NovelToon NovelToon
Perfect Bad Fiance

Perfect Bad Fiance

Status: tamat
Genre:Ketos / Tamat
Popularitas:612.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: fieksel259

BANTU SUPPORT CERITA INI DENGAN LIKE, VOTE, DAN COMMENT.
VISUAL TOKOH MUNGKIN AKAN MENGALAMI PERUBAHAN

Dipertemukan dengan sesama bad guy membuat Bianca dan Alvaro terlihat seperti kucing dan anjing yang saling mengganggu dan tak bisa akur. Dan entah kenapa seorang bad boy itu menjabat sebagai ketua OSIS, anak pemilik yayasan, dan juga menangkup sebagai ketua genk Swataru.

Jika takdir meminta mereka bersama

Jika bumi menginginkan mereka menjadi satu

Dan jika semesta mengharapkan mereka menjadi satu insan

Hati besi pun akan tetap meleleh seiringnya waktu dan seiring logika mau memikirkan hal itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieksel259, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gedung

Bianca menghembuskan nafasnya pelan, lalu ia mempercepat aksi makan malamnya lebih dulu daripada Alvaro yang nampak menikmati santapan malam ini, "Gue selesai" Ucapnya sambil meneguk air mineral yang ada di dalam gelas itu sampai tandas. Gadis itu lalu bangkit berdiri, "Gara-gara lo terakhir, jadi cuci piring ntar" Ucapnya sambil melangkah pergi meninggalkan Alvaro yang menatap tajam pada dirinya.

"Heh!"

"Apa?" Membalas tatapan itu dengan sinis, "...itu cuma beberapa Alvaro, jangan malas banget lo jadi manusia" Ucapnya dengan kesal. Takdir hidupnya benar-benar tak dapat diduga, kenapa ia harus disatukan dengan makhluk seperti Alvaro yang membuatnya kesal luar dalam.

Weekend...

Bianca keluar dari dalam kamarnya dengan rambut panjangnya yang ia kuncir kuda. Kaos merah ia padukan dengan jaket oranye di tambah dengan celana hitam berwarna hitam. Pada detik yang sama juga, Alvaro dengan hoodie navy dan jeans hitam keluar dari dalam kamarnya. Mereka saling melempar pandang.

"Lo gak ada pakaian lain?" Sindir Alvaro. Oh ayolah laki-laki itu selalu menyinggung tentang pakaian Bianca. Kekurangan topik kah dirinya?

Bianca mengangkat bahunya acuh, lama-kelamaan laki-laki itu juga akan terbiasa dengan apa yang ia lakukan dan tampilkan. "Gue gak suka telat" Ucapnya sambil menatap jam di ponselnya.

Alvaro memutar bola matanya malas, ia kemudian melangkahkan kakinya lebih dulu daripada Bianca. Sambil menuruni tangga rumah Alvaro memeriksa notofikasi ponselnya untuk melihat kabar-kabar yang dikirimkan anak-anak Swataru.

"Kita pake mobil" Ia mengambil langkah lebih cepat menuju garasi yang terdapat tiga buah kendaraan.

Bianca berdecak sebal karena laki-laki yang meminta pertolongannya itu dengan seenak jidatnya meninggalkan dirinya di belakang. Ia sedikit memikirkan tentang apa yang akan terjadi pada hari ini. Juan, kenapa ia harus berurusan dengan laki-laki seperti itu?

. . .

Sesampainya di sana, Bianca segera melangkahkan kakinya menuju gedung tertinggi yang ada di situ. Sebentar lagi jam sembilan, artinya Juan sudah atau segera ada di tempat tersebut.

Sebenarnya ia enggan bertemu dengan laki-laki itu. Bahkan saat pertama kali melihat wajah Juan yang juga menjabat sebagai ketua OSIS SMA Dirgantara, ia cukup terkejut dengan hal itu. Apakah tak ada orang lain yang berminat memimpin organisasi sekolah kecuali manusia yang satu itu?

