NovelToon NovelToon
YE CHEN: PEWARIS PEDANG HITAM

YE CHEN: PEWARIS PEDANG HITAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Fantasi Timur
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Dikhianati oleh sektenya sendiri dan dibuang dengan meridian yang hancur total, Ye Chen mengira takdirnya telah berakhir di dasar Lembah Kabut Beracun. Namun, di titik nadir kematiannya, sebuah pedang hitam misterius yang telah terkubur selama ribuan tahun bangkit dan memilihnya sebagai pewaris tunggal.Di dalam pedang hitam itu, bersemayam jiwa pendekar legendaris, Yue-Jian, yang siap membimbingnya. Berbekal kekuatan mengerikan Es Yin dan bilah pedang hitam yang mampu menebas takdir, Ye Chen bangkit dari kegelapan untuk menuntut balas. Dari seorang pemuda yang dianggap sampah, ia merangkak naik menembus batas kultivasi, menghancurkan setiap klan yang pernah menghinanya, dan merebut kembali kehormatannya."Saat pedang hitam ini terhunus, maka langit pun harus tunduk di bawah kakiku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Udara di balik tebing batu besar itu mendadak berubah drastis. Awalnya hanya sejuk dan nyaman karena dikelilingi energi murni yang naik dari Danau Roh Bumi, namun dalam sekejap mata, tempat itu berubah menjadi pusat pusaran angin kencang yang mengerikan. Daun-daun dari pepohonan di sekitar tersedot berputar, ranting-ranting kecil bergoyang liar, dan kabut halus berwarna biru mulai terbentuk, turun perlahan menyelimuti seluruh area tersembunyi itu.

Di tengah kabut yang semakin tebal itu, sosok Ye Chen duduk bersila diam membatu. Matanya terpejam rapat, keningnya berkerut hebat menahan rasa sakit yang menembus hingga ke sumsum tulang. Di bawah kulitnya, urat-urat halus berwarna biru tua menonjol jelas, berdenyut kencang mengikuti irama pusaran energi yang sedang mengamuk di dalam tubuhnya. Mulutnya sedikit terbuka, napasnya keluar masuk dengan suara berat dan kasar, persis seperti suara angin yang berhembus lewat celah sempit.

Di dalam kesadarannya, Ye Chen merasa seolah dirinya terperangkap di tengah lautan badai yang tak berujung.

Energi Es Yin yang selama ini tersimpan dan dipadatkannya dengan susah payah di dalam Dantian, kini telah bangkit sepenuhnya. Ia tidak lagi berbentuk uap atau kabut seperti saat di ranah Qi Condensation. Energi itu kini berubah menjadi cairan kental, berwarna biru gelap pekat, berputar dengan kecepatan yang nyaris tak terbayangkan, menciptakan tekanan dalam yang begitu dahsyat hingga dinding-dinding Dantian miliknya terasa akan pecah kapan saja.

Namun, berkat lokasi yang ia pilih—dekat sekali dengan sumber energi terbesar Sekte Azure Cloud—tekanan dari luar tubuhnya juga sama hebatnya. Energi alam yang melimpah ruah di sekitar sana tersedot masuk tanpa henti, mengalir deras ke dalam meridiannya, membanjiri setiap inci saluran energinya, dan menekan kembali cairan energi di dalam Dantian dari segala arah.

"Inilah saat paling kritis, Ye Chen!" suara Yue-Jian terdengar bergetar di dalam benaknya, nada bercampur antara harap dan cemas. "Kau sedang berada di titik temu dua kekuatan besar: tekanan energi dalam yang ingin meledak keluar, dan tekanan energi luar yang ingin menekan masuk. Kau harus menjaga keseimbangan ini dengan sekuat tenaga. Jangan biarkan salah satu pihak menang! Jika energi dalam meledak, kau mati. Jika energi luar terlalu kuat hingga merobek meridianmu, kau juga mati. Kau harus menjadi penengah, kau yang harus mengendalikan pertemuan ini!"

"Aku... mengerti..." jawab Ye Chen dengan susah payah di dalam hatinya. Setiap kata yang terbentuk terasa menyakitkan, seolah ada ribuan jarum es yang menusuk otaknya.

