NovelToon NovelToon
Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Pengagum lain

Suasana di Gedung Artha Mas terasa makin hidup dan berwarna sejak kedatangan sosok baru di jajaran manajemen. Namanya Rian Adhitama, pemuda berusia pertengahan dua puluhan, tampan, berpakaian rapi, dan berwibawa. Lebih dari itu, Rian berasal dari keluarga terpandang, punya koneksi luas, dan kekayaannya tak kalah besar dari keluarga Naya. Ia baru saja diangkat menjadi Manajer Divisi Pengembangan Bisnis, sebuah jabatan tinggi yang membuatnya langsung duduk di lantai atas, berhak menggunakan ruangan luas, dan dihormati oleh semua pegawai.

Di mata banyak orang, Rian adalah contoh pemuda sukses yang sempurna. Muda, kaya, berkuasa, dan berpendidikan tinggi. Tak heran jika kehadirannya langsung menjadi pusat perhatian, terutama di mata para pegawai wanita yang sering kali diam-diam meliriknya dengan kekaguman. Namun bagi Rian sendiri, satu-satunya sosok yang benar-benar ia perhatikan dan ia incar di gedung besar ini hanyalah Naya.

Sejak pertama kali bertemu dalam rapat direksi, Rian langsung terpesona habis-habisan. Bagi Rian, Naya adalah pasangan yang paling pas dan setara dengannya. Cantik, cerdas, berkelas, dan tentu saja pewaris tunggal kekayaan besar. Bagi Rian, mendekati Naya bukan hanya soal perasaan, tapi juga soal gengsi dan aliansi bisnis yang sempurna. Ia pun mulai gencar mengejar wanita itu. Selalu ada saja alasan untuk bertemu, selalu ada saja kesempatan untuk mengajak bicara, memberikan hadiah, atau sekadar mengantar pulang.

Awalnya, Bagas sama sekali tidak mempedulikan kehadiran Rian. Bagi Bagas, Rian adalah atasan, sosok yang jauh di atasnya, dan tentu saja pesaing yang berat. Namun Bagas sadar diri. Ia tahu posisinya. Ia hanya berniat berjuang dengan caranya sendiri, diam-diam membuktikan kualitas diri, dan membiarkan waktu yang menjawab. Ia tidak berniat menghalangi siapa pun, apalagi orang setingkat manajer.

Namun, nasib berkata lain. Mata Rian yang tajam dan penuh rasa percaya diri yang berlebihan itu perlahan mulai menangkap sesuatu yang membuat darahnya mendidih. Ia mulai memperhatikan keanehan. Ia melihat bagaimana Naya yang biasanya dingin, kaku, dan sulit didekati, sering kali terlihat berhenti bicara saat berpapasan dengan seorang petugas kebersihan. Ia melihat bagaimana Naya sering kali berada di tempat yang sama dengan tempat kerja Bagas. Ia melihat sorot mata Naya yang berubah, yang melembut, yang penuh tanya, saat menatap sosok pemuda pendiam berseragam abu-abu itu.

Bagi orang lain, itu mungkin hal biasa. Tapi bagi Rian yang memiliki rasa percaya diri tinggi sekaligus rasa curiga yang besar, hal itu adalah penghinaan besar.

Siang itu, di koridor lantai utama, Rian berjalan beriringan dengan Naya sambil membawakan berkas-berkas dokumen. Ia sedang berusaha sekuat tenaga menarik perhatian Naya, bercerita tentang rencana bisnis besar yang ia buat, tentang kemewahan, tentang kemajuan teknologi, hal-hal yang menurutnya hebat dan pantas dibanggakan.

"... jadi proyek ini bakal mengubah wajah perusahaan kita, Naya. Aku yang memimpin langsung. Modalnya besar sekali, tapi keuntungannya pasti berlipat ganda. Nanti kalau berhasil, aku harap kamu bersedia ikut aku merayakannya di luar, sekedar makan malam." kata Rian dengan senyum penuh percaya diri, menatap Naya dengan pandangan menggoda.

Naya hanya tersenyum tipis, menjawab seperlunya saja. Pikirannya sebenarnya sedang melayang ke hal lain. Saat itu, Bagas kebetulan lewat di seberang lorong, sedang mendorong kereta kebersihan dengan tenang. Seperti ada magnet yang menarik, mata Naya langsung menoleh, tatapannya terkunci pada sosok itu. Tanpa sadar, langkah kakinya sedikit melambat, dan senyum kecil terbit di bibirnya saat melihat Bagas membungkuk sopan ke arahnya.

