Shakira baru saja memulai lembaran baru di bangku kelas 2. Namun siapa sangka di halaman pertamanya ia bertemu dengan Aji, sosok pria yang notabene digandrungi banyak hawa karena image cool yang keterlaluan.
Pada kenyataannya lain untuk gadis temperamen semacam Shakira, di mana ia menemukan image sebenar dari Aji. Dari itu pula misteri tentang Aji mulai merangsang keingin tahuan Shakira. Satu per satu akan Shakira temukan dalam tiap lembaran kertas kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reirin Mitsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[SEASON 2] Cerita Niko
Bila kalian tahu Shakira susah diajak bangun, Aji justru sebaliknya. Meski ke mana-mana dalam keadaan mata terpejam, pria jangkung ini sudah menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya sendiri. Begitu tamu mengucapkan salam dan mengetuk badan pintu, Aji baru saja keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah di area tertentu.
Ia berwudhu di situ, lumayan buat mata melek.
"Assalamualaikum, Ji. Ini gue, Niko. Lo masih inget, kan?" Bunyi ketukan pintu terus terdengar layaknya sebuah ketukan drum waktu SMA. Setidaknya Aji sedikit lega karena yang datang bukan orang asing.
Rasanya kasihan dengan Shakira, didatangi orang tak dikenal yang mengaku teman satu kelas Aji.
"Iya, sebentar!" Sembari menggulung lengan kaos, ia berjalan mengambil sajadah yang menghampar kepala kursi kayu—tempat Aji mengerjakan skripsi dalam rumah.
Ia pun membuka pintu, menariknya untuk melihat sosok pemuda bermuka kusut. Aji sempat kaget, begitu pula dengan Niko. Alasan mereka kaget pun berbeda. Sama-sama mengenai penampilan inti alasannya.
Mata belok Niko menghitam sekali, dia benar-benar kurang tidur. Dia menatap setiap anggota tubuh pemilik kamar kos ini. Memang benar yang dikatakan para gadis, Aji sungguh tampan bila tanpa cermin mata. Terlihat seperti anak SMA. Semua itu didukung dengan pakaian yang Aji pakai: kaos panjang warna putih dan celana olahraga warna hitam. Pakaian dia juga terlihat longgar namun pas di badan.
"Kamu kusut gitu, Nik," kata Aji menggaruk pipi dengan telunjuk. "Mending kamu mandi dulu deh, aku tunggu."
"G-gak usah, Ji." Niko melambaikan kedua tangan di depan muka. "Gue gak mau ngerepotin lo."
"Udah, mandi aja dulu." Sekonyong-konyong pria bersurai hitam itu menarik pergelangan tangan Niko, membawanya ke kamar mandi yang dekat dengan dapur dan meja makan. "Masih imsak kok. Aku bawain baju yang aku punya buat kamu."
"Lo ... mau shalat, Ji?" tanya Niko membenarkan letak kacamata.
"Lah, kita sebagai umat beragama harus beribadah," jawab Aji mengernyit bingung, untung belum balik badan. "Mau itu agama islam, kristen, atau agama yang dianut, ibadah harus wajib dilaksanakan.
"Apa lagi aku menganut agama islam, shalat lima waktu pasti wajib hukumnya." Pria jangkung berisi itu berkacak pinggang. "Kamu sering ninggalin shalat, ya?"
"I-iya, Ji." Pemuda bersurai model mangkuk ini menunduk menutupi muka degan semburat merah padam. "G-gue malu, gue pecundang banget. Cowok rajin dan populer kayak lo aja masih sempetin beribadah. Lah, gue?"
"Eh? A-aku gak bermaksud buat—"
"Gue ngerti, Ji," potongnya mendongak mengembuskan karbon dioksida yang menyesak di dada. Senyum simpul, Aji tahu dia berusaha untuk tidak menangis. "Kadang gue pengen kayak lo, masih bisa bertakwa sama Allah meski lo populer di kalangan cewek-cewek. Lo punya muka ganteng, gak heran mereka suka sama lo? Gue? Jangan ditanya."
Sensasi nyeri di organ vital memeringati Aji pasal pendapat temannya. Kelopak matanya menyempit, iris hitamnya terpancar sendu. "Aku benci bilang begini, tapi ... aku gak suka omongan kamu."
"M-maksudnya?" Niko hanya menggerakkan bola mata.
"Iya, kamu hanya mengejar cewek impianmu sampai rela tak ikuti ajaran Allah. Allah susah payah ciptain kamu tapi kamu tak mensyukuri usaha-Nya. Kamu malah bilang mukamu jelek ketimbang aku, sama aja gak ngehargai ciptaan Allah. Aku paling benci soal sisi dalam diri kamu, Nik." Aji mengerling tajam, berpaling dari lawan bicara.
"Eh, g-gue minta maaf, Ji," kata dia mendesah penuh sesal. "Lo tau, kan? Gue terlalu fokus sama hal duniawi. Gue juga pengen punya aktivitas yg sama kayak lo, kayak sekarang ini. Lo mau shalat subuh."