Alvaro mensejajarkan langkah kakinya bersama dengan Bianca, ia menatap arloji miliknya lalu memasang wajah serius. Karena pada saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bermain-main apalagi berdebat hal sepele dengan tunangannya tersebut, sehingga membuyarkan rencana yang sudah disusun secantik mungkin. Apalagi mengingat Bianca memiliki hubungan yang bahkan lebih dari seorang pacar, jika sampai perempuan itu celaka maka ia akan kena imbas melalui orang tuanya yang amat sangat menyayangi Bianca.

"Gue naik, dan lo jangan terlambat atau gue yang celaka" Ucap Bianca saat mereka sampai di depan gedung ia dimaksudkan. Rencananya ia dan Juan akan bertemu di roof top.

"Hm" Berdehem dengan serius. Ia juga tak bodoh ingin membuat perempuan itu celaka. Ia yang meminta pertolongan, maka ia juga harus melindungi keselamatan Bianca.

. . .

Suara langkah kaki terdengar menggema di telinga Bianca yang sudah berdiri di situ beratus-ratus detik. Ia benci menunggu.

Perempuan itu membalikkan badannya dan menatap tajam pada Juan yang malah menyunggingkan senyumnya. Senyum yang membuat Bianca muak pada laki-laki itu. "Lo terlambat lima menit" Ucap Bianca datar, tangannya terkepal kuat ia tak sabar lagi ingin menghajar wajah pria sombong tersebut.

"Well, just five minutes" Ucap Juan dengan santai, tanpa rasa bersalah sedikitpun dari wajahnya.

Bianca menyilangkan tangannya di depan dada, menatap dingin pada Juan yang terus saja melemparkan senyuman yang sudah basi di mata Bianca. Oh sungguh, harus berapa lama lagi ia berhadapan dengan laki-laki di hadapannya ini, "Juan, ketua OSIS SMA Dirgantara dan juga ketua dari Royaln. Sebenarnya gue heran kenapa manusia keparat kayak lo dijadikan ketua OSIS yang pada umumnya berwibawa" Mengatakan sebuah fakta dan juga sindiran pada Juan.

"Pertanyaan yang sama, kenapa Alvaro juga seperti gue?" Juan menatap lekat pada perempuan cantik di depannya itu. Apalagi saat rambut panjang dan juga hitam milik Bianca di kuncir, menambah kecantikan gadis itu.

"Oke, apa keuntungan yang gue dapatkan kalau gue setuju join dengan genk rendahan lo itu?" Bianca benci ketika ia harus berbasa-basi dengan hal-hal yang sepele. Ia ingin langsung ke inti permasalahan, apalagi saat ia harus berhadapan dengan manusia rese seperti Juan.

"Lo bakal jadi tangan kanan gue"

Senyum miring Bianca tercetak jelas, sungguh rendahan sekali penawaran laki-laki di hadapannya ini, sama seperti komunitas yang ia ketuai. "Terlalu rendahan untuk gue yang bertalenta, beri gue kedudukan sebagai ketua" Ucap Bianca tanpa basa-basi lagi. Lagi pun itu hanya siasatnya saja agar percakapan kali ini lebih lama dan membuat Juan sedikit percaya padanya jika ia ingin bergabung dengan komunitas yang ia ketuai.

"Hei, itu terlalu berlebihan" Memprotes apa yang Bianca katakan. Dikasih hati minta jantung. Tak tahu diri sekali Bianca.

Bianca menaikkan sebelah alisnya, ia menatap remeh pada Juan yang masih memandang datar pada dirinya, "Oh ya? Gue rasa nggak. Itu setimpal dengan apa yang gue kuasai. Gue harap lo gak lupa itu" Menaikkan rasa percaya dirinya, ia adalah Bianca perempuan yang mempunyai kemampuan bela diri dan juga menyusun strategi yang tak bisa dipandang enteng. Tak ada satu pun orang yang tak mengenalnya.

