Noir Steel awalnya seorang pedagang kaya, sayangnya beberapa tahun berikutnya perusahaannya mengalami kebangkrutan hingga akhirnya hidup sebagai gelandangan, demi melunasi hutang ia akhirnya menjadi seorang petualang. Sayangnya kehidupan itu tidak lebih baik dari yang ia duga, dia harus menghadapi komandan raja iblis dan bertarung melawan musuh-musuh kuat dengan caranya sendiri yang terbilang licik dan pengecut.
Ini adalah cerita seorang petualang lemah yang harus bertahan hidup di dunia kejam dengan anggota party tidak berguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 : Penculikan Di Pagi Hari
Hal pertama yang membangunkan tidurku adalah sebuah ikatan yang melilit tubuhku, aku memeriksa keadaan dan jelas bahwa aku berada di dalam sebuah peti yang ditaruh dalam sebuah kereta.
"Jangan bilang aku diculik dari kediamanku."
Ketika aku berfikir demikian, peti yang mengurungku terbuka dan menampilkan wajah anggota partyku beserta Namira juga yang menjadi kusir.
"Tunggu, kenapa kalian menculikku!" teriakku dan tanpa bertanya untuk kedua kalinya aku langsung memahaminya, beberapa hari ini ketika aku bersantai di mansion mereka semua mengajakku untuk pergi berlibur ke kota Alfina, berhubung sebelumnya Tisa memenangkan tiketnya jadi perjalanan ini akan gratis.
Aku memang suka gratisan hanya saja aku merasa harus menolaknya. Kota Alfina merupakan kota berbasis pengikut dewi Lumira, seperti yang kita tahu mereka kultus yang cukup aneh.
"Bukannya kalian bisa pergi tanpaku, turunkan aku, aku meminta hak untuk kembali."
Lifa tersenyum menjengkelkan.
"Maaf saja tapi jika Noir tidak pergi, ini tidak akan bisa dinamakan sebuah liburan, kita harus pergi bersama."
Seperti biasa logikanya tidak masuk akal. Nene menambahkan.
"Karena sudah sejauh ini, menyerah saja, saat berlibur nanti akan aku gosok punggungmu saat mandi."
Aku bisa membayangkannya meski begitu bayangan Vira lebih jelas di dalam kepalaku.
"Aku menantikannya walaupun kuharap Vira tidak sedang ada di sana."
"Lolicon."
"Lolicon."
"Oi."
Nene menawarkan dirinya, tidak sopan untuk menolaknya.
"Noir benar-benar takut pada Vira, padahal dia tipe yang menarik," ucap Tisa yang kupotong dalam hati.
Menarik apanya coba?
Di sisi lain Namira meminta maaf karena dia tidak bisa melakukan apapun.
Dia tidak salah, orang-orang ini pasti memaksanya.
Aku mengeluh pada Kaguya karena tidak segera membangunkanku dan ia hanya bilang seperti ini lebih menarik.
Apanya yang lebih menarik dan juga kalian terlalu sering menggunakan kata menarik.
Setelah setengah perjalanan mereka baru melepaskan ikatanku. Tepat saat itu beberapa kereta tampak tergesa-gesa melewati kami, salah satunya berbaik hati dengan berhenti lalu menjelaskan.
"Kalian akan pergi ke kota Alfina, lebih baik urungkan saja... kota itu kini telah diserang pasukan raja iblis, aku tidak tahu situasinya tapi sekarang di sana hanyalah medan perang."
Begitu orang tersebut pergi kami jadi malah lebih memutuskan untuk segera sampai.
"Di zamanku, jarang sekali melihat bahwa pasukan iblis menyerang salah satu dari empat kultus, bisa diasumsikan mereka lebih percaya diri untuk menyerang."
"Apa menurutmu salah satunya adalah iblis yang berhasil membunuh pahlawan?"
"Bisa saja, ibukota tidak jauh dari kota tersebut kemungkinan orang yang sama."
Sebelumnya aku pernah diselamatkan oleh pahlawan Mikado, karena itulah paling tidak aku ingin berterima kasih padanya dengan membuatnya tenang ketika aku berhasil menghabisi iblis tersebut.
"Ada sesuatu yang sedang mengejar kita dari belakang," peringatan itu berasal dari Kaguya, kami semua melirik secara bersamaan dan melihat sesuatu yang tidak masuk akal.
"Apa-apaan itu! Kau pasti bercanda!" teriak Nene dan Tisa masih bisa menahan dirinya agar tidak panik.
"Kita akan mati."
"Apa kita akan menghadapinya."
Hanya Lifa yang tidak bereaksi normal dengan apa yang kami lihat, ngomong-ngomong yang mengejar kami adalah raksasa setinggi 70 meter.
Ia berlari dengan kecepatan tinggi bahkan tidak perlu repot-repot memperhatikan apa di bawahnya.
"Akan aku percepat," kata Namira.
Aku melihat sekeliling dan kebetulan kami sebentar lagi akan melewati jembatan.
"Kita akan melompat dari sini, bersiaplah kalian semua."
"Tunggu, aku tidak bisa berenang."
Aku mendekap Nene yang berkata demikian, tepat saat kami melewati jembatan kami melompat secara bersamaan.
Raksasa itu tidak memperhatikan kami dan terus mengejar kereta, aku bisa melihat bagaimana kereta kami diinjak tanpa ampun sementara kudanya sendiri berhasil melarikan diri.
"Jika kau melepaskanku, kau akan mati."
"Memangnya seberapa takutnya kau dengan air."
Tisa bertanya.
"Lalu bagaimana sekarang?'
"Kita akan menyusuri sungai ini, paling tidak kita mungkin bisa menghindari dari raksasa tersebut."
Semua orang mengangguk mengiyakan.