Terbit : 10 July 2020
Nama Author : Rizkaa
SLOW UPDATE!
Kehidupan mengajarkan kita untuk terus berjuang, sama halnya dengan gadis bernama Crystal. Ia hidup dengan penuh rintangan, kebohongan, ketakutan, dan terakhir yaitu kehilangan.
Saat ia sudah hampir merasakan bahagia, dunia seolah membalikkan kehidupan Crystal secara paksa. Ketakutan karna diancam dan kehilangan seseorang yang dicintainya, Crystal juga sudah melewatinya.
“Mom akan terus melindungimu, son.”
Kata terakhir sebelum ia benar - benar pergi dan kehilangan cintanya.
Ikuti terus ceritanya dan jangan lupa tinggalkan Like , Komen dan Votenya ya guys:)
Yuhuuu....
Enjoy baby!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizkaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cassandra pengacau
“Kau mau memesan apa?.” Joenathan memperhatikan menu makanan tanpa menatap Berlin.
“Terserah kau saja, samakan denganmu.” Berlin mengetuk - ngetuk jarinya dimeja. Ia masih tidak percaya dengan ucapan Mark tadi.
“Apa kau masih memikirkan kejadian tadi? Bahkan Uncle Mark menginginkan kita bersama.” Joenathan meraih tangan Berlin, menggenggamnya erat. “Menikahlah denganku, aku tau kau masih tidak mencintaiku tapi berbeda denganku yang sudah tertarik padamu sejak pertama kali kita bertemu.”
“Omong kosong! Kita bahkan hanya beberapa kali bertemu.” Berlin menarik tangannya kembali, tapi kenyataannya ia juga sudah tertarik pada Joenathan.
“Itu tidak masalah, selama orangtua kita merestui aku akan selalu memperjuangkanmu.” Joenathan tersenyum, ia mengatakannya dengan sungguh - sungguh.
“Kita fokus saja pada pernikahan Crystal dan Harry, aku masih tidak ingin memikirkan hubungan kita.” Berlin memalingkan wajahnya.
Joenathan hanya mengangguk, ia dan Berlin kembali menikmati makanan mereka tanpa pembicaraan lagi. Joenathan mengantar Berlin pulang, mereka berdua masih tidak berbicara satu sama lain.
****
Crystal menggeliat pelan, ia merasakan tangan kekar berada diperutnya. Crystal sudah menduga bahwa itu Harry, ia mengerjapkan matanya mencoba menyesuaikan sinar matahari yang menembus dari balik gorden.
”Hum, kau sudah bangun?.” Harry kembali merapatkan tubuh mereka berdua.
“Ya--.”
Gedoran pintu menghentikan ucapan Crystal. Harry mendengus kesal, jelas ia tau siapa yang sepagi ini membangunkan mereka.
“Kakak, Kakak Ipar. Apa kalian hanya akan tidur? Besok kalian akan menikah kenapa kalian hanya bersantai!!.” Teriakan Grace mampu memecahkan gendang telinga Harry dan Crystal.
“Beri kami waktu 10 menit untuk--.”
“Tidak ada waktu untuk kalian, cepatlah bersiap Kakak Ipar, Mommy mengajak kita untuk melihat gedung yang akan didekorasi.” Suara Grace pun menjauh dari kamar Crystal dan Harry.
“Lepaskan tanganmu, aku mau pergi mandi.” Crystal menarik tubuhnya menjauh dari dekapan Harry.
“Kita mandi bersama saja biar lebih cepat.” Harry tersenyum nakal, ia mengedipkan satu matanya.
“No! Besok kita menikah jangan lakukan hal yang tidak - tidak!.” Crystal berlari ke arah kamar mandi tanpa menghiraukan Harry lagi.
Drrttt...
Ponsel Harry berdering, ia dengan malas meraih ponselnya yang terletak diatas sofa. Harry meletakkan ponselnya kembali setelah melihatnya karna nomor itu tidak dikenal.
