NovelToon NovelToon
Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Status: tamat
Genre:Obsesi / Angst / Pengganti / Poligami / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:252.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: ethaloona

Elin mengalami kecelakaan bersama kakak iparnya, Sinta yang sedang hamil besar. Tanpa ia duga, kecelakaan itu berakibat fatal bagi Sinta. Sinta harus kehilangan bayinya sekaligus rahimnya. Ariel, kakak angkat Elin pun menyalahkan hal ini pada Elin yang menyetir mobil.

Karena tak bisa lagi memiliki anak, Elin pun diminta untuk bertanggung jawab oleh sang kakak untuk mengganti bayinya yang telah tiada. Elin pun terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan Ariel.

.

Halo! Ini adalah novel pertamaku di Noveltoon, mohon support nya yaah
follow akun IG: etha.loona

deep bow!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ethaloona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Di Rumah Lama

"Mas, udah dong manjatnya. Ini udah lumayan buahnya," kata Sinta seraya menengadah ke cabang pohon di mana Ariel sedang memilih beberapa buah mangga untuk ia petik lagi.

"Iya bentar, itu ada lagi yang masak," ujar Ariel. Ia menjulurkan tangannya ke arah beberapa buah yang tak jauh darinya. Bibir Ariel menyunggingkan senyum tipis. Ia ingat, bertahun-tahun yang lalu ia sering memetikkan buah untuk ibu dan adik-adiknya. Elin dan Gladis akan berebut buah yang ia lemparkan dari atas sementara ibu mereka akan meneriakinya agar ia berhati-hati.

"Pelan-pelan, Mas!" pekik Sinta saat Ariel melompat turun dari pohon. "Ya ampun, kamu ini!"

Sinta memukul lengan Ariel ketika pria itu justru tertawa karena melihat Sinta begitu cemas. "Aku tuh jago manjat, kamu nggak usah khawatir gitu dong."

"Iya kan lumayan tinggi, Mas. Aku nggak kamu kenapa-kenapa," kata Sinta cemberut.

"Tenang aja. Ini biar aku bawa ke dalam, nanti kita pilih mana yang udah masak sama yang mengkal."

Sinta mengangguk. Ia mengikuti langkah Ariel ke dapur melalui pintu belakang rumah besar itu. Sinta tidak pernah tinggal di sana karena setelah menikah ia langsung tinggal di rumah Ariel yang ada di luar kota.

"Mas, rumahnya nggak ada niatan mau dikontrakin apa gimana nih?" tanya Sinta yang sedang mengamati Ariel memilah buah.

"Nggak. Kata Mama ini buat tempat kumpul aja kalau besok bertahun-tahun lagi semua anaknya udah nikah dan pada punya rumah sendiri," jawab Ariel. Ia mencoba memotong satu buah mangga. "Enak banget. Pantes Elin kangen sama buah di sini."

Sinta melirik Ariel ketika menyebut nama Elin. "Sejak kapan Elin tinggal sama kalian, Mas?"

"Sejak bayi," jawab Ariel. "Dulu Mama nggak hamil-hamil lagi terus ngadopsi Elin. Baru empat tahun kemudian Mama melahirkan Gladis."

"Oh gitu. Tapi kalian akrab banget apa gimana sejak dulu?" tanya Sinta.

"Ya biasa kayak sodara aja. Tapi aku kan pas ambil S2 sama S3, aku di luar negeri, Elin baru masuk SMA kayaknya. Pas aku pulang, Elin udah mulai kuliah. Elin tuh jarang di rumah karena banyak kegiatan di luar, dia bukan anak yang gampang diatur terus doyan di rumah," ujar Ariel.

"Jadi, kamu jarang bareng sama Elin?"

Ariel mengangguk. "Waktu kecil ya bareng terus. Kalau sekarang ... baru sejak dia ikut bareng kita jadi sering ketemu," jawab Ariel. Ia menyodorkan potongan buahnya ke depan bibir Sinta. "Cobain aja ini enak banget."

"Makasih." Sinta mengunyah dengan senang.

"Aku mau liat-liat kamar dulu, kamu makan aja. Aku mau ambil beberapa buku lama aku," kata Ariel seraya berdiri.

"Oke, Mas. Nanti aku nyusul ke atas."

