"Kematian adalah kepastian. Kabar baiknya, kau bisa menentukan bagaimana cara kau akan mati. Apakah dengan cara terhormat, ataukah terlaknat."
#Arsyelin
Arsyelin Wangsaguna adalah sorang detektif muda berbakat. Lulusan akademi detektif ternama dengan reputasi yang diakui seluruh dunia. Dalam petualangannya mengasah kemampuan, ia bertemu dengan sosok jin yang menyeretnya paksa untuk menemukan pembunuh teman manusianya. Sialnya, sosok jin dengan paras rupawan itu tak mau pergi meninggalkannya meskipun kasus kematian temannya telah berhasil ia ungkap.
Dan sungguh diluar dugaan, ternyata kasus kematian dengan organ yang hilang itu hanyalah puncak dari sebuah gunung es di lautan dalam. Yang mana kasus-kasus itu membawanya bertemu dengan sosok pangeran terbuang yang pernah dilelang di perdagangan budak.
Petualangan seperti apa yang akan dilakukan oleh gadis yang merupakan turunan dari bangsawan Jawa itu?
Ikuti kisah mereka hanya di The Death Blossom.
Nb: source materials cover from Pinterest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richa Susilo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29. King Allen III
“Bagus. Kau sebaiknya berterima kasih pada kemampuan otakmu yang cepat mengambil keputusan itu. Jika tidak, saat ini kau pasti telah merasakan seninya menikmati patah tulang rusuk. Tidak perlu patah semuanya, cukup beberapa ruas saja. Itu sudah cukup membuatku bahagia,” sahut Arsyelin seraya menyeringai lebar ketika melihat pria di hadapannya mundur beberapa langkah dan mengangkat kedua tangan isyarat menyerah.
Yang mana ucapannya itu seketika membuat pria di hadapannya terkekeh pelan. “Benarkah kau sangat mengerikan seperti apa yang kau katakan? Kau baru saja kembali dari alam kematian. Aku tidak percaya jika kau sudah memiliki energi sebesar itu untuk menghajarku,” sahut pria itu seraya menyeringai meremehkan.
Sebuah sikap yang seketika berhasil mengoyak harga diri Arsyelin. Membuat gadis itu menyipitkan mata semakin tajam, menyeringai dengan sangat mengerikan.
“Apa kau ingin mencobanya?”
Melihat gelagat yang tidak baik, dan menyadari betapa
gadis ini terlihat begitu sungguh-sungguh, meskipun dirinya belum mengerti karakter asli gadis ini, apakah ia sedang bergurau ataukah ia tidak pernah main-main dengan ucapannya, pria itu sama sekali tidak tahu mana yang akan terjadi.
Namun, dirnya memilih mengambil keputusan bijak dengan tidak ingin menguji mana yang benar. Karena bisa jadi kebenaran ada pada opsi terakhir. Jika demikian, pasti urusan ini akan semakin rumit. Karena pantang baginya memukul wanita. Yang mana sialnya, gadis ini pasti tidak akan segan menghajarnya hingga babak belur.
“Ah tidak, tidak. Kau simpan saja sisa energimu itu
dengan baik,” sahutnya cepat seraya menyeringai samar. Seakan tidak ingin lama-lama berurusan dengan kemarahan gadis ini.
“Bagus. Sekarang cepat katakan siapa kau sebenarnya? Dan apa tujuanmu?” cecar Arsyelin seraya bersedekap.
Pria itu tidak langsung menyahut. Melainkan melirik
jam tangan kulit berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sedikit mengerutkan kening ketika melihat jarum jam yang tertera di sana. Lantas kembali memfokuskan pandangannya pada gadis di hadapannya yang tampak tak sabar
menunggu jawaban atas pertanyaannya.
“Aku lapar. Ini sudah lewat beberapa jam waktu makan pagiku. Tidakkah kau berniat memberiku makanan dan minuman? Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik jika tidak memiliki cukup energi,” sahut pria itu seraya menyeringai lebar.
Yang mana pada kenyataanya, ia tidak selapar itu. Dirinya bahkan mampu bertahan hidup tanpa makan dan minum selama seminggu. Melebihi kemampuan bertahan hidup manusia pada umumnya. Yang mana hanya mampu bertahan tiga hari tanpa minum dan tujuh hari tanpa makan.
Namun yang ia khawatirkan adalah gadis galak di hadapannya ini, karena ini jelas sudah lewat jam makan pagi. Sementara gadis yang kini menatapnya tajam itu tampak sedikit pucat. Luka-luka di tubuhnya jelas tidak akan pulih hanya dalam hitungan jam.
Yang mana ia yakin sekali, gadis ini belum makan apa-apa sejak semalam, sejak proses pengintaiannya di tepian Samammish River. Dan lagi, ia telah membuat energi gadis ini terkuras habis dengan menyeberangi Lake Washington di tengah malam yang dingin. Tidak cukup sampai di situ, ia juga membuat gadis ini menyelam selama lebih dari satu jam.
Oh sungguh, jika ia mengingat kembali apa yang telah
ia lakukan pada gadis bertubuh ramping ini, ia sungguh merasakan sedikit penyesalan. Kembali bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah caranya menguji gadis ini terlalu berlebihan?
Tidak heran jika gadis ini tidak pernah berniat
memadamkan sinar permusuhan yang terpancar kuat dari sorot matanya yang indah itu.
Di sisi lain, Arsyelin tampak mengerjap. Mempertimbangkan ucapan pria menjengkelkan yang kini tampak menatapnya penuh harap itu.
Sepertinya tidak hanya pria ini saja yang kelaparan.
