NovelToon NovelToon
YE CHEN: PEWARIS PEDANG HITAM

YE CHEN: PEWARIS PEDANG HITAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Fantasi Timur
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Dikhianati oleh sektenya sendiri dan dibuang dengan meridian yang hancur total, Ye Chen mengira takdirnya telah berakhir di dasar Lembah Kabut Beracun. Namun, di titik nadir kematiannya, sebuah pedang hitam misterius yang telah terkubur selama ribuan tahun bangkit dan memilihnya sebagai pewaris tunggal.Di dalam pedang hitam itu, bersemayam jiwa pendekar legendaris, Yue-Jian, yang siap membimbingnya. Berbekal kekuatan mengerikan Es Yin dan bilah pedang hitam yang mampu menebas takdir, Ye Chen bangkit dari kegelapan untuk menuntut balas. Dari seorang pemuda yang dianggap sampah, ia merangkak naik menembus batas kultivasi, menghancurkan setiap klan yang pernah menghinanya, dan merebut kembali kehormatannya."Saat pedang hitam ini terhunus, maka langit pun harus tunduk di bawah kakiku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Beberapa hari berlalu sejak Ye Chen—yang kini dikenal dengan nama samaran Han Yu—tiba dan menetap di kawasan luar Kota Awan Melayang. Ia memilih menginap di sebuah penginapan sederhana namun cukup bersih dan aman, yang terletak di pinggiran kawasan tamu kehormatan, tidak terlalu dekat dengan pusat keramaian namun juga tidak terlalu jauh hingga terisolasi. Di sini, banyak pendekar muda dari wilayah lain atau murid-murid sekte kecil yang tinggal sementara, menunggu acara-acara besar atau sekadar ingin belajar dan berlatih di bawah naungan Sekte Azure Cloud.

Selama beberapa hari itu, Ye Chen bergerak dengan sangat hati-hati dan tertutup. Ia tidak mencari masalah, tidak bergaul berlebihan, dan tidak memamerkan kemampuan apa pun. Di mata para tetua pengelola maupun penghuni penginapan lain, ia hanyalah seorang pemuda pendiam, sopan, namun penuh tekad, yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermeditasi dan berlatih dasar-dasar bela diri di halaman belakang yang terbuka. Tidak ada yang curiga sedikit pun bahwa di balik aura Qi Condensation Tingkat Keempat yang ia tampilkan, tersembunyi kekuatan dahsyat yang sudah berdiri di ambang pintu ranah baru.

Namun, meski ia diam dan tenang di luar, di dalam tubuhnya badai besar sedang bersiap meledak.

Setelah menyerap sepenuhnya esensi dari Cairan Sumsum Yin di dalam reruntuhan kuno, energi di dalam Dantian Ye Chen kini sudah mencapai titik jenuh mutlak. Ia ibarat sebuah wadah kaca yang sudah diisi air sampai ke bibir pinggirannya; sedikit saja getaran atau tambahan energi dari luar, air itu akan tumpah, atau wadah itu sendiri akan pecah berkeping-keping karena tekanan di dalamnya.

Di setiap jam, di setiap menit, Ye Chen bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana energi Es Yin yang murni dan dingin itu bergejolak semakin hebat. Ia merasakan bagaimana meridiannya yang kokoh itu menegang dan melebar perlahan, seolah ingin menampung lebih banyak lagi kekuatan yang ada di dalam sana. Detak jantungnya berirama selaras dengan aliran energi itu, berdenyut kencang, berat, dan penuh tekanan.

Malam ketiga setelah menetap, saat bulan purnama bersinar terang menggantung tinggi di langit, gejala itu mencapai puncaknya.

Ye Chen duduk bersila di atas tempat tidur kayu di dalam kamarnya yang tertutup rapat dan terkunci. Matanya terpejam rapat, keningnya basah oleh keringat dingin yang deras. Wajahnya yang disamarkan terlihat menegang karena menahan rasa sakit dan tekanan yang luar biasa. Di dalam tubuhnya, pusaran energi biru tua di Dantian berputar jauh lebih cepat dari biasanya, berputar hingga menimbulkan suara dengungan halus yang hanya bisa didengar oleh indra spiritualnya sendiri.

