NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22 - Clara Menuntut Tempat

Clara tidak tidur semalaman.

Pesan yang ia kirim pada Ratna memang berhasil membuat Hendra marah. Tapi bukan marah pada Ratna. Hendra justru datang ke apartemen dengan wajah gelap dan suara tertahan.

"Kenapa kamu kirim foto itu?"

Clara berdiri di ruang tengah, masih memakai piyama satin. Alif sudah tidur di kamar. Lampu apartemen sengaja dibuat redup, biasanya cukup untuk membuat Hendra melunak.

Malam ini tidak.

"Karena aku capek disembunyikan," jawab Clara.

Hendra mengusap wajah.

"Kamu membuat situasi makin buruk."

"Situasi sudah buruk sejak Mas membiarkan Mbak Ratna menyerang kita."

"Ratna tidak menyerang. Dia menggugat haknya."

Clara tertawa pendek.

"Sekarang Mas membelanya?"

Hendra menatapnya.

"Aku membela akal sehat."

Clara merasa dadanya panas. Dulu Hendra tidak pernah bicara seperti itu padanya. Dulu ia adalah tempat Hendra pulang saat rumah sahnya terasa melelahkan. Dulu ia perempuan yang membuat Hendra merasa muda, kuat, dibutuhkan.

Sekarang Hendra memandangnya seperti masalah.

"Mas, aku dan Alif ini apa?"

Hendra diam.

Pertanyaan itu menggantung di ruangan.

Clara melangkah mendekat.

"Dua belas tahun aku ikut kamu. Aku menerima jadi perempuan yang tidak boleh muncul di acara keluarga. Aku melahirkan Alif tanpa namamu di depan orang banyak. Aku menunggu kamu pulang setelah kamu selesai menjadi suami orang. Sekarang Mbak Ratna menggugat, kamu justru bersikap seolah kami beban."

"Aku tidak bilang begitu."

"Tapi kamu bersikap begitu."

Hendra duduk di sofa. Ia tampak lelah.

"Clara, aku sedang ditekan dari semua sisi. Usaha kacau. Pengacara Ratna mengejar aset. Raka bermasalah dengan Maya. Mama tidak berhenti mengeluh. Aku butuh kamu tenang."

"Aku sudah tenang terlalu lama."

Clara mengambil map dari meja dan melemparkannya ke depan Hendra.

Hendra membukanya.

Fotokopi dokumen apartemen, mobil, bukti transfer, dan catatan biaya sekolah Alif.

"Apa ini?"

"Aku ingin kepastian tertulis."

Hendra menatapnya tidak percaya.

"Kepastian apa?"

"Kalau apartemen ini dipersoalkan, Mas harus menjamin tempat tinggal untukku dan Alif. Kalau mobil ditarik, Mas ganti. Kalau uang sekolah Alif bermasalah, Mas bayar. Dan setelah perceraianmu selesai, Mas menikahiku secara resmi."

Hendra berdiri.

"Kamu gila?"

Clara tersenyum pahit.

"Aku gila karena minta dinikahi setelah dua belas tahun? Atau karena aku tidak mau jadi korban kedua setelah Ratna?"

"Jangan samakan dirimu dengan Ratna."

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

Clara membeku.

"Kenapa? Karena dia istri sah?"

Hendra tidak menjawab.

"Atau karena sekarang Mas sadar dia lebih berguna daripada aku?"

"Clara."

"Tidak. Jawab."

Hendra menatap pintu kamar Alif, lalu menurunkan suara.

"Aku tidak punya ruang untuk menikah lagi sekarang."

"Tapi kamu punya ruang untuk datang padaku selama dua belas tahun."

"Situasinya berbeda."

"Berbeda karena dulu Mbak Ratna tidak tahu."

Hendra terdiam.

Clara mendekat, suaranya lebih dingin.

"Mas, aku tahu banyak hal. Vendor fiktif. Rekening yang kamu pakai. Uang tunai yang kamu simpan. Nama orang yang membantu pindahkan dana. Jangan buat aku merasa harus menyelamatkan diri sendiri."

Wajah Hendra berubah.

"Kamu mengancamku?"

"Aku belajar darimu. Semua orang harus punya pegangan."

Hendra menatap perempuan yang dulu selalu menangis manja di pelukannya. Malam itu Clara tampak berbeda. Bukan lagi tempat istirahat. Ia berubah menjadi orang yang memegang pisau di balik senyum.

"Kalau kamu buka mulut, kamu juga kena."

"Aku tahu. Tapi setidaknya aku tidak jatuh sendirian."