"Wakil ketua" Juan menawar pangkat yang akan diduduki Bianca jika bergabung dengan komunitasnya. Adalah keuntungan besar jika ia memiliki Bianca dalam geng miliknya.

"No"

Juan mendekati perempuan yang ada di hadapannya tersebut dengan langkah pasti, ia membelai pipi gadis itu dengan lembut. "Bianca, asal lo tahu, kemampuan lo memang di atas rata-rata tapi tubuh lo bisa dibilang rendahan layaknya ucapan lo ke genk tang gue ketuai" Ucapnya dengan nada suara lembut. Well, racun ular ternyata bisa dibuat manisan beracun juga ternyata.

"Lo tersinggung?" Mengatakan dengan nada suara remeh.

Juan tertawa kecil, ada-afa saja pemikiran yang Bianca cetuskan. Tapi perempuan itu benar, ia tersinggung akan ucapannya. "Tentu tidak, gue gak bakal ambil hati dengan anggota genk gue sendiri" Jika mengajak ribut dengan Bianca, sudah ia pastikan jika ia akan dikatakan kalah dengan perempuan yang selalu lemah di mata seorang laki-laki.

"Lo pikir gue bakal biarin lo ngelakuin itu?" Damn, suara itu. Juan tersenyum miring sambil melempar tatapan pada Bianca yang ada di depannya. Tangannya masih bertengger di pipi gadis itu, ia Muntari badan gadis itu dan berdiri di belakangnya. Dan seperti dugaannya, pemilik suara itu adalah Alvaro.

"Well, lo siapa ikut campur urusan gue?" Ucapnya dengan remeh. Ia memegang bahu perempuan di depannya itu, "....lagipula ini sudah perjanjian oke?" Sambungnya lagi.

Bianca menepis tangan Juan yang berada di bahunya, ia risih dengan semua yang Juan lakukan terhadap dirinya. "Jauhi tangan lo dari gue"

Bukannya mengikuti apa yang membuat Bianca emosi, malah sebaliknya ia memegang erat bahu perempuan itu semakin kuat, lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Bianca, "Lo jangan belagu ya" Bisiknya pada Bianca, "...lo lupa gue, hah? Gue rasa nggak. Iya kan?"

"Cih"

"Argh"

Bianca memang tak bisa diajak bercanda jika orang yang ada di hadapannya ini benar-benar membuatnya muak luar dalam. Ia bahkan lebih menjengkelkan daripada ketua OSIS di sekolahnya tersebut. Ia menyikut perut laki-paki itu kuat dan mendorong Juan kepada Alvaro yang sudah siap menghajar laki-laki itu.

"Well, gue nggak minta gabung sama lo, terlalu rendahan" Bianca berkata pada Juan yang berhasil Alvaro tumbangkan. Tak ada sedikit pun rasa iba di mata perempuan itu, ia Halah tersenyum dengan penuh kepuasan melihat keadaan Juan yang cukup membuat wajah tampannya ternodai dengan lebam biru dan juga darah segar yang mengalir dari bibirnya.

Bianca kini menatap pada Alvaro yang membuka hoodie yang ia kenakan, membuat kaos yang ia kenakan agak terangkat, memperlihatkan perutnya yang six pack.

"Mau apa lo?" Kesal Bianca melihat apa yang dilakukan laki-laki bodoh itu. Oh ayolah pikirannya tak pernah berhenti berburuk sangka pada laki-laki itu.

Alvaro melirik pada Bianca, nada suara perempuan itu seperti hendak mengajaknya berkelahi saja. "Panas" Imbuhnya pada Bianca lalu pergi dari hadapan Bianca lebih dulu.

Perempuan itu tak tinggal diam, ia ikut pergi menyusul Alvaro. Meninggalkan Juan yang perlahan bangkit berdiri dengan tatapan yang sulit diartikan. Dan itu tertuju kepada Bianca.

