"maaf Ren, aku sudah menyembunyikan penyakit ku dari mu. aku harap, suatu hari nanti kamu mengerti maksud ku menyembunyikan penyakit ini." Luna Wijaya.
~~~~~~~~
sebelum membaca Novel ini, di saran kan untuk membaca novel sebelum nya ya. yang berjudul "Benih kakak tiri ku" agar kalian nyambung dengan cerita ini. baiklah, terimakasih banyak.
Luna Wijaya anak bungsu dari pasangan Elbra Wijaya dan Kania Azahra, awalnya ia adalah perempuan yang sehat dan aktif. Namun tak di sangka, sebuah penyakit membuat nya menjadi lemah. hingga membuat nya mudah pingsan, beruntung nya ada sang kakak yang mengetahui penyakit nya, dan sang kakak berniat ingin memberi tau orang tua nya mengenai penyakit Luna, namun Luna memohon untuk tidak memberi tahu siapapun soal penyakit nya karena sebuah alasan. bahkan Ren, teman sekaligus orang yang ia suka, tak ia beri tahu soal penyakit nya. bagaimana kah kondisi Luna kedepannya? apakah bisa sembuh? atau malah sebaliknya? yuk baca 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanzila mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anisa was bullied [chapter 29]
|Korea Selatan|
Di sebuah ruangan di rumah sakit, terlihat dokter seonghoon sedang telponan dengan seseorang.
*Pembicaraan di telpon
"Nuna, bisa kah Nuna datang ke rumah sakit?" Tanya seonghoon pada Jena.
"Nuna sedang ada kerjaan di Busan, memang nya ada apa?" Tanya Jena balik, ia heran pada sang adik yang tiba tiba menyuruh nya datang ke rumah sakit.
"Aku ingin Nuna melukis wajah Luna, Lusa dia akan di operasi, Nuna. Aku ingin ia bahagia sebelum di operasi." Jawab seonghoon yang ingin Nuna nya melukis wajah Luna.
"Wahh adik Nuna sangat perhatian ya. Tapi Nuna curiga, kamu suka ya sama Luna?" Tanya Jena yang merasakan ada hati yang sedang jatuh cinta.
"Hehehe, iya Nuna. Ntah kenapa, sejak ia di rawat di sini. Aku merasa nyaman di dekat nya." Jawab seonghoon yang mengatakan sejujurnya mengenai perasaan nya pada Luna.
"Jika kamu suka, kamu harus lebih berusaha untuk kesembuhan nya. Agar kalian bisa menjalani hidup bersama." Jawab Jena yang menyetujui wanita yang seonghoon suka, walaupun ia tahu jika wanita tersebut sedang sakit.
"Hidup bersama, maksud Nuna apa?" Tanya seonghoon.
"Apa kamu tak ada niatan untuk melamar nya setelah ia sembuh?" Tanya Jena yang membuat pipi seonghoon memerah.
"Apa sih, Nuna. dia masih terlalu muda, aku tak ingin mengambil masa muda nya terlalu cepat." Jawab seonghoon malu malu, sembari menahan bibir nya untuk tidak tersenyum.
"Good boy, ya Udah Nuna mau lanjut kerja ya. " Pamit Jena yang ingin melanjutkan pekerjaan nya.
"Tapi Nuna datang kan nanti?" Tanya seonghoon lagi untuk memastikan.
"Iya, Nuna usahakan akan datang besok." Jawab Jena yang berniat akan datang, walaupun ia ada kerjaan lagi besok di kota selanjutnya.
"Makasih banyak, Nuna. Saranghae." seonghoon.
______
|SMA tunas Bangsa|
Keesokan harinya. Di sekolah Ren, kini sedang ramai orang orang membicarakan Anisa. Karena permasalahan kemarin sudah menyebar ke seluruh kelas, hingga kini Anisa jadi bahan Bullyan di mana mana.
"Dasar sok alim, Diam diam ternyata mematikan ya." Ketus seorang perempuan yang terlihat sangat kesal mendengar berita tentang Anisa.
"Iya bener banget. Mending gak usah caper lagi deh ke Ren. Segitu nya Banget pengen caper ke Ren." Sambung teman si perempuan yang juga kesal pada Anisa.
"A-aku-"belum selesai ia berbicara, 2 perempuan itu pun kembali membully Anisa.
"Gak usah banyak alasan deh, ngaku aja kalo lu itu emang caper!" Ucap nya sembari mendorong pundak Anisa dengan jari telunjuk nya.
"Hahaha." Tawa mereka berdua yang senang melihat wajah terdiam Anisa.
"Cewek kayak lu ini pantes nya kita apain ya." Ucap perempuan tersebut sembari menatap Anisa dari atas hingga bawah.
"Kita coret coret aja gak sih mukanya?" Ucap Teman nya yang memberi saran.
"Hem, ide bagus. Biar dia gak punya muka lagi." Jawab nya dengan senyum penuh kejahatan.
"Hahaha." Tawa mereka berdua kompak.
"Oke, lu ada spidol kan?" Tanya perempuan tersebut pada teman nya.
"Lu kira gw kutu buku, yang bawa buku sama alat tulis ke mana mana." Jawab teman nya sembari menatap sinis ke arah Anisa.
