NovelToon NovelToon
Living The Underworld

Living The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Kaya Raya / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia / Trauma masa lalu / Lari Saat Hamil
Popularitas:17k
Nilai: 5
Nama Author: Dignity

Millie Peterson.

Seorang pelukis muda berbakat, baru saja membuka galeri di pusat kota New York. Kehidupannya selalu teratur dan berjalan sewajarnya. Namun, semuanya berubah setelah malam peresmian pembukaan galerinya.

Orion Alano.

Seorang pria kaku dan kejam, ditakuti oleh siapa saja yang mengenalnya. Tidak pernah mengenal yang namanya cinta, sampai suatu malam dia bertemu dengan seorang wanita yang membuatnya merasa tertantang. Pada akhirnya, rasa penasaran semakin mendekatkan wanita itu padanya.

Siapakah Millie? Dan, takdir macam apa yang mengaitkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dignity, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Aku menggaruk-garuk dagu sementara berjalan ke dapur, mencoba mencari alasan kenapa aku setuju pergi ke Jamestown dengan Millie. Aku bahkan belum menemukan cara menyelesaikan masalah sebelumnya, dan sekarang justru menjerumuskan diri ke dalam mimpi buruk lainnya.

Susan. Atau Eloisa.

Dia ibu sahabat-sahabatku, yang sudah seperti ibu kandungku sendiri, dan kenanganku akan dirinya masih begitu jelas. Eloisa suka menyanyi dan seringkali suaranya menggema di antara ruangan mansion Alonzo selagi dia bermain dengan anak-anaknya atau memasak di dapur. Parasnya sangat menawan, dengan rambut sehitam arang dan mata hijau terang yang kadang sejuk, kadang garang, tergantung suasana hatinya. Sikapnya begitu hangat dan tulus, tetapi keteguhan yang membuatnya lebih layak dikagumi. Eloisa merupakan pilar penting dalam keluarga kami sehingga ketika di pergi, duka yang kami rasakan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dia yang membuat Alonzo tetap tenang, dan pria berubah liar dan menggila setelah kepergiannya.

Aku terjebak dalam situasi ingin berjumpa dengannya dan takut melihatnya. Sudah lama sekali, tetapi aku penasaran bagaimana pendapatnya tentang semua ini? Aku hanya bisa membayangkan dia tidak terkejut. Selama bertahun-tahun dia berusaha melindungi Millie dari kehidupan ayah kandungnya, dan tanpa diduga sekarang malah kembali ke tempat semula karena aku. Akankah dia marah padaku? Apakah dia akan melarangku berhubungan dengan putrinya seperti Alonzo? Atau apakah dia akan memaksaku memberitahu Millie?

Begitu melihatku berdiri di ambang pintu rumahnya, dia akan langsung mengenaliku, dan bagaimana kelanjutannya tidak lagi bergantung pada pilihanku.

"Jadi, bagaimana kita harus memanggilnya sekarang?" Javer meneguk kopi. Dia, Tom, dan Damien duduk di meja makan sementara Ellen, asisten rumah tanggaku, meletakkan piring-piring makanan di depan mereka.

"Kurasa Millie. Alonzo dengan tegas mengatakan dia tidak boleh mengetahui apapun tentang asal-usulnya." Damien mengangkat bahu.

"Well, persetan dengan Alonzo. Kupikir itu hanya omong kosong belaka." Javer menolak percaya alasan Alonzo, dan jujur aku tidak bisa menyalahkannya. Saat aku aku berada di tempat yang kurang menguntungkan, satu kesalahan saja, maka akulah yang akan menjadi kambing hitam.

"Cukup." perintahku. Kepala mereka sontak berputar, tidak menyadari kedatanganku. "Tidak peduli sebesar apa kekecewaan kita, Alonzo masih orang nomor satu dalam keluarga, dan kita harus menghormati permintaannya." Aku menduduki kursi di samping Javer. Ellen meletakkan piring di depanku, tetapi aku tidak selera menelan apapun.

"Dia hanya berkuasa di Italia, Orion. Sementara kau mengendalikan seluruh Amerika, kau harus mengambil keputusan sendiri." Damien mengingatkanku, seakan-akan aku lupa.

