dibuka. Tugasmu sekarang hanyalah cepat sembuh, karena utang keluargamu belum lunas satu rupiah pun."

​Luna tidak menjawab. Dia hanya memiringkan tubuhnya membelakangi Devano, menarik selimut hingga sebatas dada, dan meratapi nasibnya yang kini semakin terikat erat dalam pusaran dendam sang CEO.

​Di tempat lain, di dalam kamar tidurnya yang mewah, Siska sedang berjalan mondar-mandir bagai kebakaran jenggot. Ponsel pintar di tangan kanannya diremas kuat-kuat. Wajah cantiknya yang biasa dipoles riasan mahal kini tampak tegang dan pucat pasi.

​Nada suara Devano yang teramat dingin dan penolakan sepihak di telepon beberapa saat lalu terus terngiang-ngiang di kepalanya, memicu alarm bahaya di dalam benak wanita licik tersebut. Tanpa membuang waktu lagi, Siska langsung mendial nomor ibunya, Bu Rahma.

​"Ibu! Mas Devano berubah!" histeris Siska begitu sambungan telepon terhubung, suaranya melengking panik. "Tadi aku meneleponnya, tapi dia dingin sekali. Dia bahkan membentakku dan menyuruhku jangan ikut campur urusan kantor! Ibu... aku takut. Aku takut Mas Devano diam-diam mulai menyelidiki ulang berkas kebangkrutan Mahardika dua tahun lalu!"

​Dari seberang telepon, Bu Rahma menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan putri kesayangannya itu meski hatinya sendiri ikut ketakutan.

​"Tenang, Siska! Jangan panik dulu, nanti pergerakanmu malah kelihatan mencurigakan di depan Devano," sahut Bu Rahma dengan nada menuntut. "Semua dokumen palsu dua tahun lalu sudah kita musnahkan dengan rapi. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah gunakan pesonamu lagi. Datangi dia, tunjukkan perhatianmu sebagai calon istri yang baik sebelum si anak tiri sialan itu mengambil alih perhatian Devano kembali!"

​Siska menggigit kuku jarinya, matanya berkilat penuh kebencian. "Ibu benar. Aku tidak boleh membiarkan Luna menghancurkan semua rencana yang sudah kita susun dengan susah payah."

​Malam semakin larut, membawa kesunyian yang kian mencekam di area rumah sakit mewah tersebut.

​Di dalam kamar VIP, Luna akhirnya tertidur pulas setelah seorang dokter memberikan obat penurun demam dosis ringan ke dalam kantung infusnya. Sementara itu, Devano memilih duduk di kursi tunggu koridor luar kamar, enggan beranjak seolah takut tawon jaminannya akan menghilang jika ditinggal sedetik saja.

​Di atas pangkuannya, kotak kayu tua berdebu itu diletakkan. Devano menatap benda itu di bawah temaram lampu selasar rumah sakit, sementara jemari tangannya meraba ukiran kuno di permukaannya. Pikirannya dipenuhi oleh ribuan pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.

​Bzzzt...

​Keheningan malam itu dipecah oleh getaran pendek dari ponsel di saku celana Devano. Pria itu mengernyitkan dahi saat melihat sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal—sebuah nomor pribadi yang tidak terdaftar di direktori kantornya.

​Devano membuka pesan tersebut. Alis tebalnya seketika bertaut erat saat layar ponselnya menampilkan sebuah unduhan foto usang yang tampak diambil belasan tahun lalu.

​Di dalam foto itu, terlihat dua orang pria paruh baya mengenakan setelan formal, sedang berdiri berdampingan sambil berjabat tangan erat dan tersenyum lebar di depan sebuah papan proyek pembangunan besar. Devano tersentak hebat, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Kedua pria di dalam foto itu adalah almarhum ayahnya sendiri... dan almarhum Mahardika Maharani, ayah dari Luna.

​Tepat di bawah foto tersebut, terdapat sebaris kalimat pendek tertulis:

​"Jangan pernah percaya pada apa yang matamu lihat selama dua tahun ini, Devano. Carilah kebenaran yang sesungguhnya sebelum wanita itu benar-benar hancur lebur di tanganmu."

​Devano seketika bangkit berdiri dari kursi tunggu, mencengkeram ponselnya begitu kuat hingga persendian tangannya memutih. Matanya membelalak menatap potret masa lalu yang sama sekali tidak pernah dia ketahui keberadaannya itu. Badai pertanyaan baru kini menghantam benaknya, meruntuhkan sebagian keyakinan dendam yang selama ini dia agungkan.

1
Sarbina Sarbina
apa sih maunya di devano ini 😏
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!