Warning : Cerita ini hanya untuk pembaca dewasa
Pasca berakhirnya pertunangan dengan mantan kekasihnya yang kasar dan super toxic, Lila memutuskan untuk kembali ke Brisbane, kota tempat ia tumbuh bersama empat sahabat masa kecilnya yang dulu ia perlakukan sebagai kacung.
Henry, Jacob, Aiden dan Pierre. Mereka yang dulu Lila anggap sebagai anak buah, kini menjelma menjadi empat pria dewasa yang super tampan dan sangat mapan. Sementara Lila justru bertahan dengan sisa tabungannya dan honor sebagai novelis tidak terkenal yang sangat sedikit.
Setelah dipermalukan oleh Henry di acara reuni SMA, Lila justru mendapatkan kejutan demi kejutan tak terduga dari keempat sahabat masa kecilnya yang diam-diam mencintainya sejak lama.
Jika kamu suka cerita ini, jangan lupa like, coment dan follow ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azmi McFadden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Pria Arogan
"Apa yang sudah aku lakukan? Ya ampun!" Batin Lila. Ia terus merasa gelisah sejak insiden pelukan yang terjadi antara ia dan Jacob 20 menit yang lalu dan sekarang meski Jacob tak lagi berada di dekatnya, debaran itu masih belum hilang.
Ia tak mengerti, mengapa sekarang melakukan kontak fisik bersama teman-teman masa kecilnya terasa sangat sulit. Padahal dulu, berpelukan, saling menggendong dan tidur bersama bukan masalah besar yang membuatnya harus berdebar-debar seperti ini.
Ia menyentuh pangkal lehernya, ia mulai merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Bercinta dengan Pierre saat mabuk, tidur sambil berciuman bersama Aiden dan berpelukan dengan Jacob. Ia benar-benar berharap hal serupa tidak akan terjadi lagi antara ia dan Henry. Meski ia sangat yakin bahwa hal itu tidak akan terjadi mengingat bagaimana Henry sangat membencinya saat ini.
Setelah turun di halte bus, Lila harus melewati rumah mewah milik keluarga Walter yang super megah, di mana pewaris utama di keluarga super kaya ini adalah salah satu teman masa kecil.
Sejak ia bekerja di cafe, ia pasti melewati rumah ini untuk menuju halte bus. Jika biasanya ia tidak begitu peduli dengan rumah ini, namun hari ini berbeda. Ya, sangat berbeda dan pemicunya terjadi sejak malam di mana ia mabuk berat dan harus berhubungan intim dengan Pierre. Sejak kejadian tak terduga itu, kejadian-kejadian tak terduga dan sangat mengejutkan lainnya mulai terjadi dan itu membuatnya mulai waspada dengan penyebab terjadinya hal tak terduga berikutnya.
"Si brengsek itu akan ke Sydney besok. Aku tidak perlu mengucapkan salam perpisahan atau apapun padanyakan? Cih, siapa peduli?" Lila bergumam sembari berjalan melewati pagar tinggi rumah itu begitu saja.
Namun, seperti yang sudah bisa ditebak dari kisah ini. Sebuah mobil mewah melintas di belakangnya dan hendak masuk melewati pagar yang tertutup, di mana Lila berada tepat di depan pagar itu sehingga menghalangi jalan masuk.
Tin...tin...
Pengemudi mobil itu membunyikan klaksonnya, sontak membuat Lila terkejut dan serta merta menoleh ke belakang.
Jendela mobil itu terbuka, menunjukkan wajah manusia yang sangat menyebalkan baginya. Si pria sombong dan arogan yang selalu memandang rendah orang lain dengan tatapan dan mulut kotornya. Perasaannya mulai tidak enak, ia tahu jika ia tidak segera pergi, maka perdebatan sengit tidak akan terelakkan.
"Ck, si pelayan rupanya! Sedang apa kau? Mengintip rumah orang kaya ya?" Seru Henry sambil tertawa meledek. Lila yang sadar bahwa Henry mulai memantik api peperangan, mencoba untuk bersabar dan mengabaikannya.
Lila melanjutkan kembali langkah kakinya tanpa mengucapkan sepatah katapun agar Henry berhenti sampai di situ.
Tin...tin...
"Nona pelayan! Kenapa pergi? Tidak mau masuk dulu? Ada banyak makanan lezat dan mewah yang pasti tidak pernah kau cicipi!" Henry semakin berulah. Tindakannya benar-benar menguji kesabaran Lila sebagai seseorang yang pernah merontokkan gigi-giginya di masa lalu.
"Henry, sialan! Kau sengaja ya? Dasar brengsek! Lebih baik aku bunuh saja si bajingan ini." Batinnya. Kedua tangannya terkepal dan gemetar. Ia tak tahu mengapa setiap kali melihat wajah Henry, hasrat ingin memukul selalu muncul. Baginya, wajah Henry selalu terlihat seolah ingin dipukul.
"Kenapa? Pura-pura tidak dengar ya? Cih, dasar sombong! Orang miskin yang sombong itu benar-benar tidak tahu diri dan menjengkelkan!"
