NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10 - Lila

Rumah keluarga Darto berada di gang sempit yang hanya cukup dilalui satu motor.

Naya sampai di sana menjelang siang. Matahari Bekasi terasa menekan kepala. Bau got, gorengan, dan deterjen bercampur di udara. Anak-anak kecil berlari tanpa sandal, sementara ibu-ibu duduk di depan warung menatap orang asing dengan rasa ingin tahu.

Naya berhenti di depan rumah bercat hijau pudar.

Dari dalam terdengar suara perempuan membentak.

"Dasar anak sial! Piring saja tidak becus!"

Lalu suara pecahan.

Naya tidak berpikir.

Ia mendorong pintu pagar yang tidak terkunci dan masuk.

Di teras sempit, seorang gadis kecil berdiri dengan tubuh gemetar. Usianya mungkin empat tahun, tetapi badannya terlalu kurus. Rambutnya dipotong pendek asal-asalan. Di tangannya ada pecahan piring. Darah kecil mengalir dari jarinya.

Di depannya seorang perempuan gemuk mengangkat sapu.

"Kamu pikir piring itu murah?"

Sapu itu turun.

Naya menangkapnya di udara.

Perempuan itu terkejut. "Eh! Siapa kamu?"

Naya menarik sapu itu dari tangannya dan melemparkannya ke lantai.

"Jangan pukul dia."

"Ini anak saya! Kamu siapa masuk rumah orang?"

Gadis kecil itu menatap Naya.

Dunia Naya berhenti.

Mata itu.

Hitam, besar, hati-hati. Mata yang sama dengan bayi dalam mimpinya. Mata yang entah bagaimana mirip Rayyan, hanya lebih sunyi.

Di pergelangan tangan kecilnya ada bekas tali lama. Bukan gelangnya, tetapi bekas itu cukup untuk membuat dada Naya runtuh.

"Lila?" suara Naya pecah.

Gadis kecil itu tidak menjawab.

Perempuan gemuk itu tertawa kasar. "Oh, kamu kenal nama panti dia? Mau apa? Wartawan?"

Naya berlutut pelan. Ia tidak menyentuh anak itu dulu. Ia takut membuatnya mundur.

"Lila," katanya lebih lembut. "Nama saya Naya."

Mata Lila berkedip.

Tidak ada suara.

Perempuan itu menyilangkan tangan. "Dia tidak bisa ngomong. Dari panti sudah begitu. Anak kurang beres."

Naya berdiri.

Kemarahan naik begitu cepat sampai tangannya dingin.

"Kenapa jarinya berdarah?"

"Namanya anak-anak, biasa."

"Kenapa lengannya penuh memar?"

Perempuan itu mulai kesal. "Saya bilang ini anak saya. Kamu mau sok jadi pahlawan?"

Seorang pria keluar dari dalam rumah, kurus, memakai kaus singlet.

"Ada apa sih, Bu?"

"Ini orang masuk sembarangan. Katanya kenal si bisu."

Pria itu menatap Naya dari atas ke bawah, lalu wajahnya berubah licik.

"Mbak dari panti?"

"Saya ibu kandungnya."

Kalimat itu membuat halaman kecil mendadak senyap.

Perempuan gemuk itu melongo, lalu tertawa keras.

"Ibu kandung? Enak saja! Anak ini sudah kami adopsi. Dokumennya ada."

"Saya punya bukti kelahiran."

"Bukti apa? Mana?"

Naya mengeluarkan map dari tasnya. Semalaman ia tidak tidur. Ia menghubungi Yuni, mencari kontak lama, mendatangi Panti Pelita Hati saat subuh, memohon pada pengurus lama yang hampir tidak mau bicara. Ia tidak mendapatkan semua dokumen, tapi cukup untuk memulai: salinan catatan bayi perempuan dari rumah sakit, foto gelang, surat rujukan panti, dan formulir adopsi yang memuat nama Lila.

Tidak sempurna.

Tapi cukup untuk membuat dua orang di depannya panik.

Pria itu merebut map, tetapi Naya menariknya cepat.

"Jangan sentuh."

Perempuan gemuk itu menaikkan suara. "Tetangga! Tolong! Ada orang mau menculik anak!"

Dalam beberapa detik, orang-orang mulai berkumpul di depan pagar.

"Ada apa?"

"Menculik anak?"

"Iya, itu anak si Darto, kan?"

Naya memegang tangan Lila. Anak itu awalnya kaget, tetapi tidak menarik diri. Tangannya kecil sekali. Panas. Gemetar.

"Saya tidak menculik," kata Naya, suaranya cukup keras. "Saya ibu kandungnya. Anak ini diadopsi dari panti dengan dokumen yang harus diperiksa ulang. Saya juga melihat tanda kekerasan. Saya akan lapor polisi dan Dinsos."

Perempuan itu langsung berteriak.

"Fitnah! Kami merawat dia! Kamu tahu berapa susahnya urus anak bisu? Makan, sekolah, sakit, semua kami tanggung!"

Naya menatap pakaian Lila yang lusuh, jari berdarah, dan memar di leher.

"Merawat?"

"Jangan sok! Kalau kamu ibu kandung, kenapa baru muncul sekarang? Ke mana kamu selama ini?"

Pertanyaan itu menghantam telak.

Orang-orang mulai berbisik.

Naya merasakan tangan Lila mengecil di genggamannya.

