NovelToon NovelToon
Bocah Kambil

Bocah Kambil

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi
Popularitas:523.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Doris Gaverna

Bimo mengayuh sepedanya di tengah sinar jahat mentari. Entah melamunkan apa dia saat itu, ia tidak sadar sudah sampai di perempatan lampu merah dan tidak sempat mengerem sepedanya. Nahas, dia sangat terlambat. Ia menghantam seorang gadis yang berhenti di depannya.

Dimensi dalam diri mereka berhenti. Namun, lampu dengan cepat berubah hijau. Sejak kejadian itu, Bimo dihantui rasa penasaran karena perempuan itu sangat familiar baginya.

Hari ini, Adeth berangkat terlalu pagi. Kelas dan sekolahnya masih sepi. Tidak lama kemudian, muncul seorang lelaki dari balik pintu kelasnya untuk meminta bantuan. Adeth terkejut melihat lelaki itu.

Hai, terima kasih sudah mampir! Jangan lupa tekan tombol suka dan vote, ya, agar saya semangat untuk berkarya setiap harinya. Bagikan juga ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka, karena dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!

Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris Gaverna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

027. Episode 27

Barisan di lapangan bubar. Siswa-siswi SMA Gadjah Mada berbondong-bondong menuju kelas. Namun, tidak sedikit dari mereka yang menyempatkan mampir di kantin terlebih dahulu untuk membeli minuman atau sekedar duduk-duduk tidak jelas.

“Uwaaah! Kelar juga upacara!” seru Adeth sambil meregangkan otot di bangkunya. “Selalu saja begini. Setiap Pak Kaman memberi amanat, banyak siswa yang pingsan! ‘Sekian dari saya, oh, ya satu lagi..,’, ‘Untuk yang terakhir kalinya, bapak ingatkan lagi…,’. Begitu saja terus, sampai zaman tentara robot abadi. Kalau dijadikan buku, tuh, ya, mungkin sekali ceramah bisa habis selusin!”

Adeth menggerutu tidak jelas sambil berapi-api. Reyza tertawa menanggapi kelakuan temannya.

“Aku setuju. Peringkat pertama lomba menghasilkan busa tingkat internasional!” celetuk Reyza lebih tidak jelas. Adeth tertawa, membuat sepasang lesung pipitnya terlihat.

“Ya, Tuhan. Ada-ada saja.”

Bel masuk berbunyi keras memekakkan telinga. Reyza dan Adeth mengaduk isi tas mereka dan mengeluarkan satu buku tulis lengkap dengan satu pak modul. Tidak lama setelahnya, Bu Rahayu, wali kelas mereka masuk. Biasa, dengan hawa dinginnya.

“Anak-anak, sebelum memulai pelajaran, ada beberapa pengumuman penting yang harus Ibu sampaikan terkait dengan koordinasi dewan guru sebelum upacara tadi. Pengumuman ini meliputi kabar baik dan kabar buruk.” Tatapan Bu Rahayu menyebar bagai scanner. Anak-anak yang menunduk dapat dipastikan lemah imannya. Bu Rahayu, lebih menakutkan dari suster ngepot. Maaf, ngesot.

“Yang pertama, kabar buruknya. Karena ada beberapa hal, maka ujian tengah semester akan dimajukan bulan depan,” ujar Bu Rahayu santai. Namun, reaksi yang ditunjukkan murid-murid jauh dari kata santai.

“E-eh, eh? Loh, loh, loh? Kok, gini?”

“ASTAGA NAGA BIN LADY GAGA!”

“Entah apa yang merasukimuuu….”

“Tolong semuanya, harap tenang!” Bu Rahayu menepukkan tangannya beberapa kali yang sukses membuat kelas hening hanya dalam beberapa detik.

“Jadi itu kabar buruknya. Yang kedua, adalah kabar baik. Karena bapak dan ibu guru masih sibuk merapatkan soal hal yang pertama tadi, jadi kalian hari ini pulang lebih awal.”

Sorak-sorai penuh kemenangan terdengar ricuh. Adeth dan Reyza saling berpelukan. Deretan anak laki-laki paling belakang meloncat kegirangan, seperti melihat pertandingan bola dan tim dukungan mereka mencetak gol.

“Sudah?” tanya Bu Rahayu datar yang membuat seisi kelas hening kembali hanya dalam sesaat. “Baik. Pengumuman yang terakhir, adalah pendaftaran calon anggota OSIS Masa Bhakti 2016/2017. Bagi yang berminat, bisa melihat pengumuman di mading pada saat jam istirahat nanti. Baik, kita lanjutkan pelajarannya. Terakhir sampai….”