Ia mengerahkan seluruh sisa kesadaran dan kekuatan kemauan kerasnya. Ia memutar kembali Seni Es Yin Kesembilan, teknik tertinggi warisan Sekte Bayangan, hingga putaran yang lebih cepat dan lebih dahsyat dari sebelumnya. Teknik ini adalah kuncinya. Hanya dengan teknik ini, ia bisa mengolah kedua aliran energi itu menjadi satu kesatuan yang kokoh.

Di luar sana, di alun-alun utama, suara tepuk tangan meriah dan sorak sorai ribuan orang terdengar samar namun jelas. Pidato Tetua Mo Feng sedang berlangsung, diikuti dengan pertunjukan kekuatan para murid elit. Suasana di sana begitu meriah, begitu megah, dan begitu penuh kemuliaan. Di antara kerumunan itu, tak ada satu pun yang sadar bahwa di jarak kurang dari seratus meter dari mereka, di balik rimbunan tanaman liar, sedang terjadi peristiwa yang jauh lebih dahsyat dan mengubah nasib seluruh wilayah ini.

Bahkan kedua pengawal yang berjaga di pintu masuk taman itu pun hanya merasa sedikit heran karena angin tiba-tiba bertiup kencang dan udara menjadi sangat dingin. Mereka mengira itu hanya perubahan cuaca biasa atau dampak dari energi besar yang dipancarkan oleh para tetua yang sedang beraksi di panggung utama. Mereka tidak menyangka sama sekali bahwa penyebabnya ada tepat di belakang tebing besar yang hanya berjarak sepuluh meter dari tempat mereka berdiri.

Di balik tebing itu, proses pemadatan terus berlanjut.

Cairan energi di dalam Dantian Ye Chen berputar semakin kencang, semakin cepat, semakin padat. Tekanan luar yang masuk terus-menerus memaksa cairan itu untuk berkumpul di satu titik pusat, menekannya ke bawah, memampatkannya hingga volumenya menyusut drastis namun bobot dan kekuatannya berlipat ganda berkali-kali lipat.

Rasa sakit yang dirasakan Ye Chen kini melampaui segala rasa sakit yang pernah ia alami seumur hidupnya. Bahkan saat meridiannya dipukul hancur oleh Tetua Mo Feng dulu, rasanya tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang ia rasakan sekarang. Seluruh tubuhnya terasa diremas, dipelintir, dan dibakar sekaligus oleh hawa dingin yang membekukan. Tulang-tulangnya berbunyi berderit satu sama lain, otot-ototnya meregang hingga batas putus, darahnya bergerak begitu cepat hingga mendidih di dalam pembuluh.

Namun, di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, ada rasa lain yang tumbuh: rasa kekuatan yang meluap-luap.

Setiap kali ia berhasil memadatkan sedikit saja energinya, ia bisa merasakan betapa berat, betapa padat, dan betapa dahsyatnya kekuatan yang kini ia miliki. Ia merasa seolah-olah tubuhnya perlahan berubah menjadi wadah yang jauh lebih besar, jauh lebih kokoh, dan jauh lebih istimewa dari manusia biasa mana pun.

"Jangan berhenti! Teruskan! Masih belum cukup!" teriak Yue-Jian membimbing, suaranya kini terdengar penuh semangat karena melihat kemajuan yang pesat. "Ingat tujuanmu, Ye Chen! Ingat Mo Feng, ingat Bai Long, ingat semua penghinaan dan penderitaanmu! Jadikan itu tenaga pendorongmu! Kau harus membangun Fondasi yang paling kokoh, paling murni, dan paling kuat yang pernah ada! Jangan biarkan ada celah sedikit pun!"

Mata Ye Chen terkatup rapat semakin kuat. Di dalam kegelapan kesadarannya, bayangan wajah-wajah itu melintas satu per satu. Wajah Mo Feng yang penuh kepalsuan, wajah Bai Long yang penuh kesombongan, wajah-wajah murid yang mencemoohnya, wajah orang-orang yang melupakan keberadaannya... Semua itu berubah menjadi api yang membakar semangatnya, menumbuhkan kekuatan kemauan yang tak tergoyahkan.

