Kisah seorang cucu yang relah mengorbankan mahkotanya demi menyelamatkan nyawa sang nenek.
Rindu nama gadis itu, dia harus bertemu dengan seorang pria yang sangat kejam dan juga di takuti di kota itu.
Apa yang akan terjadi berikutnya yuk mari ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon akos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. HARI PELELANGAN TIBA.
"Mau kemana kamu?, urusan kita belum selesai. Aku belum juga memberi pelajaran untukmu," bentak Rany masih memegang erat kera baju milik Rindu.
"Lepasin tidak?," bentak Rindu yang kini tersulut emosinya.
"Kalau Aku tidak mau, kamu mau Apa?," tantang Rany.
"Baiklah kalau itu maumu," Rindu memegangi tangan Rany kemudian sedikit menunduk dan memutar badanya.
"Awoo...sakit," ringis Rany yang pergelangan tanganya di putar oleh Rindu.
"Sekali lagi kamu macam-macam denganku maka hal lebih buruk akan menimpamu," Rindu mendorong tangan Rany hingga perempuan itu terduduk diatas kursi.
Fathur yang melihat hal itu hanya bisa menganga. Dia benar-benar tidak percaya kalau gadis sekecil Rindu bisa menaklukkan Rany yang ukuran tubuhnya lebih besar dari ukuran badan Rindu.
"Si rata ini benar-benar menakutkan saat dia marah. Dia akan memperlihatkan taringnya saat seseorang mengusiknya," ujar Aldo dalam hati.
Tidak lama kemudian muncul David dari arah pintu dan melangkah mendekati mereka.
"Tuan, semuanya sudah beres, Ibu Desi sudah Saya pindahkan ke rumah sakit milik perusahaan," ujar David.
"Bagus kalau begitu,".
"Jadi Ibu Rianty sudah Tuan pindahkan kerumah sakit perusahaan. Terima kasih banyak Tuan Fathur dan juga Tuan David semoga amal ibadah kalian berdua di terima disisi Allah, kalau begitu Saya permisi dulu, Saya akan mengabari Rianty kabar yang sangat membahagiakan ini," Rindu berbalik meninggalkan tempat itu.
"David kamu temani Rany makan siang, soalnya dia pasti sangat kelaparan setelah di beri pelajaran baru oleh si rata," Fathur berdiri dari tempat duduknya dan mengambil handponenya yang sedari tadi dia letakkan diatas meja.
"Aku tidak mau makan siang dengan patung batu ini, Aku hanya ingin makan siang denganmu," Rany ikut berdiri sambil memegangi pergelangan tanganya yang masih terasa sakit.
Sementara itu, David yang dikatai boneka batu oleh Rany seketika mengernyitkan dahinya.
"Siapa juga yang mau makan bareng dengan ondel-ondel bernyawa sepertimu," balas David mengejek balik Rany.
"Apa katamu, kamu mengataiku ondel-ondel bernyawa," Rany memplototkan matanya pada David.
'"Kalian berdua memang cocok, Satu boneka batu satunya lagi ondel-ondel bernyawa. Jika nanti kalian menikah dan memiliki anak, pasti anak kalian mirip boneka mampang," Fathur meninggalkan David dan Rany sembari tertawa terbahak-bahak.
"Tunggu sayang!, awas kamu boneka batu," Rany memperlihatkan kepalan tanganya pada David dan berlari mengejar Fathur.
"Kamu yang harusnya awas ondel-onel beranak" David ikut melangkah keluar.
Sementara itu, Rindu segera menuju ke Rumah sakit perusahaan F&R menggunakan jasa ojek langgananya.
Setibanya dirumah sakit tersebut, Rindu segera menuju ke balai informasi dan menanyakan di mana ruangan Ibu Desi.
Setelah mendapat informasi dari pihak rumah sakit, Rindu segera menuju ke ruangan Ibu Desi.
Belum juga sampai di ruangan itu, Rindu tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan bersembunyi di dinding rumah sakit karena melihat dua orang yang sudah tidak asing lagi baginya.
"Itukan Om Raka dan Tante Rika, untuk apa mereka datang ke rumah sakit ini. Dan siapa yang sakit?," tanyanya dalam hati sambil terus mengawasi ke pergian Raka dan Rika.
Setelah kedua orang itu pergi, Rindu kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda.
Setibanya di depan pintu ruangan Ibu Desi, Rindu segera mengetuk daun pintu dan tak lupa mengucap salam.
Tok...tok...tok...
"Assalamu alaikum,"
Tidak lama kemudian pintu ruangan itupun terbuka.
"Waalaikum salam, Eee.. Rindu. silahkan masuk!," ajak Rianty srmbari memegangi pundak Rindu.
