NovelToon NovelToon
Terlalu Goblok Mencinta

Terlalu Goblok Mencinta

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novi Artikasari

Pernah merasa goblok saat mencintai seseorang?

Tenang, kalian tidak sendirian! Karena aku juga masuk dalam antrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Air langit turut andil selama prosesi pemakaman Rasti. Ibu mertuaku yang sedari tadi tidak berhenti menangis, sesekali jatuh tak sadarkan diri. Begitu juga dengan ummi.

Musibah yang terkesan mendadak ini, sukses membuat semua orang bersedih hati. Tak terkecuali ... seorang wanita yang sejak tadi berdiri di pojokan kiri.

Ya, Anis juga hadir dalam upacara ini. Upacara dimana aku harus melepaskan semua kenangan bersama Rasti. Kenangan indah yang cukup menyentuh hangat hingga ke relung hati. Bagaimana pun selama ini, Rasti sudah sangat apik dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Jadi, aku tidak mungkin menafikannya sama sekali.

Setelah proses pemakaman selesai, semua orang satu per satu pergi meninggalkan tempat ini. Didi dan Dini juga pamit undur diri, setelah mengatakan kepadaku bahwa mereka akan memeriksakan kandungan Dini.

Ya, begitulah jalan hidup ini. Ada yang datang, ada juga yang pergi. Semua ditempatkan pada posisi yang sudah pasti. Dan kita sebagai makhluk, hanya bisa bersabar dan menerima dengan lapang hati. Sedangkan Melly, ia juga pamit untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor kami.

Sementara aku masih tertegun, merunduk ke arah batu nisan yang mengukirkan nama seorang wanita, yang kini tak bersama lagi. Tak terasa buliran bening sebesar biji kacang hijau terjun membasahi kedua pipi, sembari berkata di dalam hati.

Maafkan aku, Rasti. Maafkan aku yang tak bisa menjagamu dengan hati-hati. Jika saja aku bersikukuh untuk mengantarkanmu pagi ini, mungkin perpisahan ini tak akan pernah terjadi. Maafkan kelalaian dan kesalahanku selama ini sebagai seorang suami. Kamu wanita yang baik, Rasti. Kamu berhasil menjadi penyembuh luka hati. Semoga apa yang sudah kamu abdikan padaku selama ini, akan menjadi ladang pahala yang bisa menyelamatkanmu di saat hari penentuan nanti.

Bisa kurasakan dadaku sesak setelah mengatakan semua itu. Tubuh bergetar menahan erangan yang ingin sekali aku luapkan dari bibirku. Namun, aku tidak boleh begitu. Aku harus menerima apa pun yang telah Tuhan takdirkan untukku.

Ketika aku sedang menangis pilu, ada sepasang kaki yang bergerak mendekatiku. Karena sadar akan hal itu, aku langsung menoleh ke arah kananku.

Anis!

Berbalutkan pakaian serba hitam dan pasmina brokat berwarna senada, menutupi sebagian kepalanya. Masih bisa kulihat anak-anak rambutnya berseliweran ke sana ke mari dengan wajah bermandikan duka.

"Yang sabar ya, Ru. Aku turut berduka atas segala ujian yang sedang menimpamu." Ia menyentuh pundakku dengan sedikit membungkuk. Sayup-sayup terdengar suaranya sedikit bergetar menahan rasa remuk.

Bagaimana tidak, Anis juga pasti merasa sangat kehilangan akan sosok seorang teman. Ia duduk tepat di sebelahku dalam mode sendu dalam tatapan. Aku ... sungguh tak bisa lagi menahan sesegukan. Sontak kutumpahkan semua beban yang menekan dada ini di atas pundak Anis tanpa merasa segan.

Anis pun langsung merengkuh tubuhku dalam sekali dekapan. Kami menangis bersama-sama, hingga akhirnya aku kembali lagi pada mode kesadaran. Karena merasa bahwa aku akan menjauhkan tangan, Anis langsung melepas rengkuhannya dalam sekali tarikan.

"Aku yakin Rasti sudah melakukan apa yang semestinya, sehingga kamu seterpukul ini. Semoga apa yang sudah kalian lewati, menjadi jalan baginya untuk kalian bersama lagi. Maksudku ... dalam kehidupan yang abadi."

Aku hanya tertunduk mendengar kalimat Anis seraya menatap pusara Rasti. Sembari menyeka kedua pipi, aku bangkit dari posisi awal dan mengajak Anis untuk meninggalkan tempat ini. Tentunya, setelah berpamitan pada Rasti.

Sementara Anis masih menaburkan bunga dan meletakkan buket besar yang ia bawa. Setelah itu, ia bergerak menyusulku yang sudah terlebih dahulu pergi dari sana.

***

Sepersekian detik kemudian, langkah gontaiku terhenti mendadak. Tanpa aku sadari, ternyata ada seonggok daging hidup yang sedari tadi menyaksikan drama kami, dalam dekapan emosi diri yang begitu meledak.