"AKU... AKAN... KUAT!" teriak Ye Chen dalam hatinya, bertekad bulat sepenuh jiwa raga.

Seketika itu juga, pusaran energi di dalam tubuhnya berputar hingga kecepatan maksimal yang belum pernah tercapai sebelumnya.

DUNG!!!

Sebuah suara dentuman samar, seolah benda padat bertemu benda padat lainnya, bergema dari dalam tubuh Ye Chen. Suara itu begitu dalam dan berat, hingga tanah di sekelilingnya sedikit bergetar, dan kabut biru yang menyelimutinya meledak menyebar ke segala arah seperti gelombang kejut.

Pada saat itu juga, terjadi perubahan besar.

Cairan energi yang tadinya berputar liar dan tidak beraturan di dalam Dantiannya, tiba-tiba menyusut drastis, berkumpul di titik pusat, dan memadat menjadi satu gumpalan energi kental berwarna biru tua pekat yang berkilauan seolah cairan logam dingin. Bentuknya tidak lagi seperti pusaran air, melainkan mulai terbentuk menjadi bola kecil yang padat, kokoh, dan stabil.

Itulah Fondasi.

Titik awal dari segala kekuatan sejati. Pemisah antara pendekar biasa dengan pendekar yang bisa menguasai dunia persilatan.

Namun, perubahan tidak berhenti hanya di Dantian. Energi yang begitu murni dan dahsyat itu mulai menyebar ke seluruh bagian tubuh Ye Chen, menembus ke dalam tulang, ke dalam darah, ke dalam otot, bahkan hingga ke dalam pori-pori kulit dan helai rambutnya.

Proses penempaan ulang tubuh dimulai.

Setiap sel tubuh Ye Chen kini dibersihkan, diperkuat, dan dimurnikan oleh energi dingin yang murni itu. Zat-zat kotor, sisa-sisa racun, dan ketidaksempurnaan tubuh yang tersisa sejak lahir terdorong keluar dalam bentuk keringat hitam pekat yang berbau sangat busuk dan tajam. Tulang-tulangnya yang tadinya sekeras batu biasa, kini berubah warnanya menjadi sedikit kebiruan, menjadi sekeras besi tempa berkualitas tinggi, namun tetap ringan dan lentur. Darahnya yang merah segar kini mengalir lebih cepat, lebih hangat, dan mengandung energi yang jauh lebih banyak dari sebelumnya.

Meridiannya, yang sudah lebar dan kokoh berkat Cairan Sumsum Yin, kini melebar lagi hingga dua kali lipat ukuran semula, dinding-dindingnya dilapisi oleh lapisan energi padat yang sekeras baja, menjadikannya saluran energi yang hampir tak bisa rusak atau putus oleh serangan luar mana pun.

Rasa sakit yang luar biasa itu perlahan-lahan mereda, digantikan oleh rasa nyaman yang mendalam, rasa ringan seolah tubuhnya tidak memiliki berat, dan rasa kekuatan yang begitu besar hingga ia merasa bisa merobek langit dan membelah bumi hanya dengan satu gerakan tangan.

Di luar sana, perubahan alam semakin nyata.

Angin berputar semakin kencang di sekitar tebing itu, membentuk pusaran udara kecil yang menarik dedaunan dan ranting dari jarak jauh. Suhu udara turun drastis hingga di bawah titik beku, membuat rumput-rumput dan dedaunan di sekitarnya tertutup lapisan putih es yang tipis namun indah. Cahaya samar berwarna biru lembut mulai memancar keluar dari celah-celah tubuh Ye Chen, menerangi kabut yang menyelimutinya, menciptakan pemandangan mistis yang menakjubkan.

Kedua pengawal yang berjaga di depan taman itu kini mulai gelisah dan waspada. Mereka bisa merasakan tekanan udara yang berat dan dingin datang dari arah belakang tebing besar itu. Tekanan itu begitu dahsyat hingga membuat napas mereka terasa berat dan sulit.

