NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Somasi untuk Vina dikirim keesokan paginya.

Tidak sampai dua jam, Bu Ratna menelepon Maya belasan kali. Maya tidak mengangkat. Ia sedang duduk di ruang makan, memotong pisang menjadi bagian kecil seperti saran dokter, sementara Raka membaca laporan di tablet.

Ponsel terus bergetar di meja.

Maya menatapnya.

Raka berkata tanpa mengangkat wajah, “Kalau kamu mengangkat, aku ambil ponselmu.”

“Mas Raka tidak boleh mengambil ponsel saya.”

“Coba saja.”

Maya memandangnya, lalu kembali memotong pisang.

Ia tidak mengangkat.

Beberapa menit kemudian, pesan masuk.

`Cabut somasi itu. Vina sedang sakit. Kamu tidak punya hati.`

Maya membaca, lalu meletakkan ponsel.

Dulu pesan seperti itu akan membuatnya gelisah seharian. Sekarang masih sakit, tapi tidak lagi membuatnya langsung berlari meminta maaf.

Raka memperhatikan perubahan itu.

“Bagaimana rasanya?”

“Apa?”

“Tidak menuruti mereka.”

Maya berpikir sebentar.

“Seperti memakai sepatu baru. Kaku, sedikit sakit, tapi mungkin nanti nyaman.”

Raka menatapnya, lalu berkata, “Analogi yang aneh.”

“Tapi benar.”

“Makan pisangnya.”

Maya menusuk pisang dengan garpu, memasukkannya ke mulut. “Mas Raka benar-benar perusak suasana.”

“Aku menjaga janin.”

“Saya juga janin dulu. Tidak ada yang mengawasi pisang saya.”

“Mungkin itu sebabnya kamu keras kepala.”

Maya hampir tersedak.

Suasana pagi itu nyaris damai sampai Bima datang membawa tablet.

“Pak, ada undangan dari panitia alumni. Mereka ingin mengadakan pertemuan klarifikasi soal video. Beberapa alumni menekan Ratna setelah rekaman pengirim tersebar.”

Maya terkejut. “Tersebar?”

Bima menatap Raka.

Raka menjawab tenang, “Hanya kepada panitia inti dan pihak terkait.”

Maya menatapnya curiga.

“Mas Raka.”

“Aku tidak menyebarkan ke publik.”

“Tapi cukup membuat mereka panik.”

“Efektif.”

Bima menunduk, menahan ekspresi.

Maya menghela napas. “Mereka ingin saya datang?”

“Iya, Bu,” jawab Bima. “Mereka ingin meminta maaf secara resmi.”

Raka langsung berkata, “Tidak perlu.”

Maya menatapnya. “Saya akan datang.”

“Maya.”

“Kali ini bukan untuk mereka. Untuk saya.”

Raka diam.

Maya melanjutkan, “Saya ingin menutup urusan ini dengan kepala tegak. Kalau saya terus menghindar, Ratna dan Vina akan merasa saya masih bisa dipukul dari belakang.”

Raka menatapnya lama.

“Aku ikut.”

Maya hampir menolak, tapi setelah berpikir, ia mengangguk.

“Baik. Tapi jangan langsung bicara.”

“Kalau mereka menghina?”

“Beri saya tiga kalimat dulu.”

“Satu.”

“Tiga.”

“Dua.”

Maya menatapnya.

Raka balas menatap.

Bima berdiri di dekat meja, menyaksikan negosiasi paling aneh yang pernah ia lihat.

Akhirnya Maya berkata, “Dua setengah.”

Raka mengangguk. “Baik.”

Bima menunduk lebih dalam agar tidak tertawa.

Pertemuan itu diadakan sore hari di kafe hotel yang sama. Kali ini bukan ballroom, hanya ruangan privat kecil. Beberapa panitia hadir, termasuk Lilis dan Yudha. Ratna datang dengan wajah kaku, tanpa Bu Vina. Mungkin Vina terlalu malu atau terlalu marah.

Raka masuk bersama Maya.

Semua orang langsung berdiri.

Maya merasa canggung, tapi ia tidak menunduk.

Ketua panitia, seorang pria bernama Anton, membuka pembicaraan.

“Maya, kami minta maaf. Video itu diputar tanpa verifikasi. Panitia lalai.”

Maya mengangguk. “Saya menerima permintaan maaf panitia.”

Ratna mendecak pelan.

Raka menatapnya.

Maya menyentuh tangan Raka di bawah meja. Dua kalimat, ingat.

Ratna menarik napas. “Aku juga minta maaf kalau kamu tersinggung. Maksudku bukan mempermalukan. Video itu dikirim Vina, aku pikir hanya bagian dari cerita hidupmu.”

Maya menatapnya.

“Ratna, kamu meminta maaf atau membela diri?”

Wajah Ratna memerah.

Lilis berkata, “Ratna, sudah. Kita semua tahu kamu yang meminta panitia menaruh file itu di sesi nostalgia.”

Ratna menoleh tajam. “Aku tidak tahu isinya!”

Yudha yang sejak tadi diam akhirnya bicara.

“Kamu tahu.”

Semua orang menoleh.

Yudha meletakkan ponselnya di meja. “Aku punya rekaman suara dari staf teknis. Kamu bilang, `Putar setelah Maya datang, biar teman-teman tahu dia sekarang siapa.`”

Ratna memucat.

