Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Remuk Pasca Perceraian
Setelah semua bukti perselingkuhan dan penggelapan uang Johan terbongkar, Alana resmi melayangkan gugatan cerai.
Tidak butuh waktu lama.
Palu diketok, putusan pengadilan keluar.
Alana dan Johan resmi bercerai.
Hak asuh Cia jatuh sepenuhnya ke tangan Alana.
Harta gono-gini dibagi dua.
Beberapa jam setelah itu, Alana menangis di kamarnya sendiri.
Ada perasaan lega, namun
entah kenapa tangisnya pecah saat ini.
Ini memang bukan yang ia harapkan, namun demi kebaikan dia dan anaknya.
Cia untuk sementara ia titipkan pada orang tuanya. Ia butuh waktu. Memulihkan fisiknya. Memulihkan batinnya yang hancur.
Beberapa hari Alana mengurung diri di apartemennya. Tidak bertemu siapa-siapa. Hanya diam, berdamai dengan dirinya sendiri.
Sampai akhirnya ia siap.
Ia siap menjemput Cia.
Rumah orang tuanya terasa hangat seperti dulu.
Begitu masuk, Alana melihat Cia sedang bermain dengan neneknya di ruang tamu.
“Ma...” panggilnya pelan.
Mama Arina langsung menoleh. Matanya berkaca-kaca.
“Alana... Cia, sayang. Mama kamu datang.”
Cia menjerit gembira. Ia berlari lalu langsung memeluk Alana erat.
Alana ikut memeluk erat seakan takut kehilangan lagi.
Mama Arina lalu memeluk anak bungsunya. Pelukan yang selama ini Alana rindukan.
“Udah, Mama nggak mau bahas itu lagi,” bisik Mama Arina sambil mengusap punggung Alana. “Kamu udah makan? Kita makan bertiga ya, sayang.”
Alana, Cia, dan Mama Arina duduk berdempetan. Tidak ada ponsel. Tidak ada beban. Hanya ada lauk sederhana dan obrolan yang hangat.
Cia yang baru 1 tahun itu duduk di kursi bayi, cerewet dengan bahasanya sendiri. Sesekali ia menepuk-nepuk meja sambil menyodorkan remahan nasi ke Alana.
“Mama... mam...” celotehnya
Alana tertawa. Tawa yang jujur. Tawa yang sudah lama tidak ia rasakan.
Ia menggendong Cia, mencium pipi tembem anaknya. Duri di hatinya, pelan-pelan tercabut.
Trauma yang seminggu ini menyesakkan dadanya, sedikit demi sedikit luruh. Digantikan oleh hangatnya pelukan mama dan cengkeraman tangan kecil Cia di jarinya.
Mama Arina hanya tersenyum sambil menyuapi Cia bubur. Sesekali ia menatap Alana, bangga dan lega.
Pintu terbuka dan Papa Anwar pulang dati kantor melihat putri bungsunya. Hatinya terasa sesak, lalu menghampiri mereka.
"Alana, maafin papa ya". Ucapnya penuh penyesalan. "Gak seharusnya papa menikahkan kamu dengan Johan. Kamu jadi seperti ini gara-gara papa" suara papa serak.
"Pa, udah. Aku udah gak apa-apa kok. Aku mau mulai lembaran baru sama Cia, cucu papah. Gak usah bahas itu lagi ya" Alana mencoba berdamai secepatnya, karna ia harus bertanggung jawab pada putri kecilnya.
"Kita lanjut makan aja ya, mumpung papa udah pulang. Cia pasti happy kakeknya pulang dan bisa makan bareng" Sahut Mama Arina.
Mereka makan bersama di meja makan dengan lauk sederhana, dengan ocehan dan jerit tawa Cia yang menggemaskan menambah hangat suasana dimeja makan.
_____
Selesai makan, Alana berpamitan pulang membawa Cia, ia memutuskan benar-benar akan memulai hidup baru berdua dengan anaknya.
"Mama sama Papa doain aku sama Cia ya", pinta Alana kepada orangtuanya.
Mama Arina dan Papa Anwar mengangguk, "jangan sungkan minta bantuan Papa sama Mama ya, Nak. Kamu tetap anak perempuan mama satu-satunya". Mama Arina menangis memeluk Alana yang menggendong Cia.
Papa Anwar memalingkan wajahnya, menyembunyikan air matanya yang jatuh.
"Alana pasti bakal sering main kesini sama Cia. Kita pamit ya Ma, Pa. Terimakasih udah jaga Alana dan Cia".
Alana berpamitan pulang dan meninggalkan orangtuanya dirumah mereka.
____