"Kau rasakan itu, Saudara?" tanya salah satu pengawal dengan suara bergetar, tangannya sudah beralih ke gagang senjatanya. "Tekanan energi ini... sangat murni, sangat dingin, dan sangat kuat. Ini bukan kekuatan para Tetua di panggung utama. Sumbernya ada di sini, di belakang batu besar itu!"

"Aku merasakannya juga! Ada sesuatu yang tidak beres!" jawab rekannya, wajahnya pucat karena ketakutan. "Apakah ada binatang buas tingkat tinggi yang masuk? Atau ada penyusup yang berniat jahat? Cepat! Kita periksa ke sana sekarang juga!"

Kedua pengawal itu pun bergegas berlari masuk ke dalam taman, melintasi semak belukar, berjalan cepat menuju tebing besar yang menjadi sumber tekanan mengerikan itu. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka temukan di sana, namun naluri bahaya mereka berteriak keras bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi.

Di balik tebing, Yue-Jian juga merasakan kedatangan mereka.

"Ye Chen! Bangunlah! Musuh datang!" seru Yue-Jian dengan nada mendesak. "Proses terobosanmu sudah selesai sebagian besar. Fondasi sudah terbentuk, meski belum sempurna sepenuhnya karena terputus mendadak. Tapi kekuatanmu sudah berubah total! Kau sekarang sudah berada di ranah Foundation Establishment Tingkat Awal! Bangkitlah, sembunyikan sisa gelombang energimu, dan hadapi mereka!"

Mata Ye Chen yang terpejam rapat mendadak terbuka lebar.

Dua sorot cahaya biru menyala terang dari balik kelopak matanya, menembus kabut dan kegelapan, setajam pedang yang baru diasah. Cahaya itu begitu tajam dan berwibawa hingga udara di depannya terasa terbelah.

Dengan satu gerakan halus dan elegan, Ye Chen berdiri tegak dari posisi bersilanya. Kabut biru di sekelilingnya menyusut kembali masuk ke dalam tubuhnya seolah ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Lapisan keringat hitam pekat dan bau busuk yang menutupi tubuhnya menguap seketika oleh hawa dingin yang keluar dari pori-porinya, meninggalkan kulit yang bersih, halus, dan berkilauan seolah porselen halus.

Tekanan energi yang tadinya menyebar liar ke mana-mana ditarik kembali, dikendalikan, dan dipadatkan ke dalam lingkaran kecil di sekitar tubuhnya, seketika membuat suasana di sekitar tebing itu kembali tenang dan normal, seolah tidak pernah ada badai apa pun terjadi.

Saat kedua pengawal itu melompat masuk ke balik tebing besar itu, apa yang mereka lihat hanyalah sosok pemuda berwajah asing, berambut hitam panjang, berpakaian jubah abu-abu sederhana, berdiri tenang dan tegak di tengah semak belukar. Wajahnya dingin, tenang, dan tanpa ekspresi. Matanya menatap mereka dengan pandangan yang dalam, tenang, namun membuat tulang belakang mereka terasa beku karena rasa takut yang tak bisa dijelaskan.

Tidak ada kabut, tidak ada angin kencang, tidak ada suhu dingin yang mengerikan. Semuanya hilang seolah ditelan bumi.

"Hah... Hah... Kau... siapa kau?!" seru pengawal itu dengan napas terengah-engah, mengacungkan ujung tombaknya ke arah dada Ye Chen, meski tangan mereka sedikit gemetar. "Apa yang kau lakukan di sini?! Apakah kau tahu ini adalah kawasan terlarang bagi tamu biasa?!"

Ye Chen menatap kedua orang itu dengan tenang. Di dalam hatinya, ia merasakan kekuatan yang kini mengalir di dalam tubuhnya. Kekuatan yang begitu besar, begitu padat, dan begitu dahsyat dibandingkan beberapa jam yang lalu. Ia merasa bisa menghancurkan kedua pengawal ini—yang kekuatannya berada di ambang Foundation Establishment—hanya dengan satu jentikan jari saja.

