Vania Keisha Edward, hidupnya terasa begitu sempurna, terlahir menjadi seorang putri tunggal dari penguasa kaya raya membuat dia bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan dengan begitu mudah. Bahkan pria yang begitu ia cintai bisa dengan mudah ia dapatkan untuk menjadi calon suaminya.
Namun sebuah tragedi terjadi, bak tersambar petir. Suatu pagi dia tiba-tiba terbangun di sebuah pesantren dan akan di nikahi seorang lelaki yang tak dia kenal yang merupakan keluarga kiayi.
Apa sebenarnya yang terjadi dengan Vania dan akan seperti apa kehidupan Vania selanjutnya.
Ikuti cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batal Wudhu.
Afham sampai tersenyum kecil, memperhatikan Vania yang masih setengah sadar. Setelah dia menggendong nya dari kamar Khumaira istrinya itu minta di turunkan di sofa, alhasil sekarang sedang duduk mengumpulkan kesadarannya.
"Dek." Afham kembali memangilnya karena sepertinya Vania akan kembali tidur lagi. "Adek belum shalat isya kan, alangkah baiknya sebelum tidur lagi Adek shalat dulu." serunya kembali menyandarkan Vania.
"Iya." Dengan susah payah Vania menghilangkan kantuk nya, merenggangkan kedua kaki dan tangan untuk mengumpulkan kesadarannya. Akh, rasanya sungguh malas harus shalat malam-malam seperti ini, kalau bukan Afham yang mengingatkan nya, dia memilih tidur saja. "Apa aku harus shalat sendiri?" tanyanya semakin malas karena biasanya dia selalu menjadi makmum, dan dia tak harus membaca seluruh bacaan shalat karena mengikuti imam saja.
"Iya." Afham langsung mengiyakan, menatap sang istri dengan begitu seksama, dan setelah di perhatikan dia baru sadar dengan penampilan istrinya ini. Perasaan dia tidak memesan pakaian seperti ini, bahkan kalau di pinjam dari Khumaira lebih tidak mungkin.
Vania yang sadar akan tatapan Afham sampai tersenyum malu, menarik celana kulot nya yang sudah berantakan tak beraturan. Bahkan pahanya saja sudah terekspos semuanya. "Ini....Tadi saat di kantor aku meminta karyawan Daddy mengambilkan beberapa baju ku dari rumah." Dengan susah payah dia menjelaskan, bagaimana pun style seksi seperti ini bak sudah mendarah daging dengan, sampai rasanya tak mudah di hilangkan. "Tapi aku akan menggunakan ini saat di kamar saja, kok. Janji." ucapnya lagi dengan begitu cepat, takut suaminya berpikiran yang tidak-tidak.
Afham sampai tersenyum simpul, "Kenapa tak bilang, aku bisa membelikan yang baru." ucapnya sambil mengelus kepala Vania dengan rambut yang sudah acak-acakan. Dia bahkan langsung menggerai rambut itu dan merapihkan nya. "Kalau di kamar bersama ku, lebih seksi dari ini juga tidak apa-apa." bisik nya sambil menggoda.
Vania sampai malu sendiri, langsung memalingkan muka mengalihkan topik pembicaraan, "Akh, sepertinya aku harus wudhu sekarang." ucapnya sambil beranjak berdiri, mendadak salah tingkah, hanya dengan bisikan itu saja hatinya sampai kembang-kempis tak karuan. "Aku wudhu dulu, Kak." ucapnya melangkah pergi.
Afham sampai terkekeh, terlebih terlihat jelas kalau Vania mengalihkan kegugupannya. "Salah pintu, Dek. Kamar mandi sebelum kiri." ucapnya saat melihat Vania melangkah dengan salah arah.
"Akh iya. Hampir lupa." Vania sampai menyeringai kuda. Bisa-bisanya di saat seperti ini dia malah lupa pintu kamar mandi sebelah mana, bikin tambah malu saja.
Afham pun perlahan bangkit, menuju ruang pakaian untuk mengganti pakaian, dan setelahnya dia langsung menuju kamar mandi untuk menyusul Vania.
Pintu kamar mandi Afham buka, dan benar saja, sesuai bayangan, istrinya itu malah duduk santai di wastafel kamar mandi yang ukurannya cukup besar, dan sangat cocok untuk bermalas-malasan.
"Astaghfirullah, Kak." Vania sampai kaget dengan kemunculan Afham yang begitu tiba-tiba, mata yang sudah hampir terpejam kini melotot kembali. "Mau apa Kak?" tanyanya mengalihkan rasa malunya sambil perlahan turun. Bisa-bisanya dia kepergok dalam posisi seperti ini.
"Mau Wudhu, Dek." Afham langsung mendekati sebuah keran mulai menggulung lengan baju tidur nya dan mengucurkan air.
Vania yang merasa ada yang menemani langsung melakukan hal yang sama, bahkan dengan begitu cepat. Setelah selesai pun dengan cepat langsung mengambil handuk kecil, sampai sampai ujung kaki nya tanpa sengaja bersentuhan dengan kaki suaminya.
Afham yang baru beres wudhu sampai langsung berdiri tegak, "Adek mau ke mana?" tanyanya saat melihat Vania hendak keluar, padahal jelas mereka tadi bersentuhan.
"Sholat?"
Afham sampai tersenyum kecil, melihat kepolosan itu, sepertinya dia belum mengajarkan hal ini pada Vania, "Sini!" ucapnya meminta Vania kembali. Dan saat istrinya benar-benar mendekat dia langsung mengangkat tubuh itu dan kembali dia dudukkan di wastafel.