"Hahaha, benar juga lu. Kita kan bukan anak Kutu buku kayak dia." Tawa si perempuan yang setuju dengan ucapan teman nya, sembari mata nya melirik menyindir ke arah Anisa.
"Nah berhubung nih anak kutu buku lagi bawa tas kecil, gw yakin pasti dia punya spidol. Ya semiskin miskin nya dia, seenggaknya dia punya pulpen lah." Ucap teman nya yang melirik ke arah tas kecil milik Anisa. Berniat ingin mengambil nya.
Mendengar itu, Anisa perlahan lahan mudur berniat ingin kabur. Namun, saat ia ingin kabur, siap nya ada kotak sampah yang menghalang jalan nya. Hingga membuat kaki nya terhentak dan membuat bunyi bising, yang menarik perhatian 2 perempuan tersebut.
BRAKK
"Ahh." Anisa meringis kesakitan, sembari mengelus kaki nya yang sakit.
"Wah wah, mau kabur lu ya. Lu kira bisa kabur dari kita. Hahaha, belum tau kita dia." Ucap si perempuan sembari berjalan mendekat ke arah Anisa.
"Iya, kalo lu belum tau. Sini biar kita kasih tau." Sambung teman nya, sembari menarik hijab Anisa agar mendekat ke arah nya.
Dengan sekuat tenaga, Anisa berusaha menahan hijab nya agar tak terbuka.
"Lu rakyat jelata, gak usah banyak gaya di sekolah ini. Lu gak tau siapa kita ha, bokap kita orang penting. Sedangkan bokap lu?..... palingan jadi ojol atau kuli, gitu kan?" Hina perempuan tersebut sembari mendorong tubuh Anisa ke dinding.
"Atau yang lebih rendah, TUKANG SOL SEPATU?" sambung teman nya yang sangat menekankan kata kata di akhir kalimat nya.
Mendengar itu, Anisa benar benar tak terima. Ayah nya sedang di hina sekarang, jika ia yang di hina mungkin ia masih bisa sabar. Tapi jika sang ayah yang di hina, Anisa tak bisa tinggal diam.
Plak!!
"Jaga ya bicara kalian. Ayah aku mungkin emang gak setinggi jabatan ayah kalian, dan gak sebanding sama gaji ayah kalian. Tapi uang yang ayah aku hasil kan itu halal, sedang kan ayah kalian, apa yakin halal?" Anisa begitu sangat kesal ketika ayah nya di Hina, walaupun pekerjaan ayah nya hanyalah seorang satpam. Tapi menurut nya itu sudah pekerjaan yang bagus dan hebat.
"Berani banget lu nampar gw!!" Bentak nya sembari mengangkat tangan, berniat ingin membalas menampar Anisa.
"Pergi." Ucap Ren singkat dengan wajah datar nya. Ia menahan tangan si perempuan yang ingin menampar Anisa.
"R-ren. Tapi kan-" ia belum selesai berbicara, Ren sudah mengusir nya lagi.
"Pergi sekarang juga!" Ucap Ren sekali lagi dengan penuh penekanan.
"Awas lu kutu buku, kali ini kita biarin lu bebas." Pasrah si perempuan lalu pergi, meninggal Ren dan Anisa. Sembari menatap Anisa dengan tajam.
"Kamu gak papa kan?" Tanya Ren sembari memegang pundak Anisa.
"Ga-gapapa kok." Jawab Anisa gugup saat di pegang pundak nya oleh Ren.
"Baguslah. Oh ya, boleh aku bertanya?" Izin Ren yang ingin menanyakan sesuatu pada Anisa. Sembari melepaskan pegangannya di pundak Anisa.
"Boleh, mau tanya apa?" Anisa pun berusaha menstabilkan suara nya, agar tak terlihat gugup.
"Soal kejadian kemarin. Itu beneran kamu?" Tanya Ren dengan raut wajah serius.
"I-iya, itu be-benar, Ren." Bohong Anisa sembari menundukkan kepalanya, agar tak terlihat sedang berbohong.
"Apa alasan nya, Anisa?" Tanya Ren kembali, rasanya ia masih belum percaya jika Anisa pelaku utama nya.
"A-aku minta ma-maaf, Ren." Jawab Anisa gugup, lalu berlari dari hadapan Ren. Meninggalkan Ren sendiri di sana.
"Ada apa dengan nya, kenapa dia tak tau alasan dari perbuatannya sendiri. Dari respon nya juga ia sangat tertekan. Aku harus cari tau kebenaran nya, aku tak yakin jika Anisa melakukan itu." Batin Ren sembari menatap kepergian Anisa yang sudah menjauh.
to be continued ~
maaf kan author yang sudah lama tak update. Author lagi gak enak badan, jadi gak bisa nulis dulu, terima kasih sudah mau menunggu 😁🙏🏻
see you tomorrow 👋🏻
Revan mending ke Alex aja deh🤣✌️✌️
Khawatir keadaan Ren yang lompat dari lantai 2 kalau terlalu lama updatenya🤭
Sefrustasi itu aku🤧🤧
Revan lu bener-bener, ya🫵👊👊👊
Itu resolusi bukan sih?😅
Yang ku mau itu, walau sulit rasanya🤧🤧🤧