Bianca cukup terkejut dengan suasana di bawah, semua yang awalnya rapi kini berantakan seakan sudah di obrak-abrik. Anak-anak dari Swataru terlihat duduk dengan wajah kelelahan dan juga lebam yang menghiasi. Alvaro nampak menghampiri beberapa anak-anak.

"Pipi lo kenapa Tha?" Tanya Bianca pada Hyacintha yang kini tengah menggigit apel merah. Wajah perempuan itu tidak nampak baik-baik saja.

Hyacintha melempar senyumannya pada sang teman, ia menelan kunyahan apelnya, "Biasa, kena tonjok" Ucapnya dengan nada suara santai. Seakan hal itu bukanlah masalah besar.

"Obatin sana, ntar infeksi" Bianca mengambil sebuah apel lainnya yang Hyacintha pegang lalu menyantapnya dengan santai.

Alvaro melangkah menghampiri dirinya, melempar tatapan yang selalu saja tajam, "Ayo cepat" Ucapnya pada Bianca yang masih mengobrol dengan temannya itu. Laki-laki itu menyerahkan semua urusan pembersihan wilayah kepada mereka yang masih bisa membantu atau pun menyewa petugas kebersihan.

Bianca menatap punggung Alvaro yang semakin menjauh karena laki-laki itu terus melangkahkan kakinya tanpa menoleh kepada Bianca, "Gue pulang dulu ya" Pamitnya pada Hyacintha.

"Iya, makasih atas kerja samanya" Ucap perempuan yang masih asik dengan apel merahnya.

"Hm, gue harap ini yang terakhir" Bianca mengatakan dengan serius, ia tak pernah main-main dengan ucapannya. Hanya saja keadaan selalu memaksanya untuk terus memakan apa yang telah ia katakan sebelumnya.

Damn.

1
kyoww
WOI AKU TERAKHIR BACA 2021🤣
Lhisa Amira Nhatasya
jd mls baca, jd Bianca kok cepat bgt memaafkn, pdhal sdh di hina, ditampar, ksih plajaran kek dlu sm si al
Fereinchsovetsky
kok nggak ada novel my cold husband
Defi
Al maksud kamu memang baik, membangun usaha sendiri sampai waktu untuk Bianca gak ada tapi terfikir ga sih, kalau-kalau Bianca sudah bersama yang lain apa ga tambah nyesek tuh 😮‍💨😮‍💨
Defi
ikutan mewek juga 🥲..
Defi
seharusnya memang kamu ga melakukannya meskipun tidak seperti Bianca bayangkan Juan 🙄
Defi
kamu ketahuan 😂😂.. diluar perkiraan ya, biasanya gelud aja eh rupanya punya hubungan 😂🤣
Defi
visual tokohnya cantik-cantik dan ganteng
Defi
Ga apa-apa Bi, Alvaro juga memiliki perasaan yang sama tapi ada yang mengganjal ya soalnya Alvaro lagi ingat sahabat kecilnya, apa jangan-jangan itu Bianca
Defi
Jessi siapanya Al inih
Defi
Dibalik sikap Bianca yang keras tersimpan rasa sakit yang dalam
Defi
Apa Bianca pernah dilecehkan ya
Defi
Sikap mereka sudah mulai mencair sih makanya terlihat manis kan 😂
Defi
Bianca pernah dekat sama Juan di masa lalu 🤔
Defi
Pantas saja Aldo bilang ke Alvaro kalau Alvaro salah mengeluarkan Bianca dari genk ternyata Bianca memang benar-benar pintar
Defi
tapi sikapnya yang egois dan arogan tetap saja ga mau mengakui salah dan Bianca juga yang disalahkan
Defi
Bagus Bi, udah saatnya kamu bersuara biar Oma dan Alvaro terbuka matanya
Defi
Wajar sih mulut Alvaro kalau ngomong pedas rupanya nurun dari sang Oma
Defi
Alvaro egois 😂
Defi
Bakalan bertemu setiap waktu dan tentunya ributnya juga 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!