Bunyi bel kembali terdengar. Adeth mengempaskan badannya pada sandaran kursi lalu menggeram keras.

“Oi!” seru Reyza tiba-tiba sambil menepuk dahi temannya. “Mau ke kantin dulu, nggak?”

Adeth mengelus keningnya yang terasa panas. “Yuk, keburu ramai.”

Kedua sahabat itu berjalan beriringan. Anak-anak keluar berhamburan dari kelas mereka. Saat kedua sahabat itu sampai di kantin, tempat itu sudah penuh dengan anak yang berjejalan dan berteriak-teriak. Untuk saat ini, tempat itu lebih mirip rumah sakit jiwa.

“Aduh!” Adeth mengaduh saat seseorang menginjak kakinya. Ia melontarkan tatapan sadis kepada orang itu. Namun, orang itu malah mendengus dan memicing padanya. Reyza yang kebetulan melihatnya langsung menjitak kepala orang itu.

“Aw, apaan, sih?” protes orang itu.

“Kamu yang apaan? Sudah tahu salah, malah menyalahkan,” sambar Reyza pedas yang mendapat pelototan ringan dari Adeth.

“Sudah, Rey. Ayo ngantri dulu.”

Singkat cerita, kedua sahabat itu akhirnya mendapatkan apa yang mereka inginkan dan kembali menuju kelas. Saat mereka berdua melewati mading, Adeth tiba-tiba berhenti.

“Hmmm? Kok, berhenti?” tanya Reyza keheranan. Gadis itu lalu menyamakan pandangan dengan Adeth. Pada selembar kertas putih, pengumuman tentang pendaftaran calon anggota baru OSIS terpampang jelas. Beberapa anak selain mereka juga tampak mengerumuni pengumuman yang sama.

“Oh, mau daftar OSIS?”

“Nggak tahu juga, Rey. Enaknya gimana, ya?” tanya Adeth bimbang sambil menatap sepasang bola mata tajam temannya dari balik kacamatanya.

Reyza terkekeh. Ia berjalan mendahului Adeth sambil menepuk bahunya.

“Jika itu yang menurutmu terbaik buatmu, lakukan saja. Aku pasti mendukungmu. Lumayan, bisa panjat sosial.”

Adeth memegang kedua tangan Reyza. “Makasih banyak, Rey! Kamu memang sahabat terbaikku.”

“Chill.”

“Kalau begitu, anterin aku ke ruang OSIS, yuk, minta formulir.”

Setelah satu anggukan kepala dari Reyza, mereka berangkat menuju ruang OSIS yang letaknya kebetulan tidak terlalu jauh dari kelas mereka. Adeth mengintip dengan malu-malu. Di dalam sana terdapat seorang lelaki di depan komputer, seorang gadis berambut panjang berkacamata yang tengah sibuk menata berkas di meja, dan seorang gadis lain berjilbab yang sibuk menulis sesuatu.

“Permisi,” ucap Reyza tiba-tiba sambil berjalan masuk ke ruangan yang disambut tatapan dari ketiga anak tadi. Adeth merasa malu dengan ulah temannya yang blakblakan.

“Ada yang bisa kami bantu?” tanya lelaki-depan-komputer sembari meletakkan salah satu lengannya pada sandaran kursi.

Reyza menganggukkan kepala. “Setelah kami melihat pengumuman di mading, ya … aku kira kami tertarik untuk mendaftarkan diri. Jadi, bisa tolong minta formulirnya?”

Reyza tidak memedulikan komunikasi mata yang berusaha Adeth lakukan. Adeth hanya mampu menahan malu karena tingkah temannya yang tidak punya sopan santun pada kakak tingkatnya. Ketiga orang dalam ruangan itu saling melempar pandang.

“Ya, silakan ambil di meja,” ujar lelaki-depan-komputer sambil menghela napas.

“Terimakasih,” tanpa memasang ekspresi apapun, Reyza mengambil selembar formulir lalu menyerahkannya pada Adeth. “Sekali lagi, terimakasih.”

Kedua gadis itu pergi, diiringi tatapan tajam dari ketiga orang di ruangan itu. Tiba-tiba, si-perempuan-berkacamata berdecak, membuat dua temannya yang lain melihat ke arahnya.

“Adik kelas zaman sekarang, nggak ada sopan santunnya sama sekali! Kaya gitu masa mau jadi OSIS? Bubar organisasi kita yang ada, mah.”

“Eh, bukannya temannya yang daftar, ya? Dia tadi cuma ambil selembar, doang,” sahut anak berjilbab tadi membantah pernyataan temannya.