Drrttt...
Harry dengan kesal mengangkat telfon itu. “Siapa kau?.”
“Benarkah kau tidak mengingatku lagi? Oh ini sangat menyedihkan sekali, aku bahkan sangat merindukanmu Harry.” Suara wanita disebrang sana terdengar setengah mengejek.
“Casie!.” Harry membelalakkan matanya, ia sangat terkejut ketika yang menghubunginya adalah Cassandra.
“Ck rupanya kau masih mengingat suaraku, rasanya aku ingin kembali ke masalalu lagi.” Cassandra tertawa riang.
“Heh, kau pikir aku akan menerimamu lagi? Jangan mimpi!.” Harry memutus panggilan sepihak, ia pun mematikan ponselnya.
Crystal keluar dari kamar mandi, ia menatap Harry bingung karna wajah Harry yang terlihat pias. “Sayang ada apa?.”
Harry mundur dua langkah. “Tidak, tidak ada apa - apa.”
“Hum, aku akan ikut bersama Grace dan Mommy. Apa kau juga akan ikut?.” Crystal memasuki Walk in closet. “Kalau kau ikut aku akan menunggumu.”
“Tidak pergilah, aku ada urusan dengan Daren.” Harry masuk kedalam kamar mandi dengan buru - buru.
Crystal pun menuruni tangga dengan hati yang bahagia, terlihat Grace diujung tangga sedang bersedekap. Crystal hanya terkekeh melihat tingkah laku adik iparnya yang menggemaskan.
“Mommy dan Daddy sudah berangkat terlebih dulu, apa kalian tadi sedang berciuman? Kenapa lama sekali?.” Grace menyipitkan matanya, ia melihat Crystal intens.
“Omong kosong! Aku dan Kakakmu tidak pernah berciuman.” Crystal mengedikkan bahunya, kenapa adik iparnya bisa berbicara seintim itu padanya.
“Mana mungkin, aku bahkan dulu pernah memergoki Kakak sedang berciuman dengan Cassandra.” Grace mendahului Crystal tanpa menoleh lagi. “Cassandra sangat menyukai ciumannya dengan Kakak, dia pernah bercerita padaku.”
Crystal tersedak air liurnya sendiri, ia kemudian menepuk dadanya agar batuknya mereda. “Ehem, apa Harry sangat mencintai Cassandra.”
“Iya, Kakak dulu sering mengajak Cassandra menginap disini. Kau tau Kakak sampai membuatkan dia satu kamar istimewa yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang.” Grace tanpa sadar sudah menceritakan sedikit tentang Cassandra.
“Lalu?.” Crystal semakin penasaran, bagaimana istimewanya Cassandra dihidup Harry.
“Oh Gosh! Kakak Ipar maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membuat Kakak Ipar terluka.” Grace memeluk Crystal, ia membenamkan wajahnya didada Crystal. “Maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja.”
“Bodoh, aku tidak marah padamu Grace. Aku bahkan ingin kau lebih terbuka kepadaku.” Crystal mengusap kepala Grace. “Kau boleh menceritakan apa saja padaku, sekalipun itu masalah pribadimu.”
Grace mengangkat wajahnya. “Benarkah? Apa aku benar - benar boleh menceritakan semuanya padamu?.”
“Tentu saja, aku ini Kakak Iparmu.” Crystal tersenyum.
“Oh aku sampai lupa, kita harus pergi sekarang.” Grace menarik tangan Crystal untuk segera pergi dari mansion mereka.
***
Harry pergi ke apartemen milik Daren, ia kini sedang duduk dibalkon dengan satu botol wine dan satu gelas kecil yang dipegangnya. Harry meneguk secara perlahan wine yang ditangannya.
Daren yang sedang bersiap - siap pun mengalihkan pandangannya pada Harry, Daren menghampiri Harry, ia juga ikut mendudukkan bokongnya disebelah Harry.
