Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.
Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.
Namun, takdir berkata lain.
Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:
[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]
Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....
#kehidupandidesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Mulai Menikmati
Malam harinya, Budiman duduk di kursi kayu pojok gudang, menatap layar tablet yang disodorkan Anto dengan tatapan tajam. Di hadapannya, Anto tengah menari kegirangan bagai orang yang baru saja memenangkan lotre tingkat internasional.
Di sisinya, Imar yang telah santai, karena posisinya sebagai asisten manajer, seolah terganti oleh kehadiran Mila.
Meski misi memilih jodoh tinggal hitungan jam, dan Budiman baru saja menerima laporan keuangan terbaru dari 19 cabang pelosok yang ia bangun di wilayah buta sinyal, termasuk Siberut, Mentawai.
Sebelumnya, Budiman telah mendapatkan subsidi dari Tuan Hartono sebesar 80%. Jika pada awalnya 19 cabang pelosok itu harganya sengaja dinaikkan gila-gilaan sampai 10 kali lipat, berarti saat ini semuanya telah mendapatkan keuntungan lebih gila lagi
Sekarang, perhitungan di kepala Budiman, melebihi kecepatan tangan Mila yang sibuk mengetik hitungan kalkulatornya.
"Uda! Ini bukan lagi sekedar untung, Da! Budiman Mart di pelosok sana malah mendapat ledakan nuklir finansial!" pekik Anto, menunjuk-nunjuk grafik batang di layar yang melesat menembus batas di atas dokumen.
"Di cabang Siberut Mentawai yang paling rekor! Jauh lebih cepat perputaran uangnya dibanding tiga cabang pertama kita di daratan!"
Budiman mengangguk menunggu penjelasan si jamet. "Coba jelaskan? Kenapa malah sampai sebegitunya ledakannya?" Untuk pertama kali Budiman seserius ini mendengar penjelasan adik iparnya itu.
"Ide jenius Uda, benar-benar juara! Mana ada orang-orang memiliki pemikiran selangka ini?" Anto memukul meja dengan kagum.
"Uda kan sengaja buka cabang pas Mentawai, ternyata di sana lagi kedatangan gelombang turis asing dan peselancar dunia! Bagi bule-bule pemegang dolar itu, harga sepuluh kali lipat yang Uda pasang sama sekali tidak mahal bagi mereka."
"Mereka malah mengira itu adalah 'Premium Eco-Price' alias konsep retail eksklusif ramah lingkungan yang melindungi kelestarian pedalaman! Mereka borong semua stok sembako kita pakai dolar tunai tanpa tawar-menawar!"
Budiman mengangguk. Dia masih mencoba memacu semangatnya untuk membalikkan keinginan yang dulu bersemangat untuk miskin, sekarang mengubahnya untuk semangat menjadi kaya raya.
"Baik lah. Tapi bagaimana dengan masyarakat di sana jika seluruh pasokan di sana kalau diborong sama bule?"
"Ya, kita akan semakin aktif mengirim barang kita, kalau bisa dua kali dalam sehari. Selagi angkutan kita gratis, ya berlipat ganda lah hasil Budiman Mart di sana," terang si jamet yang telah berada di puncak kecerdasannya dibanding sebelumnya.
"Uda ..." Tiba-tiba kepala Mila menyembul dari balik tumpukan kardus dengan kalkulator ilmiahnya, matanya berbinar-binar dengan hasil analisi ilmiahnya.
"Ternyata, tak hanya sampai di sana, Da. Warga lokal yang tidak punya uang tunai ternyata tidak mau ketinggalan. Karena sistem kasir yang Uda buat dengan fleksibilitas lokal, mereka malah melakukan barter menggunakan hasil alam. Dan coba Uda lihat apa yang mereka bawa ke kasir Budiman Mart Siberut?"
Mila menyodorkan sebuah nota manual. Budiman membacanya dengan mata tajam. Warga lokal Mentawai membarter beras dan minyak goreng menggunakan potongan kayu gaharu asli berkualitas tinggi dan cengkih premium!
Di wilayah sana, barang-barang itu melimpah ruah tak berharga lagi bagi mereka, tetapi begitu masuk ke dalam pencatatan aset Budiman Mart, nilainya dikonversi menjadi jutaan rupiah per gram!
"Bukan hanya di Mentawai, Da," timpal Anto dengan wajah berapi-api.
"Di delapan belas cabang pelosok lainnya yang tidak ada sinyal itu, fenomena yang sama terjadi! Budiman Mart mendadak berubah fungsi jadi toke hasil alam terbesar se-Sumatera Barat! Kita menerima pasokan bahan alam premium langsung dari tangan pertama dengan harga modal sembako. Pergerakan uangnya melesat seribu persen lebih cepat dibanding cabang utama!"
Budiman menyandarkan punggungnya ke dinding gudang. Kedua tangannya terlipat dengan hitungan terus melesat. Logika manusia biasa telah kalah dengan mutlak.
Niat awal menaikkan harga 10 kali lipat untuk mengusir pembeli, tapi alam malah mendatangkan bule-bule kaya dan kayu gaharu bernilai miliaran ke mejanya. Di wilayah buta sinyal di mana dia berharap uangnya mati, modalnya justru berkembang biak dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Di sudut matanya, angka hitung mundur dari Sistem gilo perlahan berhenti berkedip. Warna kuning keemasannya mendadak mengunci rapat, disusul suara dentingan merdu yang menggema langsung di dalam otaknya.
[ DING! ]
[ Misi Darurat Selesai! Deteksi Saldo Rekening Utama: Mengalami Inflasi Total Akibat Lonjakan Aset Komoditas Premium Mentawai! ]
[ Status Perjodohan Dikunci: Anda Resmi Memasuki Jalur Charming Entrepreneur Abadi! ]
Sudut bibir Budiman terangkat dengan tajam. Ditatapnya langit-langit gudang cabang utama dengan memupuk semangatnya agar berapi-api Untuk pertama kalinya dalam setelah memiliki Sistem ini, Budiman tidak lagi memaki di dalam hati. Tidak ada jeritan frustrasi.
Bahu Budiman perlahan lebih rileks. Dia melihat tangannya sendiri, lalu melirik ke luar jendela di mana puluhan tronton sembako miliknya berbaris rapi di bawah kawalan ketat polisi, sementara antrean warga setulus hati menjaga rukonya.
Budiman tersenyum kecut, sebuah senyuman pasrah yang amat dewasa.
‘Baik lah ...’ batin Budiman dengan pasrah yang teramat dalam.
‘Kita akan menikmati permainan ini dengan usaha untuk bangkrut, tetapi malah mendapatkan hasil yang semakin meningkat ...’
"Anto, coba kamu hitung, berapa saldo yang ada di dalam rekening Budiman Mart!"
Meski ia telah melihat jumlah saldo tertera dalam layar hologram Sistem, tetapi ia ingin bekerja dengan cara lebih transparan pada semua karyawan yang mengikuti rapat ini.
Anto memainkan ponsel canggihnya dan matanya membelalak dengan sangat lebar.
"U-Uda ... Sejak kapan dana sebesar ini ada di perusahaan kita?" Jemari Anto bergerak cepat, matanya mengawang mencoba menghitung dana terakhir kali ia cek.
"Uda, masa dalam dua hari telah terkumpul ...."
[ bersambung ]