Squall dari novel Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)
Diana namanya, seorang wanita yang menjadi selingkuhan Frans. Seorang anak angkat dari ayah bernama Toni dan Ibu bernama Halimah. Awalnya dia tinggal di kampung bersama Ayahnya yang seorang penjudi, mabuk-mabukan, dan terlilit banyak hutang.
Sengaja datang ke kota metropolitan untuk mengundi nasib, berharap kehidupannya akan semakin baik.
Namun naas, yang didapatnya bukanlah pekerjaan baik-baik seperti rencananya. Dia terpaksa menjadi seorang wanita penggoda pria berdompet tebal demi memenuhi tuntutan ayahnya yang terus-terusan meminta uang padanya.
Silih berganti masalah terus dia hadapi, hingga mendapati tragedi naas terjadi saat berhubungan intim dengan pemuda bernama Ansel, tanpa diduga, alat kontrasepsi yang dipakai Ansel masuk ke rahimnya. Dan pada akhirnya membuahkan bibit bayi. Dan pernikahan paksa pun terjadi.
Dan inilah kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Azzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Rumah Sakit
"Toni?" Gumam Ansel menatap ponsel Diana. Terdapat sebuah panggilan dari seseorang yang diyakini bernama Toni sesuai nama tertulis di layar.
"Siapa Toni?" Batin nya penasaran. Selama ini Ansel tak pernah mendapat kabar jika Diana dekat dengan seseorang selain para laki-laki hidung belang yang hanya sekali atau dua kali berkencan dengan nya. Tentu nya selain Adrian dan Frans.
Ngomong-ngomong tentang Frans, laki-laki itu baru saja di diagnosis terkena penyakit kelamin setelah berhubungan dengan beberapa wanita sekaligus.
Tentu saja hal itu bukan semata-mata murni ketidaksengajaan. Adrian lah pelakunya. Laki-laki itu benar-benar sangat kejam, dia tak terima karena telah memisahkan dia dan mantan kekasih nya yang bernama Alexa. Akibat ulah Frans, dia salah faham dengan wanita itu hingga mereka berpisah. Dan lebih parahnya lagi, Frans menikahi wanita yang sangat dia cintai dan setelah puas, tiba-tiba membuang begitu saja seperti sampah.
Wajar saja jika Adrian menjebak laki-laki itu hingga mengidap penyakit mematikan dan tentunya sangat menjijikkan hingga tak ada seorangpun mau mendekati nya.
Oke, kembali ke topik!
Ansel mengingat-ingat nama yang menurut nya tidak familiar tapi juga tak asing baginya. Toni? Siapa itu Toni? Dia seperti pernah mendengar nya.
Tiba-tiba saja dia teringat Bastian, laki-laki yang menjadi informan saat menyuruh mencari data Diana. Di ingat sekarang! Toni adalah ayah angkat Diana yang suka mabuk-mabukan dan judi. Dialah penyebab Diana melakukan pekerjaan kotor.
Laki-laki itu, Toni! Ansel tak akan mengampuni nya!
Dering ponsel yang tadinya sudah berhenti karena Ansel kelamaan mengangkat kini berbunyi lagi. Enggan sekali rasanya laki-laki itu mengangkat panggilan dari seorang yang begitu tega menyiksa putri nya sendiri. Ya, meski Diana hanya seorang anak angkat, api tetap saja status nya adalah sebagai anak dari Toni.
Meksi deringan panggilan itu terus berbunyi, tapi Ansel tetap mengabaikan begitu saja. Dia ingin melihat sampai kapan di tua bangka itu menghubungi putri nya. Lagian dia juga tahu apa yang akan dikatakan tua bangka itu jika dia mengangkat telepon.q
Dan...
Ting.
Satu pesan masuk dari nomor kontak bernama Toni. Meski tak berminat untuk membuka pesan itu, jiwa kemanusiaan Ansel yang selalu kepo tiba-tiba menderanya, alhasil dia lebih memilih mengintip dari layar notifikasi untuk menghilangkan rasa penasaran nya.