Abdi ...!

Ia berdiri di bawah pohon besar di pojokan tanah pemakaman ini. Menatap lurus ke arah kami dengan bersilang lengan tanpa ekspresi. Apakah ia juga sedang dikuasai emosi diri?

Sontak kuputar rotasi leherku ketika tubuh Anis sudah berada di sisiku. "Ayo ...!" ajaknya sembari mengusap sekilas bagian pundakku tanpa ragu.

Apakah ia tidak menyadari jika suaminya sedang menatap ke sini? Batinku yang merasa kebingungan.

Kupasang ekspresi penuh tanya, seolah aku menginginkan penjelasan lebih dari sikap biasa-biasanya seorang Anis. Bahkan dalam kondisi mencekam seperti ini pun ia masih terlihat tenang, dalam balutan senyuman khas miliknya yang tak bisa aku tepis.

Di saat ia berusaha menarik tanganku untuk melangkah maju, aku menahan tubuh karena masih butuh penjelasan lebih darinya. Kenapa ia bersikap seolah yang di depan itu bukanlah suaminya? Apakah ia sudah menjadi janda?

Ah, mustahil ...!

Tanpa memperdulikan tatapan ini, Anis sontak menarik lenganku sembari melangkah mendekati Abdi. "Mas, aku temanin Heru sampe rumahnya, ya. Kasian dia, takutnya nanti pas nyetir malah nabrak pohon lagi," kelakar Anis yang membuat aku membolakan kedua mataku sempurna.

Apa-apaan ini?

Dia meminta izin Abdi untuk mengantarku pulang?

Tidak bisa!

Aku harus mewawancarainya setelah ini ...!

"Ya, udah, kalo gitu mas langsung ke rumah papa, ya." Abdi mengangguk, lalu meninggalkan kami setelah mengucapkan kalimat bela sungkawa.

Wah, aku benar-benar salut dengan hubungan mereka. Hubungan yang dibangun atas dasar saling percaya. Ternyata apa yang aku pikirkan sebelumnya itu tidak benar adanya. Anis belum menjadi janda.

Dasar Aku!

Sepeninggalan Abdi, aku dan Anis bergerak menuju mobilku. Wanita itu dengan sigap mengambil kunci yang berada di dalam genggamanku, lalu merebut kursi kemudiku.

"Aku 'kan udah bilang, kalo aku bakalan anterin kamu sampe rumah."

Begitulah penggalan kalimat yang ia lontarkan ketika kami sudah berada di dalam mobil. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala akan tingkahnya yang tampak seperti remaja labil.

***

Ketika roda kendaraan yang dikemudikan oleh Anis sukses menapaki pelataran rumah abah, aku tak langsung keluar dari sana.

Kupandang ke arah Anis dengan ekspresi wajah mengintimidasi. Sementara ia yang baru saja mematikan mesin mobil, lantas menoleh ke arahku dengan mode bergidik ngeri. "Apaan, sih? Kayak mau nerkam mangsa aja," cebiknya sembari berkelakar lagi.

"Kenapa kamu bersikap seperti itu tadi?" tanyaku yang mulai menginterogasi.

"Bersikap gimana?" Bukannya menjawab ia malah balik bertanya.

"Kamu gak takut suamimu cemburu atas apa yang udah terjadi antara kita di pemakaman tadi?" Kutatap serius kedua netranya, yang saat ini tampak membelalak karena suaraku yang terdengar agak menggelegar.

Aku sontak membuang wajah ke sembarang arah, agar Anis tak berpikiran bahwa aku sedang marah.

"Kamu gak usah khawatir soal itu, Ru. Setau Mas Abdi, kamu itu anak angkatnya papa."

Mendengar kalimatnya, aku sontak memutar pandang ke arahnya. "Kamu yakin?" tanyaku mengonfirmasi. Aku hanya tak ingin hubungan mereka berdua berada di dalam masalah setelah ini.

Anis mengangguk tegas, lalu dengan sigap membuka pintu. Ketika aku baru saja menyembulkan tubuhku dari balik pintu mobil, teriakan seorang gadis kecil terdengar membahana menyerukan nama seorang wanita yang sedang bersamaku.

"Kak Aniiis ... Najwa kangen banget sama kakak."

Najwa Aini, adik bungsuku yang baru berusia lima tahun. Sebelum Anis menikah, ia memang selalu mengekorinya kemana pun. Sifat keibuan dan perhatian yang dicurahkan oleh Anis sanggup mengikat hatinya hingga ke ubun-ubun.

Entah jurus ampuh apa yang dipakai oleh Anis, sehingga anak itu bisa bersikap manja, seolah Anis adalah kakak kandungnya. Tidak jarang Najwa berpisah dengan ummi hanya karena ingin membuntuti Anis kemana saja. Baik ketika Anis bertamu ke rumah ini, mau pun ketika aku bersilaturrahmi ke rumah keluarganya.

1
Han
Aku mampir ya kak
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Ruaaarrr biassyaaahhh.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!