"Tekanannya semakin berat, Guru..." gumam Ye Chen dalam hatinya, suaranya sedikit terguncang karena rasa tidak nyaman yang melumpuhkan. "Energi ini... seolah ingin merobek tubuhku keluar. Dantianku terasa meledak setiap kali aku menarik napas."

Suara Yue-Jian terdengar segera, muncul dengan nada serius namun tenang, berusaha menstabilkan kondisi mental muridnya yang sedang tertekan.

"Itu adalah proses yang wajar, Ye Chen. Jangan dilawan, jangan ditahan. Biarkan saja energi itu bergerak. Kau harus mengerti posisimu sekarang: Kau sudah berada di puncak ranah Qi Condensation Tingkat Kesembilan. Energi di dalam dirimu sudah terlalu banyak, terlalu padat, dan terlalu murni untuk tetap berada dalam bentuk uap atau gas. Tubuh dan Dantianmu sudah menolak bentuk energi yang lama. Mereka menuntut perubahan, menuntut pemadatan, menuntut evolusi ke tingkat yang lebih tinggi."

Yue-Jian menjeda sejenak, membiarkan penjelasan itu meresap, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin berat dan penuh peringatan.

"Namun ada bahaya besar di sini, Nak. Ingat apa yang pernah aku katakan padamu dulu? Menembus ranah Foundation Establishment bukan sekadar mengumpulkan energi sampai penuh. Jika kau memaksakan terobosan ini di tempat yang salah—di tempat yang kandungan energinya tipis dan kasar seperti di ruangan penginapan ini—konsekuensinya akan sangat fatal. Energi di dalammu yang bergejolak liar itu tidak akan menemukan pasokan energi luar yang cukup untuk memadatkan diri. Akibatnya, tekanan di dalam akan jauh lebih besar daripada tekanan di luar. Dantianmu bisa pecah, meridianmu bisa robek, dan kau akan mati seketika atau menjadi manusia cacat seumur hidup."

Mata Ye Chen terbelalak di balik kelopak matanya yang tertutup. Rasa bahaya yang tajam menusuk langsung ke tulang belakangnya. Ia sadar, situasinya kini jauh lebih kritis daripada yang ia bayangkan. Waktunya habis. Ia tidak bisa menunda lagi.

"Jadi... aku harus segera masuk ke wilayah inti, ke dekat Danau Roh Bumi itu..." ucap Ye Chen tegas, meski rasa sakit masih menghantui setiap kata yang terbentuk di benaknya.

"Persis sekali," jawab Yue-Jian cepat. "Dan kebetulan sekali... besok adalah hari yang paling tepat. Ingat informasi yang kau kumpulkan kemarin? Besok pagi, Sekte Azure Cloud akan mengadakan upacara besar: Penerimaan Tamu Kehormatan dan Pertandingan Persahabatan Antar Cabang. Gerbang kawasan dalam akan dibuka lebar-lebar. Banyak pendekar asing, tetua, dan murid dari cabang-cabang luar yang akan masuk. Keamanan memang akan diperketat, tapi keramaian dan kekacauan juga akan menjadi pelindung terbesarmu. Kau bisa masuk berbaur dengan kerumunan itu, mendekat ke Menara Pusat, dan mencari celah untuk mendekati sumber energi besar itu."

Ye Chen perlahan membuka matanya. Di dalam kegelapan ruangan itu, dua kilatan cahaya biru samar menyala tajam, berisi tekad yang membatu dan keberanian yang tak tergoyahkan. Ia menatap jendela kayu di depannya, menembus celah-celah kecilnya, menatap ke arah siluet menara putih raksasa yang samar terlihat di bawah cahaya bulan.