"Ck, Bastard!" Gumam Ansel lirih dengan gigi-giginya yang saling ber-gemelutuk kuat. Seketika Ansel terpancing emosi setelah melihat pesan ayah laknat Diana.
Tidak tahu apa yang dirasakan Diana disini, bahkan dia tak perduli dengan cara apa Diana mencari uang, tetapi dengan begitu bejat nya Toni terus-terusan meminta uang dengan alasan untuk pengobatan Bu Halimah. Sedangkan Ansel yakin seratus persen, uang itu tak mungkin digunakan untuk pengobatan ibu Halimah, karena sesuai informasi yang didapat nya beberapa waktu lalu, ibu Halimah masih sakit-sakitan seperti biasa karena tak memiliki uang untuk berobat.
Jangankan untuk berobat, untuk biaya makan sehari-hari saja tak memiliki uang karena pak Toni tak pernah memberikan uang.
Uang kiriman dari Diana sepenuhnya digunakan untuk mabuk-mabukkan dan berjudi. Tak jarang juga menyewa wanita malam untuk pelampiasan nafsu nya jika sedang menang judi.
"Eugh ..." Lenguhan Diana berhasil membuyarkan konsentrasi Ansel yang sejak tadi berpikir untuk membalas perbuatan pak Toni.
Secara refleks kepala Ansel menoleh menatap Diana yang masih terbaring di atas ranjang dengan posisi yang terlihat menggemaskan. Rupanya Diana hanya melenguh namun tak juga membuka mata. Sepertinya memang wanita nya ini sangat kelelahan. Dia jadi merasa bersalah karena telah membuat wanita nya lelah. Tapi itu hanya sesaat, karena setelah nya dia merasa sangat senang melihat Diana yang kelelahan seperti ini.
Dia ingin Diana kelelahan lalu memohon pada nya untuk meringankan tugas-tugas nya lalu Ansel memanfaatkan itu untuk terus menekan wanita nya.
Saat menatap tubuh Diana yang terlihat anggun meski masih tertidur nyenyak, Ansel jadi ingin kembali melanjutkan kegiatan nya tadi. Terlebih melihat tubuh Diana yang belum tertutup sempurna karena tadi Ansel hanya menutupi bagian-bagian tertentu yang menurut nya tak baik jika dibuka terlalu lama.
"Sayang, mari kita lanjutkan." Ansel kembali merangkak naik ke atas ranjang mengungkung tubuh wanita nya yang masih betah memejamkan mata meski telah diganggu sejak tadi, sepertinya Diana memang tak terusik sedikit pun meskipun berulang kali Ansel bertingkah ekstrim pada tubuh nya.
Dan kali ini, laki-laki itu bahkan tampak menanggalkan seluruh pakaian nya hingga terlihat seperti sesosok bayi besar yang baru saja lahir. Tak ingin membuat Diana terbangun, Ansel mengambil selimut yang menutupi tubuh istri nya perlahan lalu memposisikan tubuhnya dan tubuh Diana untuk melakukan penyatuan.
Sepertinya memang Ansel sudah tak tahan, buktinya dia tak mengulang foreplay. Dia segera menuju intinya dan dengan satu kali hentakan dua alat tempur itu berhasil menyatu. Akibat ulah Ansel yang tak sabaran saat menusuk kan senjata, membuat Diana memekik dan terbangun dari tidurnya.
"Aaaa...!"
Diana menjerit kaget saat tiba-tiba merasakan benda tumpul memasuki lubang intinya dengan keras. Ada rasa sakit sekaligus aneh saat benda tak beradab itu masuk tanpa aba-aba.
Belum reda keterkejutan nya, kini dia kembali dibuat terkejut saat Ansel mulai menggerakan pinggul nya dengan pelan. Ada rasa aneh dan nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh menyatu menjadi satu. Nalurinya ingin menolak tetapi tubuhnya bertolak belakang. Dia tak memungkiri bahwa dirinya juga mendambakan ketangguhan dan keperkasaan Ansel.