Sinta menghabiskan siang itu dengan berselancar di dunia maya. Ia memposting beberapa hasil jepretan kue buatannya ke akun jualannya. Ia juga membalas beberapa sapaan customer. Sinta tak sadar waktu sudah berlalu cukup lama.

"Mas Ariel masih di atas," gumamnya. Ia pun bergegas menaiki anak tangga. Ia sudah cukup lama tidak datang ke rumah ini sejak ia menikah dengan Ariel. Jadi, beberapa ruangan membuat ia agak bingung.

"Ini kamar Elin?" gumamnya. Ia hampir kembali menutup pintu kamar itu, tetapi ia kembali membukanya ketika melihat deretan piala dan piagam di sana. "Ini pasti kamar Gladis."

Karena penasaran, Sinta pun memutuskan untuk masuk ke kamar itu. Ia tidak begitu mengenal Gladis karena hanya berkenalan beberapa kali. Lagipula, baginya Gladis lebih mirip dengan ibu mertuanya, Maria, secara sifat. Gladis selalu menatapnya sinis setiap kali bertemu, Gladis juga juga sangat sombong meskipun jauh lebih muda darinya.

"Kamu liat apa?"

Sinta menoleh ketika mendengar suara Ariel. Ia tidak menutup pintu kamar Gladis jadi Ariel langsung masuk. "Banyak banget pialanya."

"Nggak usah heran, Gladis emang jenius. Dia pinter banget dan aktif di berbagai lomba," ujar Ariel seraya ikut-ikutan menatap etalase piala milik adiknya.

"Dia suka baca juga," ujar Sinta ketika melihat setumpuk novel di dalam kardus kecil. Ia duduk di tepi ranjang lalu melihat-lihat novel remaja tersebut.

"Suka, tapi kebanyakan dia ambil dari koleksi Elin. Mungkin itu nyampur sama punya Elin," kata Ariel seraya mengintip ke kotak kardus Gladis.

"Aku pinjem boleh kali ya? Bagus-bagus daripada aku gabut di rumah," ujar Sinta sembari membolak-balik beberapa halaman buku.

"Boleh dong. Nanti aku chat Gladis atau kamu sendiri aja yang chat," kata Ariel. "Dibawa aja semua. Ini cuma dikit, punya Elin ada banyak di kamarnya. Kamu mau liat?"

"Nggak, Mas. Ini aja udah banyak. Selusin lebih," jawab Sinta.

"Oke. Nanti biar aku bawa ke bawah. Kita siap-siap pulang sekarang ya," ajak Ariel.

"Ngapain pulang sekarang? Ini kan masih siang, Mas. Nanti sore aja pulangnya. Aku belum selesai liat-liat rumah," kata Sinta dengan nada manja.

"Tapi kita ninggalin Elin di rumah. Nggak enak juga kalau Budhe Sarti kelamaan di rumah kita, ini kan hari libur Budhe. Kamu nggak kasian, kalau kita pulang sore, malem baru nyampe rumah," kata Ariel mengingatkan.

Sinta mendadak cemberut. "Rupanya kamu kepikiran Elin, padahal kita baru hari ini pergi berdua," kata Sinta. Ariel menatap Sinta kaget. "Elin kan ada yang jagain, Mas. Lagian dia juga nggak papa kan. Bukannya lagi sakit."

"Iya aku tahu. Tapi dia dari beberapa hari yang lalu udah nungguin mangganya, Sayang." Ariel mengusap punggung Sinta dengan lembut. "Aku nggak cuma mikirin Elin, aku juga nggak enak sama Budhe Sarti."

Sinta mendengus. "Kamu kan udah bayar mahal Budhe Sarti, Mas. Kenapa juga harus cemas. Aku capek mau tiduran bentar, Mas. Di sini nggak papa deh. Boleh kan aku tidur bentar, Mas?"

Sinta membaringkan dirinya di atas ranjang Gladis. Ia masih ingin berduaan dan tak ingin Ariel cepat pulang hanya demi Elin.

"Kamu bisa tidur di mobil kalau capek, Sayang. Ini udah mau jam 1.00. Kita bakal nyampe malam kalau nanti-nanti. Yuk," kata Ariel seraya memijat betis Sinta. "Sayang, jangan tidur dong."

"Tiduran dulu, Mas. Apa kamu nggak capek nyetir bolak-balik?" tanya Sinta. Ia meraih tengkuk Ariel ketika pria itu menundukkan badannya.