Ia menunduk pada anak itu. Lila menatapnya, bukan menuduh, hanya takut.

Naya mengangkat wajah.

"Saya di penjara."

Bisik-bisik langsung membesar.

Perempuan gemuk itu tersenyum menang. "Dengar? Mantan napi! Pantesan. Mau ambil anak untuk apa? Dijual?"

Naya melangkah maju.

"Saya dipenjara karena kasus yang sedang saya perjuangkan untuk dibuka lagi. Tapi bahkan kalau saya benar-benar mantan napi, hukum mana yang memberi kalian hak memukuli anak?"

Perempuan itu terdiam sesaat.

Naya mengeluarkan ponsel. "Saya sudah memotret memarnya. Saya sudah merekam bentakan tadi dari depan pintu. Polisi sedang saya hubungi."

Itu setengah bohong. Ia belum sempat menelepon polisi.

Tapi Yuni sudah ia kirimi lokasi sebelum masuk. Kalau ia tidak mengirim kabar dalam lima belas menit, Yuni akan menelepon.

Pria bernama Darto itu mendekat, suaranya berubah lebih halus.

"Mbak, jangan ribut. Kalau memang mau bawa anak ini, kita bicara baik-baik."

"Saya tidak membeli anak saya."

"Siapa bilang beli? Tapi kami sudah keluar biaya. Empat tahun, Mbak. Susu, makan, dokter. Tidak sedikit."

Perempuan gemuk itu cepat menangkap arah pembicaraan.

"Iya! Kalau mau ambil, ganti biaya. Minimal lima puluh juta."

Naya menahan napas.

Lima puluh juta.

Ia bahkan belum membayar semua tagihan Nenek.

Darto melihat wajahnya dan tersenyum.

"Tidak punya? Ya sudah. Anak ini tetap di sini."

Lila mendadak mencengkeram tangan Naya lebih kuat.

Gerakan kecil itu menghancurkan semua pertahanan Naya.

Ia berlutut dan memeluk Lila.

Anak itu kaku pada awalnya, seperti tidak tahu bagaimana caranya dipeluk tanpa takut. Lalu perlahan, sangat perlahan, tubuh kecilnya menempel pada Naya.

Tidak ada suara.

Hanya napas patah-patah di bahu Naya.

"Saya akan bawa kamu pulang," bisik Naya. "Entah bagaimana caranya."

Sirene pendek terdengar di ujung gang.

Yuni datang bersama dua polisi sektor dan seorang petugas perempuan dari kelurahan yang kebetulan ia kenal. Wajah Yuni merah karena marah.

"Naya!"

Darto langsung berubah pucat.

Proses setelah itu kacau. Perempuan gemuk menangis, mengaku hanya "mendidik". Darto bicara soal biaya. Tetangga yang tadi menonton mulai memberi kesaksian, sebagian pura-pura tidak tahu, sebagian akhirnya mengaku sering mendengar tangisan anak.

Petugas perempuan memeriksa tubuh Lila di ruang tamu dengan pintu setengah tertutup. Ketika ia keluar, wajahnya keras.

"Anak ini harus dibawa untuk pemeriksaan medis. Sementara tidak bisa tinggal di sini."

Perempuan gemuk itu langsung berteriak. "Tidak bisa! Itu anak saya!"

Lila bersembunyi di belakang Naya.

Polisi menahan Darto yang mulai kasar.

Naya menggendong Lila, tetapi perempuan itu masih mencoba menarik kaki anak tersebut.

Saat itulah sebuah mobil hitam berhenti di depan gang.

Semua orang menoleh.

Raka keluar lebih dulu, lalu membuka jalan.

Arkan Wiratama muncul dengan wajah dingin.

Naya membeku.

"Pak Arkan?" Yuni berbisik tidak percaya.

Arkan menatap Naya, lalu anak kecil dalam pelukannya, lalu darah di jari Lila.

Matanya menggelap.

"Siapa yang melukai anak itu?"

Darto menelan ludah.

Perempuan gemuk yang tadi berani mendadak diam.

Naya memeluk Lila lebih erat.

"Ini bukan urusan Bapak."

Arkan mendekat satu langkah, tetapi berhenti ketika melihat Naya mundur.

"Raka melacak ponselmu karena kamu tidak masuk kerja dan rumah sakit bilang kamu pergi sejak subuh. Aku datang bukan untuk bertanya izin."

"Saya tidak minta bantuan."

"Aku tahu."

Arkan menatap Lila lagi.

Anak itu mengintip dari bahu Naya. Matanya bertemu mata Arkan.

Untuk satu detik, Arkan tidak bisa bernapas.

Mata itu.

Bentuk wajah itu.

Terlalu mirip Rayyan.

Rania pernah bilang Naya hanya anak angkat keluarga Pradipta.

Rania juga pernah bilang anak Naya mati.

Arkan menatap Naya.

"Siapa dia?"

Naya menjawab tanpa berkedip.

"Anak saya."

Di antara gang sempit, orang-orang, polisi, dan tangis palsu perempuan gemuk, kalimat itu jatuh seperti petir.

Arkan menatap Lila sekali lagi.

Lalu, untuk pertama kalinya, kecurigaannya bukan lagi bayangan.

Ia hampir yakin ada seseorang yang telah berbohong kepadanya sejak empat tahun lalu.

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!