NovelToon NovelToon
Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang

Status: tamat
Genre:Suami Tak Berguna / Tamat
Popularitas:547.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Linda Pransiska Manalu

Rasa kecewa yang berkali-kali kualami atas perlakuan suamiku, Bram, dan keluarganya yang tidak pernah mengahargai sebagai istri dan menantu, akhirnyanya terlampiaskan.

Setelah bertahun-tahun tertindas, aku akhirnya menunjukkan perlawanan.

Ternyata tanpa aku duga sebelumnya, orang tua yang mengasuhku selama ini, bukanlah orang tua kandungku.

simak kelanjutannya dan mohon dukungan dari pembaca, untuk karya baru ku ini.🙏🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

"Yang membuat hati seorang ibu, hancur. Takkala anak harus melihat kehancuran keluarganya. Bila sudah seperti ini, sang ibu hanya ingin pergi jauh, menutup luka anaknya."

"Mama tidak apa-apa?" Tangan kecil Devan mengusap air mataku yang masih membanjiri wajahku. Aku mengangguk dan memeluknya lagi dengan erat. "Ma, ayo pergi dari sini. Papa sudah tak sayang lagi, sama kita. Kita pindah ke rumah kakek."

Aku tergugu diam. Selama ini aku tidak bisa memberi apa-apa kepada orang tuaku, setelah aku menikah. Bahkan aku jarang mengunjungi mereka. Terakhir kami bertemu saat Mitha masih bayi. Ya, Tuhan! Betapa aku telah begitu lalai kepada kedua orang tuaku yang telah merawatku sejak kecil.

Jika kami harus pulang, tidakkah itu akan menyusahkan mereka. Bapak dan Ibu akan sedih.

Aku tak ingin jadi beban mereka, apalagi dengan kedua anakku.

Namun, ada baiknya juga kami pulang buat sementara. Untuk menenangkan pikiranku, serta anak-anakku. Apalagi pas saat liburan begini.

"Baiklah, Nak. Liburan kali ini, kita ke rumah Kakek saja. Kamu bisa susun baju kamu ke ransel 'kan? Sekalian bantu adikmu. Besok kita liburan ke rumah kakek," ucapku.

Tanpa berkata apa-apa, Devan pergi. Aku juga segera mengemasi barang- barangku seperlunya saja.

Aku tak melihat, Bram, mungkin dia sudah pergi ke rumah ibu mertua seperti kebiasaannya. Tapi ternyata aku salah.

"Kamu mau kemana?" tanyanya saat melihatku menyusun pakaian ke dalam koper.

"Kami pulang dulu ke rumah ibu. Sepulang dari sana, semoga kita sudah punya keputusan masing-masing."

"Jadi kamu nekad tetap bercerai? Sombong sekali. Mau pake apa kamu kasih makan, anak- anak, hah!"

"Kamu lupa ya, kalau aku ini anak orang miskin. Jadi sudah terbiasa bekerja keras. Toh, hidup bersamamu juga jauh lebih menderita. Terbebas darimu adalah anugrah!" pungkasku.

"Dasar tak tahu bersyukur, masih untung aku mau dulu menikahimu."

"Oke, karena aku perempuan yang tidak tahu diri maka lepaskankan aku segera. Supaya kamu bebas dengan perempuan jalangmu itu."

"Dasar wanita sinting. Oke, berbuatlah seenakmu. Aku pastikan kamu tidak akan dapat 'kan apa-apa dari perceraian ini." Bram, masih mencoba mengintimidasiku.

"Kita lihat saja, siapa yang keluar dengan tangan kosong," ucapku lirih tapi cukup tajam menusuk pendengaran, Bram.

"Baik, kita lihat. Kamu akan menyesal setelah itu seumur hidupmu," Bram berlalu dari kamar dan menghentak pintu.

Aku menatap kepergiannya dengan sinis. Dengan senyum penuh kemenangan, karena aku telah berhasil menguasai surat-surat berharganya. Juga sejumlah uang yang aku temukan di kotak rahasia di dalam lemari itu.

Aku sangat terkejut, selain tak peduli dengan kami, ternyata suamiku Bram, adalah seorang suami yang pelit juga. Tetapi sangat royal pada orang lain. Di sangat teliti dan perhatian soal keuangan. Entah untuk siapa sejumlah uang yang dia miliki itu. Tiga buku tabungan dari tiga nama bank serta dengan jumlah rekening yang cukup membuat mataku hampir keluar, yang kutemukan di dalam lemari kerjanya itu.

Pantaslah, dia begitu hati-hati menjaga lemari itu. Sepanjang aku menjadi istrinya, aku tak pernah tau apa isi lemari itu. Selama ini aku mengira lemari itu hanya berisi berkas-berkas surat yang berhubungan dengan pekerjaannya saja.

Selama ini aku memang tak pernah ingin tahu tentang pekerjaan Bram. Yang aku tahu suamiku bekerja di sebuah kantor pemerintahan, itu saja.

Banyak hal yang dia rahasiakan padaku. Termasuk berapa slip gajinya ysng sebenarnya. Jika dia punya uang sebanyak itu di lemari kenapa dia biarkan ibunya, koar-koar protes, soal jatah uang yang dia stop karena pembangunan rumah kami?

Apakah, Bram, melakukan pencucian uang? Atau sengaja menciptakan gaya hidup sederhana untuk menyembunyikan identitas aslinya? Atau Bram diam-diam menumpuk uang korupsinya.

Atau hal lainnya. Ah, mumet juga otakku memecahkan misteri isi lemari itu.