Namun, ia menahan kekuatan itu. Ia menekan kembali aura barunya, menyembunyikan gelombang kekuatan Foundation Establishment yang baru saja ia raih, dan kembali menampilkan aura Qi Condensation Tingkat Keempat yang biasa dan tidak berbahaya.

Ia menundukkan sedikit kepalanya, menampilkan ekspresi kaget dan sedikit takut, persis seperti pemuda biasa yang tertangkap basah melakukan kesalahan.

"Maafkan saya, Tuan Penjaga..." jawab Ye Chen dengan nada hormat dan sopan, suaranya tenang namun bergetar halus. "Saya hanyalah pendekar muda asing yang baru datang. Saya mendengar angin berhembus kencang dan melihat kabut indah datang dari arah sini. Saya kira itu adalah fenomena alam dari energi Danau Roh Bumi yang terkenal itu. Karena penasaran dan ingin merasakan lebih dekat energi suci sekte kalian, saya memberanikan diri masuk ke sini tanpa tahu itu dilarang. Saya tidak bermaksud buruk, mohon maafkan ketidaktahuan saya."

Kedua pengawal itu saling berpandangan, lalu kembali menatap Ye Chen. Mereka merasakan aura pemuda di depan mereka: murni, lemah, hanya tingkat keempat Qi Condensation. Tidak ada bahaya sama sekali. Tekanan mengerikan yang mereka rasakan tadi... apakah hanya khayalan mereka saja? Atau memang benar itu hanya gelombang energi alam yang lewat?

Melihat wajah pemuda itu yang tampak jujur dan sedikit takut, serta penjelasannya yang masuk akal, kecurigaan mereka perlahan berkurang.

"Hati-hatilah kau, anak muda!" bentak salah satu pengawal dengan nada keras namun sudah menurunkan ujung tombaknya. "Di tempat ini, penasaran bisa membawamu pada kematian! Cepat keluar dari sini dan kembali ke kerumunan tamu di alun-alun utama. Jangan sekali-kali melangkah ke kawasan terlarang lagi, atau kau akan ditangkap dan dipenjara sebagai mata-mata musuh! Mengerti?!"

"Mengerti sepenuhnya, Tuan. Terima kasih atas pengingat dan belas kasih Anda," jawab Ye Chen sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam tanda terima kasih.

Dengan langkah yang tenang dan teratur, namun di dalam hati penuh dengan kemenangan besar, Ye Chen berjalan melewati kedua pengawal itu, keluar dari balik tebing besar itu, dan berjalan kembali menuju jalan utama.

Saat ia berjalan menjauh, senyum tipis dan dingin perlahan tersungging di bibirnya yang tersembunyi.

Di belakangnya, ia meninggalkan jejak terobosan besar yang telah ia raih. Di dalam tubuhnya, kini mengalir kekuatan seorang pendekar ranah Foundation Establishment—kekuatan yang menjadikannya setara dengan para tetua sekte. Di dadanya, kini membara api kebangkitan yang tak terpadamkan.

Sekte Azure Cloud masih bersorak ria merayakan kejayaan mereka. Tetua Mo Feng masih duduk di kursi kehormatan dengan penuh kemenangan.-Bai Long masih menjadi bintang utama yang dipuja-puja semua orang.

Namun, mereka tidak tahu. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa sosok yang paling mereka takutkan, sosok yang akan menghancurkan segala kemegahan mereka, baru saja lahir kembali sepenuhnya hanya seratus meter dari tempat mereka berdiri.

"Permainan ini... baru saja berubah aturannya," gumam Ye Chen pelan, matanya menatap tajam ke arah panggung utama di kejauhan, di mana bayangan Mo Feng dan Bai Long terlihat jelas. "Kalian menikmati kemenangan palsu itu sebentar lagi. Karena mulai detik ini, posisi kita telah berubah."

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
✅️🫰👍
Jojo Shua
🔥😄
Jojo Shua
☕️🥛
Jojo Shua
🥛🥛
Jojo Shua
☕️
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
🫰🫰
Jojo Shua
🫰
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
😲😲
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
🔥✅️
Jojo Shua
✅️
Jojo Shua
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!