"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Transformasi Energi: Api dan Es
20 Tahun yang lalu...
Malam itu, langit di atas istana terasa mencekam. Raja Go Yoon terbaring lemah dengan napas yang terputus-putus. Meski tubuhnya hampir menyerah pada maut, matanya masih menatap tajam ke arah langit malam—tepat ke sebuah bintang yang bersinar paling terang.
"Seo Yoon... dia akan segera melahirkan," bisik Raja Go Yoon dengan suara parau yang bergetar. Sebuah senyum kemenangan tersungging di bibirnya yang pucat. "Seorang anak laki-laki. Darah dagingku akan lahir tepat di bawah sinar bintang itu."
Sang Raja menarik napas terakhirnya dengan penuh keyakinan. Baginya, maut hanyalah pintu kecil, karena ia telah meninggalkan "warisan" yang tak terduga.
Kediaman Keluarga Han
Di tempat berbeda, Han Gyeol jatuh terduduk sambil mencengkeram dadanya. Rasa sakit yang tajam menusuk jantungnya, seolah ada benang takdir yang diputus paksa. Keringat dingin membanjiri keningnya saat ia menatap kegelapan di luar jendela.
Firasat buruk merayap, mencekik sanubarinya. Ia teringat kejadian beberapa bulan lalu—saat sang Raja memaksa untuk bertukar jiwa dengannya melalui sihir terlarang.
Raja telah melakukannya, batin Han Gyeol dengan tangan gemetar.
Ia tahu kebenarannya. Saat sang Raja berada dalam tubuh Han Gyeol, pria itu telah mendatangi Seo Yoon—istri Han Gyeol sendiri. Raja begitu optimis bahwa benih yang ia tanam di rahim Seo Yoon adalah seorang putra, seorang penerus yang akan lahir dengan kekuatan besar namun menyimpan rahasia kelam tentang siapa ayahnya yang sebenarnya.
Han Gyeol memejamkan mata rapat-rapat, air mata keputusasaan mengalir di pipinya. "Apa yang telah kau perbuat, Yang Mulia? Anak itu... bagaimana aku harus memandangnya nanti?"
****
Siang itu, udara di dalam kamar Han Seol terasa berat. Seol-Ah baru saja selesai membalut luka di punggung Han Seol dengan kain bersih.
Meskipun luka fisik itu sudah terbalut, Han Seol tahu, luka di hatinya akibat pengusiran Paman Do jauh lebih dalam dan sulit sembuh.
"Kita akan membuat mereka menyesal," ucap Seol-Ah memecah keheningan.
Ia berlutut di hadapan Han Seol, menatapnya dengan api tekad yang menyala. "Kita buat mereka menangis darah karena telah membuangmu. Suatu hari, mereka yang akan bersujud di kakimu, Seol. Mereka tidak tahu macan seperti apa yang baru saja mereka lepaskan."
Han Seol mengepalkan tangan, mengenakan bajunya dengan gerakan mantap meski perih. "Tentu. Apa pun caranya, aku akan kembali ke sana sebagai pemenang."
Namun, tepat setelah kata-kata itu terucap, tubuh Han Seol tersentak. Rasa panas yang membakar mendadak meluap dari perutnya, merambat ke seluruh pembuluh darah. Wajahnya memerah padam, keringat bercucuran deras.
"Seol! Lepaskan bajumu!" seru Seol-Ah panik. Ia menyadari energi itu sedang mengamuk.
Seol-Ah menarik Han Seol ke ruang pemandian. Tanpa menunggu, Han Seol menceburkan diri ke dalam kolam air dingin.
Sssshhh!
Uap putih langsung mengepul dari tubuhnya saat bersentuhan dengan air, seolah besi panas yang baru saja ditempa. Air kolam yang tadinya dingin mendadak berubah hangat.
Namun, itu belum selesai. Seketika, suhu tubuh Han Seol anjlok drastis. Rasa panas menghilang, digantikan oleh hawa es yang membekukan tulang. Air kolam mulai mengeluarkan kristal es kecil. Han Seol menggigil hebat, giginya bergeletuk tak terkendali.
"Keluar! Cepat ganti pakaianmu!" Seol-Ah membantunya berdiri.
Dengan tubuh yang masih gemetar dan bibir membiru, Han Seol duduk di ruang pustaka, dikelilingi ribuan gulungan buku kuno. Seol-Ah berdiri di hadapannya dengan raut serius.