"Kak." Vania sampai kaget. Terlebih dengan posisi sekarang kini Afham benar-benar ada di hadapannya dengan posisi wajah yang hampir sejajar, karena dia duduk di atas wastafel. "Ada apa?"
"Dek, di antara hal yang membatalkan wudhu adalah bersentuhan kulit lelaki dan perempuan yang sudah baligh dan bukan mahram, tanpa terhalang oleh kain. Dan jika itu terjadi Wudhu kita batal dan harus di ulangi." jelas Afham tanpa mengalihkan pandangannya dari Vania. Biar dia perlahan mengajarinya sembari di praktekkan.
Menurut mazhab Syafi i, yang berlandaskan dalam kitab Safinatun Najah, ada empat hal yang membatalkan wudhu. Pertama keluarnya sesuatu dari salah satu kemaluan. Ini mencakup keluarnya segala sesuatu dari kemaluan, kecuali air mani. Yang kedua kehilangan akal seperti tidur, kecuali jika tidur dilakukan dalam posisi duduk yang rapat. Yang ke tiga, bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan yang sudah baligh dan bukan Mahram tanpa penghalang. Dan yang ke empat. Menyentuh Kemaluan orang lain atau diri sendiri
"Bukan mahram?" Vania sampai bertanya-tanya, mereka kan suami istri, bukan orang lain. "Kok bisa?" tanyanya polos dan detik selanjutnya langsung menyeringai saat Afham mencubit ujung hidung nya. "Makanya jelaskan aku kan tidak tahu."
Afham sampai tersenyum simpul, benar-benar pekerjaan ekstra, tak mengenal waktu tak mengenal tempat, dia benar-benar harus menggurui istrinya ini, bahkan saat di kamar mandi sekalipun.
"Wudhu menjadi batal karena pasangan suami istri bukanlah mahram. Seorang perempuan disebut mahram jika perempuan tersebut haram untuk dinikahi oleh seorang laki-laki. Sebaliknya, seorang perempuan disebut bukan mahram bila boleh dinikahi oleh seorang laki-laki. Sepasang suami istri adalah dua orang berbeda jenis kelamin yang boleh menikah. Karena keduanya diperbolehkan menikah alias bukan mahram, maka saat bersentuhan kulit tentu wudhunya menjadi batal. Dek." jelas Afham dengan begitu rinci.
Vania sesaat terdiam, mencerna semuanya dan kini kembali fokus menatap Afham. "Jadi kita harus Wudhu lagi." ucapnya malas, kalau wajahnya terus terkena air, sudah pasti kantuk nya benar-benar hilang dan dia bisa tak tidur semalaman. "Kak Afham sih, malah menyentuh ku. Jadi harus Wudhu lagi."
Afham kini benar-benar terkekeh melihat ekspresinya itu, ngedumel dengan bibir cemberut, "Adek yang mulai. Aku hanya mengingatkan." jelas nya sambil melingkarkan tangannya di pinggang Vania. Tidak sadarkah ekspresi itu terlihat begitu lucu.
"Aku?" Lagi-lagi Vania memasang wajah polosnya, dan langsung mengajak suaminya untuk Wudhu lagi. "Ya sudah. Ayo kita wudhu lagi." ucap nya begitu percaya diri menggerakkan tubuhnya ingin turun, detik selanjutnya baru sadar kalau kedua tangan Afham dan tubuh nya sudah menghimpit dan memeluk nya dengan erat sampai dia tak bisa bergerak. "Kak." Panggilnya saat tatapan Afham terlihat begitu hangat dan dalam, dia tahu ada arti di balik tatapan itu.
"Apa?" tanyanya dengan seulas senyum membalas senyum Afham.
"Apa tak keberatan melakukannya malam ini?" Afham langsung bertanya, menggerakkan tangannya mengelus bibir yang tadi cemberut itu dan perlahan mencium nya. Kalau Daddy-nya sudah memberi mereka kode, memulai nya lebih cepat akan lebih baik. "Tapi kalau masih belum siap kita memulai nya lain waktu." ucapnya lagi.
Vania hanya mengangguk dengan senyuman, tangannya perlahan bergerak melingkar di tengkuk Afham, seolah berkata dia siap melakukan malam pertama dengan suaminya ini. Bahkan saat Afham kembali mencium nya dia langsung memejamkan mata, menikmati setiap gerakan dan sentuhan bibir sang suami, yang semakin lama semakin dalam dengan ritme irama yang beraturan.
Afham menghentikan ciuman itu, menatap wajah yang sudah bersemu merah dengan senyuman. "Adek shalat isya dulu, setelah itu kita sholat sunah dua rakaat." tutur sambil mengecup kening Vania, dan menempelkan keningnya di sana.
Harus shalat isya dulu, dan setelah itu harus shalat lagi, "Kenapa harus shalat dua rakaat dulu. Apa tidak langsung saja." ucapnya dengan malu-malu tanpa melepaskan rangkulannya di di tengkuk Afham. Baru juga dia di buat melayang dengan ciuman suaminya yang begitu dalam, sekarang harus terhempas lagi.
Afham sampai tersenyum kecil, kembali menyentuh hidung istrinya itu dan mencubit nya dengan pelan, rupanya Vania lebih nakal dari dugaan nya, "Sesuatu yang baik harus di mulai dengan hal baik, Dek." ucapnya sambil kembali mengecup bibir itu. Setelahnya dia langsung menurunkan Vania, agar istrinya langsung mengambil wudhu pun dengan dirinya.