"Bagaimanapun ruang dan waktu memisahkan, aku tetap akan mencintaimu"Ethan Thomas Essex & Hana Miller
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YellowBanana26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Hana membuka matanya perlahan karena merasakan sengatan panas di tangannya dan saat itu pula ia menjerit histeris semetara air matanya mengalir deras tanpa permisi.
"Apa yang telah kau lakukan Ethan? Lepaskan tanganku, lepaskan pisaunya aku mohon!"
Pinta Hana mengiba, di sertai isak tangis keras saat ia melihat Pisau perak itu telah menghunus tepat di jantung Ethan. Pria itu sendiri yang melakukannya menggunakan tangan Hana tanpa sepengetahuannya.
Tak mendengar jawaban, Hana mendongak untuk melihat pria itu namun dengan egoisnya pria itu tetap tenang seolah tidak terjadi apapun, seolah pisau di jantungnya hanya tusukan jarum kecil. pria itu tidak menunjukan rasa sakitnya atau pria itu memang tidak ingin menunjukannya namun Hana menyadari pria itu amat menyesal.
"Hana aku ingin kau mengingat satu hal untukku, bagaimanapun ruang dan waktu memisahkan kita, aku akan tetap mencintaimu."ucapnya dengannafas pria itu memberat dan Hana tak bisa berhenti menangisi pria itu.
" sekarang aku akan mendorongmu, dan kau akan kembali."
Hana menggeleng di sertai air matanya yang terus terjatuh melewati pipinya.
"Tidak Aku tidak mau!"
"Kau harus kembali sayang aku tidak mau kau mati di sini."
"Bagaimana kau yakin aku akan kembali? Bagaimana jika aku tidak bisa kembali sementara aku kehilangan dirimu? apa yang harus ku lakukan Ethan? Mengapa kau begitu jahat kepadaku?"
"Ssst...tenangkan dirimu sayang. Aku yakin kau akan kembali karena aku tahu, aku akan melihatnya dengan mataku sendiri. aku yakin kau akan kembali karena aku adalah kekasihmu, takdirmu, cintamu. Kau akan kembali Hana, kau akan kembali My Love. Kau harus percaya kepadaku."
"Tapi aku ingin bersamamu Ethan. "
Wajah Pria itu mendekat kepadanya namun kali ini Hana mampu melihat gurat kesedihan dan air mata yang terancam mengalir darinya. Hana memejamkan matanya saat pria itu mengecup dahinya kemudian berlanjut mengecup kedua kelopak matanya dan terus berlanjut pada ujung hidungnya dan terakhir pria itu mencium bibirnya dengan kelembutan yang membuat semakin lelamh di sertai airmata mengalir.
Setelah itu Ethan melepas ciuman terskhirnya tapi pria itu tak begitu saja menjauh dari kekasih melainkan menyatukan dahinya dengan dahi sang kekasih.
"Hatiku begitu sakit tapi aku harus tetap melakukannya maafkan aku My Love. sekarang pergilah--- pergilah Hana dan kembalilah ke tempatmu, aku melepaskanmu."bisiknya lirih.
"Ethan!"
"Selamat tinggal Hana."
Dengan gerakan perlahan Pria itu mendorong tubuhnya terjatuh ke bawah, membiarkannya menyatu dengan kedalam air sungai Thames yang dalam.
Sakit menggrogoti hatinya bahkan jauh kedalam jiwanya saat pria yang ia cintai melepasnya pergi meski begitu Hana tahu, tatapan mata pria itu tak pernah lepas mengiringinya, pria itu tetap melihat ke arahnya dengan rasa sakit yang sama sepertinya.
Sementara dalam kebisuan Mulut pria itu bergerak mengucap sebuah kata.
Aku mencintaimu Hana.
Hana tersenyum sendu, menutup matanya membiarkan airmata kembali menetes dan
perlahan namun pasti air sungai thames menenggelamkan tubuh Hana. Sama seperti waktu itu, ia tidak bisa bergerak namun kali ini jiwa serta perasaannya hancur berkeping-keping.
Sementara di sisi lain tubuh Ethan mulai terbakar lalu setelahnya hancur menjadi debu. Semua itu tidak luput dari pandanngan Richard yang terpaku di tempatnya lalu kemudian pria itu tersenyum seraya melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.
...***...
...Hana terbangun mendapati dirinya berada di rumah sakit. ia tidak ingat mengapa ia ada di sini tapi ibunya mengatakan bahwa Hana pingsan di samping jembatan sungai thames tanpa sepatunya. itu hal konyol yang pernah ia dengar, tapi tidak menutup kemungkinan itu memang bisa saja terjadi. Lagi pula Hana tidak bisa mengingat apapun....
Kemudian untuk sesaat ia hanya termenung menatap langit-langit di dalam kamarnya.
Selama berhari-hari Hana menjalani rawat inap di rumah sakit di temani ibunya. Hana merasa hatinya begitu hampa, terkadang ia juga merasa begitu merindukan seseorang hingga pernah suatu hari ia menangis keras tanpa tahu apa penyebabnya. yang ia rasakan saat itu hanya perasaan sakit, rindu, sedih semua menguras emosinya tapi Hana tidak pernah tahu untuk siapa semua itu.