Dalam beberapa hal, dia benar. Aku yang bertanggung jawab atas bisnis kami di Amerika, dan pada saat yang tepat akan meluas hingga ke seluruh dunia setelah Alonzo meninggal. Tetapi sampai hari itu datang, aku merasa masih harus mematuhi perintahnya, khususnya masalah yang satu ini.

"Dan aku memutuskan kita akan melakukan apapun yang dia inginkan, setidaknya untuk saat ini. Tidak ada yang berubah. Millie tetap berada di bawah pengawasan kita, dan masih banyak orang di luar sana yang mengincarnya. Jadi, dia tidak boleh mengetahui soal ini, paham?" tanyaku, lebih kepada formalitas. Aku tahu mereka akan menurut sekalipun tidak setuju. Kepercayaan kami terhadap satu sama lain tidak terbatas, itu satu-satunya cara bertahan di lingkungan ini.

"Sangat." Nada Javer menyiratkan kekesalan, dan dia tidak menatapku. Aku tidak biasa melihatnya marah seperti ini. Biasanya dia yang menenangkanku, tetapi kali ini malah terbalik. Situasi ini membuat kami sangat emosional, yang berarti kami harus bertahan demi mencapai tujuan utama, yaitu menyelamatkan Millie.

"Bagaimana rencana pengiriman barang yang akan datang?" tanyaku, mengingatkannya bahwa ada tanggung jawab lain yang harus dikerjakan. Kami hampir menandatangani kontrak dengan geng di luar Los Angeles.

Federico membentuk kelompoknya di dalam penjara. Jumlah mereka tidak banyak, namun keberanian mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Kebanyakan geng seperti itu. Setidaknya para mafia memiliki kode etik pekerjaan yang jelas. Ada peraturan yang harus diikuti, adab profesional dijunjung tinggi, bukan bebas bertindak layaknya gengster. Aku was-was menjalin kerja sama dengan mereka, tetapi mereka rela membayar lebih tinggi untuk pasokan senjata dan ini murni bisnis. Federico sangat gigih dan selalu menginginkan yang terbaik, jadi kami akan memdapatkan keuntungan yang sangat besar jika prosesnya berjalan sesuai rencana.

"Semuanya sudah siap. Tom dan aku akan berangkat tiga puluh menit lebih awal untuk pengecekan terakhir. Setelah memastikan semuanya beres, kami akan mengabari sehingga kalian bisa datang. Agen FBI sialan yang pernah berkencan dengan Millie itu benar-benar mengganggu pekerjaan kita. Polisi mulai berdatangan memantau kegiatan di gudang, jadi kita harus ekstra hati-hati." Javer menjelaskan. Aku sudah mendengar kalimat terakhirnya sebanyak ribuan kali, tapi dia benar. Setiap detail sangat penting dalam bidang ini.

"Bagus. Nanti siang Millie dan aku akan berangkat ke Rhode Island. Kuusahkan pulang secepatnya agar bisa ikut pengiriman malam ini. Jam tiga pagi, kan?"

"Kau mau kemana?" Damien memandangku seolah aku bicara dengan bahasa monyet.

Aku tidak suka menjelaskan setiap kali ingin melakukan sesuatu. Kepalaku sudah pusing karena masalah yang tidak ada habisnya, ditambah lagi cemas akan bertemu Eloisa, kesabaranku mulai menipis.

"Dia ingin mengunjungi keluarganya." jawabku datar.

"Tidakkah menurutmu Eloisa akan mengenalimu?" Javer menimpali.

"Tentu saja dia mengenaliku. Tetapi hubunganku dengan Millie sedang tidak baik, dan tidak mungkin aku mengatakan alasan sebenarnya kenapa aku tidak mau bertemu ibunya, hm?"

"Ini benar-benar pertunjukan konyol, kau tahu itu, kan? Apa yang membuatmu berpikir Eloisa tidak akan mengungkap siapa dirimu yang sesungguhnya begitu melihatmu?" Javer membanting garpu ke atas meja dengan frustasi.

"Tidak akan. Kita semua memiliki satu tujuan yang sama, yaitu menjaga Millie, dan sadarlah kebenaran hanya akan memperburuk keadaan."