"Dengarkan aku," bisik Seol-Ah. "Energi Master Baek dan teknik Seo Jun sedang bertarung di dalam tubuhmu. Kau harus bisa menjinakkan keduanya. Tahan rasa dingin itu, jangan biarkan ia menguasai kesadaranmu."
Tak lama, pintu berderit. Madam Oh masuk membawa nampan berisi teh herbal yang mengepul.
"Tuan Muda, kenapa wajahmu pucat sekali?" Madam Oh meletakkan cangkir porselen itu dengan tangan gemetar, matanya penuh kecemasan.
"Hanya efek hukuman tadi, Nyonya," sela Seol-Ah cepat, mencoba bersikap tenang. "Tubuhnya masih terkejut karena pukulan kayu itu. Ia hanya butuh istirahat."
Madam Oh menghela napas panjang, mengusap air matanya, lalu pergi setelah memberikan tatapan prihatin.
Malam yang Membeku
Malam harinya, kondisi Han Seol semakin mengkhawatirkan. Napas yang keluar dari mulutnya berubah menjadi kabur, putih, dan dingin. Energi sihirnya meningkat terlalu cepat, melampaui kapasitas tubuhnya saat ini.
Seol-Ah bergegas keluar, kembali dengan membawa perapian kecil berisi arang yang membara. Ia meletakkannya tepat di samping tempat tidur Han Seol, lalu mengipas-ngipasnya agar hawa panas menyelimuti tubuh Han Seol.
"Jangan menyerah sekarang, Han Seol," bisik Seol-Ah sambil terus menjaga api itu tetap menyala. "Kau belum membalaskan rasa sakitmu. Tetaplah hidup, setidaknya sampai kau melihat mereka berlutut memohon padamu."
****
Penyelidikan di Jantung Cheon-gi Won
Cahaya obor menari-nari di dinding batu yang lembap. Di tengah ruangan, jasad seorang murid terbujur kaku. Kulitnya telah berubah menjadi batu kelabu yang kasar, dengan retakan-retakan kecil yang mengeluarkan aura hitam tipis—sisa dari Hwansu (pemindahan jiwa) yang gagal.
"Lihatlah ini," Master Baek menunjuk retakan di leher jasad itu dengan nada menggebu-gebu. "Sihir ini kasar, dilakukan dengan terburu-buru. Orang-orang dari Myeong-gyeong Gak itu benar-benar tidak punya nurani!"
Asisten Penyihir Do—Yoo Ha-Jin melangkah maju, wajahnya tampak gusar. "Tuan, saya yakin pelakunya adalah murid suruhan Jin Wu. Beberapa kali saya melihat bocah itu berkeliaran di sini. Alasannya selalu sama: mencatat rasi bintang atas perintah gurunya. Tapi gerak-geriknya mencurigakan, dia lebih sering memperhatikan pintu masuk ruang pustaka daripada melihat langit."
Penyihir Do menyipitkan mata, mengusap dagunya dengan perlahan. "Jin Wu... dia menggunakan murid-muridnya sebagai bidak catur. Dia sendiri tetap bersih di depan Raja, bahkan berani membisikkan niatnya untuk menggeser posisi Han Gyeol sebagai pemimpin kita."
"Dia licik," geram Master Baek. "Dia tahu jika muridnya tertangkap, dia tinggal membuangnya seperti sampah dan mencuci tangan."
Penyihir Do berbalik ke arah Seo Jun dan Do Hyun. Tatapannya tajam dan dingin.
"Myeong-gyeong Gak sedang mengintai kita dari dalam," ujar Penyihir Do. "Seo Jun, Do Hyun, pergilah ke sekolah sihir milik Jin Wu. Cari tahu siapa murid yang dikirimnya ke sini. Jika benar mereka terlibat dalam pemindahan jiwa ini, kita harus menemukan bukti otentik sebelum Jin Wu melenyapkan bocah itu untuk menghilangkan jejak."
Seo Jun membungkuk dalam, tangannya terkepal kuat. "Kami akan mengawasi setiap pergerakan di Myeong-gyeong Gak. Jika murid itu kembali ke sana, dia tidak akan lolos."
Do Hyun menambahkan dengan suara rendah, "Kami akan memastikan Jin Wu tidak bisa mengelak kali ini."
"Berangkatlah," perintah Penyihir Do. "Dan ingat, kalian sedang masuk ke sarang serigala. Jangan biarkan mereka mencium keberadaan kalian."