Hendra mencengkeram map itu.

"Apa maumu sekarang?"

"Tanda tangan pernyataan. Minimal untuk biaya Alif dan tempat tinggal. Setelah itu, kita bicara soal nikah."

"Tidak bisa."

"Kalau begitu aku bicara dengan Mbak Ratna."

Hendra menatapnya tajam.

"Jangan."

Clara akhirnya melihat ketakutan di wajah Hendra.

Ia tersenyum kecil.

"Kenapa? Takut dia tahu lebih banyak?"

Hendra merendahkan suara.

"Clara, jangan bermain api."

"Aku sudah tinggal di dalam api sejak menjadi perempuan kedua."

Hendra mengambil map itu dan melemparkannya kembali ke meja.

"Aku akan pikirkan."

"Aku beri waktu tiga hari."

"Kamu bukan bosku."

"Bukan. Tapi aku ibu dari anakmu."

Hendra tidak menjawab.

Ia pergi dengan langkah kasar.

Setelah pintu tertutup, Clara berdiri lama di ruang tengah. Tangannya gemetar, tapi bukan karena takut saja. Ada amarah. Ada panik. Ada rasa kalah yang tidak mau ia akui.

Alif keluar dari kamar sambil mengucek mata.

"Ma, Papa marah?"

Clara cepat mengubah wajah.

"Tidak, Sayang. Papa cuma capek."

"Papa tinggal di sini kapan?"

Pertanyaan itu menusuk.

Clara berjongkok dan memeluk anaknya.

"Segera."

"Benar?"

Clara menatap pintu yang baru saja ditutup Hendra.

"Mama akan pastikan."

Pagi berikutnya, Clara mengirim pesan pada Ratna.

"Mbak, kita perlu bertemu. Ada hal tentang Hendra yang mungkin Mbak belum tahu."

Ratna tidak langsung membalas.

Clara menunggu dengan gelisah. Satu jam. Dua jam.

Akhirnya balasan masuk.

"Bicara dengan pengacaraku."

Clara menggigit bibir.

Ratna tidak lagi mudah dipancing.

Clara menatap map di meja. Kalau Ratna tidak mau datang sebagai perempuan yang tersakiti, mungkin ia harus datang sebagai perempuan yang membutuhkan kebenaran.

Ia membuka foto lama di ponselnya. Foto Alif saat kecil, duduk di pangkuan Hendra. Di belakang mereka ada Raka, jauh lebih muda, berdiri di sebuah acara toko keluarga. Clara memperbesar foto itu, menatap wajah Raka.

Ada rahasia lain yang pernah ia dengar dari Hendra saat mabuk.

Rahasia yang bahkan mungkin Ratna tidak siap dengar.

Clara menyimpan ponsel.

Jika Hendra tidak memberinya tempat, ia akan memakai rahasia itu untuk membuka pintu sendiri.

Malam itu Clara tidak tidur. Alif sudah pulas di kamar, seragam TK-nya tergantung di belakang pintu. Clara duduk di ruang tamu apartemen, menatap lampu kota dari lantai dua puluh satu, dan mendengar suara Hendra yang masih terngiang.

"Jangan banyak menuntut."

Kalimat itu dulu terdengar seperti teguran sementara. Sekarang terdengar seperti vonis.

Ia membuka galeri ponsel. Ada foto Hendra sedang menggendong Alif di restoran mahal. Ada foto bukti transfer. Ada tangkapan layar percakapan dengan vendor yang namanya selalu diganti-ganti. Ada juga rekaman suara Hendra saat mabuk, ketika ia menyebut nama Bu Nanik dan tertawa seperti orang yang tidak sadar sedang membocorkan dosa keluarga.

Clara pernah berpikir rahasia adalah asuransi. Selama ia menyimpan cukup banyak, Hendra tidak akan berani membuangnya.

Namun setelah melihat mata Hendra malam itu, ia mulai paham. Laki-laki yang terdesak tidak selalu membayar. Kadang ia membakar rumah agar tidak ada yang bisa menagih.

Clara memeluk lututnya.

Ia tidak kasihan pada Ratna. Belum. Tapi untuk pertama kalinya, ia mengerti kenapa perempuan itu akhirnya memilih keluar.

Di kamar, Alif bergerak gelisah. Clara masuk, merapikan selimut anaknya, lalu duduk di tepi ranjang. Ia mencium kening Alif dan berbisik, "Mama akan cari jalan." Entah jalan itu benar atau salah, ia belum tahu.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!