“Terserahlah.”

“Kalian ini, ya,” lelaki-depan-komputer tertawa kecil. “Sudahlah nggak perlu dibahas.”

Lelaki itu membalikkan posisi duduknya, menghadapkan kembali dirinya di depan komputer. Meski tatapannya fokus pada benda datar itu, namun pikirannya berkelana entah ke mana. Gambaran gadis bertubuh sedang dengan jilbab dan sepasang tatapan tajam dari balik kacamatanya kembali memutari kepalanya. Sebuah senyuman terukir di wajahnya.

“Menarik,” gumamnya.

Adeth berusaha berjalan menyamai langkah Reyza. Tapi sekeras apapun ia berusaha, ia tidak akan pernah bisa mengimbangi langkah temannya yang tergesa. Adeth yang merasa gemas lantas menepuk pundak temannya yang membuatnya berhenti seketika.

“Pelan-pelan, dong. Kenapa, sih?”

“Nggak, nggak ada. Yuk, ke kelas,” ucap Reyza meyakinkan.

Adeth mengamini. Mereka lalu kembali berjalan.

“Oh, ya. Ngomong-ngomong…,” ujar Adeth tiba-tiba yang mengundang ketertarikan Reyza. “Yang ngajak ngomong kamu terus kamu ketusin tadi … ketua OSIS kita. Tahu, kan? Kak Jingga yang saat hari pertamanya menjabat sudah jadi bahan sorotan terutama dari kalangan cewek-cewek karena ketampanannya.”

“Persetan dengannya,” jawab Reyza datar. “Terus? Apa aku bakal jadi salah satu dari mereka, gitu?”

“Ya, nggak gitu juga. Ih, susah, deh, ngomong sama kamu.”

“Tapi sekarang kamu tahu, kan, alasan kenapa jarang ada yang mau temenan sama aku?” tanya Reyza cuek.

Adeth menahan napas, lalu membuangnya pasrah. Tidak ada gunanya ia berdebat dengan temannya. Selain karena ia selalu kalah, juga karena perdebatan itu tidak akan pernah selesai. Adeth memandang formulir di tangannya sebagai penghibur. Ia hanya berharap, keputusannya kali ini tidak salah.

___________________________________

Mungkin teman-teman semua ada yang pernah jadi OSIS? Wah, pasti seru! Bagaimana dengan pengalaman berorganisasi kalian? Ceritain di kolom komentar, dong!

Hai, terima kasih sudah mampir! Bagikan ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka. Karena, dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!

Find me on social media

IG: @dernatasw or @dahelart

FB: Derna Taswara

1
Cut SNY@"GranyCUT"
masin subuh
Cut SNY@"GranyCUT"
mama bagaimana sih.. anaknya cantik kok dibilang wajahnya buruk..
Cut SNY@"GranyCUT"
waduh cantik kok jorok sih ndok.. seminggu gak keramas mambune koyo bunga raflesia arloldi.. namanya keren ya, tapi istilah indonesianya bunga bangkai... 😆
Mukmini Salasiyanti
laaaaa...
waahhhh
ternyata..
ada saingan mu, Deth....
Mukmini Salasiyanti
Berdebar..
adrenalin naik..
sePi (sesak pipis) thor..
😄🤣🤣
Mukmini Salasiyanti
maaf thor..
bocah Kambil itu apa ya artinya??
Mukmini Salasiyanti
nyimak thor
salken
Rahma Husnul
dr tutur bahasanya, penulis punya pemikiran yg dewasa. meski yg di sajikan cerita anak SMA ... keren 👍👍👍
Rahma Husnul
suka dg pemilihan katanya. terus semangat berkarya ya 💪💪💪
Dawet_Legi
hai kak aku mampir, kapan" mampir baca karyaku juga ya..thanks🙏☺️
ruhaynizz
mampir nih thor
Zuai Azmi
satu vote buat athor 👍👌
r4tn4🌛
penasaran sama judulnya, trnyta ceritanya seru juga👍
harie insani putra
salam kenal ijin meninggalkan jejak di sini ya thooorrr
lembayungsenja88
masalahnya kau terlalu lemah dan dungu bimo
lembayungsenja88
lemah kau Bimo banci heang.
Anita Suwarti
Bocah kambil,, ank pramuka thor???
jd inget tempo dulu pas ikut pramuka,
azkia zain
kok enggak update, kayaknya kan Senin ma Kamis,
مي زين الش
sdh aq kasih vote dan like kakak... . sukses sll ya
im_ha
10 like untukmu ya Thor. mampir juga di karyaku DOAKU BERBEDA DENGAN DOAMU 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!