"Ya makanya cepetan mandi!" Spontan Aji mendorong Niko untuk masuk ke kamar mandi, lalu menutupnya tanpa ada paksaan. Bunyi bedebam dari pintu berbahan plastik sempat mengagetkan Niko. "Kunci pintunya! Aku mau ambil baju buat kamu!"
Tak ada sahutan dari sana. Yah, mungkin sedang buka baju. Aji memilih untuk membawa baju yang sekiranya muat dalam tubuh teman baru itu. Niko bisa dibilang memiliki badan sedikit gemuk, untungnya semua baju yang Aji punya longgar—memang disengaja.
"Nih, aku simpen di meja makan, ya!" Lagi-lagi tak ada sahutan dari dia. Masa bodoh. Pria berkulit sawo matang ini menarik kursi besi penemuan ayahnya kala bekerja di pos satpam, duduk sembari membuka ponsel jadul.
Keheningan, itulah yang mereka rasakan bila berada di ruangan yang berbeda.
Aji terbiasa tinggal sendirian, namun ada tamu yang berlama-lama di sini, pendirian Aji seolah-olah terguncang bak tumpukan bantal di kasur: mudah untuk ditubuhkan, susah menyusun kembali.
"Ji...." Suara Niko akhirnya terdengar juga, walau diiringi gemericik air. Pria berpakaian kaos panjang putih ini hanya menggumam menyahut.
"Lo mau gak ... ajarin gue jadi cowok kayak lo?"
Mungkin bagi Niko, Aji tak membalas percakapannya. Niko salah besar, Aji merespon dengan kerlingan sendu. Pria yang Niko kenal selalu mengenakan bingkai mata itu terus menatap pintu bergambar pemandangan air terjun.
"Gue lelah ngejar duniawi, gak dapat apa-apa." Kini yang Aji dengar bukan air tumpah, melainkan gosokan tangan berlumuran sabun cair—Aji sering beli sabun cair di warung. "Kalo ngejar akhirat, kan, gue dapat amal dan pahala meski capek berbuat kebaikan."
Aji hendak mengatakan sesuatu, namun mulut yang terbuka tak bersuara. Ia tak tahu, kalimat apa yang pantas untuk membalas? Niatnya terurungkan.
"Ji, bajunya mana?"
Aji mendelik kaget, segera mengambil baju bagi dia. Tangan bercucuran embun air wudhu mengetuk-ngetuk pintu. "Ini bajunya. Kamu boleh kembaliin bajuku kapan aja kok."
"Lo tau gak yang paling buruk dalam diri gue?" Ah, Aji mendengar suara tangisan di dalam kamar mandi. Mau pendengarannya dipertajam pun hasilnya tetap sama, Niko terisak-isak dalam diam. Aji pun berkata, "Nik, kamu gak apa-apa, kan?"
"Gak usah cemasin gue." Pintu pun terbuka, memperlihatkan badan Niko yang penuh akan tato, terutama di bagian lengan. Dia hanya melilitkan handuk untuk menutupi perut hingga ke bawah. "Mana baju lo?"
"Nih." Dua helai baju yang dilipat rapi diserahkan pada yang membutuhkan. "Kamu beneran gak apa-apa? Mata kamu merah gitu lho."
"Udah, Ji. Lo gak perlu cemasin gue," kata Niko menunduk kikuk. Sesekali terdengar isapan dari hidung dia, juga bulir bening mengalir di kedua pipi. Ah, suasana hati Aji makin runyam kala melihat Niko bermuka murung. Ia masih berdiri meski pintu kembali tertutup dengan keras.
Bukannya Aji sok tahu, pria beriris sehitam arang itu mengerti akan perasaan Niko. Pasti sakit rasanya begitu menyadari bahwa ia dimanfaatkan untuk hiburan seseorang itu sendiri. Terlebih dimanfaatkan oleh sosok yang disukai, yang dicintai. Andai Allah mau memberikan dia kesempatan kedua....
Ah, tunggu. Aji ingat betul pembahasan kemarin malam dengan Shakira.
Waktu itu, Aji mendapat telepon dari gadis temperamen semasa SMA. Awalnya hanya perbincangan ringan pasal kuliah, tugas kampus, dan organisasi yang mereka ikuti. Hingga satu pertanyaan mengubah suasana ruangan menjadi tegang dan dingin.
"Apa korban cinta si Aura itu temen lu?"
Ayolah, Aji tengah masak mi goreng ketika berkomunikasi lewat benda pipih. Api di kompor pun cukup besar, sampai Aji kesusahan mengaduk mi saking panasnya—maklum, Aji hanya mengaduk mi dengan garpu. Mana mungkin suasananya berubah dingin mendadak?
"Maksud kamu si Niko?" tanya Aji mematikan nyala api, lalu memasukkan bumbu dan minyak mi instan ke piring. Ia sengaja menaruh ponsel di meja, menelepon Shakira memakai mode speaker.