"Brengsek...! Siapa yang kau sebut orang miskin tidak tahu diri, hah...?"
Lila berlari seperti seekor macan yang siap menerkam seekor kijang yang sombong. Dengan tendangan mautnya, ia menghantam mobil mewah itu dalam satu kali serangan.
Bruuukkk...
Suara tendangannya terdengar sangat kuat bersamaan dengan suara teriakan kesakitan yang keluar dari mulutnya.
"Agh...sakit sekali! Kakiku...!" Punggung kakinya menghantam permukaan mobil yang sangat keras dan kokoh.
"Hahahaha...bagaimana rasanya? Sakit sekali ya? Dasar bodoh! Kau pikir sekuat apa kakimu itu?"
"Henry, aku bilang hentikan!" Ucap seorang wanita yang tiba-tiba keluar dari kursi penumpang dan langsung menghampiri Lila yang terduduk kesakitan.
"Ya ampun, apa kamu baik-baik saja? Sakit sekali ya?" Wanita itu dengan lembut melihat kondisi kaki Lila yang memerah dan sepertinya akan bengkak jika tidak segera diobati.
"Bibi Tatiana, aku baik-baik saja! Tidak apa-apa kok!" Ucapnya spontan saat melihat wajah wanita berambut pirang yang masih sangat ia kenali ini.
Menyadari bahwa wanita muda di hadapannya ini tahu namanya membuatnya langsung mengamati Lila dengan seksama selama 10 detik sebelum akhirnya dia terlihat bingung.
"Maaf, apa aku mengenalmu?"
"Dia Lila, Ibu!" Ucap Henry.
"Lila? Lila yang mana?"
"Cewek preman yang dulu sering menghajarku saat aku masih kecil!"
"Lila? Maksudmu Camila? Teman dekatmu dulu?"
"Dia sama sekali tidak menganggap aku teman!"
"Oh ya Tuhan, kau benar-benar Camila?" Ibu Henry terlihat sangat terkejut dan nyaris tidak percaya bahwa wanita muda cantik di dekatnya ini adalah anak perempuan yang dulu sering disangka laki-laki oleh banyak orang.
Lila yang kehilangan kata-kata hanya bisa tersenyum canggung. Dan sekarang, tampaknya ia harus terlibat dengan Henry meskipun dia sangat tidak ingin.
"Apa kabar, Bibi?" Ucapnya gelagapan. Henry terkekeh melihat reaksinya.
"Sudahlah tidak perlu berbasa-basi! Ibuku tidak perlu ditanyai kabar oleh orang sepertimu!"
"Ya ampun, Henry. Ada apa denganmu? Kenapa mendadak kau jadi banyak bicara seperti ini? Dari tadi ibu tanyai, kau selalu menjawab singkat. Ya sudah, bawa Camila ke dalam mobil! Aku akan mengobati kakinya!"
"Ti-tidak usah, Bibi! Aku akan pulang dan-"
"Apa-apaan ini, Ibu? Biarkan saja dia pulang! Dia baik-baik saja! Kakinya itu sangat kuat melebihi kaki gajah. Jadi, tidak ada yang perlu dicemaskan!"
"Tidak! Cepat bawa Camila ke dalam mobil!" Nyonya Tatiana sama menakutkannya seperti dulu. Kalau sudah mengatakan sesuatu, tidak bisa dibantah.
Lila dan Henry saling menatap benci, ini bukan situasi yang mudah untuk mereka hadapi tanpa Pierre, Jacob dan Aiden yang biasanya akan melerai jika terjadi perdebatan di antara mereka. Namun mereka tak punya pilihan selain mengikuti alur.
***
"Kapan kau kembali ke Brisbane?" Tanya Nyonya Tatiana Walter sembari membalut kaki Lila dengan perban yang telah diberi obat antiseptik.
"Bi-bibi, biar aku saja yang-" Lila yang merasa segan karena kakinya dipegang, berusaha untuk mengambil alih tugas membalut kaki ini.
"Tidak apa-apa! Biar aku yang melakukannya. Lagi pula kau terluka karena ulah Henry, jadi aku tidak bisa membiarkan putraku melakukan tindakan yang sangat tidak bertanggungjawab seperti itu."
"Apa? Kenapa jadi aku yang salah? Dia yang berlari seperti babi hutan dan menendang mobilku! Di mana letak kesalahanku?" Henry yang tak terima disalahkan, langsung protes.
"Sudahlah, tutup mulutmu itu! Jika tadi kau tidak mengolok-oloknya, dia tidak akan melakukan itu!"
"Apa? Kapan aku mengolok-olok dia?"
"Sudahlah, Bibi! Henry benar, ini salahku. Seharusnya Bibi meminta ganti rugi karena aku sudah menendang mobil itu, jadi-"
"Nah, itu dia! Tepat sekali! Mobilku lecet terkena tendangan tornadomu itu dan sekarang mobil itu harus dibawa ke bengkel. Kau harus membayar biaya ganti ruginya!" Ucap Henry dengan semangat memojokkan Lila yang langsung gelagapan dan merasa bodoh karena sudah mengungkit masalah ganti rugi segala, padahal ia tidak serius mengatakannya.
***