Samar-samar mulai terdengar rintihan serta dessahan Diana. Berhasil! Ansel merasa telah berhasil membuat Diana terbuai dan tak bisa menolak tiap sentuhan nya. Dalam hati dia sangat bangga akan ketangguhan nya itu. Terlebih saat ini Diana dibuat tak berdaya di bawahnya itu semakin membuat Ansel teramat bangga.
"Sshh ... Sakittt .." Baru saja Ansel memuji dirinya sendiri, kini dia dibuat panik saat mendengar Diana meringis seperti kesakitan. Dan bertambahlah keterkejutan nya saat Diana meremas perut nya yang masih terlihat berlum berubah.
"Kau kenapa?" Tanya nya dengan raut wajah panik. Bahkan dia sudah menghentikan gerakan nya meski belum mencapai puncak.
"Sshh ... perutku sakit, sepertinya kram." Sahut nya dengan mulut mendesis dan mata terpejam dengan beberapa kerutan di dahinya yang suadh keluar keringat panas bercampur dingin. Sedangkan tangan nya tak berhenti meremas perut, membuat Ansel tak tahan untuk tak menyentak tangannya yang berusaha menekan bayi nya didalam perut.
"Jangan seperti ini." Perintah nya tegas namun tetap dengan nada khawatir yang teramat. "Kita ke rumah sakit sekarang."' Tanpa menunggu jawaban dan tanpa menunggu banyak waktu Ansel segera meraih bokser yang tergeletak di lantai. Ya, meskipun sebenarnya sangat tak rela melepaskan dua benda yang sedang menyatu erat tapi mau bagai lagi? ini demi kelangsungan spesies nya, eh! keturunan nya.
Setelah menggunakan bokser dan baju atasan, Ansel segera memakaikan jas miliknya pada tubuh polos sang istri dan segera membawa ke rumah sakit.
Setelah sampai di lantai bawah, Ansel bahkan berteriak sangat keras memanggil sang supir namun tak juga menghadap kearah nya. Alhasil, seorang staff laki-laki yang entah dari bagian apa yang sedang berjalan tak jauh darinya membawa se tumpukan kertas itu menjadi korban nya.
"Hei. Kau ..!" Teriak nya lantang. Tentu saja laki-laki itu menoleh karena merasa tak ada orang lain selain nya di sana setelah melihat ke semua arah.
"Kau, bodoh! Kenapa malah melihat kearah lain?" Marah nya menatap tajam laki-laki yang terlihat seperti orang linglung itu.
Dan tanpa banyak waktu, laki-laki itu berlari tergopoh-gopoh saat menyadari sang CEO memanggilnya. Ini adalah kesempatan bagus untuk menjilat, batin nya. Dia bahkan sampai rela meninggalkan se-tumpukan kertas itu di samping tangga darurat.
"Ada yang bisa saya bantu,Tuan?" Tanya nya sembari menunduk hormat.
"Masih tanya lagi! Tentu saja aku butuh bantuan mu!" Bentak nya. "Cepat kau antarkan aku ke rumah sakit."
Laki-laki itu pun memberanikan diri menatap Tuan nya. Sepersekian detik kemudian, bola matanya melebar menyadari sesuatu. "T-tapi, Tuan."
"Tidak ada tapi-tapi!" Bentak nya lagi.
laki-laki itu akhirnya hanya bisa menghela nafasnya pelan."Baik, Tuan." Jawabnya.
Padahal dia berkata tapi bukan karena ingin menolak perintahnya, atau karena tak bisa menyetir. Laki-laki seumuran Ansel itu hanya ingin memberitahu kalau Ansel belum menggunakan celana. Mungkin jika menggunakan bokser dan kaus dalam itu masih wajar. Tapi ini? Ansel bahkan menggunakan kemeja putihnya yang tak terkancing rapi dengan bawahan celana bokser bergambar anime spiderman.
Laki-laki itu pun akhirnya memilih diam dan berjalan mengikuti Ansel menuju mobil dengan hati yang tak berhenti berdoa agar tak ada satu orang pun yang menertawakan nya, karena jika sampai itu terjadi maka dirinya lah yang akan dijadikan kambing hitam.
makasih thor 🙏
auTo ngakaaak
spideRmaN😂😂😂😂