"Ya capek, tapi ... kita harus pulang, Sin." Ariel merasakan tangan Sinta menarik tengkuknya lebih kuat, tetapi tetap lembut. Melihat Sinta berbaring dengan tatapan bergairah, membuatnya ikut terbakar.

"Di sini sepi banget, Mas. Kita cuma berdua lho. Kamu nggak mau?" goda Sinta seraya mengalihkan sentuhannya di punggung Ariel.

"Istri aku nakal juga kalau lagi gini," ujar Ariel seraya tertawa kecil. "Aku jadi nggak pengen, pulang pengen main-main sama kamu."

Sinta tersenyum puas. Ia merasakan ciuman Ariel kini. Tentu saja, ia tak ingin melewatkan kesempatan berdua saja dengan Ariel. Apalagi ia sedang jauh dari madunya. Ia ingin Ariel hanya fokus padanya, pada tubuhnya! Jadi, ia segera beraksi ketika Ariel lengah. Ia ingin membuktikan pada Ariel, bahwa ia masih bisa memanjakan seorang suami meskipun ia sudah cacat.

Aksi Sinta berhasil membuat Ariel lupa segalanya siang itu. Ariel tak ingat bahwa Elin sedang menunggunya di rumah. Ia bahkan tidak menelepon Elin atau Budhe Sarti. Ia hanya menikmati Sinta yang sedang membuatnya panas dingin dengan bergoyang tak keruan di atas tubuhnya.

Ariel tak tahu berapa lama waktu mereka melakukan penyatuan, tetapi ia merasa sangat senang. Sinta selalu bisa memuaskannya dan ia selalu ingin lebih. Mereka baru memutuskan pulang, setelah beberapa menit beristirahat usai aksi panas mereka berdua.

1
Shakayla Habibi
galaaannng ...😭😭😭😭
Srirejeki Gabus
😀
Enung Samsiah
aahh,,, aril perhatian prrreeeetttt,,, bikin jengkel bacanya,mnding elin sama galang aja,, aril brengsekkk
ethaloona: 😁😁😁 egoisss kak
total 1 replies
Stanley Maweikere
bagus
Stanley Maweikere
makin seru
Enung Samsiah
aaahhh,,, siaril egois kauu
neuron ACtiv
exstra partt please kk
yunist
Keren banget...
Sivia
😡😡😡😡
ethaloona: kenapa kak??
total 1 replies
Reny Yunita
😭😭😭😭😭😭😭😭😭 aish nyesek bgt babang galang meninggal elin jahat bgt di lamar tapi slalu aja blm bsa ksih jawaban bner" menjengkelkan ga inget apa pengorbanan galang 😤 mna udh tamat aja lagi pdhal blm kelar ngomelin si elin bikin kesel aja si elin 😤
Reny Yunita
astaghfirullah knpa babnya bikin berlinang air darah eeh slah air mata 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭 aah ga adil bgt si klw elin balik lagi masa blik kan sama Ariel dan galang gmna dong 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Reny Yunita
aish elin bodoh ngapain pake ngangguk bikin sebel aja Luna udh di ksih ke Ariel udh tanggung jawab mereka lah klw smpe Luna skit mereka bodoh ngurusnya 😤🤦🏻‍♀️
Reny Yunita
uuh akhirnya yg menemukan galang aah bahagianya aq smoga saja sedikit demi sedikit elin akan ada rasa ke galang dan menikah dan bahagia bersama galang 😍😍😍😍
Paulina Nurhadiati
kalo gak buat sesi ke dua please 🙈😭😭 masih mau tau pas kemo berhasil gak ini?? elin dan Ariel kudu bersatu menikah
Paulina Nurhadiati
ah belum rela kalo tamat masih ada yg kurang kasih Ektra part beberapa bab please kak 🤧🤧🤧
..
tragis amat ya nasib galang ini mau lamar elin eh malah kecelakaan dan meninggal 😭😭
Kisti
👍👍👍👍👍
Kisti
sebesar itu kesakitan kalian elin.luna.ariel.
Kisti
😭😭😭eliin jka kmu tau btp ariel juga cinta kmu 😭
Kisti
elin 😭😭😭
Deliz Diaz Dla FM B
Extra part dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!