"Mama, aku dan adek Mitha sudah selesai, Ma," ucap Devan membuatku tersentak. " Mama kenapa?"

"Eh, tidak apa-apa, Nak. Besok, kalau ada yang nanya kita mau kemana, bilang saja ke rumah kakek liburan, oke."

"Iya, ma."

"Sekarang, ayo makan. Setelah itu kita tidur supaya besok tidak kesiangan."

"Ayo, Ma."

Aku menghela napas panjang. Kali ini keputusanku sudah bulat, untuk berpisah. Bertahan hanya akan membuat hidupku dan anak-anak lebih menderita lagi.

Aku takut Bram akan lebih beringas lagi setiap melampiaskan emosinya padaku. Sikap kasar Bram, semakin kentara saja. Apakah karena tekanan dariku, atau lingkungan kerjanya, entahlah.

Biarlah kami pergi dulu untuk sementara, agar suasana di rumah tidak semakin memanas. Setelah selesai makan makan malam, aku memesan tiket untuk ksmi bertiga secara online. Untung masih ada taxi yang menerima tiga penumpang untuk berangkat pagi.Tempat duduknya juga berdampingan, jadi kami tidak terpisah.

Hingga larut malam, Bram, tidak juga pulang ke rumah. Karena dia punya kunci duplikat, aku tidak perlu menunggunya. Malam ini aku tidur di kamar anak-anak. Bagaimanapun, perlakuan kasar, Bram, tadi sedikitnya memengaruhi mentalku juga.

Aku tidak ingin mati konyol di tangan suamiku sendiri. Karena cukup banyak contoh di tengah masyarakat, suami atau istri membunuh pasangannya. Kadang karena masalah sepele. Sementara masalahku dengan,Bram, sudah cukup serius. Dia merasa terancam olehku, karena aku telah mengetahui rahasianya yang bakal akan menghancurkan karirnya.

Sekalipaun jauh-jauh hari aku sudah mempersiapkan segala kemungkinan, tapi bisa saja terjadi sesuatu hal di luar prediksiku. Mental seseorang bisa saja berubah secara mendadak.

Jika nantinya, aku pun harus bercerai, aku telah mempersiapkan seorang pengacara untuk memperjuangkan hak-hakku termasuk anak- anak. Aset Bram, yang diam-diam kuambil telah kuamankan. Semua itu untuk menjaga segala kemungkinan.

Sekarang saja aku, berani pergi untik sementara, karena aku telah mengambil beberapa ikat, uang Bram, kugantikan dengan lembaran kertas biasa agar dia tak curiga. Sungguh, aku jadi belajar jahat karena perlakuannya.

Dimatanya aku adalah istri yang bodoh. Tidak tau apa-apa. Jadi dia menganngap sepele ucapanku untuk pergi sementara dari rumah. Di rumah bapak dan ibu nanti akan kujelaskan semua apa yang terjadi dengan rumah tanggaku.

Aku sungguh tak takut apa-apa, aku benar-benar merasa yakin dengan keputusanku.

Bahkan aku merasa tak sabar malah, melihat paras, Bram, saat dia sadar bahwa dia sudah tak memiliki apa-apa lagi!.

Ketika, pagi telah tiba. Aku masuk ke kamar untuk memastikan apakah Bram, semalam pulang. Ternyata kamar kami kosong, tempat tidur masih mulus seperti kutinggalkan semalam.

Oke, terserah dialah menginap dimana, di rumah ibu atau Sarah atau di hotel sekalipun.

Aku mengirim pesan bahwa kami akan pergi jam 7, tanda centang berubah biru tanda dibaca tapi tidak dibalas. Kubiarkan saja, yang penting pesanku telah dibaca.

Saat kami sarapan, pesanku di balas.

"Pergilah, aku tidak bisa mengantar dan tidak bisa beri uang," tulisnya.

Dalam hati aku berucap, "Lebih dari yang akan kau beri, telah kuambil," ucapku dalam hati seraya tersenyum. ****

1
Evy
Pasti paman dan Bibi aslinya itu dalang penculikan Reny waktu bayi..
Evy
Pasti deh Dion yang itu..yang ada dimasa lalu dan kembali bertemu dimasa sekarang..
Evy
Lebih baik tidak usah dibantu masak.biar tau rasa...minta saja bantuan pada menantu kesayangan nya si Sarah..
Noerlina Akbar
Luar biasa
Hera sasuwe
👍👍👍
Shinta Dewiana
syukurlah arby masih hidup...
Shinta Dewiana
uuuuu.....seru...tegang ini..
Shinta Dewiana
udah cukup tu buktinyaa...ayooo garcep lah reny
Shinta Dewiana
rasain lu sarah...puntung kan...cacat
Shinta Dewiana
jadi vikki sm martin anaknya bram...bukan anak si rio
Shinta Dewiana
kapan giliran si sarah ini..
Shinta Dewiana
ayuuu...tunggu apalagi reny jemputlah kebahagiaanmu..
Shinta Dewiana
ooo..waduh bukannya kecelakaan mobil pas pulang ngajar
Shinta Dewiana
betul2 keluarga sampah..
Shinta Dewiana
mampus lu bram...
Shinta Dewiana
impas ya....hah....
Shinta Dewiana
bagus reny rekam semua sebagai bukti..
Shinta Dewiana
tu kan benerrrrr.....
Shinta Dewiana
jangan dalang sumuanya adalah bibi elis dan ARBY adalah anaknya
Shinta Dewiana
cerita aja ma...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!