“Kau tidak menyiapkan pesta pernikahanmu?.” Daren menuangkan wine kedalam gelasnya.
“Tidak, aku sedang banyak pikiran.” Harry kembali menuangkan wine pada gelasnya.
“Apa yang menganggu pikiranmu? Bukankah besok adalah hari bahagiamu bisa menikah dengan orang yang kau cintai.” Daren menepuk bahu Harry pelan. “Ceritakan saja.”
“Casie, ehem, maksudku Cassandra tadi pagi menghubungiku.” Harry tertunduk, ia gelisah memikirkan Cassandra jika saja Cassandra menghancurkan pernikahannya.
“Darimana dia tau nomormu?.” Daren terkesiap. “Aku sudah memantaunya sejauh ini, bagaimana mungkin dia bisa mempunyai nomormu.”
“Aku juga tidak tau, rasanya aku ingin mencabik - cabik dirinya.” Rahang Harry mengeras, ia melempar gelas ditangannya sembarang arah.
“Tenanglah, aku yakin Cassandra masih tidak tau mengenai pernikahanmu.” Daren mencoba menenangkan amarah Harry. “Besok kau akan menikah, setelah itu dia tidak akan mengganggumu lagi.”
Harry mengacak rambutnya frustasi. “Apa kau tau hal tentang Yuda?.”
Daren menggeleng, “Tapi aku mendengar bahwa dia saat ini sedang sakit parah, aku juga tidak tau pasti dimana dia sekarang.”
Harry meraih kunci mobil serta mantelnya. “Aku akan pergi menemui Crystal, jika ada yang penting hubungi aku secepatnya.”
Harry mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, saat berhenti dilampu merah Harry melihat sosok wanita yang tidak asing baginya. Wanita itu terlihat sedang dipapah oleh seorang pria yang seumuran dengannya, Harry mencoba menimang penglihatannya tapi suara klakson menghentikannya.
Harry pun melajukan mobilnya kembali, ia tidak berpikir tentang wanita itu lagi. Harry tiba digedung yang akan diadakannya pernikahan dirinya dan juga Crystal.
“Bi, apa kau melihat Crystal?.” Harry bertanya pada Bi Emi yang sedang mengangkat kardus.
“Oh, Nona Crystal baru saja pergi kerumah sakit.” Bi Emi meletakkan kardus itu disampingnya kemudian membungkuk pada Harry.
“Kerumah sakit? Siapa yang sakit?.”
“Saya tidak tau Tuan, permisi.” Bi Emi meninggalkan Harry dengan pertanyaan - pertanyaan mengenai siapa yang sakit.
Harry pun meraih ponselnya, kemudian mengaktifkannya untuk menghubungi Crystal. “Sayang, kau ada dimana?.”
“Maafkan aku Harry, baru saja Lexa menghubungiku kalau Mommy terjatuh saat pergi arisan.” Suara Crystal terdengar sangat khawatir.
“Apa Lexa tadi bersama Mommymu?.” Harry mengingat wanita tadi saat dijalan.
“Tidak, Lexa tadi pergi kerumah orangtuanya. Apa kau bisa melanjutkan sisa pekerjaan disana? Aku mungkin akan kembali saat Mommy sudah diperbolehkan pulang.”
“Kau tenang saja, aku akan menyusulmu setelah pekerjaan disini selesai.”
“Baiklah, sampai jumpa.” Crystal memutus panggilannya.
Harry memikirkan kembali siapa tadi yang memapah Adrine, terlihat sekali mereka berdua sangat intim. Harry sangat penasaran dengan sosok pria tadi.
Huhu... Author pengen banget up sehari 3 kali tapi Author ga bisa, pikiran Author buntu:(.
Up segini dulu ya.
Enjoy baby!.
cuman terkesan buru² cerita ya
GK ada pagi siang MLM,