Bagas lewat begitu saja, tidak bicara sepatah kata pun, hanya memberi hormat biasa. Tapi bagi Rian, pemandangan itu bagai petir di siang hari. Ia melihat perubahan raut wajah Naya. Ia melihat bagaimana wanita itu yang tadi tampak bosan, seketika berubah hidup hanya karena lewatnya seorang petugas kebersihan.

Begitu Bagas menjauh dan menghilang di tikungan, Rian langsung berhenti berjalan. Wajahnya yang tampan mengeras, matanya menyala tajam menatap kepergian Bagas.

"Itu siapa?" tanya Rian dengan nada dingin yang mengancam.

Naya agak terkejut, kembali sadar dari lamunannya. "Siapa? Ah... itu Bagas. Petugas kebersihan di sini. Sudah lama bekerja."

Rian mendengus kasar, tertawa sinis. "Petugas kebersihan? Kok kayaknya akrab sekali? Kamu lihat dia dengan cara aneh sekali, Naya. Dan dia juga, berani sekali menatapmu begitu saja. Biasanya orang-orang rendahan langsung menunduk takut kalau lewat di dekat kita."

Naya mengerutkan dahi, merasa tidak suka nada bicara Rian yang merendahkan. "Dia cuma sopan, Rian. Dia pekerja yang rajin dan jujur. Jangan menilai orang cuma dari seragamnya saja."

Jawaban itu justru makin memicu amarah dan kecemburuan Rian. ''Kamu membela seorang petugas kebersihan di depanku?" batin Rian geram. Hatinya penuh kebencian. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak. Dia Rian Adhitama, manajer muda, orang kaya, orang terpandang, tapi Naya justru lebih menaruh perhatian pada seorang pemuda miskin pemegang sapu? Itu adalah penghinaan terbesar baginya.

Sejak hari itu, benih kebencian itu tumbuh subur di hati Rian. Ia tidak membenci Bagas karena kesalahan apa pun. Ia membenci Bagas hanya karena keberadaannya. Ia membenci karena ia sadar, pemuda sederhana itu entah bagaimana caranya berhasil masuk ke lingkaran perhatian Naya, sesuatu yang susah payah ia dapatkan meski dengan segala kemewahannya. Dan yang paling membuat Rian sakit hati, ia melihat sesuatu di mata Bagas. Sesuatu yang tidak dimiliki orang-orang rendahan lainnya. Kepercayaan diri yang tenang dan wibawa yang diam-diam terpancar.

Rian mulai menyusun rencana. Ia bertekad akan menyingkirkan gangguan kecil ini. Ia akan membuat hidup Bagas menjadi sangat sulit, sampai pemuda itu sadar diri dan pergi sendiri dari perusahaan ini, atau sampai ia hancur harga dirinya di depan Naya.

Sebagai manajer, Rian punya kuasa penuh. Ia bisa memberi perintah, mengatur jadwal, dan menilai kinerja siapa saja. Mulailah masa-masa sulit bagi Bagas.

Pertama, jadwal kerjanya diubah sepihak. Bagas yang biasanya bertugas di lantai kantor yang bersih dan teratur, tiba-tiba dipindah ke bagian gudang bawah tanah dan ruang mesin yang kotor, berdebu, lembap, dan penuh sampah menumpuk. Pekerjaannya menjadi berkali-kali lipat lebih berat dan melelahkan. Belum cukup sampai di situ, Rian sering kali datang berkeliling tepat saat Bagas sedang bekerja. Ia selalu saja mencari kesalahan.

"Eh, kamu! Yang pakai seragam abu-abu!" seru Rian keras-keras suatu hari, berdiri dengan tangan di pinggang di lorong ruang arsip. "Ini lantai belum bersih benar ya? Lihat itu, masih ada noda di pojok sana. Kamu kerja apa main-main sih? Gaji dibayar penuh, tapi kerja setengah-setengah."

Bagas berhenti menyapu, menundukkan kepalanya hormat. "Maaf, Pak. Saya akan bersihkan lagi sampai tuntas."