"Besok..." gumamnya pelan namun penuh penegasan. "Besok, aku akan masuk ke sana. Besok, aku akan menembus ranah Foundation Establishment. Dan besok... langkah pertamaku menuju pembalasan dendam akan dimulai."

Ia tidak tidur lagi malam itu. Sisa malam ia gunakan untuk mempersiapkan segala sesuatunya hingga ke detail terkecil.

Ia memeriksa kembali kantong penyimpanan, memastikan semua barang berharga, senjata, gulungan teknik, dan warisan leluhur tersimpan aman dan tersembunyi rapi. Ia memastikan ramuan penyamaran di wajahnya masih bekerja sempurna, mengubah rupa dan aura luarnya. Ia memeriksa kembali cara menekan dan menyembunyikan aura kekuatannya, memastikan bahwa meski energi di dalamnya mengamuk hebat, tidak ada satu pun tetua atau pengawal yang bisa menangkap gelombang kekuatan aslinya.

Ia juga meminum sisa butiran pil pemurnian dan penstabil energi yang ia temukan di dalam reruntuhan kuno dulu. Pil ini berkhasiat menenangkan aliran energi yang liar dan kasar, menjaganya agar tetap stabil setidaknya selama dua belas jam ke depan—cukup lama untuk membawanya melewati hari krusial besok.

Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, langit yang gelap perlahan berubah menjadi warna ungu kemerahan, lalu menjadi keemasan saat matahari pertama muncul. Suara lonceng besar bergema enam kali dari arah Menara Pusat, mengguncang seluruh kota, menandakan dimulainya hari besar itu.

Suara hiruk-pikuk dan kegembiraan segera terdengar dari luar penginapan. Teriakan-teriakan, langkah kaki berbondong-bondong, dan suara kereta terbang memenuhi udara. Semua orang, baik murid sekte, penduduk kota, maupun pendekar tamu, semuanya bergerak menuju satu tujuan: kawasan dalam Sekte Azure Cloud.

Ye Chen berdiri tegak di tengah kamarnya. Ia mengenakan jubah abu-abunya yang sederhana namun rapi, mengikat rambut hitamnya dengan rapi, dan menggantungkan pedang besi biasa di pinggangnya. Wajahnya tenang, dingin, dan tanpa ekspresi, seolah ia hanya akan pergi menonton pesta biasa. Namun di dalam dadanya, jantungnya berdegup kencang berirama dengan badai energi yang siap meledak.

"Siap?" tanya Yue-Jian untuk terakhir kalinya, suaranya rendah namun penuh dukungan.

"Aku sudah siap sejak hari aku dibuang ke lembah itu, Guru," jawab Ye Chen singkat dan tegas.

Dengan gerakan tenang, Ye Chen membuka pintu kamarnya dan melangkah keluar. Di halaman depan penginapan, ratusan orang sudah berkumpul dan bergerak beriringan menuju gerbang utama kawasan dalam. Ia segera berbaur masuk ke dalam kerumunan itu, menjadi satu dari ribuan sosok yang berjalan, tidak mencolok, tidak dikenal, namun membawa takdir besar di balik sosok mudanya itu.

Perjalanan menuju gerbang dalam tidaklah lama, namun bagi Ye Chen rasanya seperti berjalan menuju panggung eksekusi atau panggung kemenangan. Di kiri dan kanan jalan, bangunan-bangunan semakin megah, semakin indah, dan semakin berkilauan. Udara di sini semakin pekat energinya, membuat napas Ye Chen sedikit memburu karena tubuhnya secara otomatis mencoba menyedot energi itu masuk.

Di depan gerbang dalam, penjagaan jauh lebih ketat dibandingkan gerbang kota kemarin. Di sini, para pengawal yang berjaga mengenakan seragam putih bersulam awan emas—tanda mereka adalah pasukan elit langsung di bawah komando tetua sekte. Kekuatan rata-rata mereka berada di ranah Qi Condensation tingkat enam hingga tujuh, dan dipimpin oleh seorang kapten yang sudah berada di ambang ranah Foundation Establishment.