"Iya, cowok itu," jawabnya dari speaker ponsel. Suaranya agak kurang jelas, karena sinyal mungkin. Entahlah, selama Aji main game online di rumah sinyal masih bagus. "Gua kasihan banget sama si Niko. Gua bukan suudzon, ya. Ini emang kenyataan, si Niko termasuk korban ke sekian dalam kasus cinta si Aura tengik!"
"Tau dari mana kamu kalau si Aura suka gonta-ganti pasangan?" Pria berkacamata bingkai bulat itu baru saja meniriskan mi yang dimasak. Ia dikejutkan oleh perkataan Shakira. "K-kamu jangan mengada-ada soal orang lain, Kir."
"Terserah lu mau percaya sama gua atau gak. Ini berdasarkan logika gua. Kalau Niko gak nangis lihat si Aura deket sama cowok lain, pastinya gue kagak tau teori ini. Niko sama Aura pacaran, kan, Ji?"
"Kata dia sih iya, mereka pacaran," jawab Aji mengaduk-aduk mi berlumuran kecap manis dengan garpu. "Emang kenapa?"
"Tuh, kan! Dugaan gua bener!" Aji sedikit terperanjat setelah mendengar bunyi gebrakan dari seberang telepon. "Tadi pagi tuh anak datang ke gua buat belajar bersama. Katanya mau tau banyak soal materi teknik kimia gara-gara lu belajar dari gua. Gua ngerasa dia belajar bukan buat nambah ilmu, tapi buat deketin lu, modus lah kalau kata orang gaul mah."
"Seriusan?" Kali ini, sosok pria bersurai cokelat menyiapkan sekantong teh celup. Tak lupa menaruh satu sendok gula pasir. Aji tak suka minuman yang terlalu manis. "Masuk akal dugaan kamu."
"Ya, pesan gua buat lu, jangan sampai lu terganggu sama godaan cewek macam Aura. Apa lagi kalau sampai lu marah-marah. Gua gak mau lu kayak gitu."
"Ah, gua lupa sesuatu," sela Shakira, tepat saat Aji melahap satu suapan mi goreng instan dalam porsi kecil. "Besok lu ada waktu kagak? Gua mau belajar bareng lu. Hitung-hitung saling berbagai materi dari jurusan yang berbeda. Lu mau gak?"
Cukup sampai di sini, Aji sudah menemukan jawaban untuk Niko. Aji hendak mengetuk pintu, namun lagi-lagi niatnya diurungkan. Shakira paling benci kalau teman belajarnya tipikal plin-plan, terutama pada pria. Maklum, Shakira kurang supel bila berada di lingkungan biru, lebih sering muncul di lingkungan merah.
Tapi, lebih baik dicoba dari pada menyesal tak dicoba. []
Bonus track!
Sensasi gemetar di meja menarik perhatian Aji. Di detik-detik mau adzan magrib, Aji sudah terbiasa dengan bunyi perut yang mendemo. Pria dengan cermin mata bulat itu sering puasa senin-kamis.
Sungguh nikmat bukan main pemandangan yang Allah ciptakan. Langit sungguh oranye, warna matahari terbenam pun mirip teh celup bundar. Ditambah kegiatan mengerjakan skripsi di luar menggunakan laptop guna cepat selesai, Tuhan mana yang kamu dustakan?
Kalau pemandangan di dunia indah bukan main, bagaimana dengan keindahan di surga yang kekal?
Kembali ke cerita.
Di layar ponsel yang menggetar di meja, Aji melihat nomor yang tak dikenal. Dalam benaknya, siapa yang telepon? Angkat atau tidak? Kalau tak diangkat, pasti si penelepon kembali menghubungi nomor ponsel Aji.
Apa lebih baik diangkat saja, ya?
Aji mengernyit bingung, memperlihatkan lipatan di sekitar ujung alis dekat pangkal hidung. Baiklah, ia menggeser ikon hijau dan mengaktifkan mode speaker.
"Assalamualaikum, Ji." Rupanya suara ibu-ibu. Salah sambung, kah?
"Waalaikumsalam," jawab Aji kembali berfokus pada kerjaannya. "Siapa, ya?"
"Lah ..., ini Emak, Ji. Emak kangen sama kamu. Gimana kabarmu, sehat-sehat saja di kampus?"
Jemarinya berhenti bergerak, bergeming untuk beberapa saat. Tanpa sadar bulir asin mengalir dari sudut mata Aji. Tak ia sangka, benarkah ini ibunya? Lantas, ia menyimpan dokumennya dan meng-shutdown laptop, lalu mengambil ponselnya.
"Emak! Alhamdulillah, Aji sehat kok, Mak," ucap Aji bercampur haru. Bagian putih matanya memerah akibat diterpa angin.
"Emak, Aji rindu bukber bareng keluarga. []
Huwaa, maaf baru update di awal Mei!
Insya Allah, di bulan Mei aku usahakan update tiap hari, mungkin ada yang double update!
Mumpung puasa begini, dari pada gabut, yuk banyakin baca! Paling diutamakan baca al-qur'an yaa!
Reirin Mitsu
semangat thorr nexttt❤️❤️❤️
Next thorr