"Bagaimana bisa kau berhadapan dengannya setiap saat dan tidak melihat Alessandra? Kita kehilangan dia selama bertahun-tahun dan sekarang harus mengabaikan keberadaannya?" Damien tersengal-sengal, jelas termakan ucapan Javer.

"Oh, astaga... Karena ini pekerjaanku!" desisku geram. Topik ini terus meningkatkan kesalahpahaman sepanjang pagi ini. "Dan tugasmu hanya mendukung keputusanku, jangan banyak tanya. Kalau kau tidak bisa menerima itu, Damien, dengan senang hati aku akan mencari orang untuk menggantikan posisimu. Ini berlaku bagi kalian semua. Kepalaku sudah cukup pusing tanpa harus memikirkan kalian. Silahkan mundur dari sekarang kalau kalian keberatan."

"Kami ikut." ujar Javer, agak melunak. "Kita tidak boleh jatuh karena masalah ini."

"Bagus. Dan, kecuali ada perubahan, aku tidak mau membicarakan ini lagi. Oh, jangan sampai informasi tentang Millie atau Alessandra bocor. Pastikan hanya kita berempat yang tahu."

Tidak seorangpun mengiyakan, namun tidak juga berkomentar.

Beberapa menit kemudian, Millie menuruni anak tangga, tampak sudah siap. Dibandingkan apapun, aku lebih gugup menghabiskan tiga jam di dalam mobil dengannya. Berbohong sudah menjadi santapanku sehari-hari, gaya hidupku mengharuskan itu, tetapi berbohong padanya terasa sangat menyakitkan. Dan aku merasa jijik pada diriku karena menyimpan rahasia tentangnya dari dirinya sendiri.

"Hati-hati, ya." Javer melambaikan tangan saat aku dan Orion masuk ke mobil, bersiap memulai perjalan ke rumah orang tuaku.

"Ya, sampaikan salam kami pada mereka." Damien menyeringai, dan Orion melemparkan tatapan tajam ke arahnya sambil memasang sabuk pengaman dengan keras hingga hampir membuatku tersentak. Dia punya keahlian melakukan hal sederhana menjadi sangat menegangkan.

"Tidakkah menurutmu sikap mereka agak aneh?" Aku mengerutkan kening, memperhatikan keduanya saling memukul sebelum masuk ke rumah. Tempat ini terasa seperti asrama kecil, dan aku tidak suka mengakui melihat tingkah mereka mulai membuatku terbiasa.

"Mereka selalu aneh." kata Orion, menepis segala kekesalannya pada Damien. Dia menyalakan mobil, keluar dari pekarangan mansion dan melaju dengan cepat.

"Bisakah kau pelan sedikit? Aku ingin pulang dalam keadaan utuh." ketusku, menaikkan alis. Aku bisa melihat dia tidak mau membicarakan isi pikirannya dan sebisa mungkin berusaha menutupinya. Biasanya ekspresinya selalu datar sehingga sulit bagi orang lain menebak suasana hatinya, namun hari ini berbeda.

"Maaf," katanya, memegang pahaku. "Aku sedang banyak pikiran."

"Kutebak kau tidak mau berbagi denganku..." Aku sangat yakin apa responnya.

"Tidak." Nah, kan. "Aku tidak mau."

"Ingat waktu kau mengatakan tidak akan menyembunyikan apapun dariku?" gumamku mengingatkannya.

"Dan, ingat saat kau setuju bahwa aku hanya akan mengatakan sesuatu yang pantas untuk kau ketahui?" Dia menyeringai. "Bukan masalah penting, sungguh. Pembukaan klub di Miami membuatku lebih pusing dari yang kuperkirakan,"

"Oh, adakah yang bisa kulakukan untuk membantu?"

"Kau sudah membantu." Dia tersenyum, meraih tanganku dan menciumnya. "Kau membantuku dengan menjadi dirimu sendiri. Lagi pula, aku lebih suka mengabaikan pekerjaan sejenak ketika denganmu. Sekarang, bagaimana kalau kita membicarakan yang lain?"

1
Abyan FH
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!