Ke esokannya Hana sudah di perbolehkan untuk pulang. Rumah terasa sepi semenatara ibunya pergi untuk bekerja dan untuk mengusir rasa sepi itu Hana memutuskan untuk menyalakan televisi lalu seketika ia terpaku melihat saluran televisi yang kini menampilkan sosok pria paruh baya yang masih begitu melekat di hatinya.
"Dad."
Pria itu tersenyum sambil mengatakan sesuatu mengenai sebuah buku novel yang baru liris dan terjual habis dalam waktu singkat.
Hana tersenyum senang dan tanpa menunggu waktu lama lagi ia segera pergi menuju tempat dimana ayahnya sedang melakukan jumpa fans berada.
Sesampainya di salah satu tempat buku di dalam mall terbesar Hana langsung memasuki antrian untuk menunggu tanda tangan, ia bahkan rela berlama-lama hanya untuk memperhatikan ekspresi sang ayah yang terlihat bahagia tapi kemudian sebuah pertanyaan dalam pikiran menohoknya, apa ayahnya masih mengenali Hana sebagai putrinya? Atau apa pria itu sudah memiliki putri lain bersama istri barunya? Hana tahu kemungkinan itu akan terjadi tapi sungguh ia tidak akan marah ataupun cemburu karena ia tahu ayahnya pasti bahagia.
Saat gilirannya hampir tiba Hana baru saja tersadar ia tidak sempat membeli bukunya dan itu membuatnya bingung harus melalukan apa tapi ia juga tidak bisa mau meninggalkan tempatnya begitu saja. Astaga berpikir hana, berpikirlah!
"Selanjutnya silahkan."
Saat gilirannya tiba Hana gugup setengah mati padahal ia bertemu ayahnya sendiri.
"Kau ingin aku menandatanginya di mana nona." Tanya pria itu yang tak lain dalah ayahnya sendiri.
Hana terkejut dengan reaksi formal tersebut. Apa itu berarti ayahnya tidak mengingatnya?
"hm aku..."
"Apa kau tidak membeli buku ayahmu sendiri nona?"
"Aku--"
Hana menundukkan wajahnya lesu tapi hanya untuk sesaat karena setelahnya ia tergelak bersama pria itu.
Pria itu akh8rnya beranjak dari kursinya, menghampiri Hana lalu ia memeluk Hana layaknya seorang ayah dan anak.
"Kau sudah tumbuh dewasa sayang, aku merindukanmu."
"Aku juga dad. Aku juga sangat merindukanmu."
Pertemuan jumpa fans itu berakhir dengan airmata haru lalu secara mengejutkan wartawan mulai mengerumuti keduanya.
Semua lampu kamera menyorot ke arah keduanya namun anehnya setiap kali kilatan kamera tersebut mengarah ke pada Hana seketika itu pula Hana melihat kilasan berupa gambaran seorang pria sedang berdansa dengan seoarang perempuan. Hana tidak mengerti namun ia berasumsi bahwa itu hanya ilusi semata hanya saja mendadak dadanya terasa sesak. Lagi-lagi ia merasakannya Perasaan begitu kosong yang membuatnya menangis begitu keras.
"Sayang apa kau baik-baik saja?"
Hana tersentak, ia tersadar saat mendengar suara Ayahnya yang bertanya dengan nada cemas.
Ia pun menoleh kepada ayahnya dan mengangguk menjawab kecemasan sang ayah.
"aku baik-baik saja dad."
Ayahnya tersenyum kemudian sebuah suara dari salah satu wartawan terdengar bertanya kepada sang ayah.
"Mr. Miller bolehkah saya bertanya? Ini mengenai novel anda dan juga anak anda."
"Ya tentu saja."jawab ayahnya.
"Apa hubungan antara novel anda dan anak anda sendiri sir, selain karena nama tokoh utamanya sama dengan nama anak anda sir?"
Hana mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan tersebut, ia bahkan baru tahu tentang hal itu. Tapi Hana akui ia juga merasa penasaran.
"keduanya berhubungan erat. Bergini, aku pernah mengatakan bahwa aku memimpikan dua orang sepasang kekasih yang saling mencintai bukan dan sebenarnya aku memimpikan wajah anakku Hana Miller dan seorang pria."
"Jadi anda merasa terinspirasi, Lalu setelah itu anda memutuskan untuk membuatnya menjadi sebuah novel. Apa itu benar sir?"
"Ya itu benar."
"Mengapa anda melakukannya sir? Mengapa anda memutuskan untuk membuat novel dari mimpi anda sir."
"Bolehkah aku menjawabnnya jujur."
"Tentu saja sir."
"Aku melakukannya agar anakku."
Ucapan ayahnya terhenti sejenak dan keadaan berubah hening. Hana merasa penasaran pun akhirnya menatap ayahnya namun secara mengejutkan Ayah Hana menoleh ke arahnya dan pria itu mengangguk seraya tersenyum lembut.
"Hana, kau harus tahu bahwa semua yang terjadi sebelum kau membuka mata adalah nyata, bahwa pria itu selalu menunggumu dan bahwa cintamu tidak berakhir sampai di sana, pria itu masih masih menunggumu sampai saat ini dan dia ingin kau bersabar untuknya, dia akan selalu bersamamu dan selalu mencintaimu."
Detik itu pula Hana dapat merasakan setetes airmatanya mengalir begitu saja. Hana tidak tahu apa penyebabnya tapi untuk suatu alasan tertentu ia dapat merasakan hatinya yang menghangat kemudian senyum manis perlahan terbit di bibir itu dan terhias cantik di wajahnya.