Mereka memeriksa setiap lencana izin masuk dengan sangat teliti, meneliti setiap wajah, dan menggeledah sekilas barang bawaan setiap orang yang lewat.

Saat giliran Ye Chen tiba, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, namun sikap luarnya tetap santai dan tenang. Ia menyerahkan lencana kayunya.

Pengawal itu mengambil lencana itu, memeriksanya sebentar, lalu menatap tajam ke arah mata Ye Chen. Indra spiritualnya menyapu seluruh tubuh Ye Chen, mencoba membaca kekuatan dan niat orang di depannya.

Ye Chen membiarkan hal itu terjadi. Ia tetap diam, menampakkan aura Qi Condensation Tingkat Keempat yang stabil, murni, dan tidak berbahaya. Wajahnya menampilkan ekspresi kagum dan sedikit gugup, persis seperti pemuda desa yang baru pertama kali melihat kemegahan kawasan dalam sekte besar.

"Asal dari Pegunungan Kabut Hitam..." gumam pengawal itu pelan, lalu mengangguk pelan. Wilayah itu memang jauh, terpencil, dan jarang ada orang yang kenal. Tidak ada catatan buruk atau bahaya dari daerah itu. "Boleh lewat. Tetap ikuti aliran orang banyak. Dilarang menyimpang ke jalan-jalan kecil atau kawasan terlarang."

"Terima kasih, Tuan Penjaga," jawab Ye Chen dengan nada hormat dan sedikit gugup, lalu menarik kembali lencananya dan berjalan melewati gerbang besar itu.

Saat kakinya melangkah melewati ambang gerbang itu, perasaan aneh menyelimuti hatinya. Dua bulan lalu, ia keluar dari sini sebagai sampah, sebagai pengkhianat, sebagai orang yang dibuang dan dibenci. Hari ini, ia masuk kembali lewat gerbang yang sama, sebagai orang asing, sebagai tamu, namun membawa kekuatan yang jauh melampaui apa pun yang bisa dibayangkan oleh orang-orang di dalam sana.

"Selamat datang kembali... ke rumahmu sendiri yang telah dirampas," bisik Yue-Jian dengan nada yang penuh makna mendalam.

Semakin Ye Chen berjalan masuk ke dalam, semakin ia merasakan tekanan energi yang dahsyat. Di kejauhan, Menara Pusat itu semakin besar, semakin megah, dan semakin mendominasi pemandangan. Di bawah menara itulah letak Danau Roh Bumi berada. Ye Chen bisa merasakan gelombang energi yang luar biasa besar, murni, dan dingin naik dari bawah tanah sana, menyebar ke seluruh kawasan dalam.

Energi itu memanggilnya. Energi itu berbicara padanya. Di dalam tubuh Ye Chen, pusaran energi Es Yin di Dantian berputar semakin liar, semakin cepat, dan semakin bergejolak hebat seolah merespons panggilan sumber energi raksasa itu. Rasa sakit dan tekanan yang ia rasakan tadi mendadak berlipat ganda, namun kali ini disertai rasa nyaman dan keterhubungan yang mendalam.

"Ini dia... sumbernya..." gumam Ye Chen dalam hati, matanya menatap tajam ke arah bawah menara itu di balik kerumunan orang.

Di sana, di dekat panggung utama yang didirikan di alun-alun luas di depan Menara Pusat, ia melihat mereka.

Di kursi kehormatan paling depan, duduk sosok yang paling ia benci di dunia ini: Tetua Mo Feng. Pria tua itu terlihat semakin gagah, semakin berwibawa, dan semakin bersinar. Jubah kebesarannya berkilauan dengan benang emas, wajahnya penuh senyum ramah dan bijaksana palsu, dikelilingi oleh banyak murid dan tetua lain yang terus-menerus memuji dan menghormatinya.

Di sebelah kanan Mo Feng, berdiri tegak sosok pemuda tampan, berwajah angkuh, dengan jubah putih bersulam awan emas: Bai Long. Murid kesayangan itu memancarkan aura kebanggaan dan kekuatan yang luar biasa. Di usia delapan belas tahun, ia sudah berada di Qi Condensation Tingkat Kedelapan, menjadi kebanggaan seluruh sekte, menjadi idola para murid muda, dan menjadi senjata utama ambisi Mo Feng.

Melihat kedua sosok itu, darah Ye Chen mendidih hebat. Tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya, kuku menusuk hingga kulit telapak tangan berdarah. Amarah, kebencian, dan rasa ingin membunuh meluap-luap ingin meledak keluar.

"Tahan, Ye Chen! Tahan!" suara Yue-Jian berteriak keras dan tajam di dalam benaknya, berusaha menahan muridnya yang hampir kehilangan kendali. "Lihat sekelilingmu! Ada ratusan tetua di sini, ada ribuan murid elit. Kau tidak bisa menyerang sekarang. Jika kau bertindak bodoh, kau akan mati sia-sia dan dendammu tidak akan terbalaskan. Ingat tujuan utamamu hari ini: menembus ranah Foundation Establishment. Saat kau kuat sepenuhnya, saat kau berdiri sejajar atau bahkan di atas mereka... barulah kau berhak menuntut nyawa mereka."

Kata-kata itu seperti air dingin yang disiramkan ke kepala Ye Chen. Ia tersentak, menarik napas panjang yang berat, dan perlahan melepaskan kepalan tangannya. Ia membuang pandangannya dari arah panggung itu, memalingkan wajahnya agar tidak dikenali jika kebetulan mata mereka bertemu.

"Maaf, Guru..." gumamnya pelan, menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan. "Melihat mereka hidup bahagia, dihormati, dan menikmati apa yang seharusnya menjadi milikku... rasanya sulit sekali untuk menahan diri."

"Aku mengerti rasa sakit itu, Nak. Aku juga merasakan kemarahan yang sama," jawab Yue-Jian lembut namun tegas. "Tapi percayalah... saat hari pembalasan itu tiba, rasa sakit yang akan mereka rasakan akan jauh lebih besar dari rasa sakit yang kau rasakan sekarang. Nikmati momen ini. Nikmati kemarahan ini. Jadikan itu bahan bakar untuk kekuatanmu."

Ye Chen mengangguk pelan. Ia mulai menyusuri pinggiran alun-alun, menjauhi panggung utama dan kerumunan besar orang yang sedang menonton pertunjukan dan pidato sambutan. Matanya mengamati sekeliling, mencari jalan, mencari celah, mencari tempat yang cukup dekat dengan sumber energi Danau Roh Bumi namun tersembunyi dan aman.

Akhirnya, ia menemukannya.

Di sisi timur Menara Pusat, agak jauh dari keramaian utama, terdapat sebuah taman kecil yang indah dan sepi. Di sana, terdapat aliran sungai jernih yang berkelok-kelok, berasal langsung dari sumber Danau Roh Bumi di bawah sana. Di pinggir taman itu, ada sebuah tebing batu besar yang rimbun tertutup pohon-pohon tua dan tanaman merambat, menciptakan ruang kecil yang terlindung dan tersembunyi dari pandangan jalan utama, namun masih berada dalam jangkauan gelombang energi yang sangat kuat.

Tempat itu dijaga oleh dua orang pengawal, namun karena lokasinya agak jauh dari acara utama, mereka hanya berdiri santai sambil mengobrol, tidak terlalu waspada.

Ye Chen bergerak perlahan, menggunakan Langkah Bayangan Hantu yang halus dan senyap, menyelinap di balik bayangan pepohonan dan bangunan. Berkat keramaian dan hiruk-pikuk yang memekakkan telinga dari alun-alun utama, pergerakan kecilnya sama sekali tidak menarik perhatian siapa pun.