"Lagi? Harusnya sekali kerja sudah selesai sempurna! Dasar karyawan yang tidak tahu untung. Sudah dikasih tempat kerja, dikasih makan, tapi tidak punya rasa terima kasih. Ingat ya, pekerjaanmu ini bisa diganti kapan saja oleh siapa saja. Jangan merasa hebat dulu," ketus Rian dengan sengaja menaikkan suaranya agar terdengar oleh staf lain yang lewat. Ia ingin mempermalukan Bagas, ingin membuatnya merasa kecil dan hina di depan umum.

Namun, apa yang diharapkan Rian tidak terjadi. Bagas tidak marah, tidak membantah, dan tidak tampak hancur. Pemuda itu hanya diam, menerima semua omelan itu dengan tenang, lalu kembali bekerja lebih teliti lagi. Sikapnya yang sabar dan tetap sopan itu justru membuat Rian makin geram. Ia merasa Bagas sedang menyindirnya dengan ketenangan itu.

Belum selesai di situ. Rian juga mulai membebankan tugas-tugas tambahan yang bukan wewenang Bagas. Mengangkat barang berat, memindahkan lemari besar sendirian, bekerja lembur sampai larut malam tanpa bayaran tambahan, dan selalu saja ada laporan kinerja buruk yang ditulis Rian untuknya, meski pekerjaan Bagas selalu selesai dengan baik.

Orang-orang di kantor mulai kasihan melihat Bagas. Mereka tahu Rian sedang mencari gara-gara. Mereka bingung, kenapa manajer muda itu begitu membenci petugas kebersihan yang pendiam dan tidak banyak bicara itu. Hanya Bagas sendiri yang tahu persis akar masalahnya. Setiap kali Rian memandangnya dengan tatapan tajam dan penuh kebencian, Bagas paham betul alasannya. Ia melihat kecemasan di mata Rian, kecemasan bahwa ada sesuatu pada diri Bagas yang bisa mengalahkan kemewahan dan kekuasaannya.

Suatu sore, saat Bagas sedang kelelahan mengangkut kotak-kotak berisi arsip tua ke ruang penyimpanan paling atas, Naya kebetulan lewat dan melihatnya. Ia melihat keringat mengucur deras di wajah Bagas, melihat bajunya yang basah kuyup dan kotor terkena debu, melihat tangan pemuda itu yang tampak lelah tapi tetap kokoh mengangkat beban berat. Ia juga melihat Rian berdiri agak jauh di belakang, menyilangkan tangan di dada sambil menatap Bagas dengan senyum kemenangan yang jahat.

Jantung Naya terasa nyeri. Ia paham sekarang. Ia paham kenapa akhir-akhir ini Bagas jarang terlihat, kenapa wajahnya selalu tampak lelah, dan kenapa jadwal kerjanya berubah drastis. Ia tahu Rian melakukannya dengan sengaja. Ia tahu Rian marah karena rasa cemburu yang tidak beralasan.

Naya melangkah hendak menghampiri, ingin sekali menegur Rian, ingin sekali membela Bagas. Tapi langkahnya terhenti saat ia melihat Bagas menoleh sekilas ke arahnya. Bagas menggeleng pelan dan tersenyum tipis, sangat pelan, matanya memohon agar Naya tidak ikut campur.

Naya menahan amarahnya yang meluap-luap. Ia menatap Rian tajam sekali, tatapan yang membuat Rian tersentak dan gugup, lalu berjalan pergi dengan langkah berat. Di dalam hatinya, rasa hormat dan rasa kagumnya pada Bagas makin memuncak. Ia melihat pemuda itu sedang diuji, sedang ditindas, sedang dipersulit hidupnya, tapi ia tetap berdiri tegak, tetap sabar, dan tetap menjaga martabatnya.

Sementara itu, Rian merasa puas untuk sementara. Ia pikir dengan membebani kerja berat dan penghinaan, ia akan membuat Bagas menyerah dan pergi. Ia tidak tahu, bahwa setiap beban yang dipikul Bagas, setiap penghinaan yang diterimanya, justru menjadi bahan bakar yang makin membesarkan api ambisi di dada pemuda itu.

Di sudut ruangan yang sepi itu, Bagas meletakkan kotak terakhir dengan napas terengah. Ia menghapus keringat di dahinya, menatap ke arah tempat Rian tadi berdiri. Matanya yang biasanya tenang kini berkilap tajam.

1
miumiu
ada sedihnya tapi ada kekuatan juga. lanjuut ya thor.
curbel
seru juga. Dan enak dibaca. 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!