Maya menatap Yudha, terkejut.

Raka juga menatap Yudha.

Kali ini tatapannya tidak hanya dingin, tapi menilai.

Yudha tidak melihat Raka. Ia menatap Maya.

“Aku minta maaf karena baru bergerak setelah kejadian. Seharusnya aku mencegah dari awal.”

Maya menggeleng pelan. “Itu bukan tanggung jawabmu.”

“Dulu juga aku sering terlambat.”

Kalimat itu membuat suasana berubah.

Raka menyandarkan punggung, matanya menyipit.

Maya segera berkata, “Yudha.”

Namun Yudha seperti sudah menunggu terlalu lama.

“Aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Kamu sudah menikah. Aku menghormati itu. Tapi setelah melihat mereka mempermalukanmu, aku menyesal karena dulu tidak pernah cukup berani membelamu.”

Maya merasa napasnya tertahan.

Ratna, meski sedang terpojok, tampak menemukan bahan baru. Matanya menyala.

“Nah, benar kan? Aku bilang dari dulu mereka dekat.”

Raka menoleh padanya.

“Kalimat kedua,” bisik Maya cepat.

Raka diam, tapi rahangnya mengeras.

Yudha melanjutkan, “Aku tidak meminta apa pun. Aku hanya ingin kamu tahu, sebelum semua orang melihatmu sebagai istri Raka Wijaya, ada orang yang melihatmu sebagai Maya. Gadis yang selalu belajar di perpustakaan, yang membagi bekal dengan teman yang lupa membawa uang, yang pulang cepat untuk membantu ibunya.”

Maya menatap meja.

Kenangan itu datang pelan, lembut, dan menyakitkan. Bukan karena cinta, melainkan karena ada bagian dirinya yang ternyata pernah dilihat dengan baik oleh seseorang, sebelum hidup membuatnya merasa tidak berharga.

Raka melihat wajah Maya.

Cemburu di dadanya naik, tapi kali ini ia menahannya.

Maya mengangkat kepala.

“Terima kasih, Yudha.”

Yudha tersenyum pahit.

“Tapi hidup saya sekarang bukan lagi masa sekolah. Saya tidak bisa kembali ke sana. Saya juga tidak ingin.”

Yudha mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

Maya menatap Ratna.

“Dan kamu, Ratna. Aku tidak akan melaporkanmu hari ini. Tapi kalau kamu atau keluargamu menyebarkan video, fitnah, atau hinaan lain tentang saya, saya tidak akan meminta Mas Raka menahan diri.”

Raka menoleh ke Maya, tampak puas.

Ratna mengepalkan tangan. “Kamu mengancamku?”

“Tidak. Saya memberi tahu batas.”

Ruangan sunyi.

Anton segera menutup pertemuan dengan janji tertulis bahwa panitia akan menghapus semua salinan video dan membuat pernyataan permintaan maaf.

Ketika keluar dari kafe, Yudha menyusul.

“Maya.”

Raka berhenti.

Maya menoleh.

Yudha berdiri beberapa langkah dari mereka. “Aku akan menjaga jarak. Tapi kalau kamu butuh bukti tambahan untuk menghadapi Ratna atau Vina, hubungi aku lewat pengacaramu.”

“Terima kasih.”

Yudha melihat Raka. “Tolong jaga dia.”

Raka menatapnya dingin.

“Aku tidak perlu diingatkan.”

Yudha tersenyum kecil, lalu pergi.

Di mobil, Maya menunggu ledakan.

Raka diam.

Diamnya justru lebih mengganggu.

“Mas Raka marah?”

“Ya.”

Maya menghela napas. “Karena Yudha?”

“Karena dia benar.”

Maya terkejut.

Raka menatap ke depan.

“Dia mengenal bagian hidupmu yang tidak kukenal.”

Maya tidak menyangka itu yang membuatnya marah.

“Mas Raka mengenal saya sekarang.”

“Tidak cukup.”

“Tidak ada orang yang bisa mengenal seluruh hidup orang lain dalam beberapa hari.”

“Aku tidak suka terlambat.”

Maya menatapnya lama.

Lalu ia pelan-pelan mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Raka.

“Kalau Mas mau, saya bisa menceritakannya sedikit-sedikit.”

Raka menoleh.

Maya tersenyum canggung. “Tapi jangan cemburu pada anak SMA. Dia sudah lewat puluhan tahun.”

“Dia masih hidup.”

Maya tidak tahan, tertawa.

Raka menggenggam tangannya.

“Malam ini,” katanya, “ceritakan tentang perpustakaan itu.”

“Baik.”

“Dan tentang semua laki-laki yang pernah membantumu.”

Maya menarik tangannya. “Mas Raka!”

Bima di depan pura-pura batuk.

Ponsel Raka berbunyi.

Pesan dari Sabrina.

`Besok ada lelang amal di Hotel Mahardika. Aku harap istrimu datang. Aku ingin melihat apakah dia hanya berani di depan teman sekolah.`

Raka membaca pesan itu, lalu menyerahkannya kepada Maya.

Maya menatap layar.

Hotel Mahardika.

Tempat semuanya dimulai.

Tangannya dingin, tapi kali ini ia tidak menolak.

“Kita datang,” katanya.

Raka menatapnya.

Maya menelan gugupnya.

“Saya sudah terlalu lama takut pada ruangan yang pernah saya bersihkan.”

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!