Keduanyapun melangkah masuk dan mendekati pembaringan Ibu Desi.
"Bagaimana perasaan tante setelah dirawat dirumah sakit ini?," tanya Rindu basa-basi soalnya mereka berdua belum saling mengenal.
"Tante merasa baikan disini di banding di rumah sakit sebelumnya. Ngomong-ngomong nak ini temanya Rianty ya?,"
"Ini Rindu, teman baru Rianty!, atas jasanyalah maka Ibu bisa dirawat di rumah sakit ini," potong Rianty.
"Terima kasih banyak nak!, Entah bagaimana caranya Kami berdua membalas kebaikan hatimu," Ibu Desi mencoba bangun tapi segera di cegah oleh Rindu.
"Tante tiduran saja!, tante ini, Rianty itu teman Aku jadi wajarlah kalau Aku menolong tante. Lagian bukan sepenuhnya Aku yang melakukan ini tapi Tuan Fathur dan Tuan David juga berperan dalam pemindahan ibu kemari,"
"Kalian bertiga benar-benar orang baik, semoga kalian bertiga selalu dalam lindungan Allah....Aamiin," Ibu Desi mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tanganya.
"Aamiin....," balas Rindu dan Rianty melakukan hal yang sama.
Hari terus berganti hingga tidak terasa hari pelelangan pun tiba.
Pagi itu Fathur dan David berangkat ke gedung pelelangan.
Kedua pria tampan itu mengendarai satu mobil dengan David sebagai pengemudinya sedangkan Fathur duduk di kursi penumpang.
"David, apa semua berkas sudah kamu serahkan ke pihak penyelenggara," Fathur yang menatap keluar jendela menikmati pemandangan kota.
"Semuanya sudah beres Tuan, Tinggal menunggu tanda tangan dari mereka maka kita sudah bisa mengikuti pelelangan proyek itu,"
"Bagaimana dengan rancangan bangunan serta tata taman dalam kota. Apa si rata itu sudah kamu beri gambaran," kembali Fathur bertanya tapi kali ini dia mulai serius dan menatap kearah David.
"Maksud Tuan si rata itu Nona Rindu ya?,"tanya David.
"Siapa lagi kalau bukan dia," balas Fathur.
"Ha ..ha ..ha," seketika tawa David pecah.
"Kenapa kamu tertawa seperti orang kesurupan. Apa kamu menertawaiku?,"
"Mana berani Saya menertawai Tuan," seketika David menutup mulutnya menggunakan telapak tangan kirinya.
"Terus kenapa kamu tertawa kuda seperti itu,"
"Aku hanya menertawai ondel-ondel itu. Bisa-bisanya dia kalah dengan si rata,"
"David!, Namanya Rindu bukan si rata, paham," Fathur sedikit meninggikan suaranya membentakai David.
Hatinya merasa tidak terima kalau orang lain memanggil Rindu dengan subutan si rata.
"Tuan sendiri tadi yang memanggil Nona Rindu dengan sebutan si rata. kenapa sekarang Tuan menyalahkan Saya,"
"Cuman Aku yang boleh memanggilnya dengan sebutan itu, yang lain tidak boleh termaksud kamu,"
David mengerutkan dahinya dan menggaruki kepalanya. Semua yang dilakukan di depan Fathur pasti serba salah.
Tidak lama kemudian, kendaraan mereka berbelok memasuki sebuah gedung yang cukup megah dengan halaman yang cukup luas.
Selepas memarkirkan kendaraanya, Fathur dan David keluar dari dalam mobil dan melangkah memasuki gedung tersebut.
Gedung pelelangan saat itu terlihat begitu ramai tidak seperti hari-hari biasanya. Berbagai kalangan pengusaha dan kontraktor baik dalam kota maupun luar kota datang berbondong-bondong untuk mendengarkan keputusan pihak penyelenggara lelang.
pertama rancangan harus ramah lingkungan. Ke dua kualitas, setiap peserta harus menunjukkan kualitas rancangan mereka. Mulai dari bahan baku yang mereka gunakan sampai ketahananya.
Yang terakhir yaitu hemat.
Bab berikutnya akan bertambah seru dimana ada Fathur, Rindu dan juga Tania bersaing dalam memperebutkan tender dan juga terungkapnya rahasia besar Fathur. Maka dari itu terus dukung cerita ini dengan cara beri like, coment dan vote sebanyak-banyanya agar Author lebih bersemangat.
Bagi teman-teman yang gak sabar nunggunya silahkan mampir di novel saya yang lain JHONY DAN MELLY Saya yakin tidak kalah seru dan juga sudah TAMAT...terima kasih.
gak cocoklah jadi pemeran utama wanita