Dengan gerakan cepat dan tepat, ia melewati celah di antara dua pengawal itu, masuk ke balik tebing batu besar itu, dan bersembunyi di balik rimbunan tanaman hijau yang lebat.

Aroma energi murni langsung menyambar hidungnya. Di sini, kandungan energi langit dan bumi sangat pekat, berputar perlahan dan hangat, mengalir naik dari bawah tanah. Ye Chen bisa merasakan bagaimana pori-pori kulitnya otomatis terbuka lebar, menyedot energi itu masuk dengan rakus.

"Ini tempatnya," bisik Yue-Jian, suaranya bergetar karena gembira dan harapan. "Energi di sini cukup kuat, cukup murni, dan cukup stabil untuk membantumu melakukan terobosan. Dan tempat ini cukup aman untuk sementara waktu. Cepat, Ye Chen. Mulailah sekarang. Jangan buang waktu lagi. Energi di dalammu sudah di ambang batas ledakan."

Ye Chen tidak membuang waktu lagi. Ia segera duduk bersila di atas tanah yang ditumbuhi rumput halus, memposisikan tubuhnya tegak lurus, punggung lurus, dan kepala sedikit menunduk. Ia meletakkan kedua tangannya di atas lutut, membentuk posisi bersiap meditasi.

Di sekelilingnya, suara teriakan, sorakan, dan musik dari acara besar di alun-alun utama terdengar samar namun jelas. Di sana, Tetua Mo Feng dan Bai Long sedang bersinar dan dipuja-puja oleh ribuan orang.

Namun di sini, di balik tebing batu yang sederhana ini, jauh dari kemegahan dan pujian itu, sebuah peristiwa jauh lebih besar dan penting sedang terjadi.

Ye Chen memejamkan matanya rapat. Ia membuang semua pikiran tentang kebencian, tentang dendam, tentang Mo Feng, dan tentang Bai Long. Untuk saat ini, semua itu dikesampingkan. Fokusnya sekarang hanya satu: Menembus Ambang Batas.

Ia mulai memutar teknik utama warisannya, Seni Es Yin Kesembilan, hingga putaran maksimal. Di dalam tubuhnya, pusaran energi biru tua di Dantian berputar semakin cepat, semakin kencang, dan semakin hebat, seolah menjadi pusaran badai mini yang mengerikan.

"Datanglah... energi langit dan bumi..." gumam Ye Chen dalam hatinya. "Padatlah... dan jadilah Fondasi yang abadi!"

Secara perlahan namun pasti, energi luar yang melimpah ruah di sekitar sana mulai tertarik masuk, tersedot ke dalam tubuh Ye Chen, masuk ke dalam meridiannya, dan menuju ke pusat Dantiannya yang sedang bergejolak hebat.

Pertempuran untuk menembus ranah baru pun dimulai. Di luar sana, kemegahan Sekte Azure Cloud terus berlangsung meriah. Namun di balik pepohonan itu, di bawah tanah sana, kekuatan masa depan sedang lahir dengan susah payah dan penuh kekuatan dahsyat.

1
Didit Nur
malas bacanya, kalau cuma 1 bab. skip
albarra
ok,, coba kita teruskan..
Aman Wijaya
mantab ye Chen semangat terus
Aman Wijaya
ayo ye Chen babat semuanya musuh musuh mu.bikin kabut darah semua
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Opayos
😄😄😄😄😄💪💪💪💪
Opayos
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Opayos
💪💪💪💪💪💪💪😄😄😄😄
Opayos
😄😄😄😄👍👍👍👍
Opayos
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪
Opayos
😍😍😍😍😄😄😄💪💪💪💪
Opayos
😄😄😄😄😄💪💪💪💪👍👍
Opayos
👍👍👍💪💪💪💪💪💪
Opayos
😍😍😍😍💪💪💪👍👍
Opayos
😄😄😄💪💪💪
Opayos
🤣🤣🤣💪💪
T28J
Kaaaak... kepanjangan paragrafnya, kaget saya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!