Karena entah kenapa tiba-tiba ia juga merasakan rasa lapar yang sangat. Membuatnya mengerutkan kening sedikit heran. Mungkinkah sebetulnya ia sudah lapar sejak tadi? Namun rasa lapar itu terkalahkan dengan rasa marahnya sehingga ia tidak terlalu merasakannya?
Yang tak pernah terpikirkan olehnya adalah, ketika kemarahannya sedikit mereda, ia bisa merasakan rasa laparnya menjadi berkali-kali lipat. Karena kemarahan selalu saja membuatnya merasa lapar lebih cepat.
Lagipula, meskipun pria di hadapannya ini sangat
menjengkelkan, bahkan dirinya tidak akan ragu untuk mencincangnya, tetap saja, pria ini sudah menyelamatkan hidupnya.
Yang sialnya, dirinya sama sekali tidak ingin berhutang budi pada siapa pun. Karena itu, sepertinya tidak ada salahnya membiarkan pria ini makan di rumahnya. Hitung-hitung sebagai balas budi. Selain itu, bukankah menjamu tamu adalah suatu perbuatan yang selalu ditekankan dalam tradisi keluarganya?
Pada akhirnya, setelah mempertimbangkan cukup lama, gadis itu menghela napas panjang seraya berujar penuh peringatan. “Baiklah. Aku juga lapar. Tapi ingat, setelah makan, kau harus menjelaskan semuanya,” tegas Arsyelin seraya menatap pria di hadapannya penuh kesungguhan.
“Aku janji,” sahut pria itu tanpa keraguan sedikit pun.
“Ikut aku.”
Dan begitu saja, Arsyelin menuntun langkah pria itu ke
dapur yang berada di lantai dasar. Tidak jauh dari ruang kerjanya. Dan betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat makanan yang telah terhidang di meja.
Yang mana makanan beraneka rupa itu masih tampak mengepulkan uap. Seakan baru saja selesai diolah dan segera dihidangkan.
Siapa yang memasak semua makanan ini? Mungkinkah Isaac telah kembali?
Dengan panik, gadis itu segera menoleh ke sana-kemari untuk mencari sosok jin berisik itu. Namun nihil, sudut matanya tak menemukan tanda-tanda kehadirannya.
Seakan belum puas, gadis itu bergegas kembali keluar dapur, menyenggol bahu pria yang berdiri di ambang pintu, tampak kebingungan melihat sikapnya.
"Ada apa?" tanya pria itu seraya mengernyitkan dahi seakan tak mengerti dengan sikap Arsyelin.
Namun Arsyelin tak mempedulikannya. Gadis itu
melangkah lebar ke ruang kerjanya dan membuka pintu ruangan itu dengan cepat. Menyapu sekitar dengan pandangannya yang awas. Tetapi tetap saja, gadis itu sama sekali tidak menemukan kehadrian sosok jin itu.
Lalu, siapa yang memasak semua makanan itu? Dirinya jelas sekali tidak memiliki kerabat di daerah ini. Satu-satunya teman dekatnya adalah Elan, yang kini terbaring di rumah sakit dengan kondisi yang tak ia ketahui. Lagipula, ia belum pernah membawa Elan masuk ke rumahnya.
Satu-satunya kemungkinan adalah Isaac. Namun, makhluk itu telah kembali ke alamnya. Dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia telah kembali ke rumahnya.
Lalu, siapa yang menghidangkan makanan sebanyak itu di meja makannya? Dan terlebih lagi, masih hangat? Mungkinkah ada jin lain yang mendiami
rumahnya ini? Tetapi sepertinya tidak mungkin. Karena ia tidak merasakan kehadiran mereka.
Di tengah kebingungannya, Arsyelin melihat langkah
kaki pria yang ia abaikan mendekat ke arahnya di luar dapur.
“Makan malam spesial. Silakan dinikmati, gadis
menjengkelkan. Aku sengaja menjaganya tetap hangat karena tidak tahu kapan kau akan pulang. Aku tidur dulu. Terima kasih telah membelikan Cecilia Bad untukku. Night!”
Pria itu membaca tulisan yang tertera di selembar
kertas dengan kening berkerut dalam. Lantas segera mendongak dan menatap Arsyelin dengan tampang bingung.
“Apakah kau tinggal bersama dengan seorang teman di sini?” tanya pria itu dengan keheranan yang terpampang jelas di wajahnya. Karena dirinya ingat sekali, ketika ia mengumpulkan informasi tentang gadis ini, gadis ini hanya tinggal seorang diri di rumah ini. Tidak hanya itu, gadis ini bahkan tidak memiliki seorang pun saudara di sini. Tapi ini ….
Di sisi lain, Arsyelin yang mendapati dirinya ditatap sedemikian rupa tampak kebingungan. Jelas sekali ini ulah Isaac, ketika ia pergi begitu saja untuk menyelamatkan Elan. Sementara ia yang tengah terburu-buru, lupa untuk berpamitan pada jin yang sedang memasak kala itu. Bagaimana dirinya akan menjelaskan semua ini pada manusia normal di hadapannya ini?
padahal ini cerita yang paling aku suka.
aku sampai membaca ulang beberapa kali sambil nunggu cerita ini di lanjutin, karna cerita ini memang seseru itu
selamat membaca 😊😊
good job outhor.. 👍👍
kapan-kapan
*SELESAIKAN APA YG SDH KAMU MULAI *
BIAR GK ADA HUTANG DIANTARA KITA ,
HABIS AQ CEK KARYA AUTHOR NGEGANTUNG SMUA ... ENK TU FINISH 1 BKIN LAGI IGAN LONCAT2 ,BIAR GK BERSA SAKIT DITINGGL PAS SYNG2NYA wkwkwkwk...😁
OVERALL NICE STORY , SO IM WAITING UR UPDTE